
Dua bulan sudah Rania hidup bahagia bersama Raditya.
Celo dan Cio pun tumbuh dengan baik dan sehat. Meski ketika malam hari kadang masih mengajak begadang bunda nya. Saling berceloteh mengeluarkan suara tanpa arti merupakan kebahagiaan sendiri bagi Rania.
Raditya yang barusan keluar dari ruang kerja, menyusul Rania yang pasti saat ini sedang bersama si kembar.
"Sayang, belum tidur kah mereka?" tanya Raditya.
"Belum, tuh mata mereka semakin bening aja" kata Rania tersenyum.
Mendengar suara daddy datang Celo malah bersuara agak keras.
"Dad, tuh dipanggilin Celo" seru Rania.
"Haiii Celo, sudah malam loh. Kok belum tidur sayang?" suara Raditya membuat Celo tertawa khas bayi.
Usia Celo dan Cio hampir tiga bulan. Pertambahan berat badan mereka berdua cukup signifikan.
Cio yang lebih pendiam, menggerakkan tubuhnya.
"Loh...loh...Cio mau kemana?" bayi kecil itu memiringkan tubuh dan seakan mau tengkurap.
"Ini nggak kenapa-napa sayang? Kok Cio sudah mau tengkurap aja" tanya Raditya ke sang istri karena kuatir akan pergerakan Cio.
"Normal aja Dad, Cio sedang belajar tengkurap" ucap Rania.
Meski mereka terlahir prematur. Ternyata pertumbuhan dan perkembangannya sesuai bayi yang lahir sembilan bulan.
"Kalian apa nggak ngantuk, ini sudah tengah malam loh sayang" ujar Raditya ke arah Celo dan Cio.
Bahkan Rania telah menguap beberapa kali.
"Aku panggilin mba suster aja ya?" usul Raditya yang kasihan melihat sang istri. Pasti capek merawat dan menjaga Celo dan Cio seharian.
"Jangan yank, besok kan mereka kita tinggalin selama seminggu. Aku mau bersama mereka seharian ini" larang Rania.
Rencana untuk mengajak honeymoon sang istri telah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya, untuk itu scedule Raditya telah ditata sedemikian rupa agar kosong untuk seminggu ke depan.
Bahkan hari ini, Oma Opa Andrian dan Oma Opa Handono serta bu Marmi telah lengkap hadir di mansion Raditya sore ini.
Untuk apa mereka kompak datang. Ya untuk nungguin cucu kembarnya karena mau ditinggalin Daddy dan Bunda nya selama seminggu ke depan.
Bu Marmi tak jadi balik kota M yang merupakan kota asalnya, karena sekarang telah menjadi nyonya Supri. Dan tinggal di paviliun yang disediakan Raditya untuk para karyawan mansion.
"Kamu istirahat duluan aja, ntar kususul. Biar mereka tidur dulu" ucap Rania karena melihat Raditya ikutan menguap seperti dirinya.
"Kutemenin di sini aja" tolak Raditya untuk balik ke kamar duluan.
Celo dan Cio mulai merengek.
"Sepertinya mereka mulai mengantuk sayang" kata Raditya.
"Iya kali. Aku gantiin popoknya aja dulu. Ntar kalau tidur biar nyenyak" tukas Rania dan dengan cekatan mengganti popok milik Celo. Sementara Daddy Raditya gantiin popok Cio.
Celo dan Cio mulai menyusu bergantian.
__ADS_1
Dini hari Celo dan Cio baru terlelap tidur. Rania yang sudah mengantuk luar biasa, ikutan baring di samping sang suami yang telah tidur duluan.
"Makasih sayang, atas kebahagiaan yang telah kamu berikan" gumam Rania sembari memeluk sang suami.
Kasih sayang suami, mertua yang tak mengenal anak kandung dan menantu, penghuni mansion yang sangat baik mengisi hari-hari Rania selama menjadi nyonya Raditya. Sangat jauh berbeda kala dirinya menjadi nyonya Mahendra.
Pagi sekali, Raditya terbangun karena suara dari ponselnya.
"Apaan sih Beno, pagi-pagi sudah gangguin orang aja" seru Raditya kala tahu kalau Beno lah yang menganggunya.
"Sori bos. Mumpung bos belum terbang, aku cuman mau kasih info kalau hari ini sidang putusan Mahendra dan teman-temannya" bilang Beno.
"Kira-kira berapa lama mereka mendekam di bui?" tanya Raditya sembari keluar kamar karena tak ingin mengganggu sang istri dan kedua anaknya yang masih tertidur lelap di kamar kembar.
"Paling lama empat tahun bos" seru Beno.
"Dimas?" tukas Raditya.
"Sampai sekarang belum terdetek keberadaannya bos" beritahu Beno.
"Sudah seperti belut aja dia. Licin" kata Raditya menimpali.
"Apa kita deketin istri dan anaknya aja bos, untuk memancing Dimas keluar" usul Beno.
"Boleh, asal jangan membahayakan mereka. Aku tak mau menambah masalah" ucap setuju Raditya.
"Oke bos. Akan kuurus" tandas Beno.
"Dan perlu kamu ingat Beno, jangan ganggu aku seminggu ke depan" seru Raditya.
"Emang Siska mau kamu ajakin balik sini?" sindir Raditya.
"Heemmmm...akan kurayu lah dia" kata Beno.
"Akan kupikirkan nanti" bilang Raditya.
"Selalu itu melulu jawaban loe bos. Sampe bosen gue dengernya" sambung Beno.
"Ha...ha..." Raditya terbahak dan langsung ditutupnya panggilan itu. Pasti Beno sedang menggerutu luar biasa. Batin Raditya.
Rania menyusul Raditya yang telah berpindah ke ruang kerja.
"Beno tuh pagi-pagi sudah gangguin orang aja" kata Raditya memberitahu sang istri tanpa diminta oleh Rania.
"Tumben?" celetuk Rania menimpali.
"Takutnya kita sudah terbang, kalau menghubungi agak siangan. Takut nggak sambung" beritahu Raditya dan Rania mengangguk.
"Nggak ingin tahu apa yang kita bicarakan?" seru Raditya.
"Enggak" jawab singkat Rania. Karena tak ada masalah lain yang dibicarakan sang suami dengan Beno selain masalah kerjaan.
"Beneran nggak ingin tahu?" goda Raditya.
"Kerjaan kan? Percuma, aku juga tak paham" timpal Rania.
__ADS_1
"Bukan sih" sela Raditya.
"Lantas apaan? Nggak mungkin pagi-pagi nelpon kalau cuman omong kosong doang" seru Rania.
"Hari ini sidang putusan Mahendra dan juga staf yang lain" bilang Raditya.
"Kenapa mbahas dia? Aku nggak mau denger nama itu lagi" tandas Rania meninggalkan sang suami yang masih terpaku di ruang kerja.
Tepat jam delapan pagi, Raditya dan Rania telah siap. Semua perbekalan untuk pergi telah siap berada di mobil.
Raditya dan Rania beranjak dari duduk di meja makan, setelah semua berkumpul.
Mereka berdua pamitan ke papa, mama, ayah dan ibu serta bu Marmi.
Rania tak puas-puasnya mencium kedua pipi Celo dan Cio bergantian.
"Kapan ini berangkatnya? Kasihan tuh pipi Celo dan Cio kamu habisin" kata Raditya.
"He...he...aku takut kangen sama mereka" jawab Rania.
"Kan bisa video call sayang" ulas Raditya.
Pak Supri telah menunggu sang bos berdua dalam mobil dan siap mengantarkannya ke bandara.
Raditya sengaja tak memakai pesawat pribadi tapi naik pesawat komersil agar Rania bisa merasakan naik pesawat umum bersama yang penumpang lain. Baru pulangnya nanti naik pesawat pribadi karena barang-barang yang dibawa pasti akan lebih banyak.
Hidup bersama Rania membawa perubahan yang signifikan dalam hidup Raditya, tentu saja rasa tanggung jawab pada diri Raditya.
.
Di tempat lain, di sebuah kamar presidential suite room Riska menggeliat dan baru terbangun dari tidurnya.
Badannya berasa remuk redam karena dihaj4r oleh laki-laki yang bersamanya tadi malam.
Riska kini menjelma menjadi sosok idola di antara anak asuh wanita yang dipanggil mommy itu.
Banyak laki-laki hidung berwarna (bukan laki hidung belang sebutannya...he...he...) yang mengantri mendapatkan Riska karena kebanyakan dari mereka menginginkan air susu yang sampai sekarang masih keluar dari kedua aset milih Riska. Dan itu tidak dimiliki yang lain.
Gaya hidup hedon Riska pun semakin menjadi, karena uang yang sangat mudah didapat olehnya.
"Issssshhhh, kenapa aku bisa bangun kesiangan" gerutu Riska sembari meninju bantal yang dipakainya. Padahal niat hati Riska hari ini dia akan melihat sidang vonis Mahendra sekalian memberikan surat gugatan cerai untuk suami yang tak berguna itu.
"Aku harus segera ke bandara, agar tak telat menghadiri sidangnya" Riska segera beranjak dan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kala selesai, Riska langsung menyambar tas dan sebuah amplop yang lumayan tebal.
Saat di buka, Riska lumayan terkejut karena mendapat dua bandel uang seratus ribuan.
"Wah, dua puluh juta. Lumayan buat ongkos pulang pergi kali ini" gumam Riska dan hendak menelpon mommy untuk minta ijin kedua kalinya menghadiri sidang Mahendra karena sebelumnya Riska sudah ijin.
Sampai di bandara, Riska yang buru-buru tak sengaja menabrak sepasang suami istri yang berjalan di depannya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1