
Di tempat lain Raditya dan Beno tersenyum puas melihatnya.
Mereka berdua tengah menikmati kopi di gazebo yang memang ada di taman mansion papa Andrian.
"Ini yang gue maksud, tak harus mengotori tangan kita untuk membuat lawan bertekuk lutut" ujar Raditya.
"Urusan beginian, gue akui lo memang hebat bos" seru Beno.
"Sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui" tandas Raditya.
"Hhheeemmm, good job bos" puji Beno.
Papa Andrian menghampiri mereka berdua dengan membawa segelas air putih. Gabung dengan yang muda untuk mengobrol.
"Sudah pada lihat berita belum? Tuh di sosmed ramai kali loh" beritahu papa Andrian.
Beno menyambutnya dengan tawa.
"Itu berita sedari tadi tuan. Kita juga sedang membahas itu" terang Beno.
"Owh, jadi papa ketinggalan nih ceritanya?" tukas papa.
"Nggak banget sih" kata Raditya dan Beno hampir bersamaan.
"Hebat juga tuh tim yang menyergap mereka. Pasti mereka telah lama sekali melakukan pengintaian. Apalagi target mereka bukan kelas kakap lagi nih, tapi kelas paus" ujar papa Andrian.
Raditya dan Beno saling pandang.
"Oh ya tuan. Apa tuan sudah tahu info penting yang lain?" imbuh Beno membuat papa Andrian penasaran.
"Info apa?" tukas papa.
"Kalau kejadian penangkapan itu juga ada peran putra anda" beritahu Beno.
Papa Andrian menengok ke arah Raditya meminta penjelasan. Sementara Raditya dengan santai menyeruput kopi yang masih hangat cenderung panas itu.
"Gue nggak melakukan apa-apa Pah. Papa tahu sendiri, beberapa hari ini aku sibuk dengan urusan istriku" ucap Raditya beralasan.
Papa Andrian akui, sebenarnya putranya ini bukanlah typikal orang yang suka buat masalah terlebih dahulu.
Tapi jika sudah berani menyenggolnya, maka pembalasan Raditya akan lebih dari apa yang dilakukan padanya.
Bu Marmi datang tergopoh mencari keberadaan Raditya.
"Tuan muda, dicariin nyonya Rania" beritahu Raditya.
"Ada apa bu?" Raditya pun segera beranjak dari duduk dan tergesa masuk mansion.
"Di mana?" tanya Raditya.
"Di kamar Celo dan Cio" beritahu bu Marmi dari arah belakang.
Raditya membelokkan arah jalannya untuk mencari keberadaan sang istri.
Raditya takut terjadi apa-apa dengan Rania.
"Sayang....sayang...." panggil Raditya.
"Sepi??? Ke mana mereka?" kata Raditya karena tak ada siapapun di sana.
Raditya masih saja berdiri di kamar putranya yang disediakan khusus oleh Opa dan Oma selama mereka menginap di mansion tuan Andrian.
Dan
Dor....dor....dor....suara benda meletus meski tak sekuat bunyi petasan. Dan potongan-potongan kertas kecil berhamburan di ruangan itu.
Tapi bunyinya tetap saja membuat kaget seorang Raditya.
Raditya pun menoleh ke arah sumber suara.
Didapatinya sang istri yang nampak sangat cantik di mata Raditya membawa kue ulang tahun yang diatasnya telah dinyalakan lilin menandakan usia Raditya.
Lagu selamat ulang tahun membahana. Semua penghuni mansion pun ikut merayakan ulang tahun sang bos muda.
"Tak rugi papa memaksamu ke sini. Selamat ulang tahun putraku. Semakin ke sini, tanggung jawab kamu akan semakin besar" peluk tuan Andrian.
"Makasih Pah" balas Raditya.
"Yeeiiii, papa ini minggir dulu dong. Tuh lilin yang dibawa Rania sudah mau habis" sela mama menimpali membuat papa Andrian tersenyum menanggapi.
"Tiup lilinnya...tiup lilinnya...tiup lilinnya sekarang juga...sekarang juga"
Dan
Wusss...Raditya meniup lilin di atas kue yang dipegang Rania.
"Selamat ulang tahun suamiku, doa terbaik untuk kamu" ucap Rania.
Raditya kecup kening sang istri di hadapan semua. "Love you always" bilang Raditya.
Rania tersenyum.
Ternyata di ruangan lain, telah disulap sedemikian rupa untuk merayakan ulang tahun Raditya.
Beno sengaja mengajak Raditya duduk di gazebo depan untuk mengobrol agar memberi kesempatan kepada yang lain menyiapkan semuanya.
Mau mengadakan pesta besar dan mengundang kolega tak mungkin diadakan sekarang, mengingat kondisi kehamilan Rania yang masih rawan dan kondisi Celo dan Cio yang masih rentan.
Akhirnya ulang tahun sang bos muda cukup dirayakan oleh sesama penghuni mansion.
Bahkan tak kalah meriah sama yang diadakan di hotel. Karena Beno mengemasnya dengan sangat apik.
Lomba lucu-lucuan pun diadakan, sehingga menambah meriah suasana. Bagai ada acara tujuh belasan bagi penghuni komplek saking ramainya.
Raditya duduk menemani Rania yang bahkan terpingkal melihat kekonyolan mereka.
__ADS_1
Rania menoleh ke arah Raditya dan hendak beranjak, tapi keburu bu Marmi menghampiri.
Bu Marmi menyerahkan sesuatu kepada sang nyonya.
Kembali Rania menatap mesra ke arah sang suami.
"Yank, aku belum bisa kasih apapun untuk kamu. Karena mau ngasih aku yakin pasti kamu sudah punya segala dan pastinya lebih baik. Maaf aku hanya bisa memberimu ini" seru Rania dengan menyerahkan sekotak hadiah yang sudah dikemas rapi.
"Apa ini yank?" tanya Raditya.
"Buka aja" bilang Rania.
"Buka...buka...buka...buka..." seru yang lain.
Raditya membukanya dengan semangat. Ini adalah ulang tahun pertamanya dengan status telah berubah menjadi suami dengan dua orang anak. Malah akan tiga.
Raditya telisik apa isi dalam kotak. Hanya selembar kertas. Pikir Raditya.
Setelah dibongkar ternyata isinya adalah print out hasil pemeriksaan ultar sonografi yang dilakukan beberapa waktu lalu.
"Bukankah ini hasil pemeriksaan saat di rumah sakit yank?" tanya Raditya.
"Coba perhatikan lagi" suruh Rania.
"Itu pemeriksaan siang tadi, sampai aku capek nunggui kamu" cerita Rania.
"Ya maaf. Aku janji dech tak akan kuulangi lagi" kata Raditya.
"Jangan janji kalau tak bisa tepatin" tanggap Rania.
Raditya mulai memperhatikan kertas itu. Dan tidak menemukan apapun.
"Apaan sih yank? Nggak ngerti aku" kata Raditya menimpali.
Sementara yang lain tengah menikmati hidangan yang khusus disediakan oleh mama Andrian.
"Coba lihat yang ini" suruh Rania sambil menunjuk gambar yang dimaksud.
Raditya pun melakukan apa yang diminta oleh Rania.
"Kok ada dua titik di sini?" seru Raditya yang saat ini mulai memahami ucapan sang istri.
"Apa akan kembar lagi?" suara Raditya kedengaran antusias. Rania pun mengangguk.
"What? Kembar lagi?" sela mama yang tak sengaja mendengar obrolan anak dan menantunya.
"Sepertinya Mah" bilang Raditya.
Mama bergegas memeluk sang menantu, "Makasih sudah memberi warna pada kehidupan Raditya"
"Sama-sama Mah, terima kasih sudah menjadi mama yang baik sekali buatnya" balas Rania dan kini kedua wanita yang sangat Raditya cintai saling memeluk dalam cinta.
.
Rania juga tak memaksa jika Raditya memang tak bisa mencarikan.
Rania paham akan kesibukan sang suami. Walau kadang sewot juga karena lama menunggu kedatangan Raditya.
"Yank, babymoon yuk?" ajak Raditya suatu saat.
Tapi akhir-akhir ini Rania memang mengeluh cepat capek dan ngos-ngosan.
"Bukannya menolak yank, tapi fisikku" bilang Rania.
Raditya tersenyum dan mendekati sang istri yang perutnya mulai nampak membuncit itu.
"Selalu sehat ya sayang, jangan buat repot bunda. Daddy sayang kalian" Raditya mengelus perut dan mengecupnya.
"Makasih buat kalian telah hadir di hidup Dad dan bunda" sapa Raditya memberikan perhatian kepada janinnya.
.
Lama tak terdengar kabar beritanya, Riska kini telah menjadi wanita sukses.
Riska juga cukup kaget saat mendengar bahwa Mahendra masih hidup. Mahendra yang kini telah mendekam kembali di balik bui.
Bahkan rumah kediaman Mahendra telah disulapnya menjadi hunian yang nyaman buatnya.
Riska juga telah membeli mobil mewah.
Tetangga yang dulunya julid padanya kini berubah menjadi sangat baik pada Riska.
Cuman sampai sekarang Riska tak tahu kabar ibu mertuanya. Sementara ayah mertuanya sudah meninggal karena komplikasi dari penyakit jantung yang diderita nya cukup lama. Karena Mahendra masuk bui, otomatis biaya pengobatan untuk ayahnya pun terhenti juga.
Sampai saat ini Riska juga belum sekalipun menjenguk Mahendra yang berada di penjara.
Orderan mengalir begitu banyak, baik lewat mommy atau melalui Riska langsung.
Riska juga telah mempunyai anak buah. Bahkan kini ada puluhan. Banyak remaja gila yang memaksa Riska untuk menerimanya. Untuk apa para remaja itu, tentunya untuk memenuhi gaya hidup hedon mereka.
Ponsel Riska berdering dan tampak sebuah nomor tak dikenal. Riska biarkan saja panggilan itu.
"Kalau penting pasti akan kirim pesan" pikir Riska.
Riska semakin berhati-hati sekarang. Pengalaman dari masa lalu. Karena tak hati-hati berujung seperti itu, terkena grebek aparat.
Ternyata orderan dari seseorang yang belum dikenal oleh Riska dan orang ini minta dilayani oleh Riska sendiri.
"Oke baik. Ntar share lok kalau sudah siap" ucap Riska menyetujui kerjasama ini.
Riska bersiap setelah ponselnya dia taruh di atas nakas.
Itulah saben hari kesibukan Riska yang berujung masuk keluar hotel.
Setelah mendapat share lok, Riska bergegas pergi untuk menemui tamu yang menghubunginya tadi.
__ADS_1
"Hheemmm mayan bintang lima. Pasti dia bukan orang sembarangan" seru Riska.
Riska nanya ke bagian front office untuk kamar yang telah diboking atas namanya.
"Owh baik nyonya, anda akan kami antar ke presidential suit room"
"Waooowww" gumam Riska.
Sebuah kamar mewah nampak di depan mata. Tentu saja Riska sangat senang. Senang sekali.
Semoga saja bisa aku porotin dia. Pikir Riska.
Seorang laki-laki nampak masuk ke kamar yang dihuni oleh Riska kali ini.
"Halo Riska" sapanya membuat Riska menoleh ke arahnya.
"Suaranya tak asing" batin Riska.
"Lupa sama gue?" celetuknya.
Riska pandang lebih lama laki-laki itu.
"Lo Alex?" seru Riska.
"Ingatan lo tajam juga" tukas Alex.
"Gimana kabar kamu Lex?" seru Riska.
"Sama kayak kamu, jualan saben hari" terang Alex.
"Jualan apa lo?" tutur Riska menimpali.
"Sama kayak lo lah" kata Alex dengan enteng.
"Lantas, napa lo nyariin gue?" timpal Riska.
"Karena hanya lo yang bisa ngimbangin permainan gue" jawab Alex jujur dan apa adanya.
Tanpa banyak kata lagi, kini pasangan tanpa status itu saling menyerang di atas ranjang.
"Hanya lo yang bisa ngimbangin gue Lex" seru Riska di tengah permainan.
Entah berapa kali mereka lakukan penyatuan di kamar itu.
Riska limbung di samping Alex setelah penyatuan yang terakhir. "Lo hebat Lex" puji Riska.
"Lo juga sama" tukas Alex terkekeh.
.
"Yank, kapan jatah periksa? Akan kukosongin jadwalku" seru Raditya suatu pagi.
"Sabtu pagi aja. Pasti kamu longgar" jawab Rania.
"Oke, kalau Sabtu pagi maka jadwalku aman. Makasih" kata Raditya.
"Yank" panggil Raditya lagi.
"Iya" Rania menghampiri. Pasti mau minta tolong benahin dasi. Dan tebakan Rania benar adanya.
"Sini" kata Rania sambil meraih dasi yang tergeletak di ranjang untuk dipakaikan kepada sang suami.
"Celo dan Cio kemana?" tanya Raditya.
"Berjemur di halaman belakang" bilang Rania.
Raditya berangkat di antar pak Supri. Tak sarapan di rumah karena keburu telat. Padahal koleganya saja yang datang kepagian. Kan pertemuan harusnya masih sejam lagi
"Yank, kolega yang ngajakin rapat ntar adalah mantan tunangan aku loh" seru Raditya.
"Owwhhh" tak ada komen yang lain dari mulut Rania.
"Cuman owh doang?" sela Raditya.
"Terus aku musti komen apa? Tunangan kamu yang cantik dan anggun itu?" kata Rania.
Raditya tersenyum menanggapi Rania yang sewot.
"Ikut aja yuk!" ajak Raditya.
"Terus aku disuruh apa jika ikut?" tanya Rania.
"Duduk manis dan diam mendengarkan dan melihat aku kerja" kata Raditya.
"Enggak lah yank" tolak Rania.
"Pasti alesannya mau main sama Celo dan Cio?" tukas Raditya.
"He...he...itu juga tau" kata Rania menimpali.
"Ayolah yank, ikut aja" gantian Raditya yang merengek manja.
"Katanya buru-buru? Sudah ditungguin?" ucap Rania mengingatkan.
Akhirnya Rania ikut juga setelah Raditya memaksanya untuk ikut pergi.
Bahkan dengan percaya diri tinggi, sang istri diajaknya ikut ke ruang rapat di mana Vero menunggu nya di sana.
"Selamat pagi semuanya" sapa Raditya dengan tangan kiri tak melepas pegangannya ke tangan Rania. Sementara tangan kanan menyalami kolega bisnis yang telah hadir terlebih dahulu.
Sampai di depan Vero, Raditya berhenti sejenak.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading
__ADS_1