
Tuan Rahardian uring-uringan saat baru sampai di ruangan kerja miliknya.
Dia tekan nomor ruangan asistennya.
"Lekas ke sini!" suruhnya.
Tak sampai semenit, terdengar ketukan pintu.
"Masuk!" suruh tuan Rahardian.
"Selamat pagi tuan" sapa sang asisten.
"Jelaskan apa yang terjadi? Bagaimana ErDua bisa mengakuisisi saham aku yang ada di Samudera. Ada hubungan apa perusahaan itu dengan Semudera Grub?" terdengar nada kemarahan di suara tuan Rahardian.
"ErDua, perusahaan antar kirim barang online tuan. Saingan perusahaan yang dikelola oleh tuan muda Alex" beritahu sang asisten.
"Bahkan perusahaan ErDua saat ini sedang naik daun. Pengelola di sana adalah para kaum muda tuan" lanjutnya.
"Mereka mengambil alih saham secara profesional dan telah disetujui oleh pemegang saham yang lain" sang asisten menerangkan kelanjutannya.
"Apa dengan otomatis mereka mempunyai saham kedua setelah keluarga Marino?" tukas tuan Rahardian.
"Benar dan itu tak bisa disangkal lagi" balas sang asisten.
"Sial...sial...rencana aku membuat hancur keluarga Marino gagal total" ujar tuan Rahardian dengan menggebrak meja.
"Bahkan malah aku sendiri yang mengalami kerugian banyak sekali" umpat tuan Rahardian.
Tuan Rahardian berlalu begitu saja keluar dari ruangan.
Kali ini dia akan mendatangi Riska di apartemen, setelah dua hari dia tak bisa pergi kemana-mana karena kemarahan istrinya.
Sopir yang sudah siap mengantar pun dia suruh keluar.
Kali ini tuan Rahardian berniat pergi sendiri tanpa dianter oleh siapapun.
"Aku sudah bayar wanita jal4ng itu sangat tinggi. Enak saja dia main pergi begitu saja" gerutu tuan Rahardian.
Saat ini tuan Rahardian ingin meredakan emosi dengan dimanja oleh Riska.
Di depan apartemen, dia tekan pasword baru yang sempat diberikan Riska kemarin.
Klik. Terdengar kunci terbuka.
Tuan Rahardian berniat akan langsung mengajak main teman tidurnya itu.
"Di mana dia?" mata tuan Rahardian mulai menyapu seluruh isi ruangan.
"Ponsel nya ada di sana, berarti dia tak kemana-mana" simpulnya karena melihat ponsel Riska tergeletak di atas meja makan.
Saat di depan kamar utama, tak sengaja tuan Rahardian mendengar suara yang sangat dihafal olehnya.
Dan langsung dia terobos pintu yang ternyata tak dikunci itu.
Terlihat Riska tengah bermain dengan Alex. Mereka berdua sama-sama polos.
"Sialan kalian!" tuan Rahardian menyerang ke arah mereka dengan membabi buta.
Alex yang gesit dapat menghindari serangan itu, sementara Riska saat akan lari keluar kamar dengan tubuh polosnya mendapat serangan mendadak dari tuan Rahardian.
Riska limbung dengan jatuh terjengkang karena mendapat pukulan di pinggang nya.
Tak menunggu lama Riska pun pingsan.
.
Riska menggerak-gerakkan tangannya perlahan.
Ruangan sangat gelap.
"Apa ini sudah malam? Gelap sekali" ujar Riska sembari beranjak pelan-pelan dari lantai yang dingin.
Riska raba tubuhnya yang ternyata masih dalam keadaan polos juga.
"Kok sepi? Kemana Alex? Kemana tuan Rahardian yang mengamuk tadi?" batin Riska bertanya.
Riska mencari saklar lampu untuk menerangi ruangan.
Karena sudah beberapa hari tinggal di sana, tentu saja Riska hafal.
Alangkah kagetnya Riska kala ruangan terang, dilihatnya tuan Rahardian tergeletak di tengah ruangan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Riska menutup mulut melihat semua.
Riska berlari ke kamar untuk segera mengambil baju-bajunya yang berserakan dan memakai.
Dia amati seluruh ruangan mencari keberadaan Alex.
"Sialan, dia melarikan diri" umpat Riska saat tak mendapati Alex sudah tak ada di sana.
Riska pun melakukan hal yang sama, segera mengemasi barang-barang yang ada di sana.
Setelah memastikan semua barangnya telah masuk ke koper, Riska pergi meninggalkan apartemen dengan tuan Rahardian masih tergeletak di sana.
Sayup-sayup masih terdengar suara ponsel milik tuan Rahardian berbunyi.
Riska keluar area apartemen seolah tak terjadi apa-apa. Aku harus pergi jauh. Pikir Riska saat ini.
Langsung Riska pergi ke bandara untuk pergi keluar pulau.
Tapi saat menyerahkan tiket untuk masuk area bandara, beberapa kali petugas itu memandang Riska.
Riska yang salah paham malah bersikap sok cantik dan mulai tebar pesona.
"Maaf apa anda bernama nyonya Riska?" tanya petugas itu.
"Iya, sesuai yang ada di tiket kan?" tandas Riska.
"Maaf, tapi berdasar tiket yang anda berikan. Saat ini anda dicekal dan tak bisa pergi" seru nya.
"Aneh! Aku bukan penjahat. Pakai dicekal segala" tukas Riska mulai emosi.
"Sekarang berikan aku tiketnya" tangan Riska menengadah untuk meminta kembali tiket untuk segera masuk. Meski penerbangan masih sejam lagi.
Uang dari laki-laki tua kemarin pasti lebih dari cukup untuk hidup sebulan. Yang penting aku aman duluan. Pikir Riska.
Tapi apa laki-laki tua itu benar meninggal ya? Atau hanya pingsan? Batin Riska memikirkan yang terjadi.
Sebuah berita tivi di ruang tunggu bandara sedang menayangkan tentang kematian seorang pengusaha senior yang diduga dibun*h oleh wanita sewaannya.
Di layar tivi menampakkan wajah tuan Rahardian yang sengaja diblur.
"Eh, dia meninggal ternyata" gumam Riska sembari menutup mulutnya.
"Tapi apa iya dia meninggal? Dan mereka menuduhku? Padahal aku pingsan tadi" Riska mulai menengok kiri kanan.
Tentu saja ingin menghilangkan jejak.
Terlihat beberapa petugas yang berpakaian preman wara wiri di area bandara.
Riska berjalan mengendap untuk pergi ke toilet dan masih meninggalkan koper nya di situ.
Di tivi, saat ini muncul Alex dan dengan gagahnya mewakili keluarga Rahardian untuk diwawancara.
"Cih, ternyata Alex licik juga" gerutu Riska.
"Awas saja menyeretku dalam masalah ini. Padahal bisa saja dia sendiri yang membunuh papa mertuanya itu" ancam Riska dalam benak.
Saat keluar dari toilet, beberapa petugas preman tadi telah menunggu Riska di depan pintu.
"Apa anda yang bernama nyonya Riska?" tanya salah satunya.
Riska memandang tajam ke arah mereka.
"Siapa kalian?" Riska menyangka mereka anak buah Alex atau tuan Rahardian.
"Ikut saja kami nyonya. Dan jangan melawan. Kami dari pihak berwajib" terangnya membuat Riska kaget dan reflek hendak melarikan diri.
Tapi dengan sigap para petugas itu meringkus Riska.
"Tuan, aku bukan pembunuh. Aku sadar dari pingsan, laki-laki itu sudah tergeletak" seru Riska.
"Simpan saja keterangan anda saat di kantor nanti nyonya" suruh petugas yang lain.
Riska digelandang kala bandara dalam situasi ramai tanpa perlawanan yang berarti.
"Untung saja pakai masker" gumam Riska membetulkan letak masker yang dipakainya.
.
Berita kematian tuan Rahardian sampai juga di telinga Raditya yang kala itu sedang memimpin rapat di Samudera karena ada investor yang membeli saham yang dijual oleh tuan Rahardian.
"Ada apa Beno?" tanya Raditya menjeda rapatnya sebentar.
__ADS_1
"Tuan Rahardian meninggal, diduga menjadi korban pembunuhan" beritahu Beno. Semua peserta rapat pun mendongak dan kaget.
"Pembunuhan?" tukas Raditya tak percaya.
"Heemmm, dibunuh oleh teman kencannya" sambung Beno.
"Nih!" Beno menyodorkan foto seorang wanita yang seperti Raditya kenal.
"Bukannya ini istri Mahendra?" sela Raditya.
"Ternyata kau masih ingat bos" gurau Beno.
Raditya kembali memulai rapat yang tertunda beberapa saat karena ada berita yang disampaikan Beno.
Dengan gabungnya ErDua diharapkan akan semakin memperkuat kinerja Samudera Grub ke depannya.
Raditya menutup rapat. Setelah berbasa basi sebentar, Raditya pun keluar ruangan terlebih dulu dengan perasaan lega. Berhasil menuntaskan masalah yang dibuat oleh almarhum tuan Rahardian.
"Bos, langsung pulang?" tanya Beno yang berjalan mengiringi sang bos.
"Harusnya gitu sih. Kalau tak lo tambah lagi kerjaan aku" tukas Raditya.
"Aman bos" tandas Beno.
"Oke" seru singkat Raditya.
.
Dan di kantor pihak berwajib, Riska tengah berada di ruang interogasi.
"Aku harap kerjasamanya nyonya! Ceritakan apa yang terjadi" suruh penyidik.
"Apa yang musti aku ceritakan? Aku sendiri tak tahu persis kejadiannya" kata Riska memberi keterangan.
"Mulai kapan anda mengenal almarhum?" lanjut sang penyidik menegaskan.
"Hasil otopsi jenazah akan keluar kapan?" tanya penyidik yang baru datang menyela kepada penyidik yang duduk di depan Riska.
"Bilangnya sih tadi dua jam lagi" seru penyidik yang menginterogasi Riska.
"Oke, lanjutkan saja penyidikan kamu" tukasnya sembari keluar ruangan.
"Silahkan nyonya. Ceritakan kenapa dan di mana anda mengenal almarhum" kata penyidik ke arah Riska menuntut jawaban.
Apa aku harus jujur atau tidak ya. Ragu Riska dalam benak.
"Aku mengenalnya kurang lebih seminggu yang lalu" Riska mulai menceritakan semua.
"Siapa yang mengenalkan?" lanjut tanya sang penyidik.
"Adalah" kata Riska tak mau menyebutkan nama mommy.
"Meski nyonya tak mau mengatakan, kami akan tetap menghadirkan saksi yang lain nyonya" tegasnya.
Riska telah menceritakan kejadian yang menimpa sesuai yang diingat olehnya.
"Owh, jadi anda juga berkencan dengan menantu nya juga?" kata tuan penyidik tak percaya.
"Tapi menantu tuan R, mengatakan di siaran pers nya kalau dia barusan datang dari luar kota" imbuhnya.
"Bohong itu" tandas Riska.
"Oh ya tuan, kalau anda tak percaya padaku bukankah ada cctv di apartemen" terang Riska.
"Tapi hanya ada tubuh kamu yang polos dan tuan Rahardian yang tergeletak" ujar penyidik
"Pasti ada yang hilang tuh rekaman cctv nya" ujar Riska penuh keyakinan.
.
Andah langsung saja masuk ruangan Rudi kala baru datang dari rumah sakit.
"Rud, apa kamu sudah tahu kabar tentang Riska?" Andah duduk di depan Rudi alias Mahendra.
Rudi mengedikkan bahu tanda dia belum tahu.
"Riska ditangkap. Laki-laki yang bersamanya kembali dinyatakan meninggal" beritahu Andah.
Rudi pun mendongak dan menatap Andah.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
To be continued, happy reading