
Setelah selesai semua di ruang bayi. Raditya dan Rania pun keluar dari sana.
"Mau kuanterin ke mana?" tanya Raditya sekeluar mereka dari ruang bayi.
Karena sejak kejadian kemarin, Raditya sekalian meminta pihak rumah sakit untuk memulangkan Rania.
"Ke kontrakan aja" pinta Rania.
"Nggak ke ayah ibu?" tanggap Raditya.
"Ke kontrakan aja, jaraknya lebih dekat" jelas Rania.
"Baiklah" Raditya menurut saja apa kata Rania. Biasalah modus laki untuk mendapatkan hati wanita yang dicintai.
"Jalan apa?" tanya Raditya menanyakan alamat.
Belum sempat dijawab oleh Rania, ponsel Raditya berdering.
"Sori, kuterima dulu" ucap Raditya sambil menepikan mobil ke pinggir.
Dilihatnya layar ponsel yang kelap kelip itu.
"Halo Beno" sapa Raditya.
"Bos, nggak ngantor lagi kah? Urgen nih" kata Beno menjawab sapaan Raditya.
"Urgen apaan?" tanya Raditya.
"Segera ke kantor. Ntar kujelasin. Nggak pakai lama. Segera bos. Ingat itu" rentetan kata-kata Beno bagai rangkaian kereta api eksekutif yang melaju cepat tanpa berhenti.
Raditya menutup begitu saja panggilan Beno.
Raditya bingung harus bilang apa ke Rania, sementara saat ini dirinya musti balik ke perusahaan.
"Rania" panggil Raditya sambil ngusap tengkuknya.
"Gimana kalau kamu ikutan aku sebentar ke kantor? Barusan Beno nelponin untuk segera ke kantor" kata Raditya menjelaskan.
"Nggak usah. Aku naik taksi online aja. Daripada kamu ntar juga harus putar balik" tolak Rania.
"Nggak ada penolakan. Kamu harus ikut" kata Raditya sedikit memaksa.
"Kok maksa sih?" sungut Rania.
"Karena kamu nggak bakalan mau kalau tak aku paksa" Raditya tersenyum simpul.
"Issshhhh...." Rania menoleh ke arah luar jendela.Tak sanggup jika pandangan Raditya bertemu dengan netranya.
Raditya memutar balik laju mobil menuju ke perusahaan.
Sampai di sana, dengan santainya Raditya menggandeng Rania yang notabene semua karyawan di sana tahunya Rania adalah mantan istri manager mereka yang berselingkuh.
Bahkan cerita Rania pada waktu itu menjadi trending topik di tempat kerja Mahendra ini.
Semua menatap sinis ke arah Rania. Rania pun menunduk, tak sanggup menerima tatapan sinis orang-orang.
Raditya menoleh ke arah Rania. Seakan tahu apa yang dipikirkan Rania saat ini.
"Tegakkan kepala kamu. Buktikan kalau kamu tidak bersalah" bisik Raditya.
Rania menatap nanar Raditya, bulir bening sudah mau menetes saja tanpa bisa dicegah. Tapi buru-buru Raditya usap.
"Sudah jangan sedih, ada aku sekarang" hibur Raditya.
"Mereka tak akan berani macam-macam lagi" imbuh Raditya dengan tak melepas pegangan tangannya.
Sampai mereka di ruangan direksi. Beberapa staf direksi sudah berada di sana menunggu kedatangan Raditya. Beberapa staf yang memang segaja dipanggil mendadak oleh Beno.
__ADS_1
"Silahkan duduk kalian" suruh Raditya tegas. Wibawa seorang pemimpin langsung jelas terlihat di raut wajahnya. Dan itu nampak di penglihatan Rania yang ikut masuk ke ruang direksi.
Beno mendekat dan memberikan beberapa laporan.
Raditya mulai membuka lembar demi lembar kertas yamg dibawa Beno.
Dia tatap satu persatu orang yang berada di sana. Suasana tegang tercipta begitu saja.
"Cari Dimas. Kalau kalian tak menemukannya, maka kalian yang ada di sini akan mempertanggungjawabkan semua" kata Raditya tegas.
Semua yang hadir menunduk, tak berani menyanggah apa kata Raditya.
Dimas disinyalir telah melarikan diri. Beberapa petugas pihak berwajib tak menemukan Dimas di kediamannya semalam.
Raditya menggebrak meja, tak percaya dengan laporan Beno barusan.
"Cari Dimas di semua stasiun, terminal, bahkan bandara sekalipun" perintah Raditya saat ini.
"Kalau perlu sampai seminggu ke depan, kalian fokus cari Dimas dan bawa ke hadapanku" lanjut Raditya.
Kali ini tak ada lagi rasa sungkan Raditya terhadap tuan Rahardian yang nota bene punya saham juga di Grub Samudera. Tuan Rahardian yang masih punya hubungan saudara dengan Dimas.
Raditya meyakini jikalau yang terjadi di anak cabang ini ada andil tuan Rahardian juga. Meski Raditya belum punya bukti untuk semua tuduhan itu.
