Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Musuh Terselubung


__ADS_3

"Kamu itu sebenarnya bodoh Mahendra" olok Andah.


"Apa maksud kamu?" ucap Mahendra sengit.


"Mau saja dikibulin Riska" Andah menambahkan.


"Oh ya?" tanya Mahendra tak percaya dengan ucapan Andah.


"Apa kamu tahu jika bayi yang dikandung Riska bukan anak kamu?" tukas Andah.


Mahendra pun membelalakkan mata tak percaya.


"Aku yakin kamu tak tahu. Makanya aku bilang kamu itu bodoh. Karena kebodohan kamu juga aku gagal ngedapetin Raditya" lanjut Andah kembali.


"Darimana kamu tahu?" telisik Mahendra.


"Kamu ingat saat Riska mabuk yang berujung dengan kejadian kematian laki-laki yang ons bersama istrimu itu?" sambung Andah.


"Hhhmmmm" gumam Mahendra.


"Saat itu Riska mabuk bersamaku. Dan di tengah mabuknya dia meracau tak karuan. Intinya dia kecewa sama kamu yang dengan bodohnya mengaku salah dan berujung di bui. Tak ada yang menyokong lagi keuangannya" terang Andah.


Niatan Mahendra semakin menggebu, karena hanya Rania yang ternyata mengerti akan dirinya. Sesal mu tiada guna Mahendra.


"Terus apalagi?" kejar Mahendra menginterogasi Andah.


"Apa kamu memberinya uang?" ujar Andah.


"Heemmm, dua ratus lima puluh juta" terang Mahendra.


"Uang itu tak bersisa" beritahu Andah.


"Hah? Jelas saja habis. Riska bilang untuk biaya anak itu sampai bayinya meninggal. Juga untuk biaya pemakaman" imbuh Mahendra.


"Dasar, tak kusangka kamu sebodoh itu" kata Andah tak percaya dengan kebodohan laki-laki di depannya.


"Apa lagi yang disembunyikan Riska?" tanya Mahendra kemudian.


"Uang kamu tak dipakai oleh Riska untuk biaya bayinya. Tapi dipakai foya-foya oleh istri kamu. Bahkan saat bayinya sakit, Riska dengan pedenya menginap di hotel" kata Andah tak terlewat sedikitpun.


"Apa ucapan kamu bisa dipercaya?" tukas Mahendra.


"Terserah kamu saja. Aku juga nggak rugi tidak kamu percayai" ujar Andah menimpali.


"Terus, apa kamu tahu keberadaan Riska sekarang? Aku harus meminta uang aku kembali. Enak saja dia" gerutu Mahendra.


"Riska sekarang jadi wanita panggilan" jelas Andah.


"Apa maksud kamu wanita malam?" pertegas Mahendra.


"Heemmm" Andah mengangguk.


"Sial...sial...jadi benar apa yang dikatakan Raditya. Aku buang berlian hanya untuk mendapatkan sampah seperti Riska. Bodoh kamu Mahendra" Mahendra merutuki dirinya sendiri.


"Sudah kubilang sedari tadi. Kamu memang bodoh" sindir Andah.


"Ingat Mahendra, kamu akan berganti identitas. Tak ada lagi nama Mahendra di dunia ini" terang Andah.


"Mau diganti dengan apa namaku?" tukas Mahendra.

__ADS_1


"Terserah kamu, asal jangan pakai nama lama kamu" saran Andah.


"Serahkan saja pada readers!" usul Mahendra. Konyol nggak sih? Ya enggak lah.


.


Sementara itu di hotel xx, mama menghampiri Raditya dan Rania yang tengah istirahat karena Rania merasa capek setelah acara pesta selesai.


"Kalian istirahat saja dulu. Biar Celo dan Cio sama suster-susternya" saran mama.


"Dan kamu Raditya, biarkan Rania istirahat. Kalian malam ini nginap aja di sini" lanjut mama.


"Mama ini cerewet banget sih" tukas Raditya.


"Rania mulai saat ini, siapkan mental kamu untuk hal-hal yang seperti tadi. Mama tak ingin melihat kamu lemah menghadapi orang-orang macam nyonya Rahardian" ulas mama.


Rania mengangguk ragu.


"Dan perlu kamu ingat, sejak suami kamu mengumumkan status kamu di depan publik maka kehidupan kamu bukanlah milik kamu pribadi. Tapi milik publik" terang mama memberi gambaran.


"Privacy menjadi hal langka di keluarga Marino" sambung mama.


"Sekarang istirahatlah. Mama juga akan pulang" ujar mama sekalian pamitan ke sepasang suami istri di depannya itu.


"Baik Mah, makasih" jawab Rania.


Rania merebahkan tubuhnya di ranjang. Untuk meluruskan pinggangnya. Capek juga seharian berdiri dan duduk di pelaminan dengan sepatu heel tinggi.


Raditya mengantar mama turun sampai lobi agar tak sendirian.


"Dukung Rania untuk cepat adaptasi Raditya. Mama yakin dengan pilihan kamu" saran mama bijak.


"Oke Mah. Makasih" jawab Raditya.


"Darimana? Pamit ke toilet tapi lama amat perginya" kata papa.


"Ke kamar Raditya, memberi nasehat untuk menantu" seru mama.


"Orang capek dikasih nasehat, mustinya disuruh tidur Mah" sela papa.


Nyonya Andrian sewot mendengar tanggapan suaminya.


"Ntar kalau Rania sudah nggak capek, baru mama masuk untuk kasih tau. Biarkan Rania beradaptasi secara alami untuk masuk ke pergaulan tingkat atas. Kalau Rania tak nyaman juga jangan dipaksa" saran papa Andrian.


"Yuk pulang!" ajak mama dengan suara ketus.


Dan dengan santainya papa Andrian menggandeng sang istri menuju mobil yang telah terparkir di depan lobi, lengkap dengan sang sopir.


Raditya hanya menggeleng kepala melihat tingkah kedua orang tuanya itu.


Saat Raditya balik kamar, didapatinya sang istri yang terlelap. Lengkap dengan gaun pestanya tadi.


"Kamu pasti capek sayang" senyum Raditya sembari mengecup kening Rania.


Raditya ganti baju dan bersih-bersih badan yang berasa lengket.


Bahkan saat selesai pun, Raditya tak langsung terlelap.


Entah mengapa instingnya menyuruh untuk membuka tab yang selalu dibawa kemanapun dia pergi. Sudah berasa istri kedua saja.

__ADS_1


Berita-berita tentang dirinya dan sang istri, memanglah menjadi trending di sosmed.


Sempat-sempatnya Raditya baca komen satu persatu. Ada satu komen yang menggelitik untuk dibacanya.


"Selamat buat kalian. Aku tunggu pisahnya kalian!" tulis akun itu.


"Gimana sih ini, doa yang bertolak belakang" gumam Raditya.


Ada sebuah notif pesan masuk ke ponsel Raditya.


Raditya buka yang ternyata dari aparat yang juga temannya.


Teman aparat itu bilang kalau mayat yang ditemukan di mobil lapas yang terbakar bukanlah mayat Mahendra. Disinyalir ada faktor kesengajaan terjadinya kecelakaan itu. Dan Mahendra seakan dibuat meninggal untuk menghilangkan jejak.


"Ternyata dugaan aku selama ini benar" gumam Raditya.


"Aku harus tingkatkan kewaspadaan untuk menjaga istri dan anak-anak" niat Raditya dalam hati.


Raditya mulai lepaskan gaun Rania pelan agar tak ganggu tidur sang istri.


Meski sangat pelan, nyatanya Rania terbangun juga.


"Loh, kok sudah ganti aja yank. Perasaan aku cuman tidur lima menit" ucap Rania kala terjaga.


"Tuh lihat" kata Raditya menunjuk ke arah jam di ponsel.


"Hah? Dua jam aku tertidur? Kenapa nggak bangunin?" kata Rania sembari bangkit dari tidurnya.


"Kamu kecapekan, makanya kubiarkan kamu tidur duluan yank" imbuh Raditya dengan sabar karena tak ingin istrinya salah paham.


"Baiklah. It's oke. Betewe aku mandi dulu, badan aku berasa tak nyaman" keluh Rania.


"Boleh barengan?" goda Raditya.


"Enggak ah. Kamu kan sudah bersih sayang, ngapain ngulang mandinya" kata Rania menimpali.


"Mau enak-enak sama kamu sayang" Raditya semakin membercandai sang istri.


Selepas mandi dan berendam air hangat dengan aroma therapi yang merilekskan, membuat capek Rania seakan sudah hilang.


Saat keluar kamar mandi, didapati oleh Rania jila sang suami telah pulas di sebuah kursi panjang dekat ranjang.


Rania ambil tab yang dipegang sang suami, sekaligus Rania raih ponsel yang berada di dekat Raditya untuk ditaruh di atas nakas.


"Yank...yank...pindah sana yuk. Aku nggak kuat ngangkatin" Rania menggerakkan tubuh sang suami yang terlelap.


Akhirnya dengan segala usaha maksimal, Raditya telah pindah di ranjang.


.


Raditya kembali ke aktivitas setelah seharian kemarin berjibaku dengan kegiatan pesta pernikahannya.


Di jalan sambil meneliti laporan yang masuk, Raditya menulis pesan kepada sang istri untuk tidak pergi jika dirinya tak ada di rumah.


Jawaban Rania sungguh melegakan karena saat ini dirinya di rumah.


"Ntar aja kujelasin di rumah" terang Raditya sembari menutup paanggilan.


Raditya kembali ke tab yang sebelumnya dia jeda untuk dia baca.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happu reading.


__ADS_2