
Raditya berangkat ke perusahaan diantar oleh pak Supri.
"Pak, tungguin. Aku nggak akan lama" bilang Raditya saat dalam perjalanan.
"Siap tuan muda" tukas pak Supri.
Raditya kembali fokus dengan ponsel yang dipegang olehnya.
Banyak notif pesan yang terlalu lama dibiarkan Raditya.
Bahkan dirinya terlupa ngabarin tuan Andrian dan nyonya alias papa mamanya untuk datang di week end besok sesuai permintaan mereka sebelumnya.
Sebenarnya tanpa Raditya suruh, kedua orang tua Raditya tetap akan menemui kedua orang tua Rania. Ternyata Raditya malah sudah mendapatkan restu duluan.
"Jiaaahhh, kok aku sampe lupa sih" ujar Raditya menggerutu dalam gumaman.
Masih di jalan, Raditya menekan ponsel nomor milik tuan besar. Begitulah Raditya menamai kontak tuan Andrian.
Agak lama Raditya menunggu, barulah panggilan itu terangkat saat Raditya sudah turun di lobi.
"Pah, jangan lupa datang lagi ke kota ini" suruh Raditya.
"Acara lamaran kan? Tentu papa tak akan lupa" bilang tuan Andrian.
"Nggak lamaran Pah, langsung akad" terang Raditya berikutnya.
"Untuk apa pake lamaran, nyatanya sudah muncul Raditya yunior. Dua malah" imbuh Raditya tergelak.
"Oke papa sama mama akan ke sana. Urusan perusahaan bagimana? Oh ya Raditya ada info penting yang akan kusampaikan" kata papa.
"Apa?" telisik Raditya.
"Papa pusing, tuan Rahardian akan menarik sahamnya di Samudera. Dan dia sepertinya mempengaruhi dewan direksi yang lain untuk mengikuti langkahnya" terang tuan Andrian.
"Seberapa besar pengaruhnya Pah?" tukas Raditya.
"Besar banget, dia sendiri aja punya dua puluh persenan. Belum beberapa yang lain ikut. Tentu itu akan berpengaruh kepada nilai saham perusahaan dan kepercayaan investor kepada perusahaan kita" lanjut tuan Andrian.
"Apa tahu alasannya dari tuan Rahardian?" telisik Raditya.
"Heemmmm dari gosip yang beredar sih karena sudah tak percaya dengan perusahaan Samudera" bilang papa.
"Apa ada dendam pribadi salah satunya pah" Raditya terus berjalan ke ruang direktur yang ditempatin Dimas sebelumnya.
Raditya berpikir, dari yang awalnya marah-marah dan mengancam Raditya akan menarik saham tapi tidak jadi dilakukan saat Raditya memutuskan tunangan dengan putri tunggalnya. Kenapa sekarang tuan Rahardian berulah lagi? Pikir Raditya.
"Pah, apa Vero sudah menikah sekarang?" tanya Raditya. Karena saat itu Raditya mencoba mengintimidasi tuan Rahardian atas kehamilan di luar nikah yang dialami oleh Veronica.
"Kenapa kamu tanyain itu? Awas saja kamu balikan" tukas papa penuh selidik.
"Issshhh, apaan sih Pah. Ya enggak lah" tolak Raditya mentah-mentah sembari menaruh pantat di kursi tamu yang ada di ruang direktur itu.
"Lantas karena apa?" papa masih aja curiga.
Raditya pun mengatakan ancamannya saat itu. Berarti dengan menikahnya Vero, ancaman Raditya menjadi tak akan berguna sekarang.
"Ooooo aku paham sekarang. Kita harus bersiap dengan kudeta tuan Rahardian cs" beritahu papa.
__ADS_1
"Siap Pah. Dana talangan siap dikeluarkan?" tanya Raditya.
"Kamu pikirin aja rencana kamu di akhir minggu ini. Setelah itu balik sini dan bantu papa" terang papa.
"Loh, terus penthouse yang barusan aku beli apa kabar?" Raditya membego karena barusan juga memberitahu Rania akan tinggal di sana setelahnya.
"Oooooohhhh nggak bisa begitu. Enak aja kamu hanya ngurusin perusahaan kecil itu. Sementara urusan yang di sini membuat papa pusing. Pusing ini musti dibagiin juga sama kamu Raditya" ulas papa.
"Terserah papa dech. Terus apa kabar perusahaan aku sendiri yang tak pernah kulihat" kata Raditya menepuk jidat.
"Masih jalan kan? Kalau ada kemungkinan gabung, gabungin aja tuh sama Samudera sekalian" kata tuan Andrian seakan menggabungkan dua perusahaan sama aja dengan menggabung nasi sama lauk dalam satu sendok.
"Gue tolak dong. Kalau tuan Rahardian jadi narik sahamnya, aku yang akan membelinya" ucap Raditya.
"Issshhh sombong kau" kata tuan Andrian tergelak. Raditya pun begitu.
Siang hari ini Raditya memanggil kembali staf direksi yang kemarin diajak rapat mendadak.
Raditya akan memutuskan hari ini, kerja mereka akan dilanjut ataukan diputus sementara.
Saat ini Raditya masih menunggu kedatangan Beno yang tadi ngasih kabar kalau masih berada di depan penyidik untuk memberikan keterangan.
"Siang bos" sapa Beno dan duduk begitu saja di depan Raditya.
"Gimana?" ucap Raditya menyambut kedatangan Beno.
"Apanya yang gimana?" tanya Beno pura-pura tak tahu arah pembicaraan sang bos.
"Hasil loe dari penyidik lah?" tukas Raditya.
Raditya mengernyitkan alis. Apa ini ada kaitannya dengan penarikan saham Rahardian? Pikir Raditya. Atau bisa jadi Dimas bersembunyi dengan perlindungan dari tuan Rahardian.
"Perusahaan yang didirikan Dimas bagaimana?" tanya Raditya ke Beno.
"Kok nanyanya ke sana?" tukas Beno.
"Perusahaan itu terpengaruh nggak, karena bos nya melarikan diri?" sahut Raditya.
"Sepertinya aman-aman saja. Dan disinyalir ada aliran dana besar masuk ke perusahaan baru itu" terang Beno.
"Cepat juga informasi yang kamu dapat Beno" puji Raditya.
"Beno gitu loh" tanggap Beno sombong.
"Oh ya, ada info yang pasti kau kepo bila mendengarnya" lanjut Beno.
"Apaan?" sela Raditya.
"Nah kan benar, kepo duluan" olok Beno sembari terbahak.
"Istri Mahendra akan melahirkan" ujar Beno memberitahu Raditya.
"Ya biarian aja. Itu kan urusannya Mahendra bro" sahut Raditya menimpali.
"Ya kali aja kamu akan bantu dia lagi seperti acara pemakaman kemarin" imbuh Beno.
"Itu lain cerita bro, kalau kemarin semua masih ada kaitan dengan Rania" terang Raditya sengit.
__ADS_1
"Sekarang ceritain tentang Mahendra saat bersama penyidik tadi" kata Raditya beralih topik.
"Masih sama dengan yang lain, statusnya masih sebagai saksi. Tergantung kamu bos, sekalian nglaporin mereka semua atau hanya Dimas aja. Kalau mereka semua, ya tinggal menunggu waktu aja mereka terciduk" imbuh Beno.
"Heemmmmm" Raditya mengangguk tanda mengerti.
"Kita ajak main-main dulu aja mereka. Setelah puas, baru biarkan mereka meringkuk di balik jeruji besi" tandas Raditya.
"Terserah kau saja bos" tukas Beno menimpali.
"Abis ini kamu panggil dech staf direksi yang kemarin" perintah Raditya.
"Untuk?" tukas Beno yang memang belum diinfo Raditya sebelumnya.
" Seperti yang kamu bilang kemarin, aku akan menonjobkan mereka. Dan untuk sementara mereka semua akan kuistirahatkan sampai mereka mengakui semua perbuatannya" jelas Raditya.
"Orang-orang seperti mereka tak akan kapok kalau hanya diberi efek jera. Kalau boleh aku saranin, skalian aja jeblosin ke bui" ulas Beno.
"Ha...ha...terlalu mudah bagi mereka Beno. Mereka harus dibuat menderita dulu di luar penjara" imbuh Raditya. Beno yang sudah tahu karakter Raditya hanya bisa menyetujui keinginan sang bos. Raditya yang jika sudah tidak suka kepada seseorang, akan membalas semau hati Raditya.
Beno memanggil staf direksi yang kemarin dikumpulkan.
"Kali ini kita dikumpulin untuk apa lagi? Seperti kita kurang kerjaan saja" gerutu salah satunya.
"Iya nih, padahal pekerjaan kita bejibun. Belum lagi kita harus ngabarin tuan Dimas tiap sejam" bisik yang lain.
"Husssstttt, jangan keras-keras.Kedengaran tuan Raditya bisa habis kita" tukas yang lain, masih dengan saling bisik.
Beno yang berada di balik pintu, mendengar semuanya.
"Sialan kalian semua. Berani-beraninya menikung Samudera, yang nyata-nyata telah memberi penghidupan buat kalian" umpat Beno dalam hati.
Raditya masuk diiringi Beno.
Aura dingin langsung terpancar dari wajah Raditya dan Beno, membuat staf direksi yang hadir hanya bisa menundukkan muka tak berani menatap.
"Letakkan ponsel kalian di meja" perintah Beno.
"Untuk apa tuan? Ini privacy kami" kata salah satu dari mereka. Sepertinya dia menolak melakukan itu.
"Cukup sekali aku berucap" tegas Beno.
Akhirnya mereka mau meletakkan satu persatu ponselnya. Hanya satu yang masih menolak dengan alasan yang sama. Privacy.
"Kamu yang pertama. Buka log panggilan kamu" perintah Beno kepada staf yang menolak tadi.
"Saya tetap menolak tuan" katanya menimpali.
"Cih, apa kau takut riwayat panggilan dan chat kamu kepada Dimas akan diketahui olehku" ucap sinis Beno dan membuat yang lain terkejut.
"Dan selamat, mulai siang ini kalian semua akan kunonaktifkan sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Dan perlu kalian ketahui, tidak ada satu perusahaan manapun yang akan menerima kalian bekerja di perusahannya" jelas Raditya dengan bertepuk tangan.
Mereka masih terdiam dan beluk bersuara.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading
__ADS_1