
Riska menatap tajam Andah.
"Apa maksud kamu meninggalkan aku di situasi sulit malam itu?" seru Riska.
"Perlu aku jelaskan padamu. Pada waktu itu siapa yang bilang mau mentraktir?" tandas Andah.
"Kamu sendiri kan?" sambung Andah.
"Jangan sok punya uang dech, kalau kamu sendiri tak punya uang" Andah terus saja berkata-kata.
"Siapa bilang aku tak punya uang?" Riska mulai emosi.
"Makanya, kenapa dipermasalahin yang sebenarnya nggak ada masalah" tukas Andah.
"Oke, tapi karena kamu dan teman-teman kamu itu aku harus menanggung malu" ujar Riska.
"Hal yang sudah lewat nggak usah dibahas lagi. Basi tau" tutur Andah.
"Aku balik, smoga aja anak kamu lekas membaik" kata Andah hendak beranjak.
"Aku malah berharap sebaliknya" jawab Riska jujur.
Andah berhenti melangkah dan kembali menghadap ke Riska.
"Jangan gila kamu" seru Andah. Bagi Andah sejahat-jahatnya ibu, pasti tak akan berharap yang terjelek untuk buah hatinya.
"Tujuan yang aku awalnya untuk menghancurkan Rania dengan Mahendra. Bahkan dengan bayi ini aku bisa menikahi Mahendra. Tapi itu tak berujung indah. Malah Rania yang sekarang mendapatkan kebahagiaan. Sampai nanti pun aku tak rela jika dia mendapatkan semua nya" kata Riska dengan emosi dan kecewa berbaur.
"Kalau begitu tujuan kita sama. Tujuan kamu menghancurkan hidup Rania, sementara tujuan akhir aku adalah Raditya" jelas Andah.
"Kamu masih minat kan jika kita bekerjasama?" seru Andah.
"Heemmmmm...akan aku pikirkan. Sejauh mana kamu memberi keuntungan buat aku" tukas Riska.
"Jangan sok kamu. Bukankah aslinya kamu juga membutuhkan bantuan aku" sela Andah.
"Bantuan apa? Tak kamu bantu pun aku juga bisa menyelesaikan semua" tukas Riska.
Andah meninggalkan Riska begitu saja. Percuma ngomong dengan orang seperti Riska.
Sementara Riska mengeratkan gigi atas dan bawah nya. "Awas saja kamu Andah".
Hari ini, selepas jaga Andah berniat mendatangi mansion tuan Andrian. Alamat tuan Andrian berhasil didapatkan Andah berkat usaha keras mama Yasmine.
"Mama sungguh bisa diandalkan kali ini" gumam Andah saat sudah berada di mobil.
Andah mengemudikan mobil mengikuti arahan map yang ada di ponsel.
"Jauh juga ternyata kediaman Om Andrian" kata Andah bermonolog.
__ADS_1
Di pinggiran kota dengan suasana yang sejuk dan asri, mobil Andah melaju mengikuti map. Sampailah Andah di sebuah komplek perumahan yang sangat mewah.
Dan hanya ada beberapa unit saja.
Seorang penjaga keamanan depan menghampiri mobil Andah.
"Ada yang bisa dibantu nyonya?" tanya nya sopan.
"Nyonya...nyonya...aku masih nona. Tau nggak sih" celetuk Andah gusar.
"Maaf Nona. Ada yang bisa dibantu?" tanyanya kemudian.
"Aku mau ke rumah tuan Andrian. Tolong buka palang gerbang kamu itu" suruh Andah ketus.
"Maaf, biarpun tamu semua yang melewati gerbang itu harus ada ID card nya nona. Kalau tak ada, percuma. Saya pun tak akan bisa membuka. Boleh saya minta ID card anda?" tanya satpam kompleks itu.
Kompleks perumahan tuan Andrian memang hanya beberapa unit. Para pemilik yang tinggal di situ biasanya memerlukan privacy dan ketenangan. Makanya setiap tamu yang datang harus ada ID Card. Dan hanya diberikan kepada orang terdekat saja.
Jika ingin bertemu yang lain, biasanya para penghuni akan menemui di luar kompleks. Itu sudah menjadi aturan tak tertulis di kompleks itu.
"Apa aku bisa beli?" tanya Andah.
"Heemmmm, gimana ya? Tapi kartu identitas itu tidak diperjualbelikan nona. Tapi sang pemilik akan memberikan sendiri untuk para tamu yang akan bertandang ke rumah nya" terang satpam.
"Mau bertamu aja ribet sekali. Makasih dech kalau begitu" kembali Andah menyalakan mesin mobil dan putar balik.
"Apa aku minta mama aja ya, nomor Om Andrian?" muncul ide di pikiran Andah.
"Mah, minta nomornya Om Andrian" sapa Andah kala menelpon mama Yasmine.
"Bentar, mama sedang sibuk nih. Lima menitan" seru mama Yasmine di ujung telpon.
.
Sementara itu sepeninggal Andah, Riska kembali mendapat kabar dari ruang bayi jika kondisi bayinya memburuk.
Riska bergegas melangkah ke ruang bayi.
Saat masuk dan telah berganti baju didapati oleh Riska, para perawat sedang memberikan bantuan hidup dasar pada bayinya.
Baru kali ini Riska merasakan suatu hal yang sangat menyedihkan.
Bayinya tengah berjuang antara hidup dan mati. Tak terasa air mata mengalir di pipi. Riska sedih. Sedih tak akan ada lagi yang mengikat antara dirinya dan Mahendra.
Jika bayi ini meninggal Riska yakin jika Mahendra akan meninggalkan dirinya untuk kembali berjuang merebut Rania.
Tapi nggak apa-apa dech. Lagian Mahendra juga berada di penjara sekarang. Untuk apa merebutkan laki-laki tak berguna macam dia. Pikir Riska.
Setelah dilakukan pijat jantung yang cukup lama, nyatanya bayi Riska tak berhasil diselamatkan.
__ADS_1
Riska menangis sesenggukan. Entah serius atau pura-pura, hanya Riska yang tahu.
"Maaf nyonya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ternyata Tuhan lebih sayang sama putra anda" kata perawat senior yang barusan selesai melakukan pijat jantung untuk putra Riska.
Riska semakin tergugu, mendengar penjelasan sang perawat.
"Jenazah akan kami siapkan dulu. Sebaiknya anda selesaikan dulu semua" kata perawat senior itu menyuruh Riska.
"Suruh aja keluarga anda, dan anda bisa tetap berada di sini" sambung perawat itu.
"Aku sebatang kara di kota ini kak" jawab Riska memelas.
"Maaf nyonya" seru nya.
"Sama-sama. Kalau begitu aku ijin ke ruang adiministrasi dulu" kata Riska dan dijawab anggukan perawat.
Dan sungguh bukan Riska jika tak melakukan hal jahat.
Riska tak berjalan ke arah admin, tapi langsung berjalan ke luar gerbang.
Riska berniat melarikan diri dan tak membayar biaya rumah sakit anaknya.
"Daripada aku hilang uang untuk menebus jenazah, mending uangnya buat tambahan biaya hidup aku aja" kata Riska bergumam. Sungguh ibu yang sangat tega.
Riska naik taksi online untuk balik hotel dan segera berkemas untuk check out.
"Aku harus nyari tempat tinggal. Uang yang aku bawa semakin menipis" kata Riska.
Sementara di rumah sakit terjadi kehebohan karena ibu bayi yang telah meninggal itu tak terdeteksi keberadaannya di dalam rumah sakit.
Semua security bergerak mencari. Padahal yang dicari telah jauh meninggalkan area rumah sakit.
"Pak, tahu nggak pak daerah kontrakan murah di kota ini?" tanya Riska.
"Nyonya kerja apa?" tanya sang sopir.
"Kok nanyain kerjaan?" sela Riska penasaran.
"Iya nyonya, tingkat penghasilan tentu saja berbanding lurus dengan kemampuan membayar uang sewa rumah" jelas nya.
"Aku belum dapat kerja" seru Riska.
"Nyonya, kalau kamu setuju. Ada tempat kerja yang lengkap dengan asrama. Apa nyonya mau?" tawar sang sopir.
Meski baru kenal, nyatanya Riska langsung percaya saja atas apa yang dikatakan oleh pak sopir itu.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading π
__ADS_1