
Riska melenggang sendirian di mall yang besar itu.
Dua orang security menghampiri Riska.
"Selamat siang nyonya, bisa ikut dengan kami sejenak" ucap salah satu security itu.
"Untuk apa?" jawab Riska sinis.
"Ikut saja dengan kami sebentar" pinta mereka.
"Kalau aku tak mau" sergah Riska.
"Jangan buat kami memaksa anda nyonya" seru yang lain.
"Akan aku laporkan kalian atas ketidaknyamanan yang aku rasakan" kata Riska dengan ketus.
"Silahkan nyonya, ikut dengan kami" ucap yang lain mencoba menahan sabar.
Riska kekeuh tak mau mengikuti mereka.
"Maaf nyonya, terpaksa anda kami seret ke pos jika tetap menolak" bilang satpam itu mulai hilang kesabaran.
"Silahkan saja, kalau kamu mampu" tandas Riska dan hendak melenggang meninggalkan mereka.
Salah satu security menahan lengan Riska dan meminta Riska untuk mengikutinya. Sepertinya ancaman mereka tidak main-main, maka Riska pun terpaksa mengikuti keduanya sembari menghentakkan kaki.
"Silahkan duduk nyonya" suruh security yang agak tambun itu sementara yang lain berjaga di depan pintu.
"Sekarang apa yang kamu inginkan?" suara Riska kasar.
"Nyonya, apa anda di outlet tas dan baju mewah tadi?" tanyanya.
"Iya" jawab singkat Riska.
"Apa anda juga pakai black card? Kenapa tidak jadi belanja?" sambungnya.
"Karena aku lupa pin nya" alibi Riska.
"Kami tak bisa dikelabui oleh anda nyonya. Dan sekarang serahkan kartu black card itu. Dan anda tak diperbolehkan pergi sebelum yang berwajib menggelandang anda" jelas nya.
"Heeiiii, kenapa aku musti menyerahkannya. Semua itu milik aku" terang Riska.
"Kalau memang betul punya anda, anda tak mungkin melupakan nomor pin yang penting untuk setiap kartu yang anda bawa" seru sang security
"Kenapa nggak boleh. Bukanlah lupa itu sesuatu yang wajar" ulas Riska untuk menyangkal.
"Betul nyonya. Tapi akan sangat aneh jika itu untuk sebuah kartu hitam seperti yang anda bawa" seru satpam itu tak kalah sinis.
__ADS_1
"Ha...ha...awas saja kalian kalau berani macam-macam. Akan aku adukan pada suami aku" kata Riska sembari berkacak pinggang di depan security itu.
"Silahkan telpon suami anda. Dan jika memang kami salah, kami akan minta maaf secara terbuka. Semua yang kami lakukan sudah sesuai prosedur" terang nya.
Balik Riska yang kebingungan. Suami yang diakuinya sekarang adalah tuan xx yang saat ini sedang rapat. Riska juga bodoh tak membaca nama perusahaannya sesaat sebelum berangkat ke mall ini.
"Pak, anda tahu kan perusahaan yang di seberang?" tunjuk Riska ke salah satu gedung pencakar langit yang kebetulan terlihat dari pos satpam itu.
"Iya, kenapa nyonya?" tukasnya.
"Gedung itu adalah perusahaan milik suami aku" jelas Riska.
"Ha...ha...ha....siapapun bisa mengaku nyonya. Termasuk anda" sergah security itu sembari terbahak. Pikirnya bagaimana mungkin wanita itu menyebut dirinya sebagai istri dari pemilik perusahaan Samudera Grub, berdasar gedung yang ditunjuk oleh wanita ini tadi.
"Awas saja kalian" ancam Riska dan hendak menelpon mommy.
"Mom, aku berada di pos security mall" lapor Riska.
"Tolong bilang ke tuan xx, untuk bebasin aku dari sini. Aku kan belum dikasih nomor kontaknya Mom" keluh Riska.
Dan mommy berjanji akan memberitahu tuan xx, jika dia sudah menerima transferan sesuai janji Riska.
"Oke Mom, tunggu sebentar. Tapi jangan lupa kabarin tuan xx" sebut Riska.
Tak butuh waktu lebih dari setengah jam, Riska telah dijemput oleh salah satu utusan dari tuan xx. Bahkan utusan itu juga mengancam para security jika tak segera melepas sang nyonya.
