Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Rapat Pemegang Saham


__ADS_3

Raditya kembali ke tab yang sebelumnya dijeda untuk dia baca.


Sebuah laporan dari Adam dia klik.


Omset perusahaan ekspedisi Raditya mulai beranjak membaik.


Adam juga mengirim hasil tangkapan layar sebuah chat pelanggan kepada sang bos.


Mayoritas mereka menyampaikan kepuasan atas pelayanan dari ErDua.


Bahkan di aplikasi smartphone banyak yang memberikan bintang lima kepada ErDua.


Raditya cukup puas dengan kinerja anak buahnya yang cukup cekatan menjalankan apa yang diperintahkan olehnya.


Selanjutnya Raditya lihat laporan Beno.


Beno bilang jika beberapa staf yang sudah dicurigai olehnya tak ada pergerakan sama sekali selama beberapa hari terakhir.


"Hhhmmm hanya sampai di sini pergerakan mereka" gumam Raditya.


Panggilan dari Beno pun masuk.


"Halo Beno" kata pertama yang diucapin Raditya


"Tuan Rahardian membuat ulah bos, nilai saham kita di bursa menurun drastis" jelas Beno.


"Apa dia bisa?" tukas Raditya.


"Samudera bisa colaps jika kita tak segera mengeluarkan dana talangan perusahaan" terang Beno.


"Dana kita cukup kah?" tukas Raditya.


"Kalau untuk beberapa hari masih cukup tuan" tandas Beno.


"Kali ini aku tak akan membiarkan dia berlama-lama main dengan kita" tegas Raditya.


"Beno, kita bicarakan di kantor saja. Aku sudah mau sampai" jelas Raditya.


"Siipppp" balas Beno.


Sampai di lobi perusahaan, kembali Raditya musti bertemu dengan wanita tak tahu malu itu.


"Iiihhh kenapa dia bisa muncul lagi" gerutu Raditya dalam hati kala Andah mendekati.


"Pagi Raditya, aku ada info penting untuk kamu" kata Andah dengan sedikit culas.


"Aku tak ada waktu untuk nanggepin kamu" imbuh Raditya dan terus saja berjalan tanpa menoleh ke arah Andah.


"Aku tahu keberadaan Mahendra" tandas Andah dengan nada yang jelas.


Langkah Raditya langsung terhenti.


Andah tersenyum sinis.


"Di mana dia?" ujar Raditya.


"Tak akan aku kasih tahu, sebelum kamu menyetujui apa yang aku syaratkan" kata Andah menimpali.


"Ha...ha...ternyata kamu licik juga" Raditya terbahak.


Raditya akan pancing wanita di depannya ini. Sejauh mana dia akan bertindak.


"Apa syarat yang kamu ajukan" seru Raditya.


"Ceraikan Rania. Dia masih mencintai Mahendra. Nyatanya masih banyak pesan dari Rania masuk ponsel milik Mahendra" kata Andah dengan serius.

__ADS_1


"Percaya diri sekali kamu" tukas Raditya mulai terlihat kilatan emosi di kedua netranya.


Melihat Rania yang hampir tak pernah pegang ponsel, mustahil baginya untuk saling berbalas pesan dengan mantan suami nya.


"Aku punya bukti" tandas Andah penuh keyakinan.


Andah mengeluarkan sesuatu dari tas kecil nya. Ternyata dia mengeluarkan beberapa lembar hasil screenshoot bukti chat milik Mahendra dengan seseorang yang dibilang Andah adalah Rania.


"Ha...ha...hari gini masih bawa ginian? Kalau mau fitnah seseorang modern an dikit dong" tukas Raditya dan berlalu meninggalkan wanita yang mencoba memprovokasinya.


"Kamu lihat dulu, baru mengolokku" teriak Andah saat pintu lift yang dinaiki Raditya mulai menutup.


Sampai di ruangannya, Raditya langsung menelpon bagian front office. Tentu saja untuk memarahi karena teledor membiarkan Andah kembali masuk. Padahal Raditya sudah beberapa kali memberitahu. Raditya buang begitu saja beberapa lembar kertas yang diberikan Andah tadi.


Beno masuk kala Raditya marah-marah.


"Pagi-pagi sudah marah aja bos. Nggak dapat jatah dari Rania kah?" olok Beno membuat mata Raditya mendelik.


"Ha...ha....santai bos" Beno semakin terbahak.


Raditya tak mau membahas tentang Andah. Pasti Beno juga sudah tahu akan hal itu.


"Duduk!" suruh Raditya.


Beno mulai membahas tentang penurunan nilai saham yang signifikan Samudera di bursa.


"Tuan, apa tuan Rahardian tak merasa rugi. Padahal nyata-nyata dia masih ada saham di sini walau bukan saham mayoritas" kata Beno.


"Lihat saja pergerakan dia mulai hari ini" bilang Raditya.


"Kita harus adakan rapat pemegang saham darurat Beno" perintah Raditya.


"Bagaimana bisa tuan Rahardian melakukan kekacauan padahal perusahaan kita cukup kuat di bursa" kata Beno merasa aneh.


Dan mereka memberitahukan jika para pemegang saham mulai gelisah. Meski sudah diupayakan dengan dana talangan, tapi belum cukup membantu menangani masalah di perusahaan.


Rapat pemegang saham pun diadakan mendadak selepas makan siang.


Raditya juga tak mau menunda akan hal itu.


Dan dengan pongahnya tuan Rahardian masuk di antara para pemegang saham yang lain.


"Apa saja yang dilakukan oleh CEO kita ini? Sibuk bulan madu? Sibuk mengadakan pesta pernikahan? Sampai tak tahu jika nilai saham perusahaan jatuh di titik terendah hari ini" katanya dengan penuh sindiran.


