Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Kerja Baru Riska


__ADS_3

Meski baru kenal, nyatanya Riska langsung percaya saja atas apa yang dikatakan oleh pak sopir itu.


"Boleh pak. Kalau boleh aku tahu, kerjaannya apa ya pak?" tanya Riska.


"Nanti aja, pasti akan dikasih tahu sama mommy" bilangnya.


"Oke lah pak. Yang penting gratis. Apalagi ni katanya ibukota. Semua serba mahal pak" kata Riska.


"Bener tuh nyonya. Aku aja juga nyambi-nyambi" serunya.


"Nyonya dari kota mana? Sepertinya logat anda berbeda?" sambung pak sopir.


"He...he...tau aja bapak ini. Aku dari kota M pak, ya nggak kecil-kecil amat sih kotanya tapi ya nggak seramai di sini juga" cerita Riska kala mereka mulai kejebak macet.


"Wah, jauh juga ya dari ibukota?" timpal pak sopir.


"Iya sih pak, butuh empat jam untuk sampai sana. Tapi kalau di kota aku, nggak ada macet beginian pak" ujar Riska panjang lebar.


"Tujuan ke ibukota? Nyari kerja?" tanya pak sopir.


Riska teringat akan jenazah putra yang ditinggalkannya tadi. Sejenak Riska termenung.


"Nyonya?" panggil pak sopir.


"Awalnya sih nungguin keluarga saya yang sakit pak. Tapi ternyata nyawanya tak bisa diselamatkan. Karena aku terlalu banyak ijin, yaaachhhh akhirnya ku juga diberhentikan di tempat kerjaku yang lama" kata Riska berkeluh kesah mencari simpati.


"Sabar nyonya. Habis ini aku pastikan anda akan lagsung dapat kerja dech" tukas pak sopir dengan yakin.


"Semoga saja" balas Riska.


Pak sopir menghentikan laju mobil nya di sebuah bangunan yang lumayan mewah.


"Tempat apa ini pak?" tanya Riska penasaran.


"Turun dulu saja. Nanti anda juga akan tahu" bilangnya.


"Nih, bayarannya pak" Riska menyodorkan sejumlah uang sesuai aplikasi.


"Terima kasih nyonya" ujar pak sopir menerima uang yang disodorkan Riska.


"Mari ikut saya nyonya" sambungnya dengan mengajak Riska masuk ke bagian dalam rumah mewah itu.


Riska kagum dengan interior rumah yang ada di dalam nya, sangatlah mewah dan artistik.


"Mom, lama tak jumpa?" sapa pak sopir kala ada wanita anggun nan cantik turun dari lantai dua.


"Ke mana aja kamu Yok?" tanya kepada laki-laki di samping Riska.


"Cari income lain lah Mom, jadi sopir online nih" serunya.


"Oh ya Mom, ini ada yang nyari kerjaan" lapornya.


Wanita yang dipanggil mommy itu menatap ke arah Riska. Melihat penampilan wanita di depannya membuat Riska insecure tentu saja. Dia kelihatan burik.


"Siapa dia Ayok, penampilannya enggak banget?" bilang wanita yang kira-kira usianya empat limaan itu.

__ADS_1


"Mommy lihat sekali lagi dech" suruh laki-laki yang ternyata bernama Ayok itu.


Mommy pandangi Riska dari atas ke bawah dan balik lagi ke atas.


"Siapa nama kamu?" tanya Mommy.


"Riska" jawab singkat Riska menyebutkan nama.


"Asal?" lanjutnya.


"Kota M" tukas Riska.


"Single atau menikah?" tanya Mommy melanjutkan tanya nya.


"Menikah" jawab Riska jujur kali ini. Kenapa status segala sih yang ditanyain. Batin Riska.


"Suami kamu? Ada di kota ini?" Mommy terus saja menyelidik Riska.


"Hhmmmm...suami di penjara nyonya. Kasus penggelapan dana" terang Riska.


"Oke, kalau begitu kamu memang sedang butuh uang yang tak sedikit. Oke kamu kuterima" jawab Mommy tegas.


Kok nggak ditanyain pengalaman kerja sih? Pikir Riska.


"Di sini tidak perlu pengalaman kerja. Yang penting kamu bisa make up dan dandan seksi sudah cukup" seru mommy.


"Emang kerjaan di sini apa?" tanya Riska.


"Nanti juga kamu akan tahu" seru mommy dan menjentikkan jari seakan memanggil seseorang.


"Oke, habis ini bonus kamu kutransfer" kata mommy meninggalkan Riska yang masih terpaku.


"Kerja apaan ya? Bisa dandan dan baju seksi? Kok aneh?" Riska seperti memikirkan sesuatu.


"Kak, ayo ikut aku" suara seseorang tiba-tiba terdengar di samping Riska.


"Eh, buat kaget saja" ujar Riska. Dan mengikuti langkah si pengajak tadi.


"Nih kamarmu. Istirahatlah! Di sini kerjanya kebanyakan malam hari" terangnya.


Langsung saja Riska membanting tubuhnya di ranjang. Capek dan penat bercampur jadi satu. Tak perlu menunggu lama Riska telah tertidur pulas.


.


Sementara itu ditunggu sampai sore, batang hidung ibunya bayi yang telah meninggal itu belum muncul juga.


Pihak rumah sakit akhirnya mengambil keputusan untuk mengebumikan jenazah bayi tak berdosa itu.


Untuk administrasi, pihak manajemen masih menghubungi nomor yang ditinggalkan oleh Riska di pendaftaran.


.


Andah yang tak berhasil ke rumah tuan Andrian, mencoba menelpon mama nya kembali yang sampai sekarang belum memberikan padanya nomor tuan Andrian.


"Sabar dong Andah, sulit ternyata untuk mencari nomor Andrian. Semua kontak yang ada ternyata dipegang masing-masing asistennya" jelas mama Yasmine.

__ADS_1


"Kamu datang aja ke perusahaan Andrian" suruh mama.


"Mana bisa Mah, kalau nggak janji temu dulu" tolak Andah.


"Coba dulu baru komen" ulas mama Yasmine.


"Sekarang kamu ke sana, ke perusahaan itu" suruh mama.


Andah menutup telpon dan mengarahkan laju mobil ke arah perusahaan yang dimaksud mama nya.


Andah langsung menuju pegawai front office yang berada di lobi.


"Selamat sore, ada yang bisa dibantu nyonya" sapa pegawai ke Andah yang masih memakai sneli itu.


"Saya masih single kak" terang Andah yang tidak mau dipanggil dengan nyonya.


"Maaf...maaf...Nona" kata pegawai itu.


"Saya mau ketemu dengan tuan Andrian" bilang Andah.


"Sudah ada janji temu?" tanyanya.


Andah pun menggeleng.


"Maaf, kalau anda tidak membuat janji temu. Kami tak bisa meneruskan ke ruang direksi" tolaknya dengan nada ramah.


"Bilang saja, saya dokter Andah ingin bertemu. Saya kenal baik dengan Om Andrian. Bahkan saya juga yang merawat cucu-cucunya" jelas Andah.


Mereka berdua saling pandang.


"Cucu????" di perusahaan belum ada kabar berita apapun, makanya mereka tak percaya dengan berita yang dibawa oleh dokter di depannya.


"Maaf nona, meski anda kenal baik dengan tuan Andrian. Kita tak berani untuk menghubungkan ke ruang direksi jika anda tak ada janji temu" seru pegawai sebelahnya.


Andah hendak terus memaksa, dan tak sengaja dilihat nya Raditya keluar dari lift.


"Raditya...Raditya..." panggil Andah dan berlari ke arah Raditya yang tengah menelpon itu.


"Iya sayang. Bilang aja ke papa sama mama. Dan suruh anterin pak Supri. Pak Supri sudah kukirimi pesan untuk mengantar ke alamat yang aku maksud" beritahu Raditya yang sepertinya sedang menelpon Rania.


Raditya menengok ke arah suara yang memanggilnya, sementara panggilan belum tertutup.


"Raditya, apa kabar? Aku tadi hendak mampir ke rumah Om Andrian, tapi sama satpam tidak dibolehin" kata Andah berasa curhat.


Raditya tak bersuara dan hanya memandang wanita yang tak tahu malu itu.


"Sayang, siapa?" tanya Rania di ujung telpon.


"Nggak penting. Tolong segera kamu bilang pak Supri. Aku mau otewe nih" beritahu Raditya.


"Maaf dokter, saya sibuk" kata Raditya terdengar ketus, dan langsung meninggalkan Andah.


"Huh, sombong. Tapi tampan" gerutuan komplit dengan pujian dari mulut Andah.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2