Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Perkenalan


__ADS_3

"Kenalkan, kami ini orang tua Raditya. Laki-laki tak tahu diri yang menghamili kamu. Maafkan atas perilakunya" kata tuan Andrian.


Rania menatap keduanya. Untuk memastikan bagaimana mereka dengan sangat yakin mencari dirinya. Yang tak ada apa-apanya dibanding keluarganya.


Rania yang tersisih. Rania yang terbuang.


Sambutan hangat keluarga Raditya sungguh di luar dugaan. Bahkan nalar Rania pun tak dapat menjangkau.


Nyonya Andrian yang awalnya kekeuh menjodohkan Raditya dengan Veronica saja, sekarang merasa yakin jika Rania mungkin sudah menjadi jodoh yang disiapkan untuk Raditya. Tanpa memandang masa lalu Rania.


Mendengar tuan Andrian yang malam kemarin berbicara dengan seseorang dan membahas tentang kelahiran anak-anak Raditya, langsung menghampiri sang suami dan mengajak kemari. Ke tempat di mana Rania melahirkan.


"Kok malah bengong sih Rania. Kami ini papa mama Raditya dan akan menjadi papa sama mama kamu juga" ujar nyonya Andrian.


Rania tersenyum kecut, kikuk musti menjawab apa-apa.


Kedua orang tua yang nampak sangat harmonis itu datang-datang malah memperkenalkan diri sebagai calon mertua Rania.


Bu Marmi datang tergopoh menghampiri Rania.


"Maaf...maaf...perut ibu mules Rania" kata nya.


"Nggak apa-apa bu" tukas Rania.


Bu Marmi baru melihat kedua orang tua Raditya.


"Loh, kok sudah ada tuan dan nyonya?" kata bu Marmi.


"Bu Marmi kenal?" tatap Rania.


"Tuan dan Nyonya yang semalem datang. Kan aku sudah cerita padamu" imbuh bu Marmi.


"Hemmm makasih ya bu Marmi. Sudah bantuin Rania dan ikut menjaga cucu-cucu kami" terang nyonya Andrian.


"Si kembar juga cucu-cucuku nyonya" terang bu Marmi.


"Cucu kita bersama...ha..ha... Semakin banyak Opa Oma semakin banyak yang akan menyayangi mereka" tukas tuan Andrian.


Kehadiran orang tua Raditya malah mengingatkan pengusiran orang tuanya, tuan Handono.


Seandainya mereka di sini sekarang, alangkah bahagia hati Rania.


Nyonya Andrian yang melihat Rania malah melamun, mendekati nya kembali.


"Boleh mama lihat cucu-cucu" ijin nyonya Andrian dengan menyentuh pundak Rania.


"I...i...iya Nyonya" jawab Rania tergagap dari lamunan.


"Kok nyonya lagi? Panggil mama saja Rania" pinta mama.


"Tapi saya bukan-bukan siapa nyonya" tolak Rania.


Nyonya Andrian terdiam, mungkin Rania masih butuh waktu. Pikir nyonya Andrian.


Baru juga kenal sudah meminta untuk dipanggil mama, rasanya tak adil juga bagi Rania.

__ADS_1


Aku akan mencoba pelan-pelan saja. Ucap nyonya Andrian dalam benak.


Bu Marmi mendorong kursi roda yang dipakai Rania ke arah ruang intensif di mana kembar berada.


Tuan dan nyonya Andrian mengikutinya di belakang. Kedua pengawal itupun melakukan hal yang sama. Mengikuti arah Rania berjalan.


Suasana pagi di depan ruang bayi itu masih nampak lengang.


"Di mana mereka bu?" tanya tuan Andrian ke bu Marmi.


"Di dalam tuan, kita belum diperbolehkan masuk" jelas bu Marmi.


Bu Marmi mendekat ke jendela kaca tembus pandang.


"Itu si kembar tuan" tunjuk bu Marmi ke arah dua bayi dalam satu inkubator.


Tuan dan nyonya Andrian mendekat ke arah jendela kaca di mana bu Marmi berada.


"Ihhhhh.. Lucu-lucunya" kata nyonya Andrian melihat keduanya. Kedua bayi kembar kebetulan menengok ke arah Opa Omanya itu.


"Semua mirip Raditya" tukas tuan Andrian.


"Raditya pintar sekali Pah, sekali berbuat langsung dapat dua" kelakar nyonya Andrian.


"Mama ini nggak lucu ah" kata tuan Andrian menanggapi.


Bu Marmi hanya tersenyum menanggapi pembicaraan kedua orang tua yang humble itu.


