
"Beno, jangan lupa perintah gue yang tadi" seru Raditya saat Beno akan beranjak pergi bersama Anton.
"Yang mana?" Beno pura-pura.
"Selidiki tuh dokter yang bersama mereka bertiga" tandas Raditya.
"Iya bos, tadi kan sudah lo ucapin. Nggak usah dibahas lagi" tanggap Beno menimpali.
"Oke kita balik. Sampaikan salam gue buat nyonya Rania. Semoga lekas sehat" ucap Beno sekalian pamitan pergi.
Cukup lama Beno tadi menunggu Raditya yang menemani Rania. Bahkan sampai Rania kembali terlelap baru Raditya balik.
Sepeninggal Beno dan Anton, ponsel Raditya kembali berbunyi.
Saat ini Adam lah yang menelpon.
"Halo Dam, apa ada masalah di Erdua?" sapa Raditya.
"Bos, perusahaan pesaing kita barusan lounching produk baru. Khusus pengiriman luar negeri" beritahu Adam.
"Keunggulan nya apa dibanding punya kita?" tanggap Raditya.
"Seperti biasa mereka menawarkan biaya pengiriman yang lebih murah serta packaging yang bagus" seru Adam.
"Berarti soal tarif dan kemasan?" tukas Raditya.
"Betul bosss" jawab Adam.
"Apa itu perusahaan yang sama seperti sebelumnya?" tanya Raditya.
"Yap, siapa lagi. Perusahaan yang berani tekor itu?" tandas Adam.
"Hhemm gue paham. Sepertinya pemiliknya barusan dapat kucuran dana karena mertuanya meninggal beberapa waktu yang lalu" imbuh Raditya sambil tertawa sinis.
"Kalau begitu kita nggak usah bergerak dulu. Tinggal tunggu waktu aja perusahaan itu gulung tikar" pertegas Raditya.
"Omset kita lumayan terganggu bos untuk divisi luar negeri" bilang Adam.
"Terus rencana kalian?" Raditya membalikkan masalah kepada mereka, agar anak buahnya juga memikirkan solusinya. Dan tidak melulu berkeluh kesah.
"Menurut bos?" tanya balik Adam.
"Untuk masalah ini kupercayakan sama kamu Adam. Selesaikan! Dan besok siang, hasilnya laporkan padaku" perintah Raditya.
"Kalau nggak begitu, kamu nggak akan segera bisa" tutur Raditya menambahi.
"Siap bos, aku coba dech" tukas Adam.
Lelahnya fisik Raditya hari ini. Setelah melalui macam drama dengan sang istri. Ditambahi dengan acara ngidam Rania. Dan beberapa masalah perusahaan yang musti Raditya selesaikan.
Saat melihat jam dinding, jarum pendek ternyata telah berada di angka sebelas.
"Huh, waktunya meluruskan pinggang nih" gumam Raditya.
Sampai-sampai Raditya tak nyadar jika baju yang menempel di badan masih baju kantoran yang dia pakai sedari pagi.
"Asam banget nih badan" kata Raditya sambil membau tubuhnya sendiri.
Raditya lihat adakah baju ganti yang dibawakan bu Marmi buatnya.
Raditya tersenyum saat melihat setelan baju rumahan buat nya.
Akhirnya jam sebelas malam Raditya nekad mandi air hangat. Badannya berasa lepek.
Rasa kantuk yang menyerangnya tadi berubah menjadi rasa segar.
Rania menggeliat dan kembali meneruskan tidurnya.
Sejenak Raditya menengok ke arah sang istri dan menghela nafas panjang.
Semoga tak ada drama di tengah malam buta. Harap Raditya dalam hati.
Laptop yang sengaja dia bawa dari perusahaan Raditya buka.
Semua laporan yang mustinya hari ini dia rampungkan, belum dia koreksi sama sekali.
Tapi baru saja laptop kebuka, mata Raditya sudah terserang rasa kantuk.
"Ternyata fisik juga musti diistirahatkan" kata Raditya mulai meluruskan badannya di sebuah kursi panjang samping ranjang Rania.
Laptop yang terlanjur nyala, dia biarkan begitu saja.
Tak menunggu lama, dengkuran halus suara nafas Raditya terdengar.
Raditya kembali terbangun karena mendengar orang yang muntah.
Raditya tengok ke arah ranjang, tak didapatinya sang istri.
Dengan nyawa yang belum genap terkumpul, Raditya tuju kamar mandi.
Tebaknya, Rania pasti lah di sana.
"Sayang....Sayang..." panggil Raditya.
__ADS_1
"Iya" jawab Rania dari dalam.
Raditya buka pintu kamar mandi yang tak terkunci itu.
"Muntah lagi?" tanya Raditya.
"Iya nih ayam panggang bumbu rujak nya keluar semua" jelas Rania. Meski tampak lemas masih saja bercanda.
.
Di tempat lain, Rudi dan yang lain belum beranjak dari salon tempat mereka tadi berkumpul.
"Bos, kita akan bantu lo. Tapi harus ada imbal baliknya" tukas Rudi ke arah dokter Lee.
"Uang? Lo butuh uang kan?" sahut dokter Lee.
Ponsel Dimas berdering.
"Wow, Vero" serunya dengan hati riang.
"Halo Vero" sapa Dimas saat panggilan Veronica tersambung.
"Apa? Lo nyuruh gue besok datang ke rumah lo. Terus suami lo?" ujar Dimas.
"Suami lo jarang pulang?" kembali Dimas sengaja mengeraskan suaranya agar yang lain ikut dengar.
"Oke, gue akan bantu ambil hak lo dari tangan Alex" kata Dimas.
Panggilan itu pun diakhiri oleh sang penelpon.
"Yeeeiiii, akhirnya tinggal selangkah lagi gue bisa masuk keluarga itu" ucap Dimas dengan riang.
Tujuan utamanya sedari dulu memang mendapatkan Veronica kembali ke tangannya, bonusnya tentu semua perusahaan yang dimiliki tuan Rahardian akan menjadi milik Dimas setelah dia sah menjadi suami Vero.
Dimas waktu itu ingin membalas Raditya karena telah berani menolak dan mempermalukan Veronica. Veronica yang juga menolak Dimas karena oleh papa nya sudah dijodohkan dengan Raditya.
"Terus, lo mau ninggalin kita?" sela Andah.
"Mustinya sih begitu. Untuk apa aku lanjutin, nyatanya kalian berdua sudah nggak guna buat gue. Tapi kalau yang berkaitan dengan dokter Lee, tetaplah aku mau...ha...ha...." Dimas terbahak setelah mengatakan itu semua.
"Dasar lo picik" umpat Rudi.
"Salah siapa khianatin gue duluan" sergah Dimas.
"Sudah...sudah...kita harus kompak nih. Jangan sampai terpecah karena sesuatu dan lain hal" ujar Andah menengahi.
"Rud, kita jalanin misi kita sendiri aja. Jangan melibatkan lagi tuan Dimas" lanjut Andah.
"Heemm" Rudi mengangguk saja tanpa menjawab.
Andah malah berencana untuk menawarkan ke rumah sakit-rumah sakit yang banyak membutuhkan obat-obatan itu. Apalagi isu terakhir, obat yang ada di dokter Lee sekarang banyak yang kosong di peredaran.
Rudi bagian pemasaran, akan merekrut beberapa tenaga marketing untuk masuk dan membantu penjualan.
.
Mungkin dengan begitu niatan mereka, Raditya tak perlu repot-repot untuk mengejar mereka sendiri.
Sudah ada para aparat hukum yang siap untuk menumpasnya.
Raditya bangun kesiangan karena sehabis Rania muntah tengah malam tadi, dia baru bisa memejamkan mata hampir menjelang fajar.
Raditya bangun saat bu Marmi dan Pak Supri telah datang.
"Kesiangan tuan muda?" celetuk pak Supri.
"He...he..." Raditya hanya menjawab dengan tawanya.
Rania yang bangun terlebih dulu, tak tega membangunkan karena melihat sang suami yang masih pulas dalam tidurnya.
"Pak, aku dibawain baju ganti nggak nih?" tanya Raditya.
"Ada tuan. Masih di dalam mobil. Mau kuambilin sekarang" jawab pak Supri.
"Boleh dech" tukas Raditya.
"Sayang, maafin aku ya. Belum bisa jadi istri yang baik" ucap Rania sepeninggal pak Supri.
Raditya mendekat menghampiri sang istri.
"Kamu itu ngomong apaan? Kau sehat saja aku sudah bersyukur sayang. Sudah jangan mikirin apa-apa lagi" ucap Raditya memeluk dan mengecup puncak kepala sang istri.
Tak akan Raditya biarkan wanita baik ini terluka untuk kedua kalinya.
Rania menyandarkan puncak kepalanya di dada sang suami.
Padahal sebelumnya Rania tak pernah melakukan hal-hal seperti itu kepada mantan suaminya.
Bahu Raditya tempatnya menopang sekarang.
"Tuan ini" bilang pak Supri.
"Ooppssss, salah waktu dan tempat nih aku" celetuk pak Supri yang masuk saat Raditya dan Rania pelukan.
__ADS_1
"Taruh situ aja pak" suruh Raditya menunjuk ke kursi panjang.
"Siap tuan muda" tukas pak Supri menaruh ke tempat yang diminta oleh sang bos.
"Tuan, aku kantin dulu. Biasa bos, nyusulin istri" ucap pak Supri tersipu karena memergoki sang bos yang sedang pelukan. Padahal Raditya biasa saja. Rania pun begitu.
