
Riska langsung mencium bibir tuan Rahardian saat notif m banking masuk di ponsel miliknya.
"Makasih mas" balas Riska.
Mereka berdua tak pandang tempat saat melakukannya hingga tak menyadari ada yang datang di ruangan tuan Rahardian.
Saat akan mencapai puncak, orang itu mendekat dan langsung menarik rambut Riska dengan kuat.
"Aduh, siapa ini?" teriak Riska karena tarikannya itu mengakibatkan beberapa helai rambutnya rontok.
Riska yang tengah separuh telanjang, membenarkan letak bajunya yang berantakan. Bahkan Riska langsung beralih dan mengeluarkan sesuatu yang tegak menantang dari inti tubuhnya.
"Dasar, ternyata kamu jal4ng" seru wanita setengah baya.
Usianya bisa jadi sama dengan tuan Rahardian. Atau malah lebih daripada usia tuan Rahardian.
"Siapa kamu?" kata Riska penuh tanya, setelah merapikan penampilannya.
"Jadi kamu yang ngabisin hartaku hah?" teriaknya.
Wanita itu menatap tajam ke arah Riska.
Sepertinya dia ingat dengan wanita yang kencan dengan suaminya ini.
"Hei, bukankah kamu yang sok-sok an belanja barang branded tadi?" tukasnya penuh kemarahan.
"Dan kartu yang terblokir tadi apa milik suamiku? Milik suamiku yang aslinya adalah kepunyaan aku" serunya masih dengan emosi yang belum reda.
"Sudahlah Mah. Aku yang menyuruhnya ke sini" sela tuan Rahardian.
"Cih, apa kamu mau kupecat jadi suamiku? Ingat semua ini adalah hartaku" lanjutnya dengan tatapan nyalang.
"Ingat itu tuan Rahardian yang terhormat. Aku bisa melakukan semua. Kamu telah banyak merugikan perusahaan yang diberikan oleh kedua orang tuaku" sambung wanita yang memang lah istri sah tuan Rahardian.
Riska memahami situasi. Dan hendak meninggalkan ruangan itu perlahan.
"Mau ke mana kamu hai jal4ng" seru nyonya Rahardian.
"Pulang. Katanya nggak dibolehin gangguin suami mu lagi" kata Riska tanpa merasa bersalah. Dan langsung mengambil beberapa paper bag yang berserakan di lantai.
"Jangan kamu bawa! Bukannya itu uang dari suami aku" cegahnya.
"Enak saja. Aku beli sendiri tau" tolak Riska tak mau menuruti permintaan nyonya Rahardian.
Untung saja aku tadi sudah minta transferan. Batin Riska dalam hati kala berhasil keluar ruangan tuan Rahardian dengan sukses.
Drama suami istri pasti akan berlanjut. Batin Riska.
Katanya istrinya tak akan aneh-aneh asal kartu unlimitednya selalu terisi. Tapi nyatanya dia termasuk golongan suami takut istri. Batin Riska menertawakan tuan Rahardian.
Riska dengan santainya melenggang keluar lewat lobi dan langsung naik taksi.
"Apartemen pak" bilang Riska menyebutkan lengkap alamat nya.
"Baik nyonya" tukas sang sopir.
.
Raditya memanggil Beno keesokan hari.
"Gimana Beno? Ada yang berminat mengambil alih saham tuan Rahardian?" tanya Raditya.
"Belum ada yang menghubungi gue" tukas Beno.
__ADS_1
"Bos, kepindahanku ke sini? Lo nggak lupa?" sambung Beno mengingatkan.
"Sudah diatur kepala HRD. Dan cabang yang disana akan secepatnya diisi orang yang kompeten juga seperti lo" terang Raditya.
"Oh ya bos. Ini aku bilang seandainya. Kalau pun nanti terwujud aku pasti akan senang" sambung Beno.
"Apaan sih?" tukas Raditya.
"Jika para pemegang saham tak ada yang minat, aku juga ingin gabung beli. Meski uang aku tak cukup untuk beli sepersen sih bos" jelas Beno.
"Kalau lo mau, maka akan kuberi kesempatan untuk itu. Kekurangannya akan aku tutup dari uang yang aku punya di ErDua" imbuh Raditya.
"Thanks bos" sahut Beno.
"Kalau lo punya saham di Samudera pasti lo nggak bakalan ninggalin gue...ha...ha..." lanjut Raditya.
"Beno, ntar siang aku balik duluan. Mau nganterin istriku ke klinik kecantikan sekaligus belanja" bilang Raditya.
"Mentang-mentang sudah punya istri. Pamer mulu" gerutu Beno.
"Makanya lekas halalin tuh Siska, biar hidup lo ada guna" olok Raditya.
"Doakan bosss. Makanya bantuin aku rayu Siska agar segera mau gue lamar" sambung Beno.
Raditya mengacungkan jempolnya tanda setuju.
"Bos, demo di perusahaan milik Alex terus berlangsung sampai hari ini" tukas Beno memberi kabar.
"Iya, Adam juga sudah kasih tau aku pagi tadi" seru Raditya.
"Bukankah itu baik untuk ErDua?" tukas Raditya.
"Iya sih. Bahkan dalam tiga hari terakhir omset ErDua melonjak drastis" terang Beno.
Beno pun melakukan hal yang sama, ikutan tertawa.
Raditya pulang duluan sesuai dengan apa yang dikatakan kepada Beno saat ngobrol tadi.
Raditya janji akan mengantarkan dan menunggui sang istri untuk melakukan perawatan tubuh menyeluruh. Meski sebelumnya Raditya tak pernah melakukan itu walau untuk mengantar mama nya.
Sampai mansion ternyata Rania telah bersiap.
"Makan dulu aja yank" kata Rania saat menyambut kedatangan sang suami.
"Heemmm, oke" kebetulan perut Raditya juga sedang berdemo kali ini.
Selepas makan siang bersama, Raditya mengajak Rania ke klinik kecantikan langganan mama nya.
Rania tak ingat kapan melakukan perawatan untuk terakhir kali.
Bahkan dengan rayuan sang pemilik klinik kecantikan langsung, Raditya saat ini mengikuti perawatan yang juga diberikan kepada Rania.
"Gimana yank rasanya?" tanya Rania penasaran dengan tanggapan sang suami yang baru kali ini melakukan perawatan.
"Lumayanlah" tukas Raditya biasa ajah.
"Oh ya yank, jangan cerita ke mama sama papa kalau aku ikutan kamu melakukan perawatan. Bisa habis aku diolokin mereka berdua" seru Raditya.
"Siap" jawab Rania, sementara tangan Raditya mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut.
"Habis ini kita belanja sayang?" tanya Raditya.
"Kamu repot nggak? Kalau repot dipending aja yank. Lagian barang yang habis bisa kok dipesan online" terang Rania.
__ADS_1
"Mumpung di sini sekalian aja yank" kata Raditya.
"Urusan kantor sudah kupasrahin sama Beno tadi" Raditya memberikan penjelasan kepada sang istri.
"Oke lah" tukas Rania dengan binar bahagia.
Belanja berdua dengan suami telah lama tak dilakukan.
"Beli apa dulu?" tanya Raditya yang sudah mendorong sebuah troli kosong.
"Diapers lah. Itu kebutuhan pokok utama" seru Rania. Baginya sekarang kebutuhan pokok bukan lagi perlengkapan make up dan teman-teman nya tapi diapers bagi Celo dan Cio.
Rania berjalan di barisan etalase yang menyediakan segala kebutuhan untuk perawatan baby, dan Raditya sedikit menjauhi Rania karena ada telepon dari Adam.
"Rania" suara seseorang terdengar memanggil Rania dan membuatnya menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, apa dia mengenalku? Tapi aku tak mengenali wajahnya" batin Rania.
Saat orang yang menyapa Rania tadi hendak mendekat. Tapi langkah nya terhenti kala suami Rania datang menghampiri sang istri.
"Sudah dapat semua?" tanya Raditya memastikan.
"Sudah sih yank" balas Rania.
"Oke lah. Kita balik aja sekarang" jelas Raditya dan dijawab anggukan Rania.
Rania tak abis pikir, kira-kira siapa yang memanggilnya tadi. Padahal dirinya tak punya keluarga ataupun teman sekolah yang tinggal di ibukota. Ish, biarin aja lah. Malas aja untuk mikir hal tak guna seperti itu. Batin Raditya.
"Ada apa yank? Kok malah termenung" ucap Raditya.
"Yank, aneh nggak sih ada orang yang memanggil namaku tadi?" tanya Rania. Meski tak mau mikir, tapi tetap tak menghilangkan rasa penasaran Rania.
"Siapa?" tukas Raditya.
"Aku juga nggak tahu sih siapa. Tapi jelas-jelas tadi ada yang memanggil aku" tandas Rania.
"Sudahlah, nggak usah dipikirin. Mending kita pulang" ajak Raditya.
Mahendra yang berada di balik etalase yang cukup tinggi bisa mendengar obrolan suami istri itu.
"Sialan kau Raditya. Kembali kau menghalangi niatku tadi" ucap Mahendra dengan tangan terkepal erat.
Andah menepuk bahu Rudi dengan sangat keras.
"Lo melamun lagi?" tukas Andah.
Yaa, Mahendra telah berganti identitas menjadi Rudi atas usul Andah untuk menghilangkan jejak dari pengejaran pihak berwajib dan juga biar tak dikenali oleh keluarga Marino dan yang lain.
"Kita pulang aja yuk" Ajak Raditya, Rania pun mengangguk.
Raditya menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga dengan baik. Menjadi sosok suami dan daddy yang bertanggung jawab. Prioritasnya saat ini adalah Rania, Celo dan Cio.
Saat berjalan menuju pintu mall, sekilas Raditya melihat keberadaan Andah dan seorang laki-laki yang menatap tajam ke arah Rania.
Seperti sangat kenal dengan sorot mata laki-laki yang bersama Andah tadi. Pikir Raditya.
Dan kenapa dia memandangi istriku sebegitunya? Tanya Raditya dalam benak. Sementara gandengan tangan Rania tak dibiarkannya lepas walau sedetik saja.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
***To be continued, happy reading guysss
Tetap, author doakan selalu sehat buat semua 💝***
__ADS_1