Bisa dikatakan mereka termasuk salah satu keluarga kaya, tapi mereka sangat menghargai kaum jelata sepertiku. Batin bu Marmi.


"Nyonya Rania ya?" sapa salah satu suster yang barusan keluar.


"Kemarin dokter Andah sudah berpesan ke tuan Raditya, untuk membawa air susu anda buat si kembar. Sudah adakah? Mau kita coba untuk meminumkan" kata perawat itu.


Emang sih rasa keduanya penuh dan keras. Tapi Raditya kemarin tak bilang apa-apa. Pikir Rania.


"Maaf sus, aku belum sempat" kata Rania beralasan.


"Baiklah, kalau begitu saya minumi susu yang sudah ada dulu. Khusus bayi prematur seperti putra anda" terangnya.


"Terima kasih suster. Boleh tahu keadaan terakhir kedua putra saya suster?" tanya Rania.


"Yang pasti lebih baik dari kemarin nyonya. Keduanya sudah nggak panas lagi" jelasnya.


"Untuk lebih jelasnya bisa nanya ke dokter Andah. Beliau biasanya datang sekitar jam sepuluhan nyonya" beritahu suster itu.


"Iya sus, makasih" jawab Rania.


"Rania, sebaiknya kamu balik aja dulu ke kamar. Bukannya kemarin dokter bilang waktunya ganti perban" saran bu Marmi.


"Iya sebaiknya begitu. Ibu pasca melahirkan harus cukup istirahat" nyonya Andrian menambahi.


"Kamu juga harus cukup gizi sayang" saran nyonya Andrian berikutnya.


"Betul tuh apa yang dibilang oleh nyonya. Kamu kan anemia waktu hamil Rania" bu Marmi menimpali.

__ADS_1


Rania kembali ke kamar untuk istirahat. Jam sepuluh dia ingin kembali ke ruang bayi untuk menemui dokter Andah, dokter yang merawat kedua putra kembarnya.


Tuan dan Nyonya Andrian pun pamitan untuk membiarkan Rania istirahat.


"Kalau perlu apapun, bilang saja ke pengawal yang ada di depan bu Marmi" ucap tuan Andrian penuh wibawa.


Bu Marmi mengangguk.


"Rania, kita pergi dulu. Istirahatlah" tukas nyonya Andrian penuh kasih sayang, seperti sudah menganggap Rania seperti putrinya sendiri.


Rania hanya mengangguk untuk menanggapi nyonya Andrian.


.


"Semoga saja mereka benar-benar baik" gumam Rania sepeninggal kedua orang tua Raditya.


"Sepertinya kebaikannya dari hati Rania" ulas bu Marmi dengan yakin.


Luka hati yang dalam, membuat Rania berhati-hati terutama kepada orang yang baru dikenal.


"Tak akan kubiarkan siapa saja yang akan merebut putra-putraku. Biarpun papa kandungnya" Rania masih saja bergumam.


"Lupakan luka lama Rania, sudah saatnya kamu bahagia" kembali bu Marmi mengingatkan nasehat-nasehat yang pernah diucapkan. Mungkin Rania sudah bosan mendengar semuanya.


"Akan kucoba bu, meski itu mungkin akan sangat sulit" tandas Rania.


Ketukan pintu kembali terdengar.


Bu Marmi beranjak dari duduk. Seperti biasa, untuk membuka pintu.


"Bu, maaf. Ini ada titipan dari tuan Raditya. Tadi ada orang suruhannya yang kesini" beritahu pengawal itu.


"Iya. Makasih. Kalian sudah sarapan belum?" tanya bu Marmi.


"Bisa nanti-nanti bu. Kita gantian aja" serunya.


"Jangan lupa makan" nasehat bu Marmi.


"Makasih bu"


Bu Marmi pun balik ke dalam untuk menyerahkan bingkisan titipan dari tuan Raditya.


"Dari tuan Raditya" beritahu bu Marmi dengan menyerahkan sebuah paperbag.


"Taruh aja bu" Rania malas membuka.


"Nggak baik menolak kebaikan orang. Ayo buka aja" kata bu Marmi.


Dengan enggan Rania membuka paper bag itu.


"Apa isinya?" tanya bu Marmi.


Rania memandang alat yang masih terbungkus rapi itu. Dia paham sekali yang aku butuhkan. Kata Rania dalam hati. Tidak seperti Mahendra, yang semuanya dipasrahkan pada Rania untuk beli. Pakai uang sendiri pula.


Mungkin kalau Raditya tau pikiran Rania saat ini pasti akan nyanyi lagu 'Ojo dibanding-bandingke'

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2