
"Lima menit aja sayang" tukas Raditya yang masih saja enggan membuka mata. Karena baru dua jam Raditya tertidur.
"Kalau begitu, libur juga jatahnya" seru Rania di telinga Raditya membuat mata Raditya langsung terbuka lebar.
"Oke...oke...aku siap-siap dulu" kata Raditya langsung beranjak ke kamar mandi.
Rania tersenyum penuh kemenangan.
Tak sampai setengah jam Raditya telah siap. Meski masih setengah mengantuk.
Saat keluar hotel, suasana masih agak gelap.
Tepat di tepi pantai, Rania bisa melihat sunrise di ufuk timur.
"Indahnyaaaa" seru Rania dengan membentangkan tangan menghirup udara segar pantai. Hawa dingin yang meski menusuk tulang tak begitu dirasakan oleh Rania karena terbungkus oleh rasa senang dan bahagia.
Raditya yang melihat momen itu segera mengambil ponsel untuk mengabadikan polah sang istri yang nampak menikmati sekali suasana pantai.
Berbalut baju yang nampak sedikit seksi, membuat Rania nampak lebih cantik di mata sang suami.
"Yank, laper" Rania menghampiri sang suami yang sibuk melihat hasil jepretannya.
"Kalau laper, tetep inget aja ya" ledek Raditya.
"Aku lupa kalau seharian kemarin energi ku terkuras. Belum lagi tambahan semalam" balas Rania.
"He...he..." Raditya tertawa, karena perkataan Rania benar adanya. Pergulatan memang butuh energi.
"Kita cari makanan di sekitar pantai aja ya?" usul Raditya.
"Boleh" jawab Rania.
"Ingin makan apa? Tapi bukan nasi padang ya?" canda Raditya.
"Sebenarnya sih ingin itu, tapi apa lah daya. Itu suatu hal yang mustahil sekarang" balas Rania.
"Bisa aja sih, kita ke tempat pak dubes. Dan minta suguhan nasi padang" Raditya menambahkan.
"Emang kita siapa?" tukas Rania yang tak percaya ucapan sang suami.
"Yeeeiii, jangan salah ya. Aku kenal loh sama diplomat yang ditugaskan di sini" sanggah Raditya. Rania lupa siapa sosok suaminya sekarang.
"Nggak usah repot. Kita coba aja kulineran khas makanan yang ada di sini" usul Rania.
"Boleh juga sih, tapi nggak boleh ngeluh ya kalau tak sesuai ekspektasi" bilang Raditya.
"Namanya aja juga nggak biasa di lidah yank" ujar Rania menanggapi.
Sebuah panggilan pun masuk ke ponsel Raditya kala mereka berdua tengah asyik hunting makanan di sepanjang street food yang ada di Cape Town.
"Halo Adam" sapa Raditya.
"Adam?" tatap Rania. "Biasanya Beno mulu yang nelpon, tumben ada nama Adam" Batin Rania.
"Adam asisten aku juga, tapi bukan di Samudera Grub" jelas Raditya yang tahu arti tatapan sang istri.
__ADS_1
Raditya dan Rania duduk di sebuah tempat seperti kedai dan Raditya masih tetap mengobrol bersama Adam.
"Good morning mister, misss" sapa orang yang sepertinya pelayan itu.
"Morning" jawab Rania.
Rania menyiapkan ponsel dan menggunakan menu translate yang ada karena Raditya masih berbicara penting dengan seseorang bernama Adam yang dibilang asistennya itu.
"Nyonya mau pesan apa?" tanya nya setelah diterjemahkan.
"Hhhhmmm, okey" Rania meminta buku menu yang dibawa oleh pelayan itu. Itupun setelah Rania menunjukkan layar ponsel yang mengartikan perkataannya dengan bahasa yang dikuasai oleh pelayan itu. Pelayan yang ternyata bahasa Internationalnya pun sebelas dua belas dengan Rania.
Raditya masih sibuk dengan Adam.
"Gimana sudah ketemu orangnya?" tegas Raditya.
"Tuan, apa anda kenal Alex?" tanya Adam.
Alex.... Alex....Raditya berusaha mengingat nama itu. Tapi setelah beberapa menit belum juga mengingatnya. Baru juga dua anak Raditya, sudah pikun aja. Olok othor.
"Aku kok lupa ya Dam. Alex siapa?" balas Raditya.
"Dia mendirikan perusahaan ekspedisi juga tuan dan baru beberapa bulan ini, dengan segala fasilitas yang sepertinya sangat menguntungkan user" terang Adam.
"Hhhmmm, coba kamu telusuri latar belakang Alex itu. Kalau sudah dapat segera hubungin aku" perintah Raditya.
Pekerjaan Raditya kali ini akan bertambah lebih berat. Dia harus bisa membuat terobosan baru untuk kelancaran usaha nya di bidang kirim mengirim barang itu. Raditya tak ingin gagal di usaha yang dirintisnya sendiri.
"Baik tuan" jawab Adam sekaligus mengakhiri panggilan.
Rania mengangguk.
"Aku pesan semua, abis juga nggak tahu yang enak yang mana" ujar Rania memberitahu.
"Heemmm, yang pesan harus tanggung jawab. Ngabisin" bilang Raditya.
"He...he...kalau nggak enak?" tanya Rania ragu.
"Ya musti habis juga" imbuh Raditya lengkap dengan candanya.
Belum juga pesanan datang, Rania merasakan kedua bukit kembarnya yang terasa penuh.
"Yank, basah" kata Raditya dengan mata mengarah ke dada sang istri.
"Aku lupa pumping" beritahu Rania. Dengan segala alutista dan perbekalan lengkap, Rania keluarkan semua. Lupa pumping, tapi alatnya selalu kebawa oleh Rania kala dirinya pergi kemanapun.
Dan tak lama, dua botol penuh terisi air susu untuk Celo dan Cio.
Raditya kagum akan niat kekeuh sang istri untuk tetap mengeluarkan dan menyimpan dengan baik produk makanan terbaik untuk putra-putranya.
"Sudah?" kata Raditya kala Rania mulai memberesi semua dengan dibantu oleh Raditya.
Dan tepat saat itu, makanan yang dipesan Rania datang dan mengisi seluruh meja di depan mereka berdua.
"Kok banyak sekali?" sela Rania yang heran dengan hasil pesanan nya sendiri.
__ADS_1
"Ha...ha...musti abis loh ini" tukas Raditya terbahak.
"Karbo...its karbo" seru Raditya tetap dengan tawanya.
Saat merasakan sesuap, Rania mengecap mencoba merasakan taste nya.
"Hhhmm enak ternyata" kata Rania dan mengambil lagi menu yang sama.
Satu persatu Rania coba, dan saat ini Rania layaknya seorang food vlogger yang sedang mereview semua makanan yang ada di depannya. Dan Raditya tak kalah sibuk dengan proses merekam sang istri.
Sebuah notif pesan masuk lagi ke ponsel, kali ini papa yang mengirimnya.
Sebuah pesan yang membuat Raditya ternganga.
Papa mengirimkan sebuah gambar tentang konsep pernikahan yang digagasnya bersama sang besan. Siapa lagi kalau bukan ayah Rania, tuan Handono.
Dan pesta itu akan diadakan tepat seminggu setelah Raditya dan Rania kembali dari honeymoon. Tak lupa papa juga mengetikkan sebuah pesan, agar info ini tak bocor ke Rania.
"Kalau tak ingin bocor, kenapa pakai ngabarin segala" gumam Raditya.
"Ban siapa yang bocor?" sela Rania yang tak begitu jelas saat Raditya mengatakannya tadi.
"Ooo...nggak apa-apa kok sayang. Beno ini loh, ngirimin pesan kalau ban nya bocor" beritahu Raditya tanpa mengatakan kalau yang mengirimi dirinya pesan adalah papa Andrian.
"Hhhmmm kenyangnya" ujar Rania kala semua menu makanan itu telah tandas.
"Menu di sini enak ternyata. Bumbu rempahnya terasa nendang di lidah" bilang Rania.
Rania yang sebelum menikah dengan Raditya nampak kusut karena terlalu banyak masalah, kini mulai nampak aura bahagia bersinar di mukanya. Terang aja istri siapa dulu, Raditya Marino.
Raditya kembali mengajak Rania untuk menyusuri kota Cape Town.
Agak siangan mereka berdua baru balik hotel.
"Aku mandi dulu, kecut nih badan aku" seru Rania sembari mencoba membau tubuhnya sendiri.
"Sama aku juga, gimana kalau mandinya barengan" kata Raditya dengan segala modusnya.
"Ih, itu mah modus kamu aja yank" ejek Rania.
"Waktunya biar cepat. Apa nggak ingin beli oleh-oleh buat yang di rumah?" semakin gencar saja Raditya mengeluarkan jurus kemodusannya.
"Hhhmm boleh juga" tukas Rania antusias.
'Yessss....sukses...' teriak Raditya dalam hati.
Rania diam saja kala Raditya menyusul dirinya yang tengah berendam, dia sudah bisa menebak arah kemodusan Raditya.
Dan Raditya tak menyangka jika Rania berinisatif menyerangnya duluan. Tentu saja Raditya sangat suka akan hal itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
***To be continued, happy reading.
Banyak cinta author untuk kalian yang masih stay tune di cerita ini 💝💝💝💝💝***
__ADS_1