"Silahkan masuk nyonya. Ini kode pasword pintu utama" bilangnya.
"Dan oleh bos kami, anda diminta untuk tinggal di sini. Dan jangan coba-coba melarikan diri" kata nya menegaskan pada Riska.
Kok melarikan diri sih, pastinya aku akan betah tinggal di tempat mewah seperti ini. Kata Riska bermonolog, sepeninggal utusan tuan xx.
Dia hempaskan pantatnya di kursi empuk ruang tengah. Tentunya sangat senang dan bahagia yang dirasakan Riska kali ini.
.
Setelah hampir sembilan belas jam berada di antara langit dan awan, akhirnya akan landing juga pesawat yang ditumpangi oleh Raditya dan Rania.
Bahkan sempat-sempatnya Raditya meminta hak nya lagi saat berada di ketinggian di atas sepuluh ribu kaki, membuat Rania lunglai bagai tak bertulang.
"Yank, bentar lagi sampai loh. Nggak siap-siap" kata Raditya dengan wajah segar karena barusan selesai mandi.
Rania membuka matanya malas.
"Mandi sana gih, biar bugar. Air hangat juga sudah ada" kata Raditya.
Rania melakukan apa yang diminta sang suami. Memang benar, rasa letihnya mulai berkurang kala badannya diguyur air hangat. Meski tak seleluasa di darat. Nyatanya memang menyegarkan.
__ADS_1
Raditya dan Rania turun dengan rambut basahnya, membuat para kru pesawat pun banyak yang tersenyum simpul.
"Kenapa kalian? Kalau ingin, segeralah menikah" tandas Raditya dengan senyum selalu menghiasi wajah tampan nya.
Ternyata ada Beno dan Siska yang ikut dalam rombongan penjemputan.
"Siapa yang nyuruh kalian balik ke ibukota?" todong Raditya kala berhadapan dengan Beno.
Siska menunduk, karena dia berada di sini atas ajakan atasannya. Siapa lagi kalau bukan Beno.
"Santai bos. Aku balik hanya karena ingin menyambut kedatangan anda. Tak ada yang lain" jawab Beno dengan bahasa resmi.
Tangan Raditya yang tak lepas dari tangan Rania, tentu saja membuat iri Beno dan Siska.
"Isssh...mentang-mentang baru honeymoon. Lengket terus bagai perangko" olok Beno pelan.
"Apa lo bilang?" tatap Raditya.
"Apaan sih? Aku cuman bilang kalau kalian adalah pasangan paling serasi abad ini" terang Beno menjelaskan. Dan kelihatan banget kalau itu hanya basa basi.
"Selamat pagi dan selamat datang tuan dan nyonya" sapa seseorang dari arah samping Raditya.
"Tuh, asisten kamu yang suka telat kenapa nggak kamu marahin" seru Beno menyela.
Rania menatap sang suami.
"Dia Adam, asisten aku juga selain Beno. Dia kutugasin di ErDua" jelas Raditya.
"ErDua nyonya, perusahaan milik tuan Raditya selain Samudera Grub" imbuh Adam ikutan menjelaskan.
Rania tersenyum ke arah Adam.
"Simpan senyum kamu hanya untuk aku. Jangan kasih buat yang lain. Apalagi buat Beno dan Adam" tandas Raditya membuat Beno kembali sewot.
"Adam dan juga kamu Beno, siapin rapat internal perusahaan besok pagi. Hari ini jangan ganggu aku lagi dengan urusan perusahaan. Oke!" perintah Raditya.
"Tapi tuan, ada yang ingin kulaporin sekarang" sela Adam.
"Pending aja. Besok kita bicarain semua. Laporan yang kalian kirim sudah aku periksa. Kalian cek aja email yang aku kirim. Khusus hari ini lakukan saja apa yang kuperintahkan di email itu" jelas Raditya.
Beno dan Adam milih memisahkan diri dari laju mobil yang membawa Raditya dan Rania.
Beno bersama Siska balik ke Samudera Grub, sementara Adam ke perusahaan ErDua. Singkatan yang pas untuk Raditya dan Rania.
Rania sudah tak sabar ingin bertemu dengan duo jagoan cilik.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
To be continued, happy reading