
Apartemen yang beberapa bulan kosong itu pun masih nampak bersih dan terawat.
Raditya memang punya orang suruhan untuk membersihkan dan merawat penthouse yang dikosongkan ketika mereka pindah ke ibukota.
"Yank, Celo dan Cio biar bersama mbak-mbaknya saja" kata Raditya.
"Kamu istirahat saja dulu" suruh Raditya.
"Iya, pinggangku rasanya juga pegel nih" keluh Rania.
Raditya diam, sudah beberapa hari ini memang tidur sang istri agak terganggu kalau malam.
Tangan Raditya tak boleh berhenti untuk mengelusnya.
Bahkan Raditya tak tega melihat kondisi sang istri dengan perut semakin membesar dengan dua janin di perut.
Bawa badannya sendiri aja berasa berat, apalagi kalau Celo atau Cio rewel minta gendong.
"Yank, kok melamun sih?" sela Rania karena melihat Raditya hanya termangu depan pintu kamar.
"Nggak gitu yank. Aku cuman bayangin beratnya andai aku jadi kamu" seru Raditya.
"Kenapa?" tukas Rania.
"Lihat kamu bawa perut aja rasanya berat banget" jelas Raditya.
"Mau kamu gantiin?" canda Rania.
"Kalau bisa pasti aku mau yank" seru Raditya.
"Iya sih, tapi kodratnya sudah beda yank. Sekarang tugas kamu penuhin nafkah istri dan keempat anak kamu" Rania tertawa renyah.
Raditya pun ikutan ketawa. Nggak pernah ngebayangin hidupnya akan semeriah ini. Mempunyai putra kembar, bahkan akan dianugerahi lagi kembar yang kedua.
"Yang penting kamu sehat aja aku senang yank. Apalagi ditambahi bonus yang ada di perut kamu. Aku janji akan ngebahagiain kalian semua" ujar Raditya.
Rania mengaminkan ucapan sang suami.
"Nggak jadi istirahat?" sela Raditya.
Rania tersenyum. Niatnya ingin segera meluruskan pinggang malah berujung obrolan dengan sang suami.
"Yank, besok kita ke makam Chiko ya?" kata Rania saat Raditya sudah sibuk memijat-mijat pinggangnya.
"Boleh, asal kamu dalam kondisi baik. Akan aku anter kemana kamu pergi" kata Raditya menimpali.
"Kalau ke bulan?" Rania malah membercandai sang suami.
"Kamu mau? Ntar aku bilangin astronot yang mau ke sana. Aku akan bilang kalau istriku mau nebeng" kata Raditya membuat Rania tersenyum.
Rania membalikkan badan dan memeluk sang suami.
"Makasih sayang, atas semua perhatian yang kamu berikan" kata Rania.
"Issshhh, jangan godain sayang. Aku sudah berusaha menahan loh sedari tadi. Dan ini mulai bangun" ujar Raditya.
__ADS_1
Lama memang Rania belum memberikan jatah untuk sang suami. Tapi Raditya tak mau karena kehamilan Rania yang rentan sejak awal.
Esok hari, Raditya mengajak Rania dan kedua putranya datang ke rumah Opa dan Omanya.
Mereka berdua sangat senang sekali dikunjungi untuk pertama kalinya oleh kedua cucunya yang tampan.
"Ayah, ibu aku ke makam dulu ya?" pamit Rania.
"Makan dulu lah. Kalian pasti belum sarapan?" tanya ibu.
"Sudah kok bu, tadi bu Marmi nganterin sarapan buat kita" bilang Rania.
"Oke, kalau gitu tinggalin aja Celo dan Cio di sini Rania" ujar ibu.
"Rencananya memang begitu" sela Raditya.
Celo dan Cio bersama Oma dan Opa, sementara Raditya dan Rania berangkat ke makam untuk ziarah ke makam Chiko.
Di depan makam Chiko, "Semoga kamu bahagia di sana Nak. Maafin bunda yang nyia-nyiakan kamu waktu kamu masih ada. Yang jelas, bunda akan selalu menyayangi kamu sampai kapanpun. Nama kamu akan selalu terpatri di hati bunda" gumam Rania.
Rania peluk nisan putra pertamanya.
Meski hati telah ikhlas, nyatanya air mata mengalir juga di pipi Rania.
Raditya tepuk pelan bahu sang istri.
"Chiko sudah bahagia di surga. Dia pasti tahu, jika bunda nya sangatlah sayang padanya" kata Raditya.
"Abis ini mau ke mana?" tanya Raditya saat mereka berdua keluar area makam.
"Nasi padang aja" kata Rania tiba-tiba.
"Yang dekat rumah sakit aja ya?" tanya Raditya
"Boleh lah" sambut Rania yang setuju akan usulan sang suami.
Sambil menunggu pesanan datang, Raditya sibuk menscrol laporan perusahaan. Mulai dari Samudera, Erdua dan yang paling baru adalah hasil merger dengan perusahaan Veronica.
Ponsel Raditya berdering, Veronica incoming call.
"Kenapa nih dia?" alis Raditya saling bertaut.
"Ada apa?" sela Rania.
Raditya menunjukkan layar ponsel ke sang istri.
"Angkat aja, sapa tau penting" kata Rania.
'Kok Rania biasa aja, kenapa tak ada cemburu dengan veronica?' batin Raditya.
"Males gue" imbuh Raditya.
"Yank, sapa tahu ada masalah kerjaan" terang Rania.
"Kalau ada masalah, mestinya dia lewat Beno dulu atau staf yang lain. Tak perlu langsung ke bos nya. Emang siapa dia?" nada suara Raditya terdengar ketus.
__ADS_1
"Kali aja dia nyaman kalau bicara langsung sama kamu?" celetuk Rania.
"Sayang, aku jelasin ya. Kalau urusan kerja mah beda, harus profesional. Semua bisa dibicarakan dengan staf yang berkaitan" jelas Raditya.
Tak lama sebuah notif pesan dari Vero masuk.
"Raditya, tolong angkat dong. Aku ada perlu sebentar sama kamu. Boleh nggak sih kita ketemuan, sebentar saja" rayu Vero dalam ketikannya.
"Nih, baca" kata Raditya menyodorkan ponsel untuk dilihat Rania.
"Kalau kerjaan yang mau dibicarakan?" seru Rania.
"Sayang, kamu nih polos banget sih. Nggak bisa bedain mana yang modus mana yang serius" gurau Raditya membuat Rania sewot. Niatnya mengingatkan sang suami, malah mendapat olokan Raditya.
"Ayo makan aja, daripada bicarain hal tak penting" kata Raditya.
Rania malah mengecek tas nya.
"Nyari apaan?" sela Raditya.
"Dompet. Aku takut kelewatan lagi nggak bawa tunai, sama seperti dulu. Mau bayar makan aja sampai nungguin Beno" seru Rania.
"Masih ingat sama kejadian itu?" tanya Raditya dan tertawa sesudahnya. Kejadian memalukan karena saat akan membayar baru ketahuan jika tak bawa uang dua-duanya.
.
Di sebuah hotel, Riska terlibat debat dengan laki-laki penyewanya.
"Enak aja lo tuan. Bisa-bisanya menyalahi kontrak kita. Sekarang bayar uang sewa gue" kata Riska sengit.
"Ha...ha...aku akan bayar lunas jika aku puas. Tapi maaf aku tak puas sama kamu. Itu mu bau. Bau banget malah" seru tuan-tuan yang sudah berumur itu ke arah inti tubuh Riska.
"Itu hanya alesan kamu tuan. Bilang saja kalau tak mampu bayar" kata Riska dengan nada tinggi.
"Nggak usah banyak kata tuan, sekarang kamu bayar apa yang sudah menjadi hak aku" sambung Riska.
"Jangan bicara hak, jika kewajiban kamu saja belum semua kamu laksanakan wahai nyonya" seru penyewa Riska, membuat Riska naik pitam.
Dengan segala cara, Riska bahkan menggebrak meja di dekatnya.
"Tuan, akan aku laporkan pada mommy" seru Riska.
Mendengar nama Mommy membuat laki-laki itu sedikit takut dan langsung melempar uang sejumlah dua puluh juta ke arah Riska.
Riska hendak beranjak dan meninggalkan kamar.
Tapi tiba-tiba pusing menyerang dan Riska pun ambruk tepat di belakang pintu.
Laki-laki tua itu kebingungan karena Riska yang pingsan. Beberapa kali tubuh Riska disenggol tapi tak ada reaksi.
Dia ambil yang diberikan kepada Riska tadi, dan berlalu cepat meninggalkan kamar hotel yang disewa atas nama Riska.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1