
Rania mulai siuman kala sore menjelang. Cukup lama dirinya tak sadarkan diri.
"Aaarrrggghhh di mana ini?" keluh Rania pertama kali.
Rania pandangi sekelilingnya, "Seperti di kamarku?" gumamnya.
Kembali dia teringat akan almarhum Chiko. Memang kata ikhlas itu sangat mudah diucapkan, tapi hati tetap terasa berat. Air mata kembali luruh tanpa bisa ditahan.
"Rania...Rania... Apa kamu sudah bangun nak?" terdengar suara lembut, yang sangat Rania hafal.
"Iya bu" jawah Rania dari dalam kamar.
Nyonya Handono masuk, "Kamu menangis lagi? Ikhlas, sabar. Semua akan kembali ke yang berpunya nak. Termasuk kita" nasehat ibu Rania.
"Jika hati kita terasa berat, ingatlah bahwa Chiko sudah sangat bahagia di surga. Dia sudah tak merasakan sakit lagi nak" kata-kata nyonya Handono bagai oase di tengah gurun.
Rania memeluk ibunya, butuh sumber kekuatan untuk menghadapinya.
"Kok aku bisa sampai sini bu, bukannya aku tadi pingsan di makam?" tanya Rania.
"Iya, nak Raditya yang mengangkat kamu sampai sini. Oh ya, tadi dia titip salam buat kamu sebelum pulang" beritahu ibu Rania.
"Ayo makanlah. Kamu harus jaga kesehatan. Masih ada dua anak lagi yang setia menunggumu Rania" nyonya Handono tak capek-capeknya memberi nasehat.
Rania mengangguk meski saat ini belum ada selera makan.
Tuan Handono ikutan masuk ke kamar Rania, menyusul nyonya Handono yang masih menunggui dengan sabar putrinya makan.
Rania menatap sang ayah.
"Rania, maafkan ayah" kata tuan Handono. Meski tuan Handono hanya pensiunan pegawai pemerintah, beliau mempunyai ketegasan yang luar biasa. Jika salah, tuan Handono tak segan untuk meminta maaf. Demikian juga sebaliknya, jika orang lain salah maka tak segan dia mengusirnya. Seperti yang terjadi pada Rania saat itu.
"Ayah khilaf nak. Ayah terbakar emosi. Bahkan ayah tak mau mendengar penjelasanmu waktu itu" bahas tuan Handono.
"Aku sudah maafkan ayah sedari dulu" ucap Rania.
"Cuman yang ingin aku tahu, kenapa tiba-tiba ayah berubah pikiran?" tanya Rania.
"Mahendra" bilang tuan Handono.
"Mahendra????" Rania menegaskan apa yang diucapkan ayahnya.
Tuan Handono pun duduk di kursi tepat di depan Rania.
"Kemarin Mahendra datang ke sini" tuan Handono memulai pembicaraan.
"Untuk?" Rania masih saja penasaran.
"Entah angin apa yang membawanya ke sini. Karena semenjak akad nikahnya dengan Riska, ayah tak pernah ketemu lagi dengan batang hidungnya" imbuh tuan Handono.
"Lantas kenapa dia ke sini Yah?" Rania mengejar ayahnya dengan pertanyaan.
"Dia menceritakan kejadian malam itu, saat dirimu kepergok dengan laki-laki lain" kata tuan Handono.
__ADS_1
"Terus?" tanya Rania seakan ingin cepat mendapat jawaban yang memuaskan dari ayahnya.
"Katanya dirinya juga baru tahu kalau malam itu dirimu dijebak oleh seseorang, sehingga dirimu berakhir menginap di sebuah hotel. Dan dia meralat semua atas cerita nya dulu" imbuh tuan Handono.
"Mahendra cerita nggak Yah siapa yang menjebakku?" tanya Rania penasaran. Penasaran bagaimana Mahendra melindungi Riska yang nyatanya telah tega menjebak Rania.
"Dia nggak tahu siapa orangnya" tandas tuan Handono.
Rania bisa menilai bagaimana liciknya Mahendra dan juga Riska. Sungguh keterlalulan sekali. Tapi apa motifnya sampai Mahendra mau datang ke sini dengan sendirinya. Rania belum tahu saja, kalaulah kedatangan Mahendra menghadap ke kedua orang tuanya karena intervensi Raditya.
"Kenapa baru sekarang ya Mahendra ke sini, menjelaskan semua?" Rania pura-pura penasaran.
"Karena Mahendra baru tahu cerita sebenarnya nak. Dan dia cukup menyesal untuk itu. Mahendra juga minta maaf sama ayah karena tak bisa menjagamu" terang tuan Handono.
'Sialan tuh orang' umpat Rania yang sesaat melupakan kesedihannya.
"Tadi juga nggak kelihatan kok Mahendra di pemakaman putra kamu" sela nyonya Handono memberitahu.
