
Beno menjalankan misi yang sebelumnya diusulkan Raditya.
Di lapas, pagi itu sudah berhadapan Beno dan Mahendra. Mereka saling menatap tajam.
"Ada apa asisten tuan muda yang terhormat? Pagi-pagi sudah menyempatkan datang untuk menemui ku yang hina ini" kata Mahendra ketus.
"Aku akan menawarkan sesuatu" kata Beno langsung pada intinya.
"Ha...ha...apakah jalanmu sudah buntu tuan Beno untuk memenjarakan kita semua? Atau bukti yang kamu berikan masih kurang?" sindir Mahendra.
"Cih, banyak jalan menuju Roma tuan Mahendra. Aku menawarkan ini karena kasihan sama kamu yang mungkin sedang butuh biaya pengobatan anak kamu" ucap Beno menanggapi.
"Kalau aku menolak???" kata Mahendra seakan menantang Beno.
"Kami pun tak rugi" ucap Beno sekenanya.
"Lantas kenapa kalian memberiku sebuah penawaran?" sambung Mahendra.
"Itu kan kalau kamu mau. Kalau kamu tolak pun kita tak dibuat rugi" ujar Beno.
"Apa yang harus kulakukan?" Mahendra mulai terpancing.
"Cukup kamu buka kejahatan Dimas" kata Beno serius.
Mahendra menatap tajam Beno.
"Apa imbalan buat kalian semua, sampai mau-maunya menutupi kejahatan Dimas yang sangat merugikan perusahaan? Apa kalian dibayar mahal?" picing netra Beno.
"Aku rasa enggak" sambung Beno meneruskan kata-katanya.
"Atas dasar apa kamu bisa menilai?" tukas Mahendra.
"Kalau kamu memang dapat banyak dari Dimas, mobil yang kamu pakai aja tak ganti. Masih keluaran lima tahun yang lalu. Kamu tak punya aset lain kan selain rumah dan mobil itu? Rumah yang bahkan diangsur dengan hasil jerih payah mantan istri kamu" olok Beno dengan telak.
Mahendra kembali menatap tajam Beno.
"Bagaimana? Mau kerjasama? Selain dapat uang, laporan atas kejahatan kamu menjebak bos ku pun akan dicabut" terang Beno.
"Apa alasannya mencabut laporan itu. Padahal aku akan menghadapi tuntutan berat, jika laporan bos kamu bisa dibuktikan?" tanya Mahendra heran.
"Aku mewakili bos mengucapkan terima kasih padamu, karena dengan jebakan kamu itu. Bos menemukan sebuah berlian di antara timbunan pasir" ujar Beno menjelaskan.
Mahendra mengepalkan erat tangan nya di bawah meja. Ucapan Beno barusan seakan memprovokasi dirinya.
"Bagaimana? Apa kamu ingin di penjara lebih lama? Maka tolak lah penawaran ini" ejek Beno sembari beranjak.
Melihat Mahendra yang jual mahal, Beno sengaja menarik tawarannya dan mengulur waktu. Dan akan membuat Mahendra seakan-akan yang membutuhkan kerjasama ini.
"Baiklah, aku rasa cukup bagimu untuk berpikir. Aku pergi" Beno beranjak dari duduk hendak meninggalkan ruangan jenguk di lapas itu.
Saat kaki Beno hendak keluar pintu, "Tunggu!!!" terdengar suara Mahendra menghadang Beno untuk pergi.
Beno menghentikan langkah.
__ADS_1
"Aku setuju penawaran kamu" kata Mahendra.
"Yang mana?" Beno sengaja memancing Mahendra.
"Saksi untuk kembali membuka kasus tuan Dimas" ujar Mahendra.
"Heemmmm...baiklah" senyum smirk nampak di sudut bibir Beno.
'Umpanku kena juga' batin Beno tertawa.
"Lantas apa jaminannya jika aku telah melakukan semua yang kamu minta?" tandas Mahendra.
"Laporan atas dirimu tentang jebakan itu akan langsung dicabut oleh tuan Raditya" beritahu Beno.
"Apa perlu hitam di atas putih? Akan kusiapkan sekarang" sambung Beno.
Mahendra menggeleng lemah. Jika dia sampai meminta semua itu, andai kerjasama tak berjalan baik maka bisa membuat blunder yang merugikan Mahendra. Karena saat ini dia berada di posisi tak menguntungkan sebenarnya.
Mahendra terima kerjasama itu karena ada sedikit keuntungan yang dia dapat. Pancabutan laporan tentu mengurangi beban vonis yang akan dia terima.
Menjadi saksi untuk kasus Dimas, juga bisa mengurangi sanksi dirinya yang dituduh sebagai otak penggelapan dana perusahaan.
Meski dia menikmati, tapi tidak sebanyak yang didapat Dimas.
Kalau mau menutupi kasus ini, sebenarnya Mahendra dijanjikan uang dalam jumlah besar oleh Dimas. Yang akan didapatnya setelah ketuk palu hakim. Dimas harus mendapat kepastian terlebih dahulu jika dia aman. Makanya Mahendra musti menunggu selama itu untuk mendapatkan upah.
Karena sering mendapat desakan Riska, untuk segera mendapatkan uang maka Mahendra memutuskan alangkah lebih baik dia menerima tawaran dari Beno.
"Ubah kesaksian kamu di penyidik. Laporkan Dimas sebagai tersangka utama" kata Beno menanggapi.
"Baiklah" ucap Mahendra.
"Saat kamu berbicara ke penyidik, maka uang muka bayaran kamu akan segera aku transfer" ucap Beno menjelaskan.
"Oke, akan segera aku lakukan" tandas Mahendra. Kali ini kata-kata Mahendra terdengar lebih meyakinkan.
"Aku balik dulu. Jika sampai kamu mengkhianatiku, jangan salahkan jika aku akan jebloskan istri kamu masuk ke tempat seperti ini" ancam Beno.
Beno pergi meninggalkan Mahendra setelah mencapai kesepakatan.
.
Tepat di depan lapas, saat Beno berjalan menuju mobil yang terparkir.
Ponselnya kembali berdering.
"Wooiii kalau aku telponin, angkat dong" seru Raditya di ujung telpon.
"Isssshhhh nggak sabar amat sih? Katanya suruh ngurusin si Mahendra" jelas Beno.
"Lantas apa katanya?" tanya Raditya ikutan penasaran.
"Mahendra menyetujui apa yang menjadi tawaran kita bos" tukas Beno.
__ADS_1
"Really? Secepat itu?" sepertinya Raditya tak percaya akan hasil negosiasi Beno yang lumayan cepat mencapai kesepakatan.
"Entahlah bos. Terserah mau percaya atau tidak" kata Beno dan menutup panggilan sang bos.
Beno tak mau mendengar umpatan sang bos maka dengan segera menutup panggilan itu.
Sebuah notif pesan masuk, "Mampirlah apartemen. Bu Marmi masak enak" kata Raditya dalam ketikan seakan mau pamer pada Beno.
"Dasar bos nggak ada akhlak" gerutu Beno.
Tapi Beno tetap melajukan mobilnya ke arah di mana apartemen Raditya berada.
Ternyata yang dikatakan Raditya tak bohong. Di sana tersedia banyak menu makanan berbahan dasar kambing.
"Ada acara apa nih?" sela Beno di antara kelurga inti Raditya dan Rania.
"Aqiqahan si kembar" beritahu nyonya Andrian.
"Lounching beneran ini tante?" tukas Beno bercanda.
"Beneran lah. Kamu kira ini acara bohongan?" sambung mama nya Raditya itu.
Staf perusahaan pun tak lupa Raditya undang.
Sengaja Raditya menunggu momen ini, untuk memberikan nama ke putra kembarnya secara resmi.
Setelah mengikuti prosesi aqiqahan, si kembar kembali dibawa ke kamar untuk istirahat.
Raditya dan Rania nampak serasi dengan baju muslim warna senada.
"Kamu cantik yank" kata Raditya memuji sang istri di tengah acara.
Raditya menghampiri ustadz yang sengaja diundang olehnya untuk memberikan tausiyah keagamaan.
Acara berlangsung dengan khidmat. Beno pun mengikuti seluruh rangkaian acara.
Raditya benar-benar memanjakan Rania.
"Yank, nifas kamu selesai belum sih?" bisik Raditya di telinga Rania saat acara ramah tamah.
Semburat merah nampak di pipi Rania, "Belum kulihat lagi" jawabnya.
"Selesai acara langsung lihat ya yank. Plissss" mohon Raditya.
Rania mengangguk setelah nampak berpikir sebelumnya. Dan Raditya menanggapi dengan senyuman menggoda.
'Apa iya, harus secepat ini? Tapi Raditya memang berhak atas diriku. Dia suamiku sekarang' perang batin Rania.
'Akan aku coba terima dia apa adanya' lanjut Rania bergumam dalam hati. Berjanji untuk mulai membuka hati.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading guyyssss
__ADS_1