Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Rumah Baru


__ADS_3

Tak terasa perjalanan empat jam telah terlewati. Karena dihabisin Raditya untuk mengobrol sambil sesekali melihat pergerakan saham Samudera Grup dan perusahaan yang didirikan sendiri oleh Raditya.


"Tuan muda, sudah sampai" kata pak Supri untuk memberitahu Raditya yang masih asyik dengan tab yang dipegangnya.


"Sayang...sayang...sudah sampai nih" Raditya menoel pipi putih bersih itu.


Rania hanya menggeliat.


"Sayang..." panggil Raditya kembali.


"Heemmm" Rania mendongak.


"Turun nggak, kita sudah sampai nih" ujar Raditya.


"Katanya empat jam?" pikir Rania terlalu cepat sampai.


"Ini malah empat jam lebih" tukas Raditya.


Rania melihat jam yang ada di layar ponsel.


"Kok bisa nggak berasa kalau sudah sampai" kata Rania tersenyum simpul.


"Bantalnya terasa nyaman kali" ledek Raditya membuat Rania selalu tersipu dibuatnya.


Raditya membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Rumah siapa ini? Kok nggak ada tetanggganya?" tanya Rania memandang sekeliling. Tampak halaman yang luas, dengan tanaman bunga yang sangatlah tertata.


"Tuh, tetangganya di luar gerbang sana" tunjuk Raditya ke arah yang disebut.


"Jauh banget" tukas Rania. Rania yang tak pernah membayangkan akan tinggal di kawasan rumah elit hanya memandang kagum.


"Terus kalau mau ke tetangga gitu gimana? Tinggal sekompleks kok nggak saling kenal. Aneh ya?" sambung Rania.


Raditya hanya tertawa. "Nanti juga akan biasa" ulas Raditya.


"Tapi sepi" tukas Rania.


"Masuk dulu baru komentar" ajak Raditya.


Rania terbengong kala masuk mansion, barisan asisten rumah tangga menyambut dan saling memperkenalkan diri.


Bahkan mereka juga menyebutkan masing-masing tugasnya di situ.


Rania belum menghafal, hanya menghitung jumlah asisten rumah tangganya dari ujung ke ujung.


"Lima belas yank? Kamu berlebihan sekali" ujar Rania.


"Biar nggak sepi seperti katamu tadi" Raditya hanya terkekeh. Rania hanya bisa manyun menanggapi ucapan suaminya barusan.


'Apa dia real sultan ya? Kok sampai sekarang berasa seperti cinderela dalam dongeng' Pikir Rania.


Bu Marmi dan kedua perawat yang ngedampingin Celo dan Cio malah terlebih dulu sampai.


"Celo dan Cio?" tanya Rania karena belum melihat keberadaan putra-putranya.


Raditya menggandeng Rania kembali untuk ditunjukkan kamar Celo dan Cio.

__ADS_1


Rania dibuat terkagum melihat interior rumah.


Fotonya bersama sang suami malah terpampang terlebih dahulu di sini, mendahului kedatangannya.


"Kapan ini buatnya?" tanya Rania sembari menyentuh foto yang bagai lukisan itu.


"Baru kemarin jadi" terang Raditya.


"Gercep aja" olok Rania.


"Demi istriku senang, jadi suami ya harus begitu dong. Biar bisa cepet tes drive nya" tukas Raditya tertawa.


"Issshhh...itu lagi yang dibahas" balas Rania sewot.


"Kamu tahu nggak, rasanya sudah sampai ubun-ubun ini aku nahannya" jelas Raditya.


"He...he...nggak usah diulang-ulang kali. Aku juga tahu" imbuh Rania bercanda.


Raditya nggak melanjutkan gurauan.


"Nih, kamar anak-anak" tunjuk Raditya dan membuka pintu.


"Pakai pin?" tanya Rania merasa aneh.


"Heemmmm, biar aman. Hanya sidik jari aja kok" jawab Raditya.


"Jadi harus ngehafal pin seluruh ruangan???" Rania masih saja heran dan sepertinya gagal fokus. Padahal Raditya barusan bilang kalau hanya pakai sidik jari.


"Ha...ha...nggak juga sih. Kan hanya pakai sidik jari" terang Raditya.


Rania menggaruk kepala yang tak gatal. Mau masuk ke ruangan aja ribet amat.


"Ada yang kurang?" rangkul tangan Raditya di bahu sang istri.


"Hemmmmm, apa ya?" Rania seperti memikirkan sesuatu.


"Bilang aja, ntar aku bilang pak Supri biar dibelikan" kata Raditya menimpali.


"Ha...ha...nggak ada yank. Apa yang kamu berikan buat mereka sudah sangat berlebihan. Melihat mereka tumbuh sehat saja sudah karunia tiada tara bagiku" ujar Rania.


"Kamu memang wanita baik Rania" sambung Raditya.


"Oh ya, biar mereka istirahat. Besok kita ajak mereka kontrol ke dokter anak yang ada di kota ini" jelas Raditya.


"Sekarang saatnya kamu lihat kamar kita" ajak Raditya kembali menggandeng lengan sang istri.


Raditya mengajak sang istri berkeliling untuk melihat seisi mansion.


Rania juga berkenalan dengan kepala asisten rumah tangga di mansion ini.


"Kenalkan nyonya, nama saya Hanan. Saya asli sekota dengan anda" kata nya berkenalan.


"Oh ya, kamu dari daerah mana?" tanya Rania senang, karena ada yang berasal dari kota yang sama dengannya.


"Jangan lama-lama kenalannya. Hanan balik sana ke kerja kamu" suruh Raditya. Hanan langsung balik kanan mendengar kalimat Raditya.


Repot juga menghadapi bos posesif.

__ADS_1


Malam hari Opa dan Oma Andrian berkunjung ke mansion baru.


"Selamat datang Rania, betah-betahin ya hidup seatap dengan Raditya" olok papa Andrian dan disetujui oleh mama.


"Kalian kalau mau ke sini untuk membully aku, pulang aja dech" sungut Raditya.


"Yeeeiìi.... Kita ke sini kan ingin melihat cucu-cucu sama menantu. Ya kan Pah?" tukas nenek.


"Heemmmmm" sahut papa Andrian sok bijak.


"Kamar mereka di sebelah mana?" tanya mama ke arah Rania.


"Aku anterin Mah" balas Rania.


Papa dan Mama mengikuti ke mana Rania melangkah.


"Mereka di dalam Mah, ditemani perawat yang dibawa daddy nya dari sana" terang Rania.


"Biar sekalian aja Rania, mereka kan sudah tahu kebiasaan Celo dan Cio" tukas mama.


"Owh, pipi mereka semakin embul ya sekarang. Pintar kamu merawat mereka Rania" puji papa Andrian.


"Terang aja Pah, tiap malam Rania lebih seringan di kamar Celo dan Cio daripada bersamaku" kata Raditya seakan curhat.


"Mah, sepertinya ada yang belum tes drive dech" sindir papa.


"Makanya Pah, sedari tadi uring-uringan terus" sahut mama ikut mengolok putra semata wayangnya.


"Kalian ini ya, katanya mau tengokin cucu. Yang ada malah mengolokku tanpa henti. Pulang aja" usir Raditya.


"Serah papa dong. Papa mau gendong Celo sama Cio" tandas papa Andrian dan langsung mengambil Celo. Sementara Cio digendong mama.


"Oh ya Rania, sebaiknya lekas aja pasang alat kontrasepsi. Takutnya kena serangan Raditya, langsung kebobolan gawang kamu" saran mama.


"Rencana besok Mah, sama sekalian ngontrolin mereka berdua" imbuh Rania.


"Jam berapa besok? Mama anterin dech" ujar mama menimpali.


"Jam sembilan" jawab Rania.


"Nggak usah Mah, takutnya dikira rombongan sirkus ntar. Ke rumah sakit apa piknik?" tolak Raditya.


"Nggak, pokoknya mama ikut. Kalau perlu mama tidur sini sekalian" lanjut mama.


"Papa juga ikut Mah" sela papa Andrian.


Raditya yang mendengar hanya bisa mengusap tengkuknya.


Inginnya mandiri dengan beli mansion sendiri. Eh, malah orang tua nya datang untuk menginap.


"Buat repot aja" gerutu Raditya.


"Yang repot tuh bukan kamu, tapi para asisten rumah tangga kamu" imbuh papa Andrian.


"Terserah papa dan mama aja dech" ujar Raditya.


Sementara yang diajakin ngomong malah sibuk ngajakin ngobrol sama kedua cucunya.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading guyssss


__ADS_2