"Mahendra nggak ada?" tanya Rania tak percaya.
"Kata Riska, Mahendra badannya lemas karena sering pingsan. Tak kuat kehilangan Chiko" lanjut nyonya Handono.
Rania tersenyum sinis.
"Alasan yang sungguh luar biasa" gumam Rania bermonolog.
"Sebaiknya kalian nggak bermusuhan lagi? Bagaimanapun semua yang terjadi sudah menjadi masa lalu" saran nyonya Handono.
Mereka masih saja menganggap sang mantan menantu orang yang baik karena belum tahu sisi buruk seorang Mahendra. Batin Rania.
"Oh ya Rania, apa kamu tahu berapa usia kehamilan Riska?" tanya ayah tiba-tiba.
"Kenapa ayah tanya seperti itu?" tukas nyonya Handono.
"Penasaran aja. Karena Riska sempat salah sebut umur hamilnya tadi pagi waktu di rumah sakit" cerita tuan Handono.
"Riska sempat bilang kalau dirinya hamil sembilan bulan. Padahal kan kalian pisah baru delapan bulan yang lalu. Benar kan Rania?" ternyata tuan Handono hafal betul dengan kejadian saat putrinya ditalak oleh Mahendra.
"Apa ada yang ayah tidak ketahui Rania?" telisik ayah.
"Semua akan terkuak jika sudah waktunya. Sekarang ayah nggak usah mikir macam-macam" ucap Rania.
"Ya sudah sekarang istirahatlah. Besok pagi kamu musti ke rumah sakit kan?" tukas tuan Handono.
"Iya ayah" jawab Rania menurut.
Diperhatikan lagi oleh ayah dan ibunya adalah hal yang selalu Rania ucapkan saat berdoa.
Nyonya Handono membantu putrinya itu merebahkan diri. Dia tutupi tubuh Rania dengan selimut.
"Ingat Rania, jaga kesehatan. Makan cukup, istirahat cukup" kembali nyonya Handono memberi nasehat.
"Jangan lama-lama larut dalam kesedihan" kata tuan Handono menambahi apa yang dinasehatkan sang istri kepada Rania.
__ADS_1
"Makasih yah, makasih bu" kata Rania mencoba tersenyum.
Rania menatap langit-langit kamar. Tatapannya masih kosong. Sepi, itu yang dirasakan olehnya sepeninggal tuan dan nyonya Handono yang barusan keluar kamar.
Tatapan kosong itu menjadi tatapan benci kala teringat Mahendra yang terlalu picik tak menceritakan semuanya.
Saat melamun begini, bayangan Raditya melintas di pikiran Rania.
Rania geleng kepala untuk mengusir bayangan Raditya dari kepala, "Bagaimana bayangan dia yang selalu mengisi otakku akhir-akhir ini??" gumam Rania sendirian.
.
Rania bangun pagi sekali, saat yang lain masih lelap dalam tidur.
"Cari apa nak?" tanya ibu tiba-tiba membuat Rania terlonjak kaget.
"Ibu ngagetin aja sih. Aku mau ambil minum" tukas Rania memberitahu.
Pagi-pagi sebuah mobil mewah sudah terparkir di halaman depan rumah Rania. Siapa lagi yang datang kalau bukan Raditya.
"Loh, tuan tampan sudah datang aja" sapa bik Surti yang sedang menyapu halaman.
"He...he...iya bik. Rania nya ada?" tanya Raditya.
"Kirain nyari bibi tuan. Nggak tahunya nyariin non" tukas bik Surti bercanda.
"Tunggu sebentar tuan, saya panggilin" bik Surti menaruh sapunya dan bergegas ke dalam.
Tak lama bik Surti telah keluar lagi.
"Maaf, tuan tampan disuruh masuk dulu sama tuan besar" beritahunya.
"Makasih bik" Raditya pun masuk ke kediaman utama.
Para tetangga yang kebetulan lewat malah berhenti karena ada mobil mewah teparkir di sana.
"Surti...Surti...siapa tuan ganteng tadi?" kepo ibu-ibu warga sekitaran tempat tinggal tuan Handono.
"Kayaknya sih calonnya non Rania" bisik Surti kepada yang lain.
"Wah beruntungnya Rania" tukas yang lain.
"Surtiiiiii" panggil nyonya Handono dari dalam rumah.
"Bosku nyariin tuh, ntar kalau ada yang baru kuinpoin dech" celetuk Surti.
Dasar bik Surti, pagi-pagi sudah ngegibah aja.
"Tolong buatin minum sana buat tamu daripada nggosip sana sini pagi-pagi" kata nyonya Handono saat Surti masuk ke dapur.
"Baik bu" jawab Surti menimpali.
Di ruang tengah Raditya terlibat obrolan dengan tuan Handono yang telah dipanggilnya ayah itu.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading