Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Rapat Lanjutan


__ADS_3

Tapi Raditya masih menunggu waktu agar Beno menyelesaikan semua, agar Raditya tahu sejauh mana loyalitas mereka yang saat ini sedang duduk di hadapannya.


"Apalagi yang kalian tunggu. Yakin saja kalau mau narik saham kalian" kata tuan Rahardian semakin memprovokasi.


Tapi para pemegang saham banyak juga yang ragu untuk menarik sekarang. Karena jika ditarik sekarang, tak sedikit bagi mereka mengalami kerugian.


"Apa kalian menunggu kerugian yang lebih parah?" terus saja tuan Rahardian berkoar.


"Jika bukan sekarang kapan lagi? Apa kalian ingin memberikan uang kalian cuma-cuma kepada seseorang yang hobi membuat skandal di depan itu" kata-kata tuan Rahardian semakin membuat panas telinga.


Raditya masih tenang mendengar orasi tuan Rahardian.


Beno berjalan mendekati Raditya dengan membawa hasil jajak pendapat. Jajak pendapat untuk menentukan siapa yang akan menarik saham dan bertahan.


Selain dana talangan, Raditya tengah bersiap mengeluarkan seluruh dananya yang berada di ErDua untuk membeli saham-saham yang akan dijual. Keuntungan tersendiri bagi ErDua jika memang ada yang melepas saham mereka.


"Apa yang saya pegang ini sudah final?" tandas Raditya sambil memandang semua yang berada di ruang rapat ini.


Suasana hening tercipta.


"Kalau tak ada jawaban, saya anggap yang mengatakan ya berarti telah menyetujui pengalihan saham" ucap Raditya dengan tenang.


"Bawa ini Beno, ini sebagai bukti bahwa saya sebagai pengendali utama perusahaan berhak mencari investor baru yang bersedia membeli saham-saham yang terjual" seru Raditya lantang.


"Tapi sebelum itu, ijinkan saya memyampaikan sesuatu" imbuh Raditya.


"Jangan banyak bicara. Aku yakin tak kan ada investor masuk kala saham Samudera berada di titik terendah" ulas tuan Rahardian menanggapi ulasan Raditya.


Raditya masih dengan sikap tenangnya, "Bukannya ini waktu yang tepat untuk investor baru masuk. Dengan nilai uang yang rendah, tapi mendapatkan saham yang lumayan banyak" tandas Raditya penuh keyakinan.


Benar juga apa yang dikatakan oleh CEO itu. Batin beberapa pemegang saham.


Ada yang merasa beruntung karena mendapat CEO baru yang pintar meski banyak skandal yang dibuat oleh Raditya.


"Yang terakhir ijinkan saya meluruskan isu-isu yang tersebar bagai bola panas menggelinding di khalayak" ijin Raditya.


Semua terdiam mendengar ucapan tuan muda keluarga Marino itu.


"Pertama, mengenai saya suka ONS. Saya tak memungkiri jika saya pernah melakukan itu. Apalagi pengaruh pergaulan dan jiwa muda saat itu. Tapi kegiatan itu berhenti kala seseoramg menjebak saya dengan memberikan sesuatu ke minuman saya. Bukankah itu cara yang licik karena tak bisa menjatuhkan saya secara terang-terangan. Apalagi musuh ONS saya saat itu adalah orang yang menjadi istri saya sekarang" kata Raditya.


"Saya ucapkan terima kasih kepada orang yang menjebak saya, akhirnya saya bisa menghentikan kebiasaan buruk. Dan malah mendapatkan bonus seorang wanita yang menurut saya adalah berlian yang sangat langka. Kebaikan hatinya adalah bonus yang saya dapat" jelas Raditya panjang lebar dengan pandangan mengarah lurus ke tuan Rahardian.


Semua peserta rapat terdiam.


"Saya tak mau menjelekkan orang yang telah menjebak dan menjelekkan saya. Bahkan ribuan terima kasih kembali padanya saya ucapkan" kata Raditya membalas halus orang yang juga tengah berada di ruangan itu.


Raditya mengumumkan siapa saja yang akan menarik sahamnya. Ternyata hanya tuan Rahardian dan seorang yang lain. Yang nyatanya tak sampai lima persen nilai sahamnya di Samudera Grub.


"Terima kasih saya sampaikan kepada tuan-tuan yang masih mempercayakan kepada keluarga Marino untuk mengelola laju Samudera Grub berikutnya. Saya janji akan lebih serius untuk menangani situasi ini agar segera terselesaikan" kata Raditya penuh diplomasi.


Tuan Rahardian dan salah satu yang ikut menarik sahamnya keluar ruangan begitu saja dengan raut muka kecewa.


Sepertinya ada yang salah dengan perhitungan tuan Rahardian kali ini.


Dengan tergesa tuan Rahardian masuk mobil yang telah menunggunya di depan lobi Samudera Grub.


"Antarkan ke apartemen" perintah tuan Rahardian kepada sopirnya.

__ADS_1


Tuan Rahardian akan melampiaskan semuanya dengan wanita yang beberapa hari terakhir sengaja dibooking olehnya.


Dengan tergesa tuan Rahardian berjalan menuju lift dan menekan nomor di mana lantai apartemen Riska berada.


Dia tekan pasword pintu apartemen yang sebenarnya adalah unit miliknya sendiri.


Sampai tiga kali dia tekan, nyatanya pintu tak kunjung terbuka. Membuat suasana hati tuan Rahardian semakin marah.


Coba dia cari nomor kontak Riska, yang ternyata tak juga ditemukan oleh tuan Rahardian.


Ponsel mewah miliknya dia banting begitu saja sampai hancur berkeping-keping.


"Awas saja kamu wanita jal4ng" ancamnya.


"Kuhabisin kamu jika ketemu" lanjut tuan Rahardian dengan gigi saling tertaut.


.


Sementara Riska saat ini tengah berada di sebuah hotel mewah, tengah bertukar peluh dengan Alex. Menantu tuan Rahardian.


"Lumayan juga permainan kamu. Makanya papa mertuaku lumayan lama mempertahankan kamu. Biasanya tak lebih tiga hari, dia akan buang wanitanya. Bahkan kamu juga disuruh tinggal di apartemennya" kata Alex yang saat ini tengah dimainkan oleh Riska.


"Agresif. Aku suka" sambung Alex tersenyum senang.


Riska mulai dengan setiap jengkal tubuh Alex, hingga laki-laki itu menggelinjang penuh kenikmatan.


"Bagaimana jika mertuaku tahu" sela Alex di tengah permainan.


"Aku akan rayu dia dengan permainan aku" terang Riska dan terus saja mengulum benda yang layaknya buah pisang baginya.


Riska tersenyum smirk. "Awas saja jika tak kau kasih bonus" ancam Riska.


"Akan aku berikan cek sesuai yang kamu sebut" balas Alex.


"Licik juga kamu. Bisanya menghabiskan harta mertua kamu" kata Riska menertawakan Alex.


"Tentu saja" kata Alex menimpali lengkap dengan tawanya.


Di tengah permainan, ponsel Alex berdering.


"Sialan, laki tua itu mencariku" umpat Alex.


"Hah? Jangan bilang kalau aku bersama kamu" tukas Riska mencari aman.


"Lantas kamu mau ke mana?" kata Alex.


"Belanja lah. Untuk menguatkan alibi aku, jika saja laki tua itu mencariku di apartemen" sungguh licik memang si Riska.


Alex dan Riska mengenakan baju masing-masing bersamaan.


"Aku akan keluar duluan" kata Alex.


"Pintar" ujar Riska terbahak saat Alex mengatakan hal itu.


"Kita harus cari posisi aman Riska" seru Alex sembari menutup pintu.


Dan Riska kembali rebahan untuk menjeda jarak keluar dengan Alex agar tak dicurigai anak buah tuan Rahardian tentunya.

__ADS_1


.


Dan di ruang rapat Samudera Grub, rapat yang dipimpin Raditya masih saja berlangsung meski tuan Rahardian dan seorang yang lainnya telah keluar dari sana sedari tadi.


"Begini tuan-tuan semua, terima kasih sekali lagi lebih memilih untuk bertahan. Saham yang akan dijual oleh tuan Rahardian dan yang lain, saya tawarkan kembali kepada anda-anda yang ada di sini jika berminat untuk mengambil alih" kata Raditya tegas.


"Akan saya tunggu sampai dua hari ke depan keputusannya" imbuh Raditya.


"Silahkan hubungi tuan Beno jika ada yang berminat menambah nilai sahamnya. Memang saya tawarkan dulu ke internal pemegang saham yang ada di sini, sebelum pihak luar ikutan masuk" lanjut Raditya.


Semua yang ada di sana seakan paham apa yang disampaikan oleh CEO nya itu.


"Silahkan jika ada pertanyaan" kata Raditya membuka diskusi.


"Sudah cukup jelas tuan Raditya" tukas mereka bersamaan.


"Baiklah, jika sudah jelas. Saya akhiri pertemuan hari ini. Saya tunggu kabar dari tuan-tuan" kata Raditya mengakhiri rapat.


Raditya melangkah keluar ruang rapat diikuti oleh Beno.


Rasanya cukup lega bisa melewati hari ini.


"Beno, habis ini aku pulang. Jangan cari lagi, jika tidak urgen" pesan Raditya.


"Mentang-mentang punya istri, main langsung pulang aja lo bosss" tukas Beno saat mereka telah bersama di dalam lift.


"Ke club yukk" goda Beno.


"Ogah, bisa digantung gue sama istri" jawab Raditya penuh canda.


Mereka berdua tertawa bersamaan seperti layaknya sahabat bukan seorang atasan dan bawahan.


Ponsel Raditya berdering saat berada lift dan itu dari Rania. Layar ponsel ditunjukkan kepada Beno. Dan mereka pun kembali tertawa bersama.


.


Mahendra yang tengah duduk sendirian tengah merenungi kebodohannya. Merenungi apa yang juga dikatakan Andah.


Bagaimana dia percaya begitu saja saat Riska mengatakan kalau Riska mengandung anaknya.


Padahal nyata-nyata dia selalu pakai pengaman jika main dengan Riska. Bagaimana dia melewatkan itu.


Bahkan saat bersama Rania pun, Mahendra juga mengalah untuk mengeluarkan di luar. KB alami.


"Bodoh...bodoh...kamu memang sangat bodoh" umpat Mahendra merutuki dirinya sendiri.


Menyesal pun tiada guna sekarang. Mahendra berjanji akan merebut kembali Rania untuk kembali menjadi istrinya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


***Kadang memang harus sabar juga menunggu review 😛


Efek week end kali yahhh


Happy Monday 🤗***

__ADS_1


__ADS_2