
Andah balik meninggalkan perusahaan Samudera dengan kegagalan yang kedua karena tak berhasil menemui tujuannya.
"Akan aku pepet terus kamu Raditya. Sampai seberapa kuat kamu akan bertahan" kata Andah saat sudah berada di mobilnya.
Sementara Raditya telah melajukan mobilnya ke sebuah resto mewah yang sudah direservasi oleh sekretarisnya tadi siang.
Raditya berniat akan memberikan kejutan mewah untuk sang istri.
Bahkan mama nya pun telah diberitahu untuk menyiapkan semua nya dengan menyuruh Rania untuk pergi ke klinik kecantikan langganan mama.
Saat Raditya menelpon dan bertemu dengan Andah tadi Rania sedang berada di klinik kecantikan rekom mama nya.
Mengetahui jika yang datang adalah menantu dari grub Samudera, tentu saja menjadi suatu kehormatan bagi pemilik klinik yang juga seorang dokter kecantikan ternama di ibukota.
Dia sendiri yang melayani Rania sampai Rania merasa sungkan. Uang memang sangat berbicara kali ini.
"Nyonya Rania, tak salah jika tuan muda memilih anda sebagai istri. Ternyata anda lebih cantik dari yang kukira" kata dokter itu.
Padahal saat itu Rania yang barusan datang hanya memakai polesan make up sederhana.
"Baiklah. Kita mulai aja treatment yang cocok untuk anda nyonya" kata nya.
Rania mengikuti apa yang dikatakan oleh sang dokter, meski kadang-kadang juga menyela dengan tanya apa maksud dan tujuan treatment yang dilakukan.
Hampir dua jam Rania berada di sana.
Dan kebetulan ponsel Rania berdering kala sudah selesai treatment yang dilakukan.
"Sudah selesai belum. Kalau sudah suruh nganterin pak Supri. Aku sudah mau sampai nih" kata Raditya sebelum Rania menyapa.
"Ini juga baru selesai. Mau nelpon pak Supri keburu kamu nelpon duluan" kata Rania sambil menyerahkan black card kepada kasir dari klinik kecantikan itu.
"Makasih nyonya" kata dokter yang tadi memberikan treatment untuk Rania.
"Sama-sama" tukas Rania sembari tersenyum hangat dengan ponsel masih menempel di telinga.
"Sudah dulu yank. Terus kapan aku menghubungi pak Supri nya" tukas Rania kala Raditya belum juga memutus panggilan itu.
"He...he....siap sayang" kata Raditya terkekeh.
Rania menghubungi pak Supri memberitahu kalau dirinya telah selesai.
Saat Rania keluar lobi, mobil yang dibawa pak Supri telah siap di sana.
Mobil telah dibukakan oleh karyawan klinik kecantikan yang berjaga di depan.
"Sudah siap nyonya?" tanya pak Supri.
"Emang kita mau ke mana pak?" tanya Rania karena sedari tadi Raditya tak mengatakan tempat yang akan dituju oleh Rania bersama pak Supri.
"Wah, bisa dimarahi oleh tuan muda jika aku kasih tahu kepada nyonya" jawab pak Supri.
__ADS_1
"Kalian ini sama saja" kata Rania sewot.
"Yang tenang nyonya" tukas pak Supri menimpali.
Dengan terus mengobrol, sampailah mereka di sebuah resto mewah.
"Silahkan nyonya, tuan Raditya sudah menunggu anda" kata karyawan resto yang khusus membukakan pintu untuk Rania.
"Hheeemmm baiklah" jawab Rania mengikuti langkahnya.
Hidup Rania kali ini bagai ratu sehari. Pikir Rania.
Sebuah private room lah yang dituju kali ini.
Di ruang vvip lima adalah tempat yang direservasi oleh Raditya.
Kosong, tak ada siapapun saat Rania masuk ke sana.
"Loh, kok sepi???" gumam Rania. Karena tak ada siapapun di sana. Hanya meja dan kursi kosong yang ada.
Tiba-tiba semua lampu padam dan gelap.
Rania pegangan ke sandaran kursi. Terkejut tentu saja.
Bagaimana resto mewah seperti ini lampu padam. Apa mereka tak ada genset otomatis. Bank tempat Rania bekerja dulu saja ada. Padahal hanya lah bank swasta kecil. Batin Rania bermonolog.
Rania yang agak takut gelap mulai menggapai-nggapai untuk kembali ke arah pintu keluar.
Rania kembali balik badan.
"Happy birth day to you...." Raditya menyanyikan bait terakhir lagu itu.
Rania menutup mulutnya yang menganga karena bahagia.
Rania sendiri tak ingat jika hari ini dirinya ulang tahun. Sekuntum mawar merah yang diberikan sang suami saat bangun tidur pun tak mengingatkan Rania akan hari ulang tahunnya.
Bahagia kini yang dirasakan Rania. Rania yang belum pernah mendapatkan surprise seperti itu mulai dari kecil sampai dia menikah dan sendiri lagi.
"Tiup lilinnya...tiup lilinnya...tiup lilinnya sekarang juga" Raditya melanjutkan acara bernyanyi walau sendiri.
Rania mendekat dengan mata yang berkaca-kaca. Suaminya sungguh sangat baik.
Dengan pelan Rania tiup lilin itu. Dan seketika di sekitar mereka melingkar lampu kelap kelip yang membentuk tulisan 'I love U Rania'.
Raditya kecup kening sang istri, "Selamat ulang tahun istriku, semoga bahagia selalu menyelimuti hidup kamu" ucap Raditya.
"Makasih" ucap Rania lirih.
"Ijinkan aku untuk bahagiakan kamu Rania" ucap Raditya serius sembari membuka sebuah kotak kecil berisi cincin bertahtakan berlian.
"Maafkan aku yang belum sempat kasih ini di acara pernikahan kita" ujar Raditya sambil memasangkan nya di jari manis sang istri.
__ADS_1
Demikian halnya Rania ikut memasangkan cincin yang sama dengan ukuran yang berbeda di jari manis sang suami.
"Tak tahu apa yang harus aku ucapkan selain terima kasih" kata Rania kembali berkaca-kaca.
"Heeiii...kenapa menangis? Ini hari bahagiamu sayang" seru Raditya mendekat dan mengusap air mata yang belum sempat terjatuh itu.
"Nggak kok, aku menangis karena sangat bahagia" terang Rania.
Dengan dinner romantis, mereka berdua menghabiskan waktu berdua.
Kalau dulu selalu dibilang, dunia bagai milik berdua memang benar adanya. Itulah yang dirasakan Raditya dan Rania saat ini.
.
Di tempat lain, lumayan jauh dari keberadaan Raditya dan Rania.
Riska terkaget karena badannya kena percikan air.
"Bangun loe!" seru laki-laki yang berbaju perempuan itu.
Orang yang sama yang mengantarkan Riska ke kamar ini.
"Loe di sini buat kerja tau, jangan malas-malasan" sambungnya.
"Sudah saatnya loe siap-siap" lanjutnya terus saja ceramah di depan Riska.
"Aku disuruh kerja apa?" telisik Riska.
"Mandi dulu sana! Selanjutnya pakai baju yang tergantung di lemari. Ntar kuajarin cara make up yang benar" suruh laki-laki yang gayanya lebih mirip perempuan itu.
Riska melakukan apa yang diminta oleh orang tadi. Riska bahkan belum tahu siapa namanya.
Setelah mandi pun Riska juga memakai pakaian yang disiapkan.
Saat berdiri di depan kaca, "Aku kok berasa jual diri ya?" gumam Riska yang memang terlihat lebih berisi saat habis melahirkan. Apalagi sampai sekarang air susu nya juga masih keluar.
Baju seksi dengan belahan dada rendah, membuat kedua asetnya bahkan terlihat seakan mau keluar saja.
"Kalau lah memang suruh jual diri, semoga saja aku mendapat mangsa yang tepat. Batin Riska. Orang gila mah tetap gila aja.
Laki-laki tadi kembali masuk.
"Wooowww, ternyata di balik wajah biasa kamu ada badan seksi dibaliknya" pujinya.
"Oke, aku akan make over muka kamu agar kamu menjadi idola di sana nantinya" sambungnya.
"Emang kerjaan aku apa?" kata Riska.
"Nanti akan dijelaskan mommy" jawabnya membuat Riska semakin penasaran.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
to be continued, happy reading