Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Celo dan Cio


__ADS_3

Acara telah selesai. Apartemen Raditya telah sepi dan bersih seperti sedia kala.


Di acara itu Raditya telah mengumumkan nama kedua putranya. Nama yang telah dibicarakan dengan Rania sebelumnya.


Mengingat perjuangan sang istri mempertahankan kehamilan. Cemoohan orang dan harus menanggung beban hidup yang tak mudah, membuat Raditya ingin memberikan sebuah nama yang berarti buat anaknya.


Marcelo Putra Marino dan Mauricio Putra Marino, itulah nama untuk kedua anaknya.


Celo dan Cio menjadi pilihan Rania untuk memanggil keduanya.


"Makasih" ucap Rania setelah selesai acara.


"Atas apa?" balas Raditya.


"Semua yang kamu lakukan atas acara yang sempurna tadi" jawab Rania.


"Itu sudah menjadi kewajiban aku sebagai kepala keluarga. Tak perlu berterima kasih. Bahagiamu dan anak-anak menjadi prioritas aku sekarang" kata Raditya.


"Aku ke kamar Celo dan Cio bentar" pamit Rania.


"Oke, aku sama Beno di ruang kerja" tukas Raditya dan dijawab anggukan Rania.


Celo dan Cio sedang terjaga kala Rania masuk kamar mereka.


"Sus, rewel kah?" tanya Rania pada suster-suster yang jagain kembar.


"Enggak kok nyonya, mereka anteng tapi belum mau tidur" tukas suster.


Rania menghampiri kembar yang ada dalam gendongan kedua perawat yang diambil Raditya dari rumah sakit. Raditya membayar mahal mereka karena mereka musti merangkap kerja di rumah sakit dan merawat kembar.


"Kalian sudah makan?" tanya Rania dan dijawab gelengan oleh mereka.


"Loh? Kok belum?"


"Adik-adik belum mau ditaruh nyonya" kata mereka.


"Ya udah, kalian makan aja dulu. Biar Celo sama Cio bersama ku" Rania siap menerima keduanya.


"Taruh sini aja sus" pinta Rania sembari menunjuk kedua pahanya.


Celo dan Cio memang mulai senang di ajak ngobrol. Meski usia mereka baru dua mingguan.


Kedua suster itu menaruh si kembar seperti yang Rania minta dan pamit untuk makan terlebih dahulu.


Sementara di ruang kerja, Raditya tengah bicara serius dengan Beno.


"Urusan Mahendra kamu selesaikan Beno" kata Raditya mengawali pembicaraan serius.


Beno diam.


"Dan penawaran aku yang lalu tetap berlaku sampai hari ini" sambung Raditya.


"Yang mana? Bonusku yang mau ditambah?" tukas Beno.


"Isssshhhh..." sungut Raditya.


"Jadi direktur anak cabang di sini?" ujar Beno menanggapi gerutuan Raditya.


"Heemmmmm" gumam Raditya.


"Kota ini sepi bossss" Beno mulai cari alasan.


"Lantas? Nggak ada Siska?" sambung Raditya.


"Nah, itu bos tahu" tanggap Beno.


"Siska kupindahin sini" lanjut Raditya.


"Jangan bos. Aku balik jadi asisten bos aja" tolak Beno.


"Kembangin cabang yang di sini Beno. Kamu itu punya potensi" Raditya menyemangati sang sahabat.

__ADS_1


Beno tersenyum kecut. Kali ini dia memang belum ingin untuk menjadi direktur. Menjadi asisten Raditya adalah zona nyamannya.


"Oke, kalau kamu tolak. Aku kasih kesempatan kamu untuk enam bulan ke depan. Selesaikan yang di sini. Kalau berhasil kamu boleh balik pusat" tandas Raditya.


"Yaelah bos, itu namanya pemaksaan. Mau tak mau aku musti tinggal sini kan? Bilang aja begitu" sahut Beno.


"Nanggung Beno. Kamu tunjuk aja staf-staf yang akan ngedampingin kamu di sini nantinya. Pilih dari anak cabang mana" perintah Raditya.


"Besok aja bos kita bahas lagi, aku balik dulu" Beno beranjak dari duduk.


"Hari ini kita selesaikan, sudah cukup lama aku di kota ini" ulas Raditya.


"Benar, aku pun begitu bos. Bosan" sela Beno.


"Kalau kamu, tak boleh bosan Beno. Terutama untuk enam bulan ke depan" olok Raditya.


"Curang. Enak di bos, enggak enak di aku" kata Beno menimpali.


"Itu keputusan Beno" ujar Raditya.


"Keputusan sepihak" Beno mengerucutkan bibirnya dan berlalu meninggalkan sang bos untuk pulang.


Semenjak Raditya membeli penthouse itu, Beno juga disewakan sebuah apartemen yang berada di lantai bawah di komplek apartemen yang sama.


Tapi belum lama ditinggali oleh Beno. Beno bahkan mengajak pak Supri untuk tinggal bersamanya selama tinggal di kota ini.


"Loh, tuan besar sama nyonya di mana?" gumam Beno sebelum melangkah keluar pintu apartemen Raditya.


"Ngapain cari mama sama papa?" sahut Raditya di belakang Beno.


