
Riska keluar kamar setelah memastikan semua aman.
Interval dia keluar sudah lebih dari setengah jam dari Alex yang lebih dulu pergi untuk menemui papa mertua nya.
"Pak, ke mall Grand X" kata Riska kala sudah berada dalam taksi online.
"Baik nyonya" seru sopir dengan ramah.
"Aku harus habisin isi kartu ini, sebelum aku didepak dari hidupnya" gumam Riska.
Dan kali Riska sudah berada di antara barang branded yang tersusun rapi di beberapa etalase.
"Hhhhmmm, bagus semua" tandasnya.
"Aku cari yang barang baru aja dech. Percuma punya kartu itu jika hanya nyari diskonan" ujar Riska bermonolog.
Riska tertarik dengan sebuah tas yang bertuliskan new arrival, limited edition.
"Wah, itu sepertinya bagus" ucap Riska sembari menghampiri tas yang dimaksud.
Saat akan menyentuh, tangannya berbarengan dengan tangan seseorang di sampingnya.
"Gue duluan" seru seorang nyonya setengah baya tak mau kalah dengan Riska.
"Nyonya, bahkan aku lah yang menyentuhnya duluan. Lihat posisi tangan saya langsung menyentuh barangnya. Sementara anda?" sindir Riska.
Wanita setengah baya itupun bersungut dan menjauhi Riska.
"Enak aja nyerobot" gerutu Riska.
"Kak, bungkus" kata Riska kepada karyawan yang mengikutinya.
"Baik nyonya" tukasnya.
Riska kembali berkeliling untuk mencari barang yang ingin dibeli.
"Hhmmm, ini bagus juga" kata Riska saat berada di deretan baju mewah.
"Enaknya jadi orang kaya. Beli apapun tak perlu lihat label harga" gumam Riska sementara tangannya bergerak untuk mengambil beberapa potong baju.
Ada lima helai yang Riska ambil. Sekali lagi Riska minta karyawan toko barang branded itu untuk membungkus.
"Hhhmmm, apa lagi ya?" kata Riska sambil memikirkan barang apa yang akan dibeli selanjutnya.
"Fix, sepatu aja. Lagian sepatu aku sudah nggak ada yang bagus".
Riska melangkahkan kakinya ke arah outlet sepatu mahal dan impor dari luar negeri.
"Ini juga bagus-bagus" gumam Riska.
Ada tiga pasang sepatu yang dibelinya sekaligus.
Riska menyodorkan sebuah kartu hitam yang tersimpan di dompet.
"Nih" bilang Riska.
Setelah menggesek, kasir pun minta Riska untuk menekan pin kartu agar bisa transaksi.
Dan dengan sangat yakin Riska menekan pin yang diberikan tuan Rahardian, karena dirinya belum sempat untuk mengganti pin. Tapi ternyata transaksi gagal.
Kembali sang kasir meminta Riska untuk menekan pin, transaksi gagal lagi.
"Maaf nyonya, sepertinya kartu ini terblokir. Sebaiknya pakai kartu yang lain aja" saran sang kasir ramah.
"Bagaimana bisa? Ini black card loh. Kok bisa terblokir" seru Riska.
"Saya nggak tahu nyonya" ujar sang kasir.
__ADS_1
Wanita setengah baya yang tadi sempat berebut barang dengan Riska mengolok nya.
"Kalau tak punya uang, jangan sok-sok an dech. Pake ambil yang limited segala. Tuh yang diskonan aja belum tentu bisa beli" ledek wanita itu.
"Siapa bilang gue nggak punya uang. Bahkan isi outlet ini jika mau aku bisa beli" tandas Riska dan tak mau diremehkan.
"Sombong. Buktikan!" seru wanita itu.
"Kak, pake kartu yang ini saja" Riska mengganti kartu hitam dengan kartu miliknya sendiri.
Alih-alih meninggalkan outlet, Riska malah mengganti kartu sakti milik tuan Rahardian dengan kartu miliknya sendiri agar tak diolok lagi oleh wanita setengah baya di belakangnya.
"Baik, akan saya coba nyonya" tukas kasir itu.
Hampir dua ratus juta Riska membeli semuanya.
"Waaoooowww, mahal juga ternyata" ada sedikit rasa sesal dalam hati Riska karena memakai uangnya sendiri.
Kembali Riska mengumpati tuan Rahardian karena gagal menghabiskan uangnya untuk yang kedua kali.
"Aku harus balas dendam padanya, karena hanya php in aku" gerutu Riska.
Sampai apartemen akan aku tunggu kedatangan dia, akan aku pancing dia dengan baju super seksi. Habis itu akan aku porotin dia. Pikir Riska penuh akal bulus.
"Apa aku susul aja ya dia ke perusahaan"
.
Tuan Rahardian yang tengah bersama Alex menjadi tak terkendali emosinya.
Emosi yang meluap saat berada di ruang rapat Samudera Grub saja belum bisa diredakan, ternyata malah ditambah dengan demo karyawan besar-besaran di perusahaan yang dipegang oleh Alex.
"Lex, kau ini sebenarnya bisa apa? Bagaimana bisa karyawan kamu melakukan demo?" kata tuan Rahardian dengan emosi meledak.
"Sabar Pah, semua masih terkendali. Demo mereka juga tidak ada yang anarkis. Anak buah aku sedang nyari pelaku utama yang menggerakan mereka" jelas Alex untuk menurunkan tensi tuan Rahardian.
"Apa tuntutan mereka masih sama? Kenaikan gaji? Kenapa nggak kamu naikkan saja sih" tukas tuan Rahardian.
Dana talangan aja sudah habis tak tersisa. Tentu saja dialokasikan Alex untuk hidup foya-foya.
Alex yakin jika mertuanya tak akan pernah mengusirnya, karena modelan seperti tuan Rahardian harga diri adalah yang utama.
"Kamu naikkan aja gaji mereka. Aku tak ingin nama perusahaan tercoreng karena demo" suruh tuan Rahardian.
"Tapi belum ada alokasi dana untuk itu Pah. Papa juga tahu, kalau kinerja perusahaan turun karena mogoknya mereka" beritahu Alex.
"Kan bisa pakai dana talangan Lex" imbuh tuan Rahardian.
"Mana bisa Pah, dana talangan kan dikeluarkan jika memang ada hal yang lebih urgen bukan untuk memenuhi tambahan gaji pegawai" Alex terus saja beralasan agar tuan Rahardian tak mendesaknya untuk mengeluarkan dana yang sebenarnya telah habis olehnya.
"Jangan buat papah capek Lex. Lekas kamu selesaikan itu. Besok aku tunggu kabar darimu" ujar tuan Rahardian.
"Oh ya, besok ajak Veronica ke mansion. Mama nya ulang tahun" seru tuan Rahardian.
"Hhhmmm masih ingat saja ulang tahun mama Pah" kata Alex mengolok papa mertuanya.
"Harus itu Lex, sebejat-bejatnya kita istri tetap yang utama" sindir tuan Rahardian untuk sang menantu yang diketahuinya telah mengabaikan Veronica yang juga putri semata wayang tuan Rahardian.
"Oke Pah, besok aku usahakan ke mansion. Habis ini papa mau ke mana?" selidik Alex. Karena jika papa mertua nya tidak ke apartemen maka dipastikan Riska kosong hari ini.
"Ngapain kamu nanya?" telisik tuan Rahardian.
"Kali aja papa mau ngajakin aku ke club gitu" canda Alex.
"Ha...ha...nggak minat" jawab tuan Rahardian.
Sepeninggal Alex tuan Rahardian kembali mengecek pergerakan harga saham perusahaan Samudera Grub.
__ADS_1
Tuan Rahardian rela rugi ratusan milyar saat mengambil keputusan untuk menjual saham yang ada di Samudera Grub. Dasar orang aneh.
Tujuan utama merusak nilai saham di Samudera memang untuk membuat keluarga Marino hancur sehancurnya. Tapi ternyata angan tak seindah kenyataan, karena Raditya masih tenang menghadapi serangan mendadak dari tuan Rahardian.
"Apa Raditya sudah ada penanam saham pengganti saat aku tarik semua saham-saham aku di sana?" ragu tuan Rahardian.
"Smoga ini keputusan tepat" batin tuan Rahardian.
Tapi tuan Rahardian masih ada beberapa perusahaan yang dikelola nya sendiri. Meski tak sebesar Samudera. Harapannya perusahaan yang dikelolanya sendiri bisa untuk menutup semua kerugian.
"Alex sangat tak bisa diandalkan untuk ini, dia selalu saja foya-foya. Tidak seperti Raditya. Andai dia tak membatalkan tunangannya dengan Vero tak mungkin aku melakukan semua ini" anak buah tuan Rahardian selalu melaporkan sepak terjang Alex.
"Wanita jal4ng itu apa kabar?" gumam tuan Rahardian baru teringat keberadaan Riska.
"Rasain! Kartu yang kamu bawa telah aku blokir"
Tuan Rahardian tersenyum sinis.
Terdengar pintu diketuk.
"Masuk!" seru tuan Rahardian.
Terlihat Riska melenggang dengan santainya menghampiri laki-laki setengah baya.
"Darimana saja? Aku tadi ke apertemen. Kenapa pasword nya kamu ganti?" selidik tuan Rahardian dengan nada emosi.
"Jangan emosi mas, nanti lekas tua" mulai dech rayuan Riska untuk menakhlukkan tuan Rahardian agar tujuannya tercapai.
"Apa tak bisa kamu lihat apa yang aku bawa mas" jawab Riska.
"Aku tadi belanja di mall Grand X, perlu waktu lama belanja di sana. Mau ngabarin kamu aku malas, karena musti ngubungin mommy duluan. Dan mommy yang akan ngabarin ke kamu. Jadi aku langsung pergi aja. Untuk pasword, sengaja aku ganti. Aku takut jika istri kamu sewaktu-waktu datang untuk melabrak aku. Bisa jatuh harga diriku dong. Nama kamu kan juga akan tercoreng" sungguh Riska sangat pandai bersilat lidah.
Hanya dengan kata-kata rayuan Riska, hati tuan Rahardian pun luluh.
Riska tersenyum penuh kemenangan. Tinggal selangkah lagi menguras harta laki-laki tua di depannya ini.
"Mas, terus belanjaanku nih tadi gimana? Semua pakai uang aku sendiri loh" ucap manja Riska.
"Kartu ini kamu blokir kan?" Riska mengeluarkan kartu yang pernah diberikan oleh tuan Rahardian sebelumnya.
"Iya memang aku blokir. Aku kira kamu njajakan punya kamu itu untuk yang lain" tukas tuan Rahardian.
"Mana mungkin mas, aku kan terikat kontrak dengan kamu. Meski tak tertulis sih" imbuh Riska.
"Oke, besok akan aku buka blokirannya" seru tuan Rahardian.
"Terus untuk ganti belanja yang ini?" kata Riska tak mau rugi.
"Besok kan bisa kamu ambil dari kartu ini, setelah aku buka blokirnya" beritahu tuan Rahardian.
"Kenapa nggak sekarang aja? Uang aku habis terkuras loh mas" tukas Riska masih dengan mode manja.
"Oke, tapi layani aku dulu" pinta tuan Rahardian.
"Kasih uang dulu, biar aku semangat ngelayanin kamu" sambung Riska.
"Oke" tanpa ragu tuan Rahardian mentransfer ke rekening Riska sesuai nominal yang disebutkan.
Riska langsung mencium bibir tuan Rahardian saat notif m banking masuk di ponsel miliknya.
"Makasih mas" balas Riska.
Mereka berdua tak pandang tempat saat melakukannya hingga tak menyadari ada yang datang di ruangan tuan Rahardian.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
***To be continued, happy reading 😊
__ADS_1
Buat yang masih stay tune, author doakan sehat selalu.
Makasih buat semuanya yang udah kasih like, komen and vote***.