Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Hamil?


__ADS_3

"Beno anterin aku ke rumah sakit dekat mansion" perintah Raditya sekarang.


"Siapa yang sakit?" tanya Beno.


"Nggak usah banyak nanya, anterin aku sekarang" tandas Raditya dan belum ingin memberitahu Beno.


Beno mengikuti langkah Raditya yang berjalan dengan langkah lebar.


"Pelan dikit kenapa sih?" kata Beno yang ngos-ngosan ngikutin langkah Raditya kali ini.


"Rania pingsan lo suruh pelan" tukas Raditya tetap melangkah dengan ritme yang sama. Beno diam tak komen apapun lagi.


Beno mengambil mobil, sementara sang bos menunggu di lobi dengan gelisah.


Raditya hubungin lagi pak Supri, kali ini yang angkat malah bu Marmi.


"Halo tuan muda" sapa bu Marmi.


"Nyonya muda sedang ditangani" jelas bu Marmi.


Raditya melihat mobil dikemudikan Beno berhenti tepat di depan lobi, maka dia pun masuk ke sana.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


"Bisa diceritakan bu, gimana kejadiannya?" tanya Raditya.


"Iya tuan, tadi nyonya muda kepingin pizza. Saking inginnya, begitu pizza datang langsung dimakan dengan lahap. Tapi tak lama nyonya muda malah muntah dan mengeluh nyeri perut" kata bu Marmi dengan suara terdengar kuatir.


"Pizza???" gumam Raditya bengong.


"Waktu beli pizza tadi aku ketemu pak Supri. Malah dia dulu yang dapat. Bilangnya sih suruhan Rania" cerita Beno.


"Sori, aku lupa. Sibuk dengan aksi kuntit menguntit tadi" sambung Beno.


Sampai di IGD, Raditya langsung masuk dan mencari keberadaan sang istri.


"Rania mana bu?" tanya Raditya cemas.


"Di dalam tuan muda. Masih diperiksa" beritahu bu Marmi.


Raditya melangkah masuk, tapi belum diperbolehkan oleh petugas jaga IGD.


"Kalau ada apa-apa dengan istri saya, apa kalian mau tanggung jawab?" seru Raditya.


"Owh, anda keluarga pasien langsung? Atas nama siapa?" tanya yang lain.


"Rania" tegas Raditya.


"Nyonya Rania ada di sebelah sana tuan. Barusan sadar dari pingsannya" beritahu sang petugas ke arah ruangan dengan warna kuning.


Tanpa menunggu instruksi Raditya berjalan ke arah yang dimaksud.


Dilihatnya Rania tergolek lemas dengan jarum infus tertancap di lengan kirinya.


"Kenapa sampai pingsan? Apa nya yang sakit?" tanya Raditya masih terlihat cemas.


"Aku nggak apa-apa yank. Hanya lemas saja" jawab Rania.


Dokter datang menghampiri.


"Nyonya Rania, kapan anda terakhir kali datang bulan?" tanya dokter cantik itu.


Rania seperti mengingat sesuatu.


"Loh, bukannya semenjak pasang alat kontrasepsi belum pernah datang tamu bulanan kamu yank" ujar Raditya menanggapi.


"Hhmmm betul juga. Kenapa ya dok?" tanya Rania.


"Melihat tanda dan gejala saat anda masuk tadi. Aku curiga ada kehamilan. Tapi apa sampai saat ini anda masih pakai kontrasepsi?" tandas dokter itu menegaskan.


Rania mengangguk.


"Apa tadi disertai nyeri tak tertahan?" lanjut dokter melakukan anamnesa.


"Betul dok, rasanya perut bawah melilit banget" bilang Rania.


"Baiklah, akan kucoba konsul ke dokter kebidanan dulu. Biar jelas semua. Untuk sementara jika berasa ingin buang air kecil bilang ke kami nyonya. Kami perlu pemeriksaan air seni anda" ucap sang dokter memberikan informasi.

__ADS_1


"Baik dok" jawab Rania.


"Yank, apa mungkin kamu kebobolan?" tanya Raditya heran.


"Aku juga nggak tahu. Mana Celo dan Cio masih kecil lagi" ucap Rania seperti ada penolakan dalam dirinya.


"Apapun hasilnya nanti, kita harus terima sayang. Itu amanah yang diberikan kepada keluarga kita" Raditya menguatkan sang istri.


"Tapi luka aku aja belum kering loh yank" Rania masih saja menyangkal jika memang sudah ada benih di dalam rahim nya.


"Kita lihat hasil pemeriksaan saja dulu. Mengenai hasilnya, apapun itu kita harus berusaha menerima dengan ikhlas. Ingat lah banyak keluarga yang sampai harus pergi kemana-mana, periksa ke bermacam-macam dokter hanya untuk mendapatkan buah hati" jelas Raditya untuk menguatkan sang istri.


"Iya, aku paham yank. Tapi tidak harus begitu cepat kali" tukas Rania masih saja belum menerima dengan lapang.


"Terus bagaimana? Kita juga sudah usaha loh dengan ber-KB. Nyatanya Tuhan masih saja ngasih. Kalau nggak bersyukur mau apalagi sayang?" imbuh Raditya penuh kesabaran.


"Nyonya Rania, kalau sudah berasa ingin BAK. Nanti tolong sedikit air seni nya ditampung di sini ya" kata sang perawat sembari menyodorkan tempat penampung air seni untuk sampling pemeriksaan.


"Iya kak. Bentar lagi biar diantar suami saya. Ini saya kebetulan mau ke toilet" jawab Rania.


Rania berusaha bangun tentu saja dengan dibantu sang suami.


"Pusing nggak?" tandas Raditya.


"Enggak, cuman lemas saja"


"Aku anter aja" bilang Raditya.


Semua pandangan mengarah ke pasangan muda ini. Raditya lengkap dengan baju kantoran dan sepatu mengkilat. Jelas kesan mahal dan limited terlihat di penampilan Raditya. Tanpa sungkan dan risih membantu istrinya pergi ke toilet.


Sambil menunggu pemeriksaan laborat, Rania diantar ke ruang radiologi untuk pemeriksaan USG.


Raditya dengan setia mendampingi proses demi proses yang dilewati Rania.


Raditya tak ingin mengulangi kesalahan yang sama jika saja saat ini Rania benar dinyatakan hamil.


Sudah cukup kehamilan Celo dan Cio saja, dia tak tanggap. Tapi tidak untuk kali ini.


Seorang dokter cantik sudah menunggu di dalam ruangan yang lengkap dengan mesin ultrasonografi.


Dengan dibantu perawat pengantar, Rania melangkah pelan.


Deg-deg an juga jantung Raditya kala alat pemeriksaan itu menyentuh perut sang istri.


"Gimana tuan, nyonya? Sudah siap apa yang akan kukatakan nanti" bilang sang dokter malah membuat penasaran keduanya.


"Apa hasilnya dokter?" tanya Rania cemas.


Tapi dokter cantik itu malah tersenyum ramah ke wanita cantik nan anggun yang jadi pasiennya ini. Nyonya yang sangat serasi dengan tuan di depannya. Tuan yang sedang duduk terpaku menunggu penjelasan dari sang dokter.


"Begini...." seru sang dokter kembali menjeda ucapannya. Sengaja sepertinya mengerjai pasangan ini.


"Come on dok, jangan buat aku kuatir dong" seru Raditya mulai nampak kearoganan seorang CEO Samudera Grub.


"Ha...ha...." dokter itu malah terbahak.


"Kamu ternyata beneran lupa padaku Raditya" ujarnya semakin memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Raditya terbengong, Rania pun demikian.


"Gue Tiara, teman seangkatan SMA lo" bilangnya memperkenalkan diri.


Raditya mengingat-ingat, tapi nyatanya ingatannya tak selancar saat minta jatah ke sang istri.


"Gue yang duduk di bangku depan guru" lanjut sang dokter.


"Kenalkan nyonya, saya dokter Tiara. Teman suami anda yang waktu sekolah menengah atas bengalnya nggak ketulungan" kata Tiara menjabat tangan Rania.


Barulah Raditya ingat akan sosok Tiara.


"Owh, gue inget sekarang. Lo cewek culun itu kan?" seru Raditya.


"Ha...ha...ingatan anda layak diacungin jempol tuan Raditya" ulasnya sembari terbahak.


"Sekarang apa hasil pemeriksaan istri gue?" kembali Raditya penasaran dengan hasil pemeriksaan barusan.


"Selamat nyonya Rania, tuan Raditya. Kalau lihat hasil pemeriksaan tadi sih, usia kehamilannya tujuh minggu an" bilang dokter Tiara.

__ADS_1


"Hah????" Rania bengong.


"Dua bulan lalu istri ku pasang kontrasepsi" imbuh Raditya.


Kembali dokter Tiara mengarahkan probe nya untuk mencari keberadaan alat yang dibilang oleh Raditya.


"Owh ini, akhirnya kutemukan juga" kata dokter Tiara lega.


"Nyonya, alat kontrasepsinya memang sudah tak berposisi laiknya letak yang normal. Jadi setelah ini sebaiknya langsung konsul ke bagian obgyn aja. Apa sebaiknya diambil atau dipertahankan" terang dokter Tiara.


"Dokter Obgyn nanti yang bisa memutuskan untuk itu" lanjut penjelasan dokter Tiara.


Raditya masih memperhatikan reaksi Rania.


"Sudah, kita jalanin aja. Semua adalah amanah" kata Raditya mendekat ke arah sang istri untuk menguatkan.


"Emang anak pertama kalian usia berapa?" tanya dokter Tiara ikutan penasaran karena melihat reaksi Rania.


"Hampir empat bulan dok" bilang Rania.


"Wow, kecebong kamu hebat juga tuan Raditya" olok dokter Tiara.


"Hussssttt diam lo" tandas Raditya.


"Nggak usah sedih Rania, lihat aku. Aku sudah dua tahun ini menikah dan sampai sekarang belum hamil juga" seru Tiara menguatkan.


Rania memandang Tiara, untuk saling menguatkan.


"Makasih dok" balas Rania.


Dan seperti yang dikatakan oleh dokter Tiara, Rania kali ini dipindahkan ke ruang kebidanan untuk dilakukan pemeriksaan selanjutnya.


Raditya tak melewatkan sedikitpun semua proses pemeriksaan.


"Beno, pergi saja. Sepertinya aku akan lama di sini" beritahu Raditya lewat telepon.


"Jangan lupa kamu selidiki Andah dan orang-orang di sekitarnya" suruh Raditya memberi perintah.


.


Riska melenggang dengan indahnya, masuk ke rumah mommy.


Terdengar tepuk tangan dari sebelah Riska. Riska pun menoleh.


"Setelah memberikan masalah, pede sekali kamu balik ke sini" olok seorang yang sepertinya menunggu Riska.


"Mommy mana?" tanya Riska dan tak menanggapi ucapan laki-laki cantik itu.


"Ada di dalam. Sedang istirahat. Mommy capek ngurusin masalah yang kamu buat" bilangnya.


"Emang apa yang aku perbuat?" tanya balik Riska membuat orang itu naik pitam.


Mommy keluar tepat saat Riska dan orang itu terlibat adu mulut.


"Riska, apa sudah selesai masalah kamu?" tanya Mommy.


"Wajib lapor Mom, saben minggu. Tuan itu terkena serangan jantung, jadi dugaan pembunuhan dilewatkan" terang Riska.


"Oke, sekarang kasih mommy hasil kamu memalak tuan yang meninggal itu. Sekaligus biaya mommy saat harus wara wiri karena kamu libatkan dalam masalah" tukas mommy.


"Oke Mom, sabar dong" bilang Riska.


Dia ambil ponsel dan Riska transfer ke mommy sejumlah uang.


"Oke Riska, sekarang istirahatlah" suruh mommy sok ramah.


"Mommy kok baik sekali sih kepadanya. Bukannya dia sudah bikin susah dan repot. Hampir saja loh mommy ketangkap gara-gara dia" seru laki-laki itu.


"Tunggu waktu yang tepat untuk mendepaknya" seru mommy.


Riska masuk ke kamar yang telah lama tak ditempatinya.


"Owh, akhirnya bisa meluruskan pinggang juga" ujar Riska sembari melempar tubuhnya sendiri ke ranjang empuk di sana.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2