"Minta dibawain apa sama Bu Marmi, sebelum aku pergi?" tanya Raditya.
"Ayam panggang bumbu rujak seperti yang kemarin" Rania merajuk.
"Oh ya pak Supri, bilang bu Marmi suruh bawakan seperti yang diminta istriku" suruh Raditya.
"Oke, siap tuan" pak Supri bergegas keluar. Daripada berada di ruangan yang sama di antara pasangan yang saling bucin.
"Boleh aku mandi?" tanya Raditya sambil mengurai pelukan.
"Hheeemmm" Rania pun mengangguk.
Tak lama Raditya di kamar mandi rumah sakit itu. Meski dirinya tak nyaman, Raditya harus terbiasa menyesuaikan situasi yang ada.
"Sini aku bantuin" ucap Rania saat sang suami tinggal memakai dasi.
"Dulu sebelum aku ada siapa yang masangin? Jangan-jangan para sekretaris kamu" tuduh Rania sambil mengalungkan dasi dan merapikannya.
"Ha..ha...ngapain cemburu sama hal yang telah lewat" Raditya terbahak.
"Kalau aku bilang Beno sama pak Supri apa kamu akan percaya?" ucap Raditya berikutnya.
"Ya pasti enggak lah" sewot Rania.
"Tapi nyatanya mereka lah yang membetulkan dasi ku saben pagi" lanjut Raditya lengkap dengan tawanya.
"Kalau tak percaya, kroscek saja sama mereka" seru Raditya.
Bu Marmi dan Pak Supri datang membawakan pesanan Rania.
"Tuan muda apa mau sarapan dulu dengan nyonya? Kalau iya saya siapin dulu" ujar bu Marmi.
"Aku nanti aja sayang, ni perut rasanya masih nggak enak" bilang Rania.
"Kalau begitu aku ntar di kantor aja" jawab Raditya.
"Oh ya bu, siapin aja sekotak buat aku" ucap Raditya meminta bu Marmi menyiapkan.
Raditya berangkat dengan pak Supri dan pulangnya ntar bersama Beno.
Kini Raditya tengah berada di ruang rapat, bersama para dewan direksi yang lain.
Rapat rutin bulanan.
Setelah Raditya membuka sesi rapat, tak lupa Raditya meminta maaf karena belum sempat membuka laporan yang telah dikirimkan Beno kemarin by email.
Akhirnya Beno menampilkan kembali laporan masing-masing divisi dan membahasnya satu persatu dengan dewan direksi demi kemajuan Samudera Grub.
Rapat hampir selesai saat ponsel Raditya berbunyi.
"Pak Supri?" Raditya memandang ponsel nya heran.
Tak biasanya pak Supri menelponnya, apalagi tahu jika saat ini dirinya sedang rapat. Pasti ada yang urgen, tebak Raditya.
"Tuan-tuan, maaf. Rapat saya jeda sebentar. Silahkan pelajari dulu. Bentar lagi kita bahas" ujar Raditya sambil berjalan keluar dengan tergesa.
Semua dewan direksi saling pandang termasuk Beno. Tak biasanya sang bos ninggalin pas di tengah-tengah rapat.
"Halo Pak Supri, ada apa?" sapa Raditya dengan berbisik saat sudah berada di luar ruangan.
"Maaf tuan. Maaf sekali. Aku hanya ingin nanya, kemarin tuan beli ayam panggang bumbu rujaknya di mana?" tanya pak Supri ikutan berbisik.
"Di kantin rumah sakit. Emang kenapa?" jawab Raditya dan bertanya balik.
"Loh, beneran di kantin rumah sakit? Ini nyonya muda sampai menangis gara-gara rasa ayam panggangnya nggak sama dengan yang kemarin. Yang dibelikan tuan muda" jelas pak Supri di ujung telpon.
Raditya mengusap wajahnya kasar. Bagaimana dibilang tidak sama, belinya aja di tempat yang sama. Batin Raditya heran.
"Udah gini aja pak, bilang ke nyonya. Aku selesaikan rapat aku dulu. Abis itu aku balik. Ntar kucariin dech" imbuh Raditya.
"Baiklah tuan. Maaf sekali lagi" Pak Supri sampai bolak balik menyampaikan rasa maafnya.
Raditya sudah kembali ke ruang rapat.
Untung saja rapat berjalan lancar setelah dijeda oleh Raditya barusan.
Beno menghampiri sang bos sesaat setelah sang bos menutup rapat bulanan.
"Bos, ada apa?" tanya Beno saat melihat Raditya seperti ada yang dipikirkan.
"Anterin aku" pinta Raditya.
"Kemana?" tanya Beno.
"Nyari penjual ayam panggang bumbu rujak" jawab Raditya membuat Beno bengong.
"Kok bengong sih? Ayo!" Raditya beranjak dari duduk.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading