
Bahkan dengan percaya diri tinggi, sang istri diajaknya ikut ke ruang rapat di mana Vero menunggu nya di sana.
"Selamat pagi semuanya" sapa Raditya dengan tangan kiri tak melepas pegangannya ke tangan Rania. Sementara tangan kanan menyalami kolega bisnis yang telah hadir terlebih dahulu.
Sampai di depan Vero, Raditya berhenti sejenak.
Vero yang telah melihat kebucinan Raditya pun tersenyum ke arah mereka berdua.
Dengan cepat, Vero menyodorkan tangannya terlebih dahulu ke arah Rania.
"Veronica" dirinya menyebutkan nama nya untuk kenalan dengan istri Raditya itu.
Rania pun menyambutnya, "Rania" dia juga menyebutkan nama.
"Perkenalan kita stop dulu, acara rapat kita mulai" sela Raditya.
Ya, perusahaan yang diteruskan Veronica saat ini sangat membutuhkan kerjasama ini. Makanya Vero datang lebih cepat dari biasanya karena perusahaan di bawah kendalinya sangat membutuhkan suntikan dana yang tak sedikit.
Dari sekian banyak proposal kerjasama yang diajukan ke berbagai perusahaan, baru Samudera Grub yang berminat.
Tapi syarat yang mereka ajukan sebenarnya sagat berat, tapi mau bagaimana lagi perusahaan Vero yang butuh.
Vero masuk ke perusahaan yang sudah sangat kacau semenjak ditinggal mati oleh papa nya.
Alex yang pegang kendali beberapa bulan saja sudah membuat kacau semua.
Bahkan perusahaan yang didirikan almarhum tuan Rahardian khusus untuk mahar pernikahan Alex dan Vero sudah dinyatakan kolaps beberapa waktu yang lalu.
Pesaingnya ErDua, yang baru diketahui baru-baru ini oleh Vero bahwa itu milik Raditya semakin merajai pasar dan tak ada tanding.
Vero juga telah sukses menceraikan Alex dengan bukti-bukti perselingkuhannya.
Kini Alex pergi ke mana, Vero sudah tak perduli.
Dengan statusnya yang sekarang, Vero semakin tegak berdiri.
Menjadi orang tua tunggal sudah menjadi keputusannya untuk saat ini.
"Oke, mari kita mulai saja" ucapan Beno membuyarkan lamunan Vero.
Vero yang sedari tadi selalu diperhatikan oleh Rania tak menyadarinya.
"Silahkan dipresentasikan nyonya Vero, buat kita yakin jika perusahaan anda layak untuk kita ajak kerjasama" ucap Beno mempersilahkan perwakilan perusahaan Vero.
Salah satu anak buah Vero maju, untuk menyiapkan bahan presentasi.
Jika selama ini tuan Rahardian selalu ikut memberi keputusan strategis di Samudera karena kepemilikan saham nya. Tapi semenjak tuan Rahardian menjualnya, maka untuk mendapatkan simpati Raditya dan tim nya kini Vero harus berjuang sendiri untuk mendapatkan proyek-proyek besar Samudera Grub.
Vero maju dan mulai mempresentasikan apa yang menjadi program perusahaannya jika kerjasama dengan Samudera Grub deal.
__ADS_1
Raditya masih mendengarkan serius apa yang diucapkan Vero sambil meneliti berkas yang ada di depannya.
Rania dapat melihat keseriusan sang suami saat bekerja.
'Kenapa dia semakin tampan aja sih' batin Rania, senyum menghias wajah Rania saat menatap sang suami. Suami yang sedang mantengin kertas lengkap dengan kacamata bertengger di hidungnya.
Rania targagap saat Raditya menoleh dan tersenyum ke arahnya.
'Bisa-bisanya dia menatapku saat suasana serius begini?' kata Rania dalam benak. Semburat merah nampak menghias pipinya.
Semua itu pun tak lepas dari pandangan Vero yang sedang presentasi di depan.
"Demikian yang bisa saya sampaikan. Besar harapan perusahaan kami untuk bisa bekerjasama dengan perusahaan anda tuan Raditya" ucap Vero mengakhiri presentasi.
"Beno, setelah ini panggil tim legal dan tim keuangan perusahaan. Suruh mereka teliti kembali profil perusahaan yang akan mengajak kerjasama dengan perusahaan kita" perintah Raditya.
"Baik tuan" seru Beno.
"Oh ya, untuk nyonya Veronica dan tim. Terima kasih untuk pagi ini. Keputusan selanjutnya akan diinfokan. Beno yang akan menghubungi kalian" seru Raditya.
"Besar harapan kami untuk bekerjasama tuan Raditya" sambut Vero.
Padahal kalau bisa, Vero ingin memaksa Raditya sekarang untuk segera menyetujui proposal kerjasama yang diajukan olehnya.
Rapat ditutup oleh Beno dengan menunggu keputusan dari sang CEO.
Raditya beranjak dan menghampiri sang istri yang sedari tadi bengong.
Rania pun mengangguk.
Rania ingin istirahat sampai di sana.
Dan Raditya pun memanggil Beno untuk segera mengumpulkan tim legal dan juga keuangan membicarakan proposal kerjasama yang diajukan oleh perusahaan milik Vero.
Raditya menilai tak ada tendensi pribadi di balik pengajuan kerjasama mereka, karena secara sekilas Raditya menilai memang perusahaan Vero sangatlah membutuhkan suntikan dana.
Raditya akan menekan dengan ganti saham perusahaan sebagai investasi. Dan kali ini dia akan menyuruh tim legal untuk bergerak.
"Selamat siang tuan Raditya" sapa mereka yang barusan masuk ke ruangan CEO.
Beno kembali memimpin rapat terbatas itu serta menyampaikan keinginan Raditya seperti biasa.
Tim ini sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Jadi sudah mengerti apa yang diinginkan sang bos secepatnya.
"Baik tuan muda, dua hari lagi laporan akan sampai di meja anda" jawab tegas ketua tim legal.
"Terima kasih banyak pak" seru Raditya dan mereka saling jabat tangan.
Rapat terbatas itu berlangsung tak sampai satu jam.
__ADS_1
"Beno, habis ini aku akan nganter istriku periksa ke dokter" bilang Raditya.
"Oke bos" tukas Beno.
Dan disinilah Raditya sekarang dengan Rania, duduk di depan dokter spesialis kebidanan dan kandungan setelah mengantri beberapa saat.
Jadwal yang rencananya hari Sabtu, diajukan saja mumpung sang daddy ada waktu luang.
"Oke nyonya Rania kita periksa sekarang" ujar sang dokter cantik itu.
Rania naik ke tempat tidur, dan disiapkan oleh asisten sang dokter.
"Apa ada keluhan?" tanya dokter itu dengan ramah sambil menyiapkan alat ultrasonografi.
Raditya serius memperhatikan.
"Nggak ada sih dok, cuman berasa cepat lelah aja sekarang" kata Rania menimpali.
"Begitu ya? Oke kita periksa dulu" ujar sang dokter dan meletakkan probe di atas perut Rania yang mulai membuncit.
Dengan lincah dokter itu menggeser-nggeser alat di atas perut Rania untuk mencari posisi yang pas agar gambar nampak jelas di monitor.
"Tuh, keduanya sangat aktif sekali. Wow gerakannya juga luar biasa" kata sang dokter.
Sementara Rania tersenyum karena juga merasakan apa yang dikatakan dokter itu. Perutnya berasa ada tendangan dari dalam.
Raditya takjub dengan pergerakan yang sangat jelas di layar monitor.
"Keduanya aktif sekali" celetuk Raditya.
"Benar tuan" jawab sang dokter.
"Keduanya sehat" imbuh sang dokter dan memperdengarkan suara detak jantung bayinya.
Rania turun setelah semua selesai diperiksa.
"Apa vitaminnya masih nyonya?" dokter itu bertanya.
"Hanya tinggal beberapa hari kok dok" Raditya ikutan menjawab.
"Hhhmm baiklah. Akan aku resepkan vitamin untuk sebulan ke depan" kata dokter itu tetap dengan senyum ramahnya.
Rania pun menganggguk.
"Oh ya Tuan, karena jarak persalinan ini dengan sebelumnya kurang dari dua tahun. Sebaiknya anda prepare untuk persalinan istri anda jauh-jauh hari. Apalagi sebelumnya juga operasi kan?" kata sang dokter mengingatkan.
"Tentu dokter. Terima kasih sarannya. Apapun itu, saya ingin yang terbaik untuk istri dan anak-anak saya" jawab Raditya tegas.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
To be continued, happy reading