Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
'Pedekate'


__ADS_3

Raditya menghampiri Rania.


"Biar aku saja bu" pinta Raditya untuk mengambil alih mendorong kursi roda yang diduduki oleh Rania.


"Nggak usah repot" sela Rania ketus.


Sebenarnya Rania sudah bisa jalan, tapi kalau harus berjalan dari ruang vvip ke ruang bayi lumayan jauh. Nyeri luka operasinya kadang masih terasa ngilu.


Rania menjalankan kursi roda sendiri ke arah pintu masuk ruangan kembar. Seulas senyum tersungging di sudut bibir Raditya, meski tak tampak.


Bu Marmi mengikuti Rania untuk masuk ke ruang bayi.


"Maaf bu, sebaiknya papa nya aja yang ikutan masuk" sela perawat yang sedang jaga pagi itu.


"Tuan, anda yang diharuskan masuk" bilang bu Marmi ke arah Raditya.


"Mah, nunggu di sini aja sama bu Marmi. Atau kalian nunggu aja di kamar rawat sana. Ntar Rania biar balik sama aku" kata Raditya.


"Heleh, itu mah modus kamu aja Raditya" celetuk nyonya Andrian.


"Ayo bu Marmi, kita balik aja" ajaknya.


"Siap nyonya" tukas bu Marmi.


Rania yang masih berada di pintu masuk, merasa sebal dengan ulah Raditya yang seenaknya menyuruh bu Marmi balik ke kamar. Bagaimanapun dirinya akan lebih nyaman jika bersama bu Marmi.


"Loh, kok belum masuk?" tanya Raditya yang barusan menoleh ke arah Rania.


"Kursi roda mana bisa masuk di pintu ini" tukas Rania masih saja ketus.


"Ya sudah aku bantu jalan" Raditya hendak membantu Rania bangun dari kursi roda.


"Aku sendiri aja" tolak Rania.


Karena menahan nyeri, Rania berdiri dengan susah payah.


"Aduh" keluh Rania.


"Apa yang sakit? Kupanggilin dokter" sahut Raditya.


"Issshhh...jangan lebay dech. Nyeri memang tapi masih bisa ditahan" kata Rania meringis dengan tangan masih memegang di kursi roda untuk tahanan.


"Makanya aku bantuin, kalau masih nolak juga kugendong kamu" sahut Raditya dengan sedikit mengancam sekaligus bersiap posisi untuk menggendong Rania.


Daripada digendong, akhirnya Rania mau digandeng oleh Raditya.


"Sedari tadi kek, susah amat sih" celetuk Raditya mencoba bergurau.


"Bodo amat" Rania masih saja sewot.


"Kamu itu kalau senyum cantik lho" goda Raditya.


"Kapan kamu tahu kalau aku senyum itu cantik? Aku kan nggak pernah senyumin kamu" nada Rania masih saja ketus.


"Malam itu" jawab Raditya enteng.


Dan blussshhhhh...pipi Rania sudah seperti tomat saja.

__ADS_1


Yessss, sukses juga ku menggodanya. Batin Raditya girang.


Perawat menghampiri keduanya.


"Pagi nyonya, apa sudah siap untuk belajar menyusui?" kata perawat itu ramah.


Rania mengangguk, "Saya sendiri aja sus, jadi suruh aja papa nya kembar keluar dulu" kata Rania.


"Ya jangan nyonya. Bayi anda kan ada dua. Nanti anda repot loh" terang suster yang membantu.


"Atau dengan anda saja" ujar Rania masih aja ngeyel.


"Maaf, teman saya yang satu cuti. Dan saat ini saya akan membenahi infus di ruang sebelah" kata nya.


Rania menghela nafas panjang. Segala alasannya untuk mengusir Raditya dipatahkan oleh sang suster.


Raditya tersenyum penuh kemenangan, membuat Rania bersungut.


"Jadi nggak nih belajarnya?" Raditya semakin menjadi.


"Nggak kalau ada kamu di sini" tolak Rania.


"Ntar dimarahin loh sama dokter yang tadi" lanjut terus godaan Raditya.


"Bukannya dia fans kamu" ucap Rania sewot, membuat Raditya berbunga.


Cemburu...cie...cie...tapi tak mau ngakuin...ledek Raditya, tapi hanya tercekat di tenggorokannya saja. Mana berani Raditya mengeluarkannya, bisa akan lebih sulit lagi mendekati Rania.


Raditya membantu menggendong bayi pertama, dan menyerahkan ke bunda nya.


Sementara Raditya mengambil bayi kedua dan menggendongnya.


"Bilangin bunda ya, papa juga sayang kalian loh" Raditya menciumi gemas pipi bayi mungil itu.


Rania menatap tajam ke Raditya.


"Sueerrrrr...gue jujur bun" kata Raditya dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.


Pandangan Rania melengos ke tempat lain, tak mampu bersitatap dengan netra bening dari laki-laki itu.


Dengan berbalik arah, Rania menyusui bayi pertama. Karena terlatih saat merawat Chiko, naluri keibuan Rania timbul begitu saja.


Dengan cekatan Rania memberikan salah satu asetnya untuk disedot oleh salah satu putranya.


Rania mengelus kepala bayi dengan lembut. Meski hasil dari sebuah kesalahan, mereka berdua sungguh tak berdosa.


Setelah bayi pertama kenyang, Rania menyerahkan ke Raditya. Dan diambilnya bayi kedua. Dengan pola yang sama, Rania memberikan aset yang lain untuk disedot oleh bayi kedua.


Kedua bayi itu tidur nyenyak dalam gendongan papa dan bundanya.


"Sudah selesaikah nyonya?" tanya suster yang barusan masuk kembali. Rania mengangguk.


"Wah, sepertinya mereka tahu saja kalau orang tuanya datang. Biasanya jam segini mereka rewel" jelas sang suster.


"Oh ya?" tukas Raditya.


"Apa nggak sebaiknya mereka bersama dengan saya sus?" tanya Rania menyela.

__ADS_1


"Wah, kalau kita mah tinggal menunggu perintah dari dokter Andah nyonya" terang suster itu.


"Iya bun, dokter penanggung jawab kedua putra kita kan dokter Andah" sela Raditya. Ucapan Raditya membuat Rania membuang muka.


"Upppssss, gue salah ngomong" gumam Raditya.


"Sus, boleh aku balik?" ijin Rania.


"Tentu nyonya. Banyak istirahat bagus untuk ibu pasca salin" ujar suster menimpali.


"Makasih suster. Kita balik dulu" kata Raditya dan langsung menggandeng Rania. Rania yang melotot ke arah nya tak digubris oleh Raditya.


Semakin galak Rania, maka menjadi tantangan tersendiri bagi Raditya.


"Duduklah, kuantar sampai kamar" celetuk Raditya.


"Aku bisa sendiri" Rania masih saja ngotot.


"Tak akan kubiarkan. Apalagi kalau kamu sampai ketemu mantan suami kamu itu" bisik Raditya di telinga Rania.


Akhirnya setelah memenangkan perdebatan panjang, Raditya mengantarkan Rania balik ke ruang vvip tempat Rania dirawat.


Sebenarnya Rania sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya, tapi oleh Raditya terpaksa ditahan sampai kedua bayinya juga diperbolehkan pulang.


Raditya tak ingin Rania lelah harus menempuh perjalanan bolak balik hanya untuk menengok dan nungguin putranya. Apalagi putra pertamanya juga masih dirawat di rumah sakit ini juga.


Raditya melakukan itu semua tanpa Rania ketahui. Rania hanya tahu kalau dirinya belum diperbolehkan pulang karena kondisi anemianya. Itu saja.


Sampai di kamar ternyata papa sama mama masih setia menunggu kedatangan kedua orang itu. Sementara bu Marmi ijin pulang, karena ingin menengok keadaan rumah tinggalnya yang beberapa hari ditinggalin karena menunggu Rania di rumah sakit


"Gimana kabar kedua cucuku?" tanya mama antusias.


"Mereka pintar sekali minum susu nya Mah" terang Raditya, membuat Rania menatap tajam ke arah Raditya.


"Jangan marah dong bun, kan itu kenyataannya" lanjut Raditya.


"Beneran sayang, apa yang diucapin Raditya?" sela mama.


"Benar nyonya" jawab singkat Rania.


"Loh, kok nyonya sih? Panggil mama dong bun" kata Raditya.


"Rania belum terbiasa Radit. Jangan dipaksain" jelas mama menatap Raditya.


"Heemmmm, kalau gitu terserah saja dech" Raditya mengangkat kedua bahu.


Tuan Andrian masih diam belum berkomentar.


"Mah, Pah, aku pergi dulu. Ada urusan" pamit Raditya ke kedua orang tuanya.


"Aku pergi bun. Bunda nya kembar" goda Raditya dan dijawab oleh pelototan Rania.


Papa dan mama hanya tertawa melihat polah Raditya. Baru kali ini kedua orang itu melihat sinar mata bahagia dari putra tunggalnya itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2