Tuan Rahardian yang tahu semua kejadian di malam itu, pastinya ada kaitannya dengan Dimas.
Atau jangan-jangan sumber dari segala masalah ini adalah dari tuan Rahardian. Tebak Raditya.
"Jika masa duka telah selesai, segera kamu panggil Mahendra. Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut" suruh Raditya tegas.
"Siap tuan muda" tukas Beno yang selalu bisa membawa diri saat pertemuan resmi begini.
Rania memperhatikan semuanya.
'Terlibat masalah apa sang mantan suaminya itu di perusahaan ini?' pikir Rania.
Setelah Raditya pergi, beberapa staf direksi saling mendekat dan mulai menggunjing Raditya yang datang bersama Rania.
"Kalian membicarakan apa?" telisik Beno yang masih berada di sana.
"Maaf...maaf tuan Beno" segera saja mereka membubarkan diri.
"Sudah sewajarnya jika Raditya mengganti semua staf direksi tadi" ujar Beno bermonolog.
.
"Apa yang diperbuat oleh Mahendra sehingga kamu mencarinya?" kata Rania membuka pembicaraan. Mereka masih di base ment perusahaan, dan mobil hendak berjalan.
"Kamu kepo juga atas ulah mantan kamu?" seloroh Raditya bercanda.
"Apa dia merugikan perusahaan kamu?" Rania masih saja bertanya tanpa memperdulikan candaan Raditya.
"Masih dugaan sih" kata Raditya menimpali.
"Oooooo" Rania hanya ber o ria.
"Apa kamu ingin aku penjarakan dia?" tanya Raditya dengan maksud bercanda.
"Kalau dia memang salah, biarkan dia bertanggung jawab dong" ucap Rania serius.
Sebuah notif pesan dari Beno masuk ke ponsel Raditya. Raditya langsung membukanya.
"Dimas sudah jadi TPO dan Mahendra besok akan dipanggil sebagai saksi oleh penyidik" beritahu Beno.
Raditya langsung menaruh ponsel di atas dasboard tanpa membalas pesan Beno.
"Jadi pulang kontrakan?" tanya Raditya.
__ADS_1
Rania pun mengangguk.
"Kangen sama bu Marmi?" Rania mengangguk lagi.
Sampai kontrakan ternyata bu Marmi tak ada. Rania nanya ke beberapa tetangga barangkali tahu. Malah melihat keberadaan Rania mereka menyambut hangat.
"Loh, sudah kempes aja perutnya. Si kembar apa kabar?" tanya para tetangga itu.
"Semoga si kembar lekas sehat ya Rania" imbuh yang lain.
Sungguh beda suasana di komplek tempat tuan Handono tinggal dengan komplek kontrakan kecil ini. Perbedaan itu sangat Raditya rasakan.
"Kira-kira bu Marmi kemana ya bu?" tanya Rania.
"Mungkin ke toko kelontong kamu" beritahu yang lain.
"Oh iya ya" Rania baru kepikiran toko kelontong yang hampir sebulan tak beroperasi itu.
"Toko kelontong?" sela Raditya.
"Jalan aja ke sana" imbuh Rania tanpa menjawab pertanyaan Raditya.
"Mari bu ibu, duluan" kata Rania pamitan.
Raditya mengikuti langkah Rania yang berjalan di depannya.
Jalan yang berlubang dan sedikit becek mereka lalui.
"Jadi selama beberapa bulan ini kamu tinggal di sini?" tanya Raditya dan dijawab anggukan Rania.
"Begitulah" jawab Rania.
"Keuangan ku nggak sanggup sih buat sewa apertemen" celetuk Rania seakan menyindir Raditya.
"Maaf" ucap Raditya.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Uang yang kamu kasih di malam itu aku gunakan untuk modal toko kelontong. Jadi secara tidak langsung toko kelontong yang akan kita kunjungi adalah punyamu" terang Rania.
"Kamu itu bilang apa bun? Sudah seperti jualan cabe aja" kata Raditya membercandai Rania.
"Bun...bun...panggil Rania" tukas Rania.
"Ha...ha....kan kamu bundanya anak-anak aku juga. Apa salahnya sih" Raditya memberi alasan yang tepat untuk itu.
Rania terdiam karena apa yang dikatakan Raditya benar juga.
"Jangan lupa minggu ini pulang ke rumah ayah dan ibu" kata Raditya mengingatkan.
"Iya...iya...aku inget. Ayah punya gawe kan?" ucap Rania.
"Yaappppp" Raditya membenarkan.
"Bu Marmi" panggil Rania.
Sepertinya bu Marmi memang sedang di toko. Karena terlihat dari seberang jalan bu Marmi sedang melayani pembeli.
"Loh, kalian kok malah ke sini?" tanya bu Marmi melihat kedatangan Raditya dan Rania.
"Ini toko nya?" Raditya menelisik sekeliling.
"Iya, toko kelontong kamu" bilang Rania.
"Heemmmmmm, dan sekarang akan menjadi milik bu Marmi" kata Raditya sekenanya.
"Loh" Rania dan bu Marmi dibuat bengong oleh kata Raditya barusan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading