
Dua hari sesudahnya, keputusan sudah diambil.
Atas pertimbangan tim legal dan juga divisi keuangan, Samudera Grub akan berinvestasi di perusahaan milik Vero.
Tapi sesuai keputusan Raditya untuk tetap mendapatkan nilai saham dari perusahaan itu.
Bahkan nilai uang yang dikeluarkan sepadan dengan sepuluh persen dari nilai saham keseluruhan.
Kini Raditya sebagai pemegang saham kedua terbesar di perusahaan milik Vero.
"Selamat bos" kata Beno pagi-pagi.
"Untuk?" tukas Raditya.
"Berhasil mengakuisisi perusahaan mantan tunangan bos" seru Beno.
"Sepuluh persen Beno, bukan lima puluh persen" jelas Raditya.
"Sama aja bos" Beno pun terkekeh.
"Beno, besok aku mau sowan ke mertua. Rania kangen mau tengokin Chiko juga" bilang Raditya.
"Kok buru-buru amat bos? Kenapa nggak weekend aja. Aku juga mau nganterin Siska ke sana" beritahu Beno.
"Kasihan Celo dan Cio kalau langsung pulang pergi. Capek di jalan" terang Raditya.
"Benar juga. Kan rombongan bos sekarang rombongan besar" tukas Beno bercanda.
"Bilang aja rombongan sirkus. Gitu kan maksud lo" kata Raditya menimpali.
"Bukan gue loh bos yang bilang. Tapi bos sendiri" Beno menanggapi.
.
Keesokan hari, seperti yang dikatakan Raditya kemarin.
Dengan senangnya Rania prepare untuk balik ke kota kelahirannya.
"Lama juga tak ke sana ya bu Marmi. Senangnya" ujar Rania saat membantu bu Marmi menyiapkan perlengkapan Celo dan Cio.
Bu Marmi seperti halnya Rania, "Aku nanti mau menginap di rumah saja, saat di sana. Aku juga mau nengokin toko kelontong kamu Rania" kata bu Marmi. Toko kelontong yang kini ditunggui oleh keponakan bu Marmi.
Seperti sebelumnya ada tiga rombongan mobil beriringan menuju kota kelahiran Rania.
"Tuan muda, sudah dengar berita belum?" sela pak Supri sambil fokus menyetir.
"Apa?" tanggap Raditya.
"Mereka-mereka yang ditangkap beberapa bulan yang lalu hari ini vonis telah dijatuhkan" beritahu pak Supri.
"Iya kah?" Raditya menimpali.
"Benar tuan. Vonisnya nggak ada yang ringan. Semua di atas sepuluh tahun" imbuh pak Supri.
"Sepadanlah sama perbuatan mereka" tukas Raditya.
"Siapa pak? Yang dihukum. Kok lama?" sela bu Marmi yang memang jarang mengikuti berita.
"Mahendra dan kawan-kawan bu" Rania ikutan menjawab.
__ADS_1
"Oalah. Syukurin, biar mereka semua kapok" kata bu Marmi.
.
Sementara itu di tempat tinggal Riska. Riska baru saja terbangun dari tidur, setelah menjelang pagi tadi barusan sampai rumah.
"Badanku rasanya remuk sekali. Padahal sudah tiga hari ini aku nggak dapat mangsa" gumam Riska beranjak hendak mengambil minum di dapur.
Sambil memijat kepalanya yang pusing, Riska menyandarkan tubuhnya di kulkas besar itu.
"Kenapa nih kepala? Semalam juga normal-normal aja" seru Riska.
Riska menelpon Alex, ingin minta dianterin ke dokter karena keluhannya semakin menjadi.
"Kenapa?" tanya Alex tak sampai lima belas menit sudah sampai tempat tinggal Riska.
"Anterin gue ke dokter. Pusing banget nih kepala" keluh Riska.
"Riska, lo haidkah?" tanya Alex biasa aja. Karena melihat sedikit darah di baju bawah Riska.
"Nggah tuh" jawab Riska.
"Cek aja ke kamar mandi sana...! Aku nggak mau mobil aku kotor" seru Alex.
"Lagak lo bro, bukannya mobil tuh hibahan dari mantan istri lo" olok Riska ke Alex.
Olokan Riska membuat Alex sewot.
"Nggak kuanterin nyahok lo" bilang Alex.
"Yeeeiiii ada taksi online" tukas Riska menimpali.
"Kok aneh, barusan aku selesai haid beberapa hari yang lalu. Kenapa sudah datang lagi aja sih?" gerutu Riska, karena malam ini dia ada tamu penting.
Dengan diantar Alex, Riska pergi ke dokter. Selama diperiksa, Alex menunggu di luar ruang periksa mondar mandir menunggu Riska keluar.
"Nyonya, apa akhir-akhir ini anda mengalami keputihan?" tanya sang dokter dan Riska pun mengangguk.
"Bau?" tanya dokter kembali.
Kembali Riska mengangguk.
"Maaf nyonya, ini pertanyaan yang sensitif. Tolong dijawab jujur. Dan juga keterkaitan dengan perkiraan diagnosa atas keluhan yang anda sampaikan" tegas dokter itu.
Riska pun mengangguk untuk yang ketiga kalinya.
"Apa anda sering ganti partner ***?" tanya dokter itu.
Tanpa rasa ragu dan malu, Riska membenarkan apa yang dikatakan oleh dokternya.
"Sudah aku jawab semua dok. Intinya aku ini sakit apa?" sela Riska.
"Masih butuh satu kali pemeriksaan. Jika hasil jadi tolong dibawa kemari ke sini lagi nyonya" terang sang dokter sambil menuliskan surat pengantar laboratorium.
"Baik" tukas Riska.
Dan kertas resep pun juga diterima oleh Riska.
"Alex kita ke laborat sekalian. Aku ingin segera tahu, aku ini sebenarnya sakit apa" bilang Riska saat dirinya barusan keluar ruang periksa.
__ADS_1
"Emang dokter nya nggak kasih tahu?" bilang Alex.
"Masih nunggu hasil laborat dulu" tandas Riska.
Dengan diantar Alex, Riska langsung ke laborat yang direkom oleh dokter yang tadi.
Meski tak nyaman, Riska menyetujui saja prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan oleh petugas laborat.
"Nyonya Riska, hasil akan kami infokan jika sudah jadi" kata petugas itu menjelaskan.
"Loh, apa nggak bisa langsung jadi kak? Tau gitu aku ke laborat yang lain aja" kata Riska komplain.
"Aku rasa semua laborat akan sama prosedurnya. Butuh waktu lima sampai tujuh hari untuk mengeluarkan hasil" terang analis laborat itu.
"Hhmmm baiklah. Akan aku kutunggu dengan sabar" kata Riska meski dengan suara ketus.
Riska menuju mobil Alex.
"Gimana? Sudah jadi? Apa hasilnya" tanya Alex.
"Hhmmm masih seminggu lagi" imbuh Riska.
"Lama juga ya?" tukas Alex.
"Oh ya, kita main aja yuk. Tiga hari nggak gue keluarin, kepala gue pusing nih" keluh Alex.
"Emang gue penampungan lo" kata Riska menolak kemauan Alex.
"Ayolah Riska. Gue tahu lo butuh pelampiasan" seru Alex.
"Lo kan tahu Lex, gue lagi datang bulan. Masak diterjang aja" ulas Riska.
"Kan masih banyak jalan menuju Roma. Polos amat sih lo" imbuh Alex.
"Dasar g1g*l* tak jelas" umpat Riska.
"Come on Riska" rengek Alex.
"Ogah Lex, nanti malam gue ada klien. Gue nggak mau ngecewain. Barangkali aja orang ini bisa kujadiin atm buat kedepannya" Riska berangan-angan.
"Matre!" olok Alex
"Ha...ha...kalau bisa matre kenapa enggak?" tukas Riska terbahak.
.
Iring-iringan mobil Raditya sampai di apartemen yang dibeli Raditya saat akan menikahi Rania.
Butuh empat jam perjalanan untuk sampai.
"Istirahat aja dulu. Kasihan kalau langsung ngajakin Celo dan Cio ke rumah Opa Omanya" saran Raditya.
"Iya, aku juga capek" tukas Rania menyetujui apa kata sang suami.
Sementara itu bu Marmi dan pak Supri langsung pamitan. Mereka mau menginap di kediaman bu Marmi yang beralih fungsi jadi kos-kosan itu. Bisnis kontrakan bu Marmi pun sampai sekarang masih jalan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading
__ADS_1