Raditya masih diam saja.


Semua pemegang saham, menatap ke arah Raditya.


Posisi Raditya bagai seorang terdakwa yang sedang dihakimi.


Raditya tersenyum sekilas dan nampak tenang.


Semakin dibiarkan, ternyata tuan Rahardian semakin melunjak.


Mulai masalah perusahaan cabang. Dan sekarang malah mengacak perusahaan induk. Apa yang sebenarnya dia mau. Batin Raditya.


Aku harus menumpasnya hari ini juga. Janji Raditya dalam hati.


Orang-orang di balik layar yang dikaryakan Raditya, saat ini sedang berusaha keras untuk menemukan penyebab nilai saham jatuh.


"Silahkan duduk tuan Rahardian. Bukankah masalah ini harus kita bicarakan dengan kepala dingin?" kata Raditya menimpali.


"Hah? Kepala dingin kata kamu? Kita rugi triliunan rupiah, kamu ajak kita bersantai dan duduk-duduk" sela tuan Rahardian.


"Sabar tuan. Bukankah anda lebih bersiap daripada kita yang duduk di sini" tukas Raditya membuat tuan Rahardian sedikit terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Bukankah seharusnya saya yang harusnya paling panik daripada kalian? Nilai saham yang dipunya keluarga Marino bahkan melebihi nilai saham kalian" semua termenung mendengar penuturan Raditya, meresapi apa yang dibilang oleh CEO nya itu.


"Bahkan puluhan ribu karyawan, kini juga dipertaruhkan. Belum lagi anak dan istri serta keluarga mereka yang lain" imbuh Raditya.


"Sekarang bagaimana? Apa kalian akan menarik saham yang merugi itu? Atau mempertahankan dengan mempercayakan kepada manajemen Samudera untuk mengelolanya" kata Raditya.


"Kamu harus bisa meyakinkan kami tuan Raditya" seru salah satu pemegang saham yang mungkin usianya hampir sama dengan tuan Rahardian.


"Beri kami waktu seminggu untuk mengembalikan keadaan" tandas Raditya.


"Cih, aku akan menarik semua sahamku" seru tuan Rahardian dengan sombong. Saat ini tuan Rahardian sangat yakin, ini adalah waktu yang pas untuk membuat Samudera kolaps.


Pemegang saham yang lain ikutan panik karena pemegang saham terbesar kedua di Samudera saja menarik semua sahamnya, apalagi mereka yang cuman punya saham tak sampai lima persen.


"Silahkan tuan Rahardian, saya pun tak bisa mencegah. Kalau anda akan menarik saham-saham anda sekarang. Kerugian yang anda alami pasti sangat besar" imbuh Raditya.


Ada beberapa pemegang saham yang lain pun ikutan apa yang dilakukan oleh tuan Rahardian.


Ponsel Beno berdering kala situasi sedang panas di ruang rapat.


Beno tak segera menjawab tapi cenderung mendengarkan seseorang yang sedang menelponnya.


"Oke...siap bro. Akan aku lakukan" seru Beno di keheningan ruang rapat.


Tuan Rahardian mulai tak sabar.


"Tuan Beno jangan memprovokasi para pemegang saham yang sudah yakin akan menarik saham di perusahaan ini" kata tuan Rahardian.


"Heeiii, kenapa anda menuduhku yang jelas-jelas tak mengatakan apapun?" tukas Beno sinis.


"Tuan-tuan, silahkan duduk kembali. Di sini asisten saya akan mendata siapa saja yang mau menarik saham nya selain tuan Rahardian" tandas Raditya tenang dan penuh keyakinan.


Padahal dalam benaknya ketar ketir, jika para pemegang saham yang menarik saham melebihi tiga puluh persen dari total nilai saham.


Di lcd proyektor di samping Raditya tiba-tiba menyala dan sebuah video terputar yang membuat orang yang ada di ruangan itu mengalihkan perhatiannya ke sana.


Dalam video itu nampak sebuah isu yang menjelekkan nama baik Samudera.


Mulai dari CEO yang punya anak di luar nikah. CEO yang suka melakukan kencan semalam. CEO yang pernah digrebek oleh suami orang. Semua ditampilkan di sana.


Bahkan sosok istri Raditya juga dimunculkan, seorang janda yang hamil anak orang lain saat masih berstatus istri orang.


Tuan Rahardian seakan berada di atas angin mengetahui video-video itu.


"Ha...ha...ternyata nilai saham yang turun akibat ulah CEO kita sendiri. Apalagi yang kalian ragukan?"


Raditya kembali membiarkan tuan Rahardian berkoar-koar memprovokasi yang lain.


Sementara Beno berjalan memutari para pemegang saham untuk mendata siapa yang bertahan dan siapa yang akan melepas saham.


Raditya mengedikkan sebelah mata ke arah Beno sebagai tanda untuk mengeluarkan semua fakta untuk membantah semua isu tadi.


Tapi Raditya masih menunggu waktu agar Beno menyelesaikan semua, agar Raditya tahu sejauh mana loyalitas mereka yang saat ini sedang duduk di hadapannya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


***to be continued, happy reading


Terima kasih author ucapin buat yang masih setia ngikutin sampai detik ini.


Karya ini tak ada nilainya tanpa dukungan kalian.


Maafin othor yang update nya angin-anginan. Suka tak tentu waktunya.


Karena sibuk pantengin Jakarta Lavani vs Jakarta Presisi grand final proliga 2023🏃‍♀️✌***

__ADS_1


__ADS_2