
Rania dibuat sibuk untuk menata oleh-oleh yang baru dibelinya siang tadi bersama sang suami.
"Paketin aja yank?" tanya Rania.
"Nggak usah repot, ntar juga ada yang bawain" jawab Raditya dengan netra masih fokus pada ponsel untuk melihat email yang masuk.
Adam mengirimkan siapa sosok Alex yang ditanyakan oleh Raditya kemarin.
"Jam berapa pesawatnya?" sela Rania, karena masih belum selesai.
"Jam berapa saja bisa. Tergantung kita selesai jam berapa" kata Raditya menjelaskan.
"Kok gitu? Bukannya jam kita terbang yang musti ngikutin" seru Rania menimpali.
"Lanjutkan saja! Mana yang belum biar kubantuin" tukas Raditya.
"Ini....ini...ini..." tunjuk Rania ke arah barang-barang yang masih berantakan dan belum tertata.
"Wah, banyaknya. Ini mau dijual lagi apa bagaimana?" canda Raditya.
"Iissshhhhh..." sungut Rania. Raditya pun terbahak.
Raditya membantu sang istri. Ada tiga koper besar sendiri untuk oleh-oleh.
Beno menelpon kala Raditya masih sibuk dengan acara membantu sang istri.
"Bos pesawat jemputan sudah siap sejam yang lalu di Cape Town. Kapten pesawat barusan ngubungin" ujar Beno memberitahu.
"Oke, aku juga sudah bersiap" jawab Raditya.
"Oke bos, hati-hati. Kutungguin oleh-olehnya" seru Beno.
Dan Raditya memutus panggilan begitu saja dengan Beno.
"Sudah Yank?" tanya Raditya kala Rania sudah menyelesaikan semua.
Karena pergi berdua, maka mau tak mau mereka berdua musti mengerjakan sendiri.
"Heemmmm" Rania pun mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, kita berangkat pulang" seru Raditya.
Raditya dan Rania telah check out dari kamar presidential suite hotel bintang lima.
Sang sopir yang setia mengantar mereka berdua ke mana-mana, nampak sudah menunggu dengan setia di lobi.
Melihat sang majikan, dia pun mengangguk hormat.
Sementara Rania, "Yank, barang-barang kita" seru Rania mengingatkan Raditya. Rania lupa lagi siapa sang suami sebenarnya.
"Nggak usah mikirin barang. Sudah ada yang ngurusin" jawab Raditya sembari meraih tangan Rania untuk digandengnya.
Sampai di bandara, Rania dibuat heran dengan jalan yang mereka lalui. Tak ada penumpang lain yang bersama dengan mereka.
"Sepi amat nih bandara. Kok beda sekali dengan waktu kita datang ya?" celetuk Rania.
"Ya pasti lah. Kita kan mau naik pesawat pribadi sayang" terang Raditya.
__ADS_1
"Oooooo...bilang kek dari tadi" Rania menimpali. Meski tak pernah naik pesawat seperti itu, tapi Rania tahu jika ada perlakuan khusus saat mereka di bandara.
Semua hasil pumpingnya pun telah dibawa Rania, tak ada yang ketinggalan.
Seperti waktu berangkat, mereka memerlukan waktu pulang kali ini hampir sama dengan keberangkatan.
"Kali ini aku mau tidur aja. Capek dan pegel semua ni badan" ujar Rania. Rania dalam seminggu ini kurang istirahat. Bagaimana bisa istirahat jika tangan usil Raditya selalu menganggunya kala tidur nyenyak. Dan selalu berakhir pergulatan.
"Tidurlah! Mau kuanterin" bilang Raditya.
"Enggak mau, aku takut lo modusin lagi" bilang Rania.
.
Riska ngikut ke mana saja saat diajak oleh sang tuan.
Hubungan saling menguntungkan tentu saja bagi Riska. Dia dapat uang yang banyak, sementara tuan XX nya mendapatkan pelayanan yang luar biasa darinya.
Entah berapa kali mereka melakukan dalam dua hari ini terakhir ini.
Ini tadi saja terpaksa terjeda karena ponsel tuan XX bunyi dan terpaksa mereka berdua harus berpakaian lagi dengan lengkap.
"Kamu ikut saja" suruh sang tuan.
"Kita mau ke mana?" tukas Riska.
"Kita musti segera balik ibukota. Ada hal urgen yang musti aku selesaikan" seru nya.
Dengan tergesa Riska mengikuti jalan tuan Rahardian yang berjalan lumayan cepat.
"Loh, kok malah naik?" tanya Riska saat di lift.
Saat di atap bangunan hotel, Riska dibuat ternganga. Di sana sudah ada pesawat heli yang menunggu kedatangan mereka.
'Waaoooowww, tangkapanku ternyata seorang paus. Meski tak semuda tangkapan Rania sih' ucap Riska dalam hati. Hatinya bersorak gembira.
"Kok diam di situ? Ayo!" serunya sembari menarik lengan Riska meski sedikit kasar.
"Tuan, nanti sampai ibukota aku ijin ke mommy dulu ya" pamit Riska.
"Nggak, kamu musti ikut aku duluan. Perkara bonus gampang lah" tolak nya saat Riska akan menemui induk semangnya.
"Beneran tuan?" balas Riska tentu saja dengan antusias.
"Heemmmm" gumam laki-laki itu.
"Asyik, makasih tuan" imbuh Riska menanggapi tanpa sungkan.
Dan benar saja, sampai ibukota Riska langsung diajak tuan baru nya untuk ikutan rapat di sebuah perusahaan yang sangat besar.
'Wah, ternyata tangkapanku kali ini tidak salah. Aku benar-benar dimanjakan olehnya' seru Riska dalam hati.
Oleh tuan Rahardian, Riska diberikan sebuah kartu sakti umlimited.
"Nih, gunakan seperlunya. Aku mau rapat dulu" ujarnya seraya melempar sesuatu. Dan dengan sigap Riska menangkap kartu itu.
"Tapi jangan lupa, mulai sekarang tak kan ada laki lain yang akan kamu layani" imbuhnya untuk mengingatkan Riska.
__ADS_1
"Asal sesuai aja tuan" jawab Riska tetap perhitungan.
"Aku bisa beri kamu apa saja, asal kamu tak khianat" tegasnya berasa mengancam Riska.
"Baiklah tuan" kata Riska berjalan menjauh dari sang tuan.
Mendingan belanja, daripada nungguin orang rapat yang tak tentu selesainya. Bisa garing nih mulut. Pikir Riska.
"Pah, tangkapan papa lumayan juga" olok Alex yang barusan datang dan menghampiri papa mertuanya yang ada di depan lift untuk bersama menuju ruang rapat.
"Kamu itu tahunya ngeledek papa mu ini. Aku akan manfaatkan dia untuk ngehancurin musuh bisnis kita" seru tuan Rahardian.
"Caranya?" tanya Alex penasaran. Alex yang menjadi menantu tuan Rahardian karena diimingi akan diberikan satu perusahaan jika mau mempertanggung jawabkan kehamilan Veronica saat itu.
"Hanya papa yang tahu" jawab tuan Rahardian.
Meski dia akrab dengan sang menantu, tapi untuk strategi bisnis tak akan dia memberitahu yang lain termasuk Alex menantu tunggalnya.
Sesuai janjinya Alex kini dipercayakan sebuah perusahaan baru yang baru didirikan tuan Rahardian.
Sebuah perusahaan yang sangat berbeda dengan perusahaan tuan Rahardian pada umumnya.
Perusahaan yang dipegang Alex bergerak dalam bidang ekspedisi atau jasa pengiriman barang.
"Lex, kamu harus bisa nyaingin perusahaan ErDua Kargo" perintah tuan Rahardian.
"Siap Pah, aku sudah punya produk yang sangat menguntungkan user. Banyak sudah pelanggan mereka yang berpindah ke kita" seru Alex.
"Bagus. Tapi siapa pemilik sebenarnya perusahaan itu?" tanya tuan Rahardian.
"Dia sangat pintΓ r membaca pasar" sambung tuan Rahardian.
"Sampai sekarang aku belum tahu siapa pemiliknya Pah" jawab Alex.
"Heemmmm" tuan Rahardian bergumam, tak puas dengan jawaban sang menantu.
"Vero apa kabar?" tanya tuan Rahardian menanyakan kabar putrinya.
"Seperti biasa Pah, suka belanja dan tetap senang pergi ke klub malam" seru Alex.
"Anak kalian?" tanya tuan Rahardian berikutnya.
"Ada, sama pengasuh" seru Alex.
Tuan Rahardian manggut-manggut. Ternyata tingkah polah putri tunggalnya tak ada yang berubah meski sudah menikah.
"Apa kamu akan membiarkannya Lex?" tanya tuan Rahardian.
"Mau gimana lagi? Vero sudah punya segalanya" tukas Alex dengan mengangkat kedua bahu seakan istrinya bukan lah tanggung jawab nya.
Tuan Rahardian tak memungkiri itu. Dan karena Veronica juga salah satu yang menjadi alasan tuan Rahardian membenci keluarga Marino. Keluarga yang menolak Vero untuk menjadi menantunya.
Rasa dendam masih terpupuk di dalam sanubarinya.
Wanita jal4ng yang dibawanya juga akan dijadikan alat untuk membantunya memuluskan rencana besarnya itu. Menjatuhkan semua usaha Samudera Grub. Dimas yang masih saudara jauh tidak bisa diandalkan lagi untuk membantunya.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
__ADS_1
to be continued, happy reading