"Mau apa lagi, ya musti mengadu lah" tandas Beno.


"Ha...ha...telat loe. Papa dan mama telah balik hotel. Besok pagi-pagi balik ibukota" ledek Raditya.


"Bos kapan pindahnya?" tanya Beno.


"Minggu depan" jawab Raditya penuh keyakinan.


Raditya sudah berpesan ke papa nya untuk mengurus mutasi Siska ke anak cabang di kota ini. Dan itu telah disetujui oleh tuan Andrian.


Syarat utama agar Beno tak menolak perintah Raditya.


"Kok sendirian? Mana suster-suster?" tanya Raditya kala melihat Rania kerepotan menidurkan Celo dan Cio.


"Kusuruh makan tadi" jelas Rania.


"Ooooo...haus kali yank?" ucap Raditya.


"Habis minum semua nih tadi" imbuh Rania menjelaskan.


"Sini kubantuin gendong Celo" kata Raditya.


Raditya meraih Celo ke dalam gendongan.


"Ajak keluar kamar aja yuk" kata Raditya.


"Ke mana? Di sini kan area paling bersih yank. Aku nggak mau mereka kenapa-napa" tolak Rania karena merasa khawatir.


"Bisa saja kan mereka bosan di kamar" kata Raditya menanggapi.


"Mana mereka tahu. Pandangan Celo dan Cio aja masih belum jelas-jelas amat" jelas Rania.


"Atau malah papa nya yang bosan di kamar ini" gurau Rania.


"He...he...kita ajak ke kamar utama aja" sambung Raditya.


"Oke lah kita coba" akhirnya Rania menyetujui apa kata suaminya.


Suster-suster yang barusan masuk.


"Kalian istirahat aja. Adik-adik biar sama kita" ujar Raditya.

__ADS_1


"Baik tuan" kata mereka ramah.


Raditya dan Rania menggendong masing-masing Celo dan Cio.


"Sayang, minggu depan rencana kita pindah ibukota" bilang Raditya.


"Setelah yang di sana siap semua" lanjut Raditya.


Rania mengangguk.


"Oh ya, apa sudah kamu lihat?" tanya Raditya.


"Lihat apa?" tanya Rania heran.


"Tuh" arah mata Raditya menatap sesuatu yang membuat Rania malu.


"Belum" jawab Rania yang sudah paham arah pembicaraan Raditya.


"Belum dilihat apa memang belum selesai" tukas Raditya.


"He...he...belum dilihat" jawab Rania tersipu.


"Ya udah kamu lihat lah sekarang. Biar Cio di ranjang dulu" kata Raditya dengan tak sabar.


.


Sementara itu di lapas, Mahendra kembali mendapat kunjungan Riska.


Setelah tadi pagi mendapat kunjungan dari Beno, asisten Raditya.


"Untuk apa kamu ke sini? Mengumpatiku" sambut Mahendra kala dilihatnya Riska tengah duduk menunggu dirinya.


"Nih, makanan kamu" Riska menyodorkan sebungkus makanan untuk Mahendra.


"Di sini aku sudah dapat jatah, jadi kamu nggak perlu repot untuk tiap hari nganterin makanan" masih ketus saja nada Mahendra.


"Kamu ini kenapa sih? Dianterin makanan malah marah mulu" jawab Riska sengau.


"Nggak ada. Aku nggak mau ngrepotin kamu" tukas Mahendra.


"Tumben kamu bener kalau ngomong" timpal Riska.


"Bilang saja apa tujuan kamu ke sini!" kata Mahendra langsung menodong Riska untuk segera mengatakan maksudnya datang.


"Aku cuman mau bilang, kalau anak kamu mau dirujuk. Tapi masih periksa-periksa dulu. Untuk operasi masih nunggu keputusan dokter jantung yang di sana" jelas Riska.


"Lantas?" sela Mahendra.


"Yaaaacchhh aku cuman mau bilang seperti kemarin-kemarin. Siapin biayanya" tukas Riska.


"Bilang saja biayanya sekitar berapa?" tanya Mahendra membuat Riska memandang aneh ke arahnya.


"Kamu heran? Aku akan dapat uang darimana?" imbuh Mahendra.


"Heemmmm" Riska dengan tatapan heran.


"Tak perlu kamu tahu dapat darimana. Yang penting urusan biaya anak kamu selesai" jawab Mahendra menegaskan.


Riska nampak senang. Urusan biaya anaknya tak perlu dipikirkan lagi.


"Makasih sayang" ujar Riska dengan senyum ramah.


'Dasar licik kamu Riska' umpat Mahendra dalam hati. Andai kamu tak hamil, tak akan kubiarkan kamu menjebak Rania saat itu. Ada sesal di benak Mahendra. Tapi nasi sudah menjadi bubur, aku janji akan kubuat Rania kembali padaku.


Sementara Riska juga berpikir, 'Andai aku tak memerlukan biaya untuk bayinya, sudah aku tinggalin pesakitan macam kamu Mahendra' batin Riska. Selain itu, aku masih butuh untuk tinggal di rumahnya. Mobilnya pun masih bisa aku pakai. Pikiran licik terpatri di otak Riska.


Mereka saling tatap, tapi dengan pikiran masing-masing.


***🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading***

__ADS_1


__ADS_2