
Rasa dendam masih terpupuk di dalam sanubarinya.
Wanita jal4ng yang dibawanya juga akan dijadikan alat untuk membantunya memuluskan rencana besarnya itu. Menjatuhkan semua usaha Samudera Grub. Dimas yang masih saudara jauh tidak bisa diandalkan lagi untuk membantunya.
Rapat kali ini juga untuk mengumpulkan orang-orang dengan musuh yang sama seperti dirinya.
"Pah, papa kan sudah sukses. Kenapa musti pake balas dendam segala?" tanya Alex untuk mengorek sedikit keterangan dari bibir sang mertua.
"Suatu saat kamu akan tahu" tukas tuan Rahardian tanpa mau menjawab secara gamblang.
Bagaimana mungkin tuan Rahardian akan menyampaikan kepada Alex jika alasannya balas dendam karena penolakan terhadap Veronica untuk menjadi menantu keluarga Marino.
'Kalau aku bilang pada Alex tentang alasan aku balas dendam, bisa jatuh harga diriku' pikir tuan Rahardian dengan tetap melangkah ke ruang rapat diikuti Alex sang menantu.
Sementara itu Riska melenggang ke mall terbesar di ibukota.
"Heemmmm baru sekarang aku benar-benar menjadi wanita yang sebenarnya. Wanita yang sangat dimanja tentu saja. Tak mungkin aku bisa merasakan semua ini jika masih bersama dengan Mahendra sialan itu" gumam Riska terus saja berjalan ke sederetan tas mewah bersertifikat itu.
Saat sibuk memilih, ponsel Riska berdering dan dilihatnya mommy lah yang menelpon diri nya.
"Hai Mom" sapa Riska.
"*Kamu ada di mana? Katanya mau ijin ke tuan xx untuk pul*ang sebentar" seru Mommy.
"Nggak diijinin sama tuan itu Mom. Abis ini kutransferin dech buat Mom. Yang tenang" seru Riska pada induk semangnya itu.
"Pintar kamu Riska, tau aja kalau mommy sedang butuh uang" ujarnya terkekeh.
"Oke Mom. Bye" jawab Riska dan langsung menutup panggilannya .
Bagaimanapun karena mommy lah, Riska bisa berada di sini sekarang. Menikmati dan membeli barang-barang branded.
"Kak, bungkus yang ini" bilang Riska menunjuk ke arah barang yang dimaksud. Sebuah tas mewah denga logo awal huruf 'C' itu.
Riska beralih ke rak pakaian mewah yang berjejer seakan memanggilnya untuk mendekat.
Riska pilih yang sekiranya cocok untuk dirinya.
"Hhhmmmm... Ini dan ini sepertinya cocok" Riska memagut dirinya di depan cermin dengan memasangkan baju secara gantian.
"Kak, ini juga. Bungkusin!" suruh Riska kasar sembari sedikit melempar dua baju yang dibawanya barusan.
Riska melenggang ke kasir, karena dirasa cukup belanjanya di outlet ini.
Sang kasir menghitung jumlah uang yang perlu dibayarkan oleh Riska.
__ADS_1
Riska menyodorkan kartu sakti yang diberikan oleh tuan Rahardian.
Sesaat sang kasir sibuk menggesek kartu itu di mesin dan Riska tetap menunggu di depan tempat pembayaran itu.
"Silahkan PIN nya" kata sang kasir sembari menyodorkan mesin agar Riska lebih mudah menekan nomor-nomor yang dimaksud.
'Matih gue, aku nggak tahu pin nya. Oke aku hubungin tuan XX dulu aja dech' pikir Riska.
"Bentar kak, aku lupa nomornya" bilang Riska beralibi.
"Pede sekali dia. Sok-sok an beli barang branded. Atau jangan-jangan kartu ini hasil dari tindak kejahatan" gumam sang kasir. Dan saling tatap dengan kasir yang lain.
Di depannya Riska sibuk mencari kontak tuan xx dan tak didapatkannya.
'Sialan. Kok aku bisa lupa nyimpan nomor kontaknya' gerutu Riska dalam hati. Dan sekarang tak mungkin juga dia menghubungi Mommy, karena ada aturan tak boleh menghubungi klien-klien selain lewat mommy.
"Nggak jadi aja kak" Riska merebut kartu yang telah digesek barusan.
"Sial...sial..." gerutuan Riska masih saja berlanjut.
Sementara sang kasir dengan sigap menghubungi kantor security. Karena dia merasa curiga dengan polah wanita yang barusan keluar dari outlet mewah ini.
"Bodoh...Bodoh..." Riska terus saja merutuki dirinya sendiri karena bisa lupa dengan hal sepenting itu.
.
Sementara Rania beneran langsung tidur karena kecapekan.
"Hhhhmmm, licik juga mereka. Berani menawarkan tarif yang lebih murah. Bagaimana bisa dengan tarif segitu mereka bisa beroperasional?" gumam Raditya menelisik.
"Bagaimana juga dengan para karyawan nya?" sambung Raditya bermonolog.
"Atau jangan-jangan mereka menggaji para karyawannya di bawah standar? Kalau memang iya, ini bisa menjadi titik lemah untuk menyerang mereka" kata Raditya bagai menemukan sebuah jalan.
Sebenarnya Raditya senang-senang saja dengan munculnya perusahaan baru. Asalkan bersaing secara sehat. Tidak menjatuhkan seperti ini.
"Kalau mereka berbuat semaunya, maka aku pun akan melakukan hal yang lebih pada mereka" janji Raditya dalam hati.
Kali ini Raditya melanjutkan dengan membuka profil Alex yang telah dikirim oleh Adam sesaat sebelum pesawat yang ditumpanginya take off.
"Hhhmmmm ternyata ini yang namanya Alex. Menantu kehormatan tuan Rahardian" tersungging senyum sinis di sudut bibir Raditya.
"Orang yang setipe dengan mertuanya. Wah bisa klop nih mereka" gumam Raditya.
Raditya juga menelusuri latar belakang keluarga Alex.
__ADS_1
'Dia mau menikahi Vero hanya karena dijanjiin perusahaan yang bahkan sekarang menyaingi perusahaan punyaku' Batin Raditya.
'Juga tidak ada basic pengusaha di diri Alex, tapi berani-beraninya dia main kotor' gerutu Raditya dalam hati.
Saat masih berpikir serius, terlihat sang istri menghampiri.
"Ada apa? Lapar?" tanya Raditya kala Rania sudah dekat dengannya.
"Nggak lapar, cuman ingin pumping aja. Alatnya kan di sini" seru Rania.
"Abis ini aku tidur lagi ya yank?" seru sang istri.
"Hhemmmm capek banget ya?" canda Raditya dan menjeda membaca laporan Adam.
"He...he...capek tapi nggak pake banget" seloroh Rania membalas candaan Raditya.
"Kamu nggak tidur?" lanjut Rania.
"Belum. Ntar aja nyusulin kamu" tukas Raditya.
"Nggak modus kan?" tandas Rania.
"Modusin istri itu berpahala loh yank" seru Raditya.
Sementara terdengar suara alat untuk mengeluarkan air susu yang dipegang oleh Rania.
"Hhhmmm tabungan makanan Celo dan Cio banyak juga" ujar Raditya kala meraih botol yang telah penuh berisi susu untuk dituang ke dalam wadah. Raditya pun membantu sang istri untuk menaruh air susu itu dalam lemari pendingin.
"Kalau aku ingin pabriknya langsung aja" kata Raditya absurd, kala kembali mendekati sang istri yang tengah menyuapkan buah ke mulutnya.
"Ini masih lama kah?" tanya Rania.
"Masih separuh perjalanan. Mau tidur lagi?" beritahu Raditya.
"Ntar lagi aja. Makan dulu. Abis dipompa bawaannya lapar mulu" tukas Rania.
"Apalagi kalau yang mompain suami kamu langsung yank" kata Raditya kembali menggoda Rania.
Rania mencebik, sungguh tak tanggung-tanggung Raditya menggoda dirinya.
Raditya tertawa melihat ekspresi sang istri yang lama-lama semakin cantik jika dipandang itu.
Raditya rengkuh kepala sang istri untuk menyandar padanya. "Love you my wife" ungkap Raditya tulus. Rania pun mendongak. Sebuah kecupan manis mendarat di kening Rania. Rasanya sungguh bikin adem di hati Rania.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading