
"Boleh aku masuk dokter?" mohon Rania.
"Iya, silahkan. Dan hanya satu saja yang boleh masuk" jelas dokter.
"Silahkan ganti baju" kata perawat menghampiri Rania.
"Aku juga ingin mendampingi putraku dokter" sela Mahendra.
"Maaf tuan, hanya seorang yang diperbolehkan masuk" jelas dokter itu mengulang pernyataan yang sama.
"Dan hanya aku yang berhak dokter, karena hak asuh anak yang di dalam itu ada padaku. Aku lah walinya" Mahendra ngotot tak mau kalah.
Dokter kelihatan ragu dengan pernyataan Mahendra.
"Aku yang menandatangani semua tindakan terhadap anak saya, dan bukan dia" tandas Mahendra menatap tajam ke Rania mantan istrinya.
Rania menghentikan langkah.
"Ya sudah, kamu aja yang masuk. Untuk apa berdebat buat hal-hal yang tak perlu. Chiko bahkan tak ingin melihat semua ini" kata Rania menghampiri Mahendra menyerahkan baju ganti yang hendak dipakai olehnya.
Mahendra hendak meraih baju yang diserahkan Rania, tapi keburu dilarang oleh Riska.
"Sayang, jangan sok-sok an dech jadi penanggung jawab Chiko. Kita masih butuh biaya banyak nih untuk persalinan aku yang tinggal menghitung hari" kata Riska tanpa malu-malu.
"Sudah berapa bulan Riska?" sela nyonya Handono yang juga mengenal Riska sebagai sahabat Rania.
Tuan dan nyonya Handono juga tahu setelah menceraikan Rania, Mahendra menikahi Riska. Bahkan mereka juga menghadiri akad nikah mantan menantunya waktu itu.
"Sembilan bulan tante" beritahu Riska tanpa merasa bersalah.
Sejurus kemudian dia menutup mulut, karena melakukan kesalahan dalam berucap.
"Hah? Sembilan bulan?" tanya tuan Handono.
"Nggak yah, baru tujuh bulan kok" kata Mahendra meralat ucapan Riska. Raditya tersenyum sinis mendengar debat Mahendra dan Riska.
"Jadi siapa yang masuk nih?" ucap Rania tanpa mau ikut campur urusan sepasang suami istri itu.
"Kamu saja" hardik Riska.
"Dan ingat Rania, saat kamu masuk ke sana mendampingi Chiko. Maka mulai saat itulah penanggung jawab utama semua biaya Chiko ada di pundak kamu" terang Riska dengan gamblang.
"Nggak papa, asal setelah ini Mahendra tanda tangan dan memberikan hak asuh Chiko ada padaku" tegas Rania.
Mendengar ucapan Rania, membuat Mahendra melotot dan hendak menyanggah tapi keburu Rania masuk ke ruangan khusus itu.
"Sudahlah, kalau tak mampu jangan memaksakan diri" ujar Riska yang mulai emosi karena Mahendra tetap saja mempertahankan Chiko.
"Kamu puas tuan Raditya????" hardik Mahendra.
Raditya mengangkat kedua bahu, "Aku tak mau terlibat di ranah pribadimu tuan Mahendra yang terhormat. Tapi apa yang dibilang istri kamu barusan sepertinya benar adanya" timpal Raditya mengolok Mahendra.
__ADS_1
"Oh ya, makasih atas pemulihan nama baik Rania di depan orang tuanya" bisik Raditya menambahi membuat Mahendra semakin emosi.
.
Sementara Rania di dalam menggenggam tangan putra pertamanya yang hanya tersisa tulang terselimuti kulit.
"Chiko, kamu tahu kan kalau bunda sangat sayang sama kamu? Dan itu tak akan berubah sampai kapan pun nak" Rania terus saja mengajak ngobrol Chiko.
Rania sudah mendapat penjelasan dari dokter, jika hidup Chiko hanya tergantung dari alat-alat yang terpasang di tubuhnya.
Kadar trombosit yang menurun drastis saat Chiko masuk rumah sakit akibat demam fever yang diderita, ditambah Chiko dibawa ke IGD saat keadaan yang sudah parah. Efek perdarahan kapiler yang begitu hebat, membuat beberapa fungsi organ utama terganggu. Hingga berakhirlah anak berusia hampir enam tahun itu di ranjang ruang intensif sampai saat ini.
"Bunda ikhlas nak" Rania mengelus puncak kepala Chiko dengan sangat lembut. Diciuminya pipi yang tampak pucat.
Tit...tit...tit...terdengar kelap kelip di monitor yang tak Rania pahami.
"Dokter, suster..." panggil Rania.
"Iya nyonya" perawat itu datang tergopoh menghampiri Rania.
"Apa yang terjadi sus?" tanya Rania.
"Dokter...." panggil suster itu dengan suara keras.
"Permisi nyonya" dokter itu datang untuk memberi pertolongan buat Chiko.
Rania minggir agar tak menghalangi dokter dan para suster menolong Chiko.
Bibir dokter itu tak berhenti menghitung resusitasi yang diberikan kepada Chiko karena mengalami henti jantung.
Rania semakin tak tega melihat. Raga bocah kecil itu sangat ringkih. Air mata Rania tak berhenti mengalir sambil bibirnya terus melafalkan doa untuk kesembuhan putranya itu.
"Sus, AED" suruh sang dokter karena belum berhasil mengembalikan denyut jantung yang nampak lurus di monitor.
"Area bebas?" kata sang dokter.
"Bebas dok" jawab suster penuh keyakinan.
Dokter menaruh alat yang digenggamnya itu pada dada Chiko. Dan mulai menghitung...satu, dua, tiga. Dada Chiko menghentak ke atas sesaat setelah alat itu ditekan.
"Ya Allah Chiko. Berikanlah yang terbaik untuknya. Hanya padaMu kami berserah dan hanya padaMu kami mohon pertolongan" Rania tak henti-hentinya memohon.
"Jam sepuluh lebih tiga puluh menit, anak Chiko umur lima tahun tujuh bulan dinyatakan meninggal karena henti jantung" pernyataan dokter itu bagai pisau tajam yang menghunus ke perut Rania. Terlalu menyakitkan.
Badan Rania luruh ke lantai dan pingsan seketika.
Semua keluarga yang melihat dari jendela kaca di luar, teriak histeris saat sang dokter menutup muka Chiko dengan selimut.
Mahendra pun berteriak-teriak kesetanan.
"Chiko...Chiko....jangan tinggalin ayah nak. Ayah dan bunda sayang padamu" teriaknya sambil menangis histeris.
__ADS_1
Bahkan semua orang yang lewat ikut melihat ke arah mereka.
Raditya menerabas masuk untuk menolong Rania yang terkulai di lantai.
Diangkatnya tubuh mungil itu untuk dibawa ke depan ruangan. Dibaringkannya di sebuah kursi tunggu.
Bu Marmi yang barusan datang, menghampiri keduanya. "Apa yang terjadi tuan?" tanya bu Marmi.
"Bu, bawa minyak angin kah?" tanya Raditya tanpa menjawab apa yang ditanyakan bu Marmi.
Bu Marmi membuka tas dan menyerahkan minyak angin yang selalu dibawanya kemana-mana, "Ini tuan".
Raditya mengoles depan hidung Rania dengan minyak angin.
Tuan dan nyonya Handono menghampiri keberadaan Raditya dan Rania.
"Bagaimana kondisi Rania?" tanyanya.
"Masih pingsan Yah" terang Raditya.
Sementara Mahendra masih meraung-raung di teras ruangan intensif tempat Chiko yang sekarang telah menjadi jenazah.
"Maafkan ayah nak. Maafkan ayah" teriaknya sambil menangis.
"Maafkan ayah yang tak perduli padamu...hua....hua...."
"Ibu, bu Marmi tolong jaga Rania. Aku akan menyelesaikan semua dengan pihak rumah sakit agar jenazah bisa segera dibawa pulang" tegas Raditya.
"Makasih nak, atas semua bantuan kamu" kata tuan Handono sambil mengelus pundak Raditya.
Tak mungkin mengharapkan Mahendra saat ini untuk segera menyelesaikan semua, termasuk administrasi dan yang lain-lain.
.
Raditya kembali mendekati Rania yang telah siuman. Rania masih menangis.
"Ikhlasin, ada yang lebih menyayangi Chiko" kata Raditya menguatkan Rania.
"Aku berdosa padanya" gumam Rania.
"Semua sudah takdir dari yang kuasa, kamu sudah menjadi bunda terbaiknya" hibur Raditya.
Raditya memposisikan kepala Rania yang menyandar di kursi untuk beralih ke pundaknya.
"Jenazah akan diantar pulang sebentar lagi. Apa kamu akan ikut?" ungkap Raditya pelan.
Rania pun mengangguk.
"Janji kamu akan kuat" imbuh Raditya. Rania kembali mengangguk.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
to be continued, happy reading