
Bu Marmi menyilahkan Raditya untuk duduk di sebuah kursi kosong.
"Maaf tuan, tempatnya semrawut" bilang bu Marmi.
Raditya malah menyuruh Rania untuk duduk di sana.
"Kamu aja yang duduk" suruh Raditya.
Raditya mengamati seluruh isi toko.Tak mungkin uang seratus juta bisa untuk mengisi toko sebanyak ini. Dalam hati, Raditya kagum juga atas kepintaran Rania mengelola uang.
"Tuan, duduk aja. Itu di belakang meja masih ada satu kursi" bilang bu Marmi menunjuk arah yang dimaksud.
"Panas ya di sini?" tanya Rania.
"Enggak kok" jawab Raditya, padahal memang panas sekali.
"Jangan bohong ah, tuh lihat keringetmu aja segedhe butiran jagung" olok Rania.
"He...he...panas sih sebenarnya" kata Raditya menanggapi.
Bu Marmi membiarkan mereka berdua, sementara dirinya pamit untuk keluar sebentar.
"Bu Marmi mau kemana?" tanya Rania.
"Bentar kok, kalian tunggu aja di sini. Nggak sampai setengah jam" terang bu Marmi.
Karena gerak Rania yang masih terbatas, maka Raditya lah yang melayani pembeli.
Melihat penjualnya ganteng bin tampan, makin banyak aja yang datang. Bahkan hanya sekedar beli permen.
Rania tersenyum simpul karena melihat Raditya bajunya telah basah oleh keringat.
"Sering-sering aja ke sini, biar dagangan aku laris manis" celoteh Rania tertawa lepas.
Raditya sampai terpesona dibuatnya. Baru kali ini wanita ini seakan terlepas dari beban hidupnya. Batin Raditya.
"Kalau begitu, aku tiap hari akan ke sini" jawab Raditya membuat Rania menghentikan tawa.
"Kenapa? Aku salah ngomong ya?" tukas Raditya.
"Nggak kok. Kalau kamu saben hari, yang kasihan tuh asisten kamu tadi. Ditinggalin bos nya mulu" Rania kembali menyinggingkan senyum.
Raditya melihat kotak uang yang terbuka, "Wah beneran tuh yang kamu omongin, aku memang pembuka pintu rejekimu hari ini" canda Raditya.
Rania melihat kotak di depannya yang memang penuh berisi uang. Meski tak semua uang pecahan ratusan ribu sih, tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Rania.
Bu Marmi datang tergopoh dengan membawa nasi bungkus.
"Bu, repot amat sih. Jadi tadi keluar karena ingin beli nasi itu?" tanya Raditya.
"He...he...iya tuan" tukas bu Marmi.
"Ayo, sekalian makan bareng" ajak bu Marmi.
Melihat bungkusan nasi padang favoritnya, mata Rania langsung saja berbinar.
"Wah, nasi padang lauk rendang kah bu?" tanya Rania antusias dan dijawab anggukan bu Marmi.
"Silahkan tuan Raditya" kata bu Marmi.
__ADS_1
"Baiklah kalau kalian memaksa" tukas Raditya membuat Rania melotot kepadanya.
"Siapa juga yang memaksa" gumam Rania dan Raditya hanya tersenyum simpul menanggapinya.
"Oh ya bu, besok kembar rencananya boleh dibawa pulang. Kalau kondisinya telah membaik" beritahu Raditya di sela makan.
Bu Marmi langsung saja menanggapi dengan muka sendu.
"Kenapa bu? Bukannya ibu senang ya, sudah bisa dibawa pulang" sela Rania.
"Senang sih. Bahkan amat senang...Tapi..." kata bu Marmi terdiam sambil mengunyah makanan pelan.
"Kenapa bu?" sela Raditya.
"Tuan, tempat kontrakan punyaku yang ditempati Rania sekarang jauh dari kata layak untuk ditempati cucu-cucuku" bu Marmi bahkan menahan tangisnya.
Raditya dan Rania saling pandang. Sebenarnya sudah ada di pikiran Raditya semenjak tadi, tapi Raditya juga tak bisa memaksa Rania untuk tak pulang ke sana.
"Bu, tapi itu yang menjadi rumahku sekarang" kata Rania menimpali.
"Rania, bukan aku tak mau menerima kedua cucuku itu. Tapi apa kamu tak kasihan kepada putra kembar kamu. Mereka prematur, bahkan berat badannya pun sangat jauh dari normal. Bukannya mereka masih rentan?" terang bu Marmi.
Rania dibuat bingung akhirnya.
"Apa sebaiknya dibawa aja ke rumah kediaman orang tua kamu?" tanya bu Marmi.
"Mereka pasti akan senang sekali menyambut kedua cucu barunya" imbuh bu Marmi.
"Benar bu, pasti mereka senang. Tapi apa kata tetangga ku nantinya? Lama tak nongol, pulang-pulang bawa anak. Dua lagi. Hatiku tak sekuat itu bu menghadapi mereka untuk saat ini" kata Rania beralasan.
Raditya masih diam, menunggu waktu yang pas untuk membawa Rania dan putra kembarnya ke apartemen yang baru dibelinya bersama Beno.
"Begini saja. Pikirkan besok aja gimana?" sela Raditya menimpali.
Bu Marmi dan Rania menoleh ke Raditya yang barusan selesai berucap.
"Enak aja dibicarakan besok. Harus sekarang" kata Rania.
"Biar persiapannya matang" bu Marmi pun ikutan.
"Apanya yang disiapkan bu?" tanya Raditya pura-pura bego.
"Ruangan untuk kembar, tuan Raditya" tukas bu Marmi.
"Begini aja dech, kalau memang tak dibawa ke kontrakan karena alasan lingkungan yang kurang mendukung dan tak mungkin dibawa pulang ke rumah ayah karena tetangga julid. Usul nih, kalau kalian setuju" ujar Raditya menghentikan kalimat di tengah-tengah.
"Apa?" seru Rania dan bu Marmi bersamaan.
"Bawa pulang aja ke rumahku" kata Raditya enteng.
"Apa????" mereka berdua masih saja kompak menyerukan kata itu.
"Bukannya anda masih tinggal di hotel tuan?" tanya bu Marmi.
"Untuk hari ini iya, tapi kalau si kembar besok boleh dibawa pulang otomatis aku juga pulang ke rumah" terang Raditya tanpa rasa bersalah.
"Orang kaya mah bebas ya tuan" olok bu Marmi sembari terkekeh.
Raditya hanya mengusap tengkuknya mendengar gurauan bu Marmi.
__ADS_1
.
Keesokan pagi. Pagi-pagi sekali Rania telah prepare dan sudah rapi.
Rasanya tak sabar untuk menjemput putra kembarnya itu untuk dibawa pulang.
"Bu, sudah belum? Ayo berangkat!" ajak Rania pagi itu.
"Bentar, ibu ambil sesuatu dulu" tukas bu Marmi dari dalam kamar.
Rania memesan taksi online untuk ke rumah sakit, belum sampai datang tuh mobil pesenannya. Mobil Raditya telah nangkring aja di depan kontrakan Rania.
"Loh, kok sudah datang tuan?" tanya bu Marmi yang keluar rumah terlebih dahulu.
"Rania mana?" tanya Raditya.
Belum sampai jawaban terucap dari mulut Bu Marmi, Rania telah keluar dari rumah kontrakan kecil itu.
"Nggak jadi nanya bu" canda Raditya.
Bu Marmi yang baru naik mobil mewah pertama kali, "Kapan bisa naik mobil seperti ini lagi, hawanya sejuk baunya harum" puji bu Marmi.
"Kalau mau, akan kuantar bu" sela pak Supri di sampingnya.
Raditya sengaja minta antar pak Supri, agar saat nanti si kembar boleh pulang dirinya bisa menggendong gantian sama Rania.
"Kenalan dulu bu. Namanya pak Supri. Pak Supri ini pegawai setiaku, yang selalu mengantar kemanapun aku pergi" kata Raditya dari bangku belakang.
"Oooooo..." tukas bu Marmi.
"Kalau anda namanya siapa?" tanya pak Supri.
"Marmi pak" jawab bu Marmi.
"Jangan panggil pak dong, berasa tua gue" seloroh pak Supri.
"Panggil nama aja, bukannya kita sepantaran" pinta pak Supri.
Sementara Raditya dan Rania saling diam, dan menikmati obrolan receh antara pak Supri dan Bu Marmi.
"Semoga mereka berjodoh. Aamiin" gumam Raditya.
Barulah Rania menengok ke arah Raditya, "Seperti kita" imbuh Raditya.
.
Di ruang bayi, kebetulan dokter Andah juga berada di sana. Entah apakah dia sengaja menunggu kedatangan Raditya langsung.
"Silahkan tuan Raditya" sapanya ramah menyambut papa si kembar. Untuk mama kembar sih, biasa aja sambutanya.
"Bun, kamu lihat dulu kembar. Aku akan ke admin untuk nanyain biaya nya" kata Raditya sengaja mengeraskan panggilan 'Bun' untuk memanggil Rania.
"Iya, jangan lama-lama" tukas Rania menimpali.
Sepeninggal Raditya yang keluar lagi dari ruang bayi, dokter Andah sengaja mendekati Rania.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1