
"Kita ini sebenarnya mau ke mana sih?" tanya Rania penasaran.
"Heemmm kalau kuberitahu sekarang, bukan kejutan namanya yank" seru Raditya.
"Ku kan juga ingin tahu" sambut Rania.
"Tinggal lima jam lagi, ntar juga akan tahu" jawab Raditya tetap saja tak mau menjawab.
"Sudah capek nih pinggang yank, duduk melulu" kata Rania.
"Sini kubenahin" Raditya membenarkan posisi tempat duduk agar sang istri nyaman.
"Lumayan" bilang Rania.
Bukannya rebahan, Rania malah ambil alat pumping.
"Penuh lagi?" tanya Raditya. Rania pun mengangguk.
"Enakan diisep langsung yank, rasanya langsung lega" seru Rania.
"Aku bantuin mau?" tawar Raditya nakal.
"Isssshhh. Maksud aku diisepin Celo dan Cio" tukas Rania.
"Ha...ha..." Raditya tertawa.
Semua hasil pumping pun disimpen oleh Rania dalam wadah khusus. Tak ada cerita buang-buang air susu. Raditya sampai dibuat heran. Padahal kalau mau, Raditya mampu beliin susu buat anak-anaknya. Tapi Rania selalu menolak. Air susu ibu tetap yang terbaik.
Rania dibangunkan sang suami kala masih nyenyak tidur, bahkan hadir Celo dan Cio di mimpinya.
"Yank....sayang....bangunlah. Sudah sampai nih" Raditya menggoyang pelan tubuh Rania.
"Sampai mana?" tanya Rania.
"Kok sampai mana, sampai tempat honeymoon kita lah" bilang Raditya.
"Jangan bilang kalau kamu ngajakin aku liburan di kutub ya yank. Dingin...berrrrrrrr" Rania memang kedinginan sekarang.
Raditya mengambilkan selimut tebal untuk sang istri. Perjalanan yang hampir seharian, mungkin membuat Rania lelah.
"Katanya sudah sampai? Kok nggak turun?" seru Rania.
"Bentar lagi kita landing" kata Raditya.
Dan benar apa yang dikatakan Raditya, sesaat sesudahnya ada pemberitahuan kepada para penumpang agar bersiap karena pesawat akan segera turun.
Rania yang jarang-jarang naik pesawat, sekalinya terbang langsung dengan jarak tempuh hampir seharian.
"Ayo!" ajak Raditya merentangkan salah satu tangan untuk membantu sang istri beranjak.
"Makasih" tukas Rania setelah membetulkan tata rambutnya.
"Ini di mana yank?" tanya Rania yang saat ini berada di pintu pesawat.
Sebuah bandara internasional yang sangat besar terlihat di depan mata.
"Welcome to Capetown, South African" ujar Raditya.
"Afrika Selatan?" kata Rania berasa mimpi.
Mimpi aja sebelumnya tak berani Rania impikan, tapi sang suami malah membawanya ke tempat yang kata orang merupakan salah satu tempat dengan destinasi wisata terbaik dunia.
Raditya mengangguk.
Rania memeluk sang suami, karena sangat senang.
Raditya bahagia, karena semakin ke sini wajah muram istrinya telah banyak berubah.
"Nggak turun nih? Penumpang yang lain antri lewat tuh" canda Raditya. Padahal Raditya dan Rania lah yang turun paling belakangan.
Naik dengan tiket first classs, tentu saja ada prioritas tersendiri untuk mereka.
__ADS_1
Bahkan saat keluar dari pintu bandara, sudah ada yang menyambut khusus kedatangan Raditya dan Rania.
"Mereka memjemput kita?" tanya Rania kearah sang suami karena ada yang menuliskan nama mereka di sebuah papan penyambutan.
"Hemmmm, mereka yang akan mengantar kita ke hotel" beritahu Raditya.
"Ooooooo" Rania hanya ber'o' ria.
Raditya yang sangat pandai cap cip cis bahasa Inggris tentu saja tak kesulitan dengan mereka. Kalau Rania, hanya menanggapi bengong obrolan Raditya dengan penyambutnya itu.
"Apa kata mereka?" seru Rania.
Dengan sabar Raditya menjelaskan, "Mereka lah yang akan mengantar kemanapun kita pergi" terang Raditya.
"Pulang ntar, sebaiknya belajar english dech yank" saran Raditya.
"Nyindir nih?" tukas Rania.
"Enggak sih. Tapi niatku tadi sih cuman ngolok kamu aja" sambung canda Raditya.
"Sama juga bohong" sewot Rania. Tapi dalam hatinya sih membenarkan apa kata suaminya.
Raditya mengusap puncak kepala sang istri.
"Sori, bukan maksud menyinggung kamu sayang. Tapi suatu saat jika anak-anak besar dan kuliah di luar negeri. Kamu akan tahu berapa besar manfaatnya" terang Raditya.
"Siapa yang tersinggung? Aku mau banget malah kalau di les in...he...he...." kata Rania tertawa.
"Eh, kirain salah sangka?" tukas Raditya ikutan tertawa.
Lagi-lagi Rania dibuat kagum dengan kemewahan hotel bintang lima di depannya.
"Kita nginap di sini?" tanyanya.
"Iya dong yank, di mana lagi. Acara kita hari ini istirahat dulu. Besok baru jalan" bilang Raditya.
Resepsionis menyambut hangat kedatangan tamu istimewa hotelnya.
Di kamar paling atas itu Rania bisa melihat pandangan kota Cape Town, kota dengan sejuta pesonanya.
"Nggak nyangka, aku bisa sampai sini" gumam Rania.
Raditya memeluk sang istri dari belakang. Rania pun ikut menggenggam tangan sang suami yang memeluknya.
"Makasih atas semua yang telah kamu berikan sayang. Aku tak akan mampu membalasmu" kata Rania.
"Rasa cinta tulus dan perhatian kamu untuk aku dan anak-anak sudah cukup sayang" bisik Raditya.
.
Sementara itu di belahan dunia lain, di kota tempat Rania berasal.
Riska terlonjak kala ponselnya berdering dengan keras.
Mommy calling.
"Halo Mom" suara Riska masih terdengar malas.
"Riska, di mana kamu?" tanya Mommy.
"Mom, aku kan sudah ijin. Mau ngikutin sidang vonis suami yang sebentar lagi jadi mantan aku" seru Riska.
"Kok belum balik. Ntar malem ada yang nungguin kamu. Sepertinya dia suka sama servis kamu sebelumnya" bilang Mom.
"Mom, aku masih capek. Besok aku masih mau nemuin Mahendra buat kasih surat gugatan yang aku ajuin" terang Riska.
"Oke, setelah kamu selesai lekas balik. Loe bakalan nyesel kalau sampai nggak datang besok" ancam mommy dan langsung memutus panggilannya.
Riska terduduk dan meraih sigaret yang ada di atas nakas. Sambil menyilangkan kaki dia hirup batang sigaret yang telah dia nyalain. Asap mengepul dari mulut Riska.
Baru juga menikmati setengah batang, ponselnya kembali bunyi.
__ADS_1
"Issshhhh, siapa lagi sih?" ujar Riska bermonolog.
"Andah?" alis Riska menaut.
"Halo" sapa Riska.
"Loe di mana? Gua butuh bantuan loe nih" bilang Andah.
"Tumben?" seru Riska, karena memang tak biasanya dokter itu menghubungi dirinya setelah kejadian waktu itu di rumah sakit.
"Di mana loe? Kita ketemuan" ajak Andah.
"Sori, gue lagi di kota asal" jawab Riska.
"Oke, kalau loe balik hubungin gue" kata Andah.
"Sori, gue sibuk" jawab Riska dan menutup panggilan Andah. Yang menurut Riska, tak ada untungnya lagi sekarang berhubungan dengan dokter itu.
Riska melanjutkan menghisap sisa batang yang dinyalakannya tadi.
"Huh, bikin kesal saja" gerutu Riska terhadap Andah.
Pagi sekali Riska sudah bersiap untuk menemui Mahendra, tekadnya sudah bulat untuk memutuskan ikatan suci pernikahannya dengan Mahendra.
"Maaf pak, saya ingin bertemu dengan tuan Mahendra" kata Riska.
Mata petugas itu bagai mata kucing yang tajam menatap Riska.
Senyum menggoda pun ditampakkan oleh petugas itu.
Tanpa risih Riska pun membalas tatapan nakal sang petugas.
"Dua puluh juta" kata Riska sambil berbisik ke telinga petugas itu. Dan yang dibisikin pun langsung terhenyak kaget.
Riska menatap sinis, "Makanya kalau tak punya uang jangan neko-neko. Ingat istri dan anak kamu menunggu" kata Riska ketus.
"Cepetan kamu panggilkan tuan Mahendra. Waktu saya sangat berharga" lanjut Riska dengan nada masih sama.
Tak lama Mahendra muncul dari balik pintu ruang kunjung itu.
"Kalau kamu ke sini tak bawa uang yang kuminta, mendingan kamu balik aja" sergah Mahendra.
"Akan kuberikan. Uang lima puluh juta tak ada artinya bagiku" kata Riska dengan pongah.
"Apa yang kamu kerjakan di luaran sana? Aku dengar kamu juga dipecat dari tempat kerja. Apa kamu jual diri?" kata Mahendra tajam setajam silet.
Tapi bagi Riska itu hal yang biasa. Sudah biasa menghadapi ucapan-ucapan Mahendra. Riska pun tersenyum sinis.
"Emang kenapa kalau aku jual diri? Apa harga diri kamu sebagai seorang suami akan jatuh?" tandas Riska.
"Makanya sebelum harga diri kamu jatuh, tanda tangani ini" suruh Riska sembari menyodorkan selembar kertas untuk ditandatangani Mahendra.
"Apa ini?" tanya Mahendra.
"Persetujuan kamu atas gugatan cerai yang aku ajukan" terang Riska.
"Aku tak mau" tolak Mahendra mentah-mentah.
"Kalau kamu tak mau, lima puluh juta jangan harap sampai di tanganmu" ancam Riska.
"Akan kutandatangani jika kamu berikan uang yang saat itu aku berikan" tandas Mahendra.
"Cih..." umpat Riska.
"Kamu tetap saja mata duitan Mahendra" seru Riska mengolok Mahendra.
"Terserah apa kata kamu, yang penting uang aku balik dulu. Dan jika kamu menentang, akan kupersulit saat kamu tetap mengajukan gugatan cerai" kata Mahendra mengancam balik Riska.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1