
"Oh ya, aku mau bilang sesuatu yang serius padamu Rania" tatap mata Raditya tepat lurus ke arah mata Rania.
Rania tak menjawab.
Berita di tivi sedang menayangkan acara persidangan untuk menjatuhkan vonis kepada terdakwa yang seorang pejabat tinggi negara tak diperdulikan oleh Raditya dan Rania.
"Minggu ini kedua orang tuaku akan datang ke kediaman ayah" Raditya memulai pembicaraan.
Rania masih menatap netra Raditya.
"Rania ayo kita menikah" kata Raditya dengan mimik muka serius.
Rania masih saja diam.
Lumayan lama Raditya dibuat menunggu.
"Apa kamu yakin dengan hati kamu?" barulah keluar suara Rania yang sangat ditunggu oleh Raditya.
Raditya pun mengangguk.
"Aku bukan orang baik Rania. Karena kalau aku orang baik, maka nggak akan terjadi ONS dengan kamu waktu itu. Tapi beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua" mohon Raditya.
"Meski tanpa cinta?" sambung Rania.
"Kalau aku sekarang bilang aku cinta kamu, pasti akan kamu anggap omong kosong bukan?" tandas Raditya.
"Bukan hanya aku, siapapun pasti akan menganggapnya begitu. Aku realistis saja, dunia kita sungguh lah beda" terang Rania.
"Perbedaan bukan jadi penghalang Rania" tukas Raditya.
"Apa kamu tak ingin status yang jelas buat putra kembar kita?" sambung Raditya.
"Memberi status tak harus kita menikah bukan?" imbuh Rania.
Sulit juga untuk meyakinkan Rania yang mulai tak percaya dengan pernikahan karena trauma masa lalu nya.
"Aku janji, akan memberikan kebebasan waktu buatmu untuk menemui si kembar. Aku tak memungkiri bahwa mereka anak-anak kamu juga" tandas Rania penuh keyakinan.
"Itu beda hasilnya kalau kita menikah. Anak-anak akan jauh lebih baik bila diasuh oleh kedua orang tuanya langsung" lanjut Raditya.
"Kamu tak ingin bukan, apa yang terjadi pada Chiko terjadi juga pada si kembar" Raditya mulai memberikan wacana, agar pikiran Rania terbuka.
Rania diam lagi, sedang mencerna kata Raditya.
Memang apa yang dikatakan Raditya benar adanya. Semenjak dirinya tak bersama Chiko, Rania tak bisa melihat langsung perkembangan sang buah hati. Bahkan Chiko lebih sering bersama Riska yang notabene ibu sambung Chiko. Hingga terjadilah Chiko sakit dan telat dibawa ke rumah sakit.
Rania termenung cenderung melamun.
__ADS_1
"Rania, bagaimana?" tanya Raditya sambil menepuk bahu Rania.
"Apanya?" tanya Rania.
"Keputusan kamu?" tukas Raditya.
"Hemmm, beri aku kesempatan untuk berpikir. Jika longgar mampirlah besok. Akan kuberikan jawaban itu padamu" kata Rania.
"Baiklah. Aku akan ke sini besok" terang Raditya menimpali.
"Oh ya Rania, aku dengar Riska istri dari Mahendra akan melahirkan" beritahu Raditya.
"Ya biarin aja, bukan urusan ku lagi" terang Rania, membuat Raditya mengulum senyum.
Raditya beranjak dari duduk setelah minum kopi pahit yang dibuatin oleh bu Marmi tadi.
"Oke, aku balik sekarang. Aku harap kamu tak kasih jawaban yang mengecewakan untukku besok" kata Raditya menatap teduh wanita berkulit putih bersih itu.
Rania ikutan berdiri dan mengantar Raditya sampai pintu depan.
"Hati-hati" celetuk Rania keluar begitu saja dari bibir mungilnya.
"Iya, aku pulang" Raditya pun balik kanan dan jalan menuju lift
"Masih besok ternyata keputusannya. Dan kalau boleh memohon, dekatkan Rania untuk menjadi istriku" doa Raditya saat sedang sendirian dalam lift untuk turun.
"Sial, belum aku hubungin pak Supri lagi. Bisa nunggu lama nih di lobi" celetuk Raditya.
.
Di rumah sakit, Riska sudah mulai lemas karena terus saja berteriak saat nyeri kontraksi datang.
Bidan jaga minta persetujuan Mahendra untuk menandatangani persetujuan pemberian infus.
Yaaaa, akhirnya sang dokter memutuskan operasi karena pembukaan Riska masih saja bertahan di pembukaan tujuh meski sudah ditungguin hampir delapan jam.
Mahendra mengacak-acak rambutnya kasar. Darimana dia akan mendapatkan uang. Pikir keras Mahendra.
"Untuk total biaya, silahkan hubungin admin tuan" bidan yang tadi memeriksa mempersilahkan Mahendra untuk ke bagian admin.
Mahendra menghampiri Riska sebelum bertolak ke admin.
"Riska, aku bawa dulu perhiasan kamu untuk jaminan. Barangkali uang yang aku bawa saat ini kurang" kata Mahendra sembari mengacak tas Riska untuk mencari barang yang dimaksud.
"Heh, perhiasan itu punyaku sendiri ya. Bukan kamu yang belikan. Enak aja" hardik Riska sembari merebut paksa tas yang dipegang Mahendra.
"Aku pinjem dulu, kalau sudah dapat nanti aku ganti. Katanya kamu mau operasi? Apa dibiarkan saja. Kamu tinggal pilih" ulas Mahendra.
__ADS_1
"Sialan kamu yank" umpat Riska. Percuma dia selalu belain Mahendra di depan Rania. Ternyata suaminya sendiri bangsat. Gerutu Riska seakan tak ada habisnya.
Barulah sekarang Mahendra melangkah pasti menuju admin, sambil menenteng tas yang direbutnya dari Riska.
"Mau kemana kamu Mahen?" tanya orang yang ternyata adalah ibunya.
"Mau ke bagian administrasi bu, nanyain biaya operasi Riska" jelas Mahendra.
"Sejak sama Riska kenapa hidup kamu sial melulu sih? Keuangan kamu juga turun drastis. Jatah uang yang kamu kasih ke aku juga berkurang banyak" keluh sang ibu.
"Bu, aku juga punya keluarga yang musti aku pikirin" sergah Mahendra.
"Tapi kenapa dulu kamu bisa?" ibu Mahendra masih mencerca tanya ke sang anak. Mengeluarkan uneg-uneg.
Mahendra mengacak rambutnya kasar, bosan dengan tuntutan sang ibu yang tak ada habisnya. Belum lagi mikirin biaya operasi Riska sekarang.
"Bu, bisa nggak sih kita bahas nanti saja. Aku pusing nih" kata Mahendra sedikit kasar ke sang ibu.
"Apa karena dulu Rania yang memenuhi semuanya. Terus istrimu sekarang tidak mau. Benar bukan?" tandas ibu Mahendra sembari menatap Mahendra.
Mahendra tak menjawab dan berlalu begitu saja meninggalkan ibunya untuk menuju ke admin. Dia sudah cukup pusing dengan rengekan Riska, sekarang malah ditambah dengan komplain dari ibunya.
Dan di admin, Mahendra menjaminkan semua perhiasan Riska untuk persiapan biaya rumah sakit.
Riska didorong ke kamar operasi oleh petugas. Mahendra tidak diperkenankan masuk mengikuti sang istri.
Bayangan-bayangan Rania melintas di pelupuk matanya. Rania yang tidak mengeluh apapun saat melahirkan Chiko dan hanya meremas tangannya kuat saat merasakan kontraksi. Semua kembali ke ingatan Mahendra satu persatu. Rania yang tak pernah merepotkan dirinya.
Kalau dirinya kekurangan uang, maka Rania dengan ikhlas hati akan menutup dengan uang pribadi hasil kerjanya sendiri.
Mahendra duduk di kursi tunggu depan ruang instalasi bedah sentral. Sang ibu pun juga menyusul ke sana. Tapi ibu Mahendra sekarang tak banyak tanya.
"Tuan Mahendra, suami nyonya Riska" panggil petugas kamar operasi.
Mahendra beranjak dari duduk, "Iya sus, saya suami ibu Riska" jawab Mahendra.
"Iya tuan, silahkan masuk. Anda dipanggil dokter Andah. Dokter spesialis anak. Ada yang ingin beliau jelaskan langsung kepada anda" terang perawat kamar operasi itu.
Mahendra mengikuti petugas itu.
"Maaf tuan, silahkan lewat pintu sebelah sana. Dan mohon ganti baju terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar operasi" terangnya sembari menunjuk pintu untuk masuk Mahendra.
"Baik sus. Makasih" ucap Mahendra melangkah ke pintu yang dimaksud.
Dan sekarang Mahendra telah berada di depan dokter, yang menurut Mahendra lumayan cantik dan humble itu.
"Silahkan duduk tuan Mahendra. Seperti yang dibilang oleh perawat saya tadi. Di sini akan aku jelaskan kondisi bayi yang dilahirkan ibu Riska" kata dokter Andah mengawali bicara.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading