Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Kepuasan Rania


__ADS_3

Beno melajukan mobil sesuai apa kata bos.


"Beno, tahu nggak lo sentra ayam panggang seperti yang aku maksud tadi?" tanya Raditya dari bangku belakang.


Beno hanya bisa garuk kepala. Seumur-umur belum mendapati ayam panggang bumbu rujak.


Yang dia tahu hanya sebatas ayam saja, nggak hafal dengan bumbu-bumbunya.


Diamnya Beno, Raditya anggap Beno tak tahu.


Raditya coba buka aplikasi, barangkali ada makanan yang dimaksud dengan lokasi terdekat saat ini.


"Akhirnya ketemu juga" kata Raditya dengan hati senang. Bagai menemukan sebongkah berlian saja.


"Beno, jalan lurus saja. Ntar kalau lo sudah sampai perempatan pertama belok kanan. Masuk jalan Diponegoro. Nah, sampai sana lo jalan pelan aja. Kita cari gang pemuda. Disitu ada sentra ayam panggang dengan macam-macam bumbu. Bisa reques lagi" seru Raditya.


"Emang ada tempat seperti itu?" tukas Beno.


"Yaaa kita lihat aja nanti. Aku juga belum pernah ke sana" tanggap Raditya.


"Nyonya ngidam lagi?" akhirnya Beno berani bertanya juga.


"Heemmm" angguk Raditya.


"Apa kalau istri ngidam selalu repot begitu ya?" seru Beno.


"Sepertinya begitu. Aku kan juga nggak tahu gimana ngidamnya Rania waktu hamil Celo dan Cio" terang Raditya.


"Benar juga ya. Saat itu gue sama pak Supri dech yang sepertinya sangat direpotkan" sindir Beno.


Sampai perempatan, Beno membelokkan laju mobil ke arah kanan.


Sesuai permintaan Raditya, Beno melajukan mobil mewah itu pelan untuk mencari gang yang dimaksud.


Beno mengerem mendadak saat ada sebuah gang yang hanya cukup satu mobil.


"Gang Pemuda bos" beritahu Beno.


"Mana?" Raditya tengok kanan kiri.


"Tuh bosss, sebelah kiri belakang" ujar Beno.


Raditya ikuti arah yang dimaksud oleh Beno. Dan benar saja, ada tulisan gang Pemuda di sana.


"Sempit juga ya gangnya. Benar di situ bos?" tanya Beno tak yakin.


"Kalau tak turun mana kita tahu" tukas Raditya.


Raditya bergegas turun, "Lo ikut nggak?" kata Raditya.


"Kalau aku bilang di sini saja, lo pasti marah" olok Beno.


"Nggak. Kali ini gue jadi orang yang baik dan sabar" Raditya terkekeh.


"Lagak lo bos" tanggap Beno ikutan tertawa. Tapi akhirnya Beno mengikuti juga ke mana Raditya melangkah. Demi istri bosnya yang sedang ngidam.


Sampai di pertengahan gang, belum nampak juga tempat yang dimaksud.


"Jangan-jangan informasinya salah bos?" sela Beno.


Apalagi orang-orang yang berpapasan dengan mereka saling memandang aneh ke arah Raditya dan Beno.


"Kok mereka pada ngelihat kita ya bosss?" ucap Beno.


"Biarin aja. Mata juga punya mereka" timpal Raditya.


Jarang-jarang, siang gini ada dua orang yang pakai jas kantoran jalan di gang sempit lagi. Pasti itu pikiran orang yang berpapasan dengan Raditya dan Beno.


Saat gerombolan ibu-ibu, Raditya pun menghampiri.


"Selamat siang nyonya-nyonya, mau nanya. Ada yang tahu nggak tempatnya sentra ayam panggang?" tanya Raditya ke arah mereka.


"Kita dipanggil nyonya loh teman-teman" sorak sorai mereka. Sementara Beno hanya bisa tepuk jidat.


"Tahu nggak bu?" Beno ikutan bertanya.


"Ya tahulah tuan. Gang ini kan terkenal karena ada sentra ayam panggang itu" sambung dari ibu yang paling belakang.


"Oke, bisa beritahu kami?" tukas Beno.


"Tapi kita foto bersama dulu ya tuan-tuan. Ada orang tampan bin ganteng harus kita manfaatin dong" kembali mereka tertawa bersama.


Meski dalam hati menggerutu, Raditya dan Beno pun menuruti apa kata mereka.


"Silahkan tuan, jalan aja lurus ke sana. Terus di sebelah rumah cat hijau itu ada gang yang lebih kecil daripada ini, belok aja ke situ. Nah di situ lah tempatnya" jelas salah satu di antara mereka.

__ADS_1


"Makasih ibu-ibu" seru Beno.


"Wah, panggilan kita dirubah aja oleh tuan yang satunya" seloroh mereka dan disambut tawa bersama.


Raditya dan Beno melangkah ke arah yang dimaksud.


"Tahu gitu, mobil kita bawa masuk aja tuan. Capek juga nih kaki dipakai jalan" keluh Beno.


"Sekali-kali olahraga dong" olok Raditya.


"Yeeeiii, kayak bos sering ngelakuin aja" tukas Beno tak terima.


"Jangan salah Beno, semenjak menikah gue semakin rajin kok" imbuh Raditya.


"Issshhhh, itu mah olahraga versi lain bos" Beno tahu arah pembicaraan sang bos. Tertawalah Raditya menanggapi Beno.


Dan sampai juga mereka ke tempat yang disebut sentra ayam panggang itu.


Sebuah rumah besar dan nampak seperti bangunan khas tahun delapan puluhan. Sederhana dan tampak halaman yang luas.


Raditya masuk, dan tercium khas ayam yang sedang dipanggang di atas arang yang menyala.


Memang bau khasnya sih beda daripada dipanggang menggunakan kompor gas ataupun kompor listrik.


"Tradisional sekali bos" celetuk Beno.


"Itu kali yang buat tempat ini terkenal" tukas Raditya


Raditya pesan ayam bumbu rujak sepuluh ayam utuh.


"Banyak kali bos?" tanya Beno heran.


"Penghuni mansion gue puluhan orang Beno" ujar Raditya.


"Bumbunya sama?" tanya salah satu mbaknya yang di sana.


"Iya, samain aja" bilang Raditya.


Pesanan jadi. "Hah, musti jalan lagi" sekali lagi Beno mengeluh.


"Ntar di ujung kubeliin es teh" tanggap Raditya mendengar keluhan Beno.


"Cuman es teh"


"Ayo! Jangan ngeluh aja. Ntar kukasih kaki ayam nya" canda Raditya semakin menjadi.


Pendingin mobil langsung Beno turunkan ke yang paling kecil, "Uhhh sejuknya" ujar Beno sambil melepas jas yang dia pakai.


"Asam banget keringat lo" olok Raditya.


"Jangan gitu lah bos, seperti ini kan juga demi loyalitas ke bos" celetuk Beno.


Sampai di rumah sakit, Raditya hanya menurunkan ayam panggang bumbu rujak cuman dua. Yang lain ntar biar dipindahin pak Supri aja.


Rania menatap sang suami yang berdiri di tengah pintu ruangannya penuh harap.


"Lama amat?" celetuknya.


"Antri" bilang Raditya tanpa mau cerita pengorbanan dirinya dan Beno untuk mendapatkan itu.


Rania melihat antusias saat box dibuka.


"Harumnya semerbak sekali. Pasti dibakarnya pakai arang nih" ucap Rania membuat Raditya dan Beno saling menengok.


Tahu saja, batin Raditya.


Tak pakai drama, Rania makan dengan lahapnya. Tanpa memperdulikan yang di sana saling menelan ludahnya masing-masing.


Bahkan ceker ayam yang sekiranya mau dikasihkan Beno, malah dilahap habis oleh Rania sendiri.


Melihatnya Beno tertawa karena ingat perkataan Raditya saat di jalan tadi.


"Makanya bos, jangan suka menindas anak buah. Kena sendiri getahnya" olok Beno.


Mata Raditya melotot ke arah Beno.


"Kalian ini kenapa?" tanya Rania karena melihat arah pandangan Raditya ke Beno.


"Nggak papa nyonya. Biasa bos begitu" imbuh Beno.


Drama ayam panggang sukses dengan kepuasan Rania menyantapnya.


"Bos, karena misi kita sukses jangan lupa transferin bonus gue hari ini" ujar Beno beranjak dan bersiap pergi.


"Tunggu saja sampai lo nikah" Raditya menanggapi.

__ADS_1


"Itu beda lagi dong bos" Beno tak terima.


"Oh ya pak Supri ke mana bu?" tanya Raditya ke Bu Marmi karena sedari tadi tak melihat keberadaannya.


"Keluar sebentar tuan. Katanya sih mau cari udara segar. Apa kuhubungin aja" kata bu Marmi.


"Boleh. Tolong bilang suruh mindahin ayam dari mobil Beno. Buat semua yang ada di mansion" suruh Raditya.


"Kalau begitu biar kususul aja tuan sama tuan Beno" tentunya bu Marmi memberi kesempatan kepada pasangan itu.


"Yank, gimana kabar Celo dan Cio ya? Rewel nggak ya? Kangen dari kemarin nggak ketemu" bilang Rania.


"Mau VC?" tanya Raditya.


"VC ke mama?" ucap Rania.


Raditya menekan kontak mama untuk menghubungi.


Tak harus menunggu lama, panggilan itu tersambung.


"Mereka barusan tidur. Kalau sudah bangun ntar kutelpon balik" kata mama dengan berbisik tapi masih terdengar jelas oleh Raditya dan Rania.


"Oke Mah, tolong arahkan kamera ke mereka berdua. Bunda nya kangen" pinta Raditya.


Keduanya nampak lebih embul daripada sebelumnya.


Rania tersenyum puas melihat mereka meski tak langsung.


"Sudah ya, ntar kutelpon lagi. Tangan mama pegel nih" kata Oma yang malah suka sekali saat dimintai tolong untuk menjaga kedua cucunya. Opa nya demikian. Malah ingin mengajak kedua cucunya untuk tinggal beberapa hari di mansion miliknya sendiri.


Panggilan ditutup.


"Apa kabar kamu hari ini yank?" tanya Raditya.


Rania tertawa menanggapi. Pertanyaan sang suami seolah-olah mereka sudah tak bersua beberapa hari saja. Padahal kan baru tadi pagi mereka tak bersama.


"Pertanyaan kamu aneh dech yank. Belum juga setengah hari, sudah nanyain kabar" Rania terkekeh.


"Kabar aku baik, sudah tidak muntah, rasa lemas juga berkurang banyak" imbuh Rania.


.


Saat bersamaan, di kantor penyidik Riska tengah dihadapkan dengan ratusan pertanyaan dari para petugas itu.


"Tuan-tuan yang terhormat, harus berapa kali aku bilang. Aku tak punya anak buah. Yang ada aku lah anak buahnya. Aku punya induk semang, yang pastinya kalian kenal. Karena induk semang aku mengaku kalau kenal dengan komandan kalian" kata Riska panjang lebar.


"Jangan memfitnah nyonya. Kalau berita itu tak ada kebenarannya, jangan koar-koar. Anda akan kena batu nantinya" tukas penyidik itu.


"Aku yang tanya sekarang. Apa kalian ini tak bosan menangkap aku? Aku yang ditangkap aja bosan" celetuk Rania.


"Dan kalau kalian ingin suatu kejelasan, hadirkan orang bernama Mommy. Nih alamatnya" Riska menulis sebuah alamat pada secarik kertas.


"Kalau kalian berani memanggil orang ini. Barulah aku yakin jika komandan kalian tak terlibat" sambung Riska.


"Terus kalau aku ditanya siapa laki-laki yang bersamaku. Maka pernyataan saat aku di hotel tadi aku ralat. Aku tak ada hubungan dengan dirinya. Hanya sebatas penyewa dan pemberi jasa. Itu saja sih menurutku" ucap Riska selanjutnya.


"Hhhmmm, dengan begitu itu artinya anda mengakui terlibat di jaringan prostitusi?" tanya penyidik untuk menanggapi penyataan Riska barusan.


"Ya, aku mengakui. Tapi di sini aku merasa malah sebagai korban" tandas Riska.


"Oke, kalau informasi kamu benar. Kita akan telusuri itu" ucap sang penyidik.


Ratusan pertanyaan telah disampaikan penyidik dan telah dijawab oleh Riska.


Kali ini Riska telah dimasukkan kembali ke sel yang sama seperti sebelumnya.


"Yaahhhh, akhirnya balik lagi ke sini" gumam Riska sambil mengeluh saat sel tahanan itu dengan setia mengunggu kedatangannya.


Keesokan pagi berita dipanggilnya mommy menjadi perhatian sendiri bagi Riska.


Dia bilang pada petugas jika ingin dipertemukan dengan mommy dan penyidik itupun menyetujuinya.


Riska menatap tajam ke arah wanita setengah baya itu.


"Mana komandan yang kamu banggakan itu Mom?" tanya Riska.


"Nyatanya dengan aku mengakui keterlibatan mommy, penyidik langsung memanggilmu kan?" ledek Riska.


"Dan jika kamu tak ingin dilibatkan, maka tarik aku keluar sel penjara yang dingin ini" ancam Riska sambil berbisik di telinga mommy.


"Suruh orang-orang di balik kamu Mom, agar mereka membantuku" sambung Riska.


Ternyata kelicikan Riska memang tiada tanding.


Mungkin hanya Rania yang bisa menyikapinya dengan bijak.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2