
Dan disinilah Riska sekarang, berhadapan dengan dokter anak yang ternyata bukan dokter Andah.
"Loh, kok bukan dokter Andah?" tanya Riska heran.
"Dokter Andah minta pindah ke rumah sakit di ibukota. Jadi perawatan putra anda, sekarang menjadi tanggung jawab saya" tegas dokter anak yang bernama dokter Fina.
"Silahkan duduk nyonya" suruh dokter Fina sopan.
"Suaminya nggak diajak? Ini kebetulan yang akan saya bicarakan mengenai kemungkinan-kemungkinan biaya yang musti disediakan karena bayi anda harus segera dirujuk nyonya" terang dokter cantik nan anggun itu.
"Jangan menyindirku dok, suamiku sekarang berada di penjara" tukas Riska sarkas.
"Heemmmm, baiklah. Berarti cukup bersama anda saja kita diskusikan semua" lanjut dokter Fina.
"Begini nyonya, sepertinya kondisi bayi anda minta untuk segera dirujuk. Karena dalam sehari ini saja, bayi anda sudah membiru" lanjutnya.
"Aku rasa kelainan di katub jantung bayi anda memanglah parah. Jadi aku anjurkan hari ini bayi anda musti dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas bedah jantung anak" terang dokter.
Kenapa nggak langsung mati aja sih, biar nggak ngehabisin biaya banyak. Gerutu Riska dalam hati. Hewan buas aja masih kalah jahat dengan Riska.
Eh, tapi nggak apa-apa sih. Kalau dirujuk luar kota, paling nggak aku bisa menghindari Mahendra sementara waktu. Dan berita tentang diriku semoga lekas hilang. Penyidik pasti tak akan memanggilku lagi dengan alasan bayiku yang sakit. Yeesssss, hati Riska bersorak. Akhirnya ada jalan terang juga.
"Bagaimana nyonya?" tanya sang dokter kala Riska masih saja diam tak merespon.
"Baik...baik dokter" kata Riska menyetujui.
"Maaf dok, di sana harus ada yang menunggu?" tanya Riska.
"Sebaiknya begitu, meski tak harus di rumah sakit. Jikalau sekiranya perlu untuk datang biar cepat untuk menjangkau" jelas sang dokter.
"Baik, terima kasih" jawab Riska.
"Silahkan tanda tangan persetujuan rujukannya nyonya" perawat membuka lembar rekam medik yang harus ditanda tangani oleh Riska.
"Baik, silahkan menunggu di luar. Akan kami persiapkan pasien dan akomodasinya" jelas suster jaga.
"Apa aku cairkan saja ya cek ini" gumam Riska.
"Yap, mendingan sekarang saja. Takutnya di sana nanti langsung butuh biaya banyak. Aku juga perlu tempat tinggal. Apa aku menginap di hotel saja ya" pikir Riska.
Riska berjalan keluar rumah sakit dan mencegat taksi yang kebetulan melintas.
"Pak, ke bank B cabang" pinta Riska.
"Siap nyonya" ujar pak sopir sopan.
Riska masuk ke lobi bank terbesar di kota itu. Bank tempat Riska bekerja tak ada apa-apanya dibanding bank yang didatanginya kali ini.
"Selamat siang nyonya, ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu petugas front office menghampiri Riska.
"Oh iya pak, aku mau mencairkan cek" jawab Riska.
"Baik nyonya. Mari ikut dengan saya" Riska pun mengikuti petugas itu.
Setelah mendapatkan beberapa pertanyaan klarifikasi, Riska diminta identitasnya oleh petugas bank. Karena nominal uang dicairkan oleh Riska lumayan banyak.
"Kalau sekalian membuka rekening atas nama saya?" tanya Riska. Akan sangat riskan jika dirinya membawa tunai terlalu banyak. Sebagai seorang pekerja perbankan tentu Riska paham akan hal itu.
Setelah semua selesai Riska kembali ke rumah sakit dan menyelesaikan administrasi. Hampir lima puluh juta uang yang dipakai untuk membayar administrasi di rumah sakit itu.
"Ini aja sudah segini banyak" gerutu Riska.
Perhiasan Riska yang saat itu dijadikan Mahendra sebagai jaminan telah kembali. Dan saat ini dibawa oleh Riska kembali.
Riska ikut ambulan yang membawa putranya ke rumah sakit yang lebih besar dan itu ada di ibukota.
Butuh empat jam perjalanan untuk sampai rumah sakit yang dituju.
Riