Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Ngidam lagi?


__ADS_3

Andah langsung saja masuk ruangan Rudi kala baru datang dari rumah sakit.


"Rud, apa kamu sudah tahu kabar tentang Riska?" Andah duduk di depan Rudi alias Mahendra.


Rudi mengedikkan bahu tanda dia belum tahu.


"Riska ditangkap. Laki-laki yang bersamanya kembali dinyatakan meninggal" beritahu Andah.


Rudi pun mendongak dan menatap Andah.


"Kasus yang sama seperti sebelumnya?" komen Rudi.


"Yessss. Dan saat ini korbannya pengusaha kelas kakap. Bukannya tuan Rahardian juga mantan bos kamu?" tukas Andah.


"Yaaappp, saudara jauhnya tuan Dimas" seru Rudi.


Dimas yang barusan datang pun segera gabung.


"Semakin mudah saja langkah aku mendapatkan Vero" serunya sambil duduk di samping Andah.


"Sepertinya tak akan mudah. Ada Alex menantu nya" sela Rudi.


"Hhhmmmm laki-laki tak tahu diuntung yang hanya manfaatin hartanya Om Rahardian. Tak akan kubiarkan itu" kata Dimas dengan penuh tekanan dalam setiap ucapannya.


"Bukannya kamu juga hampir mirip sama Alex" olok Andah.


"Daripada hartanya jatuh ke Alex mendingan jatuh padaku. Ya nggak sih? Aku masih ada hubungan saudara sama Om Rahardian" kata Dimas penuh percaya diri.


Andah tersenyum sinis.


"Kamu itu sama liciknya dengan Alex bro" olok Andah.


"Makanya bantuin, jangan kuatir kalian pasti dapat bagian" tukas Dimas tergelak.


"Oke. Tapi lo juga harus bantuin masing-masing misi kita" sela Rudi.


"Istri sama anak kamu mau dikemanain? Kok malah ingin ngerebut Vero?" sela Andah.


"Ha...ha...aku sudah cerai sama istri gue. Anak gue ya ikut mama nya lah. Sekarang gue bebas buat ngedapetin Vero" sahut Dimas terbahak.


"Lo emang gila" tandas Andah.


"Sama seperti kalian" kata Dimas kembali mengolok Andah dan Rudi.


"Nggak usah bahas kemana-mana. Gimana dengan kerjasama kita? Deal?" tanya Rudi kembali fokus dengan pertemuan ini.


"Deal" bilang Dimas penuh keyakinan.


Andah pun menyetujuinya.


.


Riska baru saja selesai diinterogasi.


"Nyonya, untuk sementara anda akan berada di sini. Status anda saat ini meningkat menjadi tersangka. Jadi kami nggak bisa ngebebasin anda lagi" kata sang penyidik.


"Oh ya, anda bisa menunjuk seorang lawyer sebagai pembela anda" imbuh penyidik itu saat akan berlalu keluar ruangan.


"Makasih" tukas sinis Riska.


"Enak aja kalau ngomong. Uang darimana buat bayar lawyer" gerutu Riska.


Riska pukul-pukul kepalanya.


"Sial...sial... Kapan dapat tangkapan gajah, pasti berujung mati" umpat Riska dalam gumam.


Meski lirih ternyata cukup mengganggu penghuni yang lain.


"Heh, bisa diam nggak lo. Berisik!!!" seru nya.


"Kalau nggak mau dengar, tutup aja telinga lo" tukas Riska ngegas. Mana mau Riska mengalah meski dengan sesama penghuni bui itu.


Wanita dengan penampilan laki itu mendekat.


"Cih, berani juga kamu membentak aku. Emang lo siapa? Kena pasal apa lo?" tandasnya mengintimidasi.


"Pasal tiga tiga delapan" seru Riska menjawab.


"Ha...ha...berat juga tuduhan yang ditimpakan pada lo. Tampang begitu, tapi sadis juga" tukasnya terbahak menanggapi ucapan Riska.

__ADS_1


"Malah ketawa, aneh" bibir Riska mengerucut sinis.


"Nyonya Riska, ada kunjungan" bilang petugas jaga memanggil Riska.


"Baru aja masuk, sudah ada yang ngunjungin lo. Hati-hati! Jangan-jangan anggota keluarga yang lo matiin datang untuk balas dendam....ha...ha..." sindir wanita yang satu sel dengan Riska.


"Diam lo. Bisa jadi orang yang datang itu mau ngebebasin gue. Karena tahu gue tak bersalah" seru Riska menimpali.


Riska melenggang keluar saat pintu sel terbuka.


Di ruang kunjungan terlihat dua orang wanita membelakangi posisi Riska.


Satu masih muda dan satunya berusia setengah baya.


"Siapa mereka? Tak mungkin mereka lah yang mencariku" gumam Riska dalam hati.


"Nyonya, itu tersangka yang anda cari" seru petugas kepada keduanya.


Mereka berbalik arah dan menatap tajam Riska.


"Dia lagi yang bikin ulah" ujar wanita setengah baya menatap sadis ke arah Riska.


"Mama kenal dia?" tanya wanita muda yang sangat cantik dan elegan itu.


"Dia lah yang beberapa hari terakhir mengacaukan hidup papa kamu. Uang papa juga dikuras oleh nya" terdengar nada marah di setiap ucapannya.


'Wanita muda yang cantik ini memanggil mama, apa dia istrinya Alex. Akan kumanfaatin dia untuk membuat Alex mengaku. Enak saja Alex melimpahkan semua kesalahannya padaku, sementara dirinya bersenang-senang di atas penderitaanku' pikir Riska culas.


"Apa kamu sudah tahu cerita yang sebenarnya wahai nyonya dan nyonya muda?" kata Riska mulai memprovokasi.


"Kami tak perlu tahu. Aku sudah tahu dari saksi-saksi yang ada" seru keduanya.


"Tapi anda-anda pasti akan terkejut kalau aku menguak cerita yang sebenarnya" ucap Riska sinis.


Mereka berdua menatap tajam ke arah Riska.


"Apa maksud kamu?" sela Vero masih menatap tajam ke arah Riska.


Riska menaruh pantatnya di depan mereka, memanfaatkan kesempatan yang ada.


"Asal kamu tahu nyonya muda Vero. Saat kejadian itu, aku tengah bermain dengan suami kamu. Dan terpergok oleh laki-laki tua itu. Dia mengamuk dan hendak menghajar aku dan Alex. Tapi sepertinya suami anda punya penyakit jantung. Apa itu benar nyonya? Kalau memang iya, harusnya aku tak berada di sini dong. Emang suami anda saja yang sudah tiba waktu ajalnya" seru Riska.


Keduanya menatap tajam Riska.


"Anda bisa tanya suami anda sendiri" tukas Riska.


"Dan sepertinya pembicaraan ini tak akan menguntungkan buatku. Jadi silahkan pergi!" ujar Riska sambil menunjuk arah pintu keluar.


Riska beranjak dan hendak meninggalkan kedua nyonya itu.


"Tunggu!" seru nyonya setengah baya.


"Apa?" gertak Riska.


"Kalau sampai kata yang kamu ucapin tadi bohong. Jangan salahkan aku jika kamu akan mendekam seumur hidup di balik jeruji besi" tandasnya.


"Buktikan saja! Atau kalian sengaja mengelak dan mau menutupi kebejatan para suami anda" ucap sinis Riska, dan langsung meninggalkan kedua nyonya itu.


"Enak aja ngelimpahin kesalahan padaku. Akan kubuat kalian menyesal" gumam Riska dengan nada ketus.


Semua keterangan Riska telah dimasukkan dalam berkas perkara. Surat hasil otopsi pun telah dikeluarkan bagian forensik.


Didapati hasil yang tak begitu mengejutkan Riska. Karena semua perkiraannya betul adanya.


Jika laki-laki setengah baya itu meninggal karena penyakit jantung yang telah diidapnya.


Tapi penyebab kambuhnya sakit jantung tuan Rahardian saat kejadian akan tetap diselidiki.


Semua bukti memang mengarah ke Riska.


Tapi Riska tetap menolak tanda tangan, karena saat kejadian Riska mengaku bersama Alex.


Alex yang juga dipanggil penyidik menyangkalnya.


Dia punya alibi yang kuat untuk itu. Alex bilang kalau di jam kejadian, dirinya sedang memimpin rapat di perusahaan karena ada masalah yang lumayan pelik.


Riska menyipitkan mata, kala Alex mengatakan semua yang tak sinkron dengan fakta yang ada.


Sengaja oleh penyidik mereka berdua dikonfrontasi agar saling mengaku.

__ADS_1


"Licik kamu Lex. Padahal nyata-nyata saat itu kamu tengah bertukar peluh denganku" kata Riska penuh emosi.


"Jangan sembarangan kalau bicara nyonya. Anda bisa menanyakan kepada semua stafku. Dimana saat kejadian aku berada. Enak saja kamu melimpahkan kesalahan padaku. Hati-hati aku bisa serang balik dengan pasal pencemaran nama baik" kata Alex dan ingin membalikkan fakta.


"Cih, awas saja kalau aku melenggang bebas. Akan kuhabisin kamu" ancam Riska.


"Lakukan saja kalau bisa" ujar Alex menimpali.


"Tuan penyidik, pastikan wanita ini mendekam lama di penjara. Aku sudah cukup sabar menghadapinya" terang Alex kepada penyidik yang ada di sana.


Alex telah keluar uang yang tak sedikit untuk menyumpal mulut para staf untuk menguatkan alibi nya. Enak saja mau dirusak oleh Riska begitu saja. Alex tak akan membiarkan itu.


Apalagi harta tuan Rahardian sudah ada di depan mata.


Tinggal menyingkirkan Vero istrinya dan juga ibu mertuanya. Maka semua akan menjadi milik Alex.


.


Bu Marmi yang selalu mengikuti berita tentang Riska tentu saja mengucap syukur.


Wanita yang menjadikan Rania sengsara telah mendapatkan balasan setimpal.


"Nyonya muda. Kesini!" panggil bu Marmi ke arah Rania yang melintas hendak ke kamar Celo dan Cio. Bu Marmi ikutan pak Supri memanggil Rania dengan sebutan nyonya muda, meski Rania menolak tapi tetap saja bu Marmi memanggil dengan kata-kata itu.


"Apa bu?" ujar Rania menimpali.


"Nih, ada berita tentang Riska. Tak sengaja aku melihatnya" seru Bu Marmi.


"Tak sengaja atau memang kepo?" olok Rania.


"Dua-duanya" bu Marmi terkekeh karena ketahuan.


"Ada apa dengan Riska? Kasus yang kemarin?" tanya Rania.


"Iya nyonya. Riska tetap belum dibebasin. Padahal nyata-nyata korban meninggal karena serangan jantung" cerita bu Marmi penuh semangat.


"Mungkin penyidik masih ada pertimbangan untuk tak ngebebasin Riska bu" jawab bijak Rania.


"Sayang....." terdengar suara Raditya dari dalam kamar.


"Tuh, bayi besar sudah manggilin" kata Bu Marmi kala mendengar suara sang tuan muda nya.


Rania menutup mulut menahan tawa.


"Sayaanggggg" terdengar suara Raditya untuk yang kedua kalinya.


"Aku balik dulu bu. Padahal aku tadi mau ke kemar si kembar loh" kata Rania, sembari mengurungkan niat awalnya dan segera balik ke kamar utama.


Raditya menoleh ke arah Rania kala sang istri membuka pintu kamar.


"Apa? Aku mau kamar anak-anak tadi" bilang Rania.


"Pasangin!" ujar Raditya dengan mode manja on. Tangannya mengarahkan dasi yang dipegang ke Rania.


Rania menghampiri dan melakukan apa permintaan sang suami.


Raditya mengendus-endus pipi Rania.


"Geli ah. Ada apa sih?" tanya Rania merasa aneh. Takut dirinya masih bau.


"Wangi amat, mau kemana?" telisik Raditya.


"Jangan aneh dech. Aku nggak ke mana-mana. Wangi untuk suami tercinta emang dilarang sekarang?" tukas Rania sewot.


"Ya enggak sih, sini peluk" kata Raditya merentangkan kedua tangannya.


Rania tiba-tiba mual kala mencium bau parfume yang dipakai sang suami.


"Kamu pakai parfume yang mana sih? Bau banget?" tukas Rania.


"Loh, ini kan parfume yang biasa aku pakai yank" seru Raditya merasa aneh.


"Ganti baju kamu, aku nggak tahan" suruh Rania membuat Raditya semakin merasa ada yang janggal dengan istrinya.


"Kamu ini ada apa?" Raditya mendekat ke sang istri.


"Jangan mendekat. Aku nggak tahan yank" seru Rania sambil menutup hidung dan berlari ke toilet.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


***To be continued, happy reading


selamat menunaikan ibadah puasa buat umat muslim di seluruh dunia***


__ADS_2