
"Terserah apa kata kamu, yang penting uang aku balik dulu. Dan jika kamu menentang, akan kupersulit saat kamu tetap mengajukan gugatan cerai" kata Mahendra mengancam balik Riska.
"Hah, apa kamu bilang? Mempersulit? Dengan apa kamu akan mempersulit aku?" sengit Riska.
"Bahkan untuk sewa pengacara saja aku yakin kamu tak akan mampu" olok Riska ke Mahendra.
Mahendra menatap nyalang wanita di depannya. Karena rasa amarah, dia cium Riska dengan kasar dan tak lupa menggigitnya. Sementara tangannya meremas salah satu bukit di dada Riska.
"Sialan kamu" tukas Riska dengan tangan mulai melayang bersiap untuk menampar Mahendra.
Tangan Mahendra dengan tanggap menangkap tangan Riska yang mulai mengayun.
"Kenapa? Mau menamparku?" sergah Mahendra.
"Kamu kasar" umpat Riska.
"Ha...ha...lebih kasar mana aku sama laki-laki hidung belang di luar sana. Yang nyatanya lebih beringas daripada aku. Suami lo sendiri" tandas Mahendra.
"Jangan tanya aku tahu darimana. Dengan melihat bekas-bekas di tubuh mu saja aku sudah tahu semuanya. Sialan kamu Riska. Menyesal aku menceraikan Rania karena hasutan kamu" ujar Mahendra.
"Telat kalau kamu menyesal sekarang. Rania sudah mendapatkan mangsa yang jauh lebih baik daripada kamu" olok Riska.
"Akan kurebut dia kembali" kata Mahendra dengan penuh percaya diri.
"Ha...ha...lihat dirimu yang sekarang, bagaimana bisa dengan percaya diri mau merebut Rania. Aku rasa Raditya tak akan melepaskanmu begitu saja jika kamu punya niatan itu" Riska terbahak menanggapi niatan Mahendra.
"Asal kamu tahu, Rania sangat bahagia sekarang" ujar Riska memanas-manasi Mahendra.
"Ha...ha...aku tak perduli" kata Mahendra seolah mengingkari apa yang dikatakan Riska.
"Percuma ngomong sama kamu, aku balik. Jangan lupa, jika ada surat pemberitahuan dari pengadilan agama. Cepat bukalah! Bisa jadi itu pemberitahuan perubahan status kamu" Riska beranjak.
"Ha...ha...aku sudah bilang akan kupersulit jika kamu tak kembalikan uang yang kuberi dua bulan yang lalu" ujar Mahendra.
"Never" tukas Riska.
"Tunggu saja!" ancam Mahendra.
"Ingat Riska, jika saat aku bebas nanti kamu belum juga berikan uang itu. Aku pastikan hidup kamu tak akan aman dan nyaman" ancam Mahendra.
"Aku tak perduli" kata Riska menimpali dan berjalan meninggalkan Mahendra yang masih duduk di kursi.
Enak saja mengatur hidup aku. Mendingan aku mau kasih uang. Tapi malah ngelunjak. Gerutu Riska sembari berjalan.
Sementara Mahendra mengepalkan tangannya erat. "Tunggu aku bebas Riska, akan aku balas semua perbuatan kamu ini" umpat Mahendra sembari bergumam.
Riska tak langsung balik ke rumah, tapi mampir makan ke resto mewah di kota yang tak terlalu besar itu.
Seseorang menoel bahu Riska dari belakang. Riska yang tengah mengenakan kacamata hitam, dan penampilannya yang sekarang Riska yakin jika tak banyak yang mengenali dirinya sekarang.
__ADS_1
Riska menoleh ke arah laki-laki setengah baya yang sepertinya dia lah yang menyenggol Riska.
"Siapa lo? Nyenggol-nyenggol gue?" kata Riska ketus.
Laki-laki itupun membuka kacamatanya. Riska terperangah ketika wajah laki-laki itu terpampang jelas.
"Loh, anda?" Riska menutup mulutnya. Riska tak mungkin lupa dengan wajah laki-laki yang memberinya dua puluh juta sebelum Riska balik ke kota ini.
Meski tak tahu namanya, karena aturan mommy. Tak mungkin Riska lupa dengan laki-laki yang bertukar peluh dan menghajar habis-habisan Riska malam itu.
"Lupa?" tandasnya.
"Enggaklah. Tak mungkin aku lupa dengan laki-laki yang menghajar aku malam itu" kata Riska penuh maksud.
Laki-laki itu tertawa lebar seakan bangga akan sanjungan dari Riska.
"Kok tuan sepertinya lebih mengenal aku sekali lihat tadi?" tanya Riska.
"Mana mungkin aku lupa dengan tubuh kamu yang buat candu itu" seru laki-laki setengah baya dengan senyum menggoda.
"Apa kamu sudah di telpon mommy?" lanjutnya.
"Owh, kok anda tahu tuan?" basa basi Riska.
"Karena aku lah yang mencarimu" tandasnya.
"Tuan? Nama?" sela Riska.
"Bilang saja tuan XX" jawabnya menegaskan.
Tentu saja Riska sangat senang. Niat hatinya ingin menservis maksimal tuan XX ini agar pundi-pundi uang di rekening miliknya bertambah dengan signifikan.
Saat Riska sedang menelpon mommy, terdengar seseorang memanggil nama orang yang mengajak bicara Riska tadi.
"Tuan Rahardian" panggil orang itu menghampiri tuan XX nya Riska.
"Nanti kuhubungin kamu. Tinggalin kami di sini" usir tuan Rahardian.
Dengan mengangguk hormat, orang yang menghampiri tadi berlalu menjauhi tuan nya dan Riska yang masih saja menelpon.
Sementara Riska memberi kabar pada mommy jika dirinya tak bertemu dengan tuan XX di kota di mana Riska tinggal.
"Hhhmmm dia sengaja mencarimu Riska, karena sangat senang dengan service kamu kemarin" ucapan mommy tentu membuat bangga Riska.
"Kalau kamu bisa menjeratnya, dia akan menjadi atm berjalan kamu. Manfaatkan kesempatan langka itu. Mommy ikut bangga padamu" kata mommy terus saja menyanjung Riska.
"Dan perlu kamu ingat, jika status kamu. Sampai sekarang kamu tetaplah anak mommy. Jadi jangan harap kamu bisa lari. Camkan itu!" tandas wanita yang dipanggil mommy itu.
"Baik Mom. Aku juga tidak ada niatan meninggalkan mommy" jawab Riska.
__ADS_1
"Oh ya, kalau tuan xx berniat akan mengambilmu untuk dimonopoli olehnya. Maka kuras lah uangnya. Ingat itu" suruh mommy.
"Siap Mom. Love you Mom. Makasih saran-sarannya" kata Riska sambil menutup panggilan.
Bagai mendapat jalan dan dukungan, Riska akan memanfaatkan itu dengan baik.
.
Raditya berniat mengajak sang istri menikmati suasana pegunungan di cape town.
"Ternyata di sini sangat ramai sekali ya yank" seru Rania.
"Banget" kata Raditya.
"Kemana kita?" tanya Rania kala mobil mulai jalan.
"Table mountain" kata Raditya menjelaskan tempat yang akan di tuju.
Rania beberapa kali menguap.
Raditya tertawa melihatnya.
Sang istri pasti lelah sekarang, karena digempur beberapa kali semalam olehnya.
"Capek yank?" tanya Raditya sembari meneruskan tawa.
Rania sewot, "Ulah siapa?" sungut Rania membuat Raditya semakin terbahak.
"Kamu juga mau-maunya kuajakin" seru Raditya tertawa.
"Mau jadi istri yang berbakti" tukas Rania.
"Tidur aja, jaraknya lumayan untuk sampai sana" terang Raditya.
Rania menyandarkan kepalanya di bahu sang suami yang sekarang merupakan tempat ternyaman baginya.
Tak sampai lima menit Rania telah terlelap.
"Suruh istirahat dulu tadi nggak mau. Eh baru juga jalan sudah tidur lagi" gumam Raditya dengan mengelus kepala sang istri.
Table mountain adalah destinasi favorit di cape town.
Saat naik kereta gantung dari puncak table mountain bisa terlihat seluruh kota Cape Town.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
***to be continued, happy reading
'Met week end semua, tapi tetep pantengin dulu nih cerita yaaa 🤗🤗🤗***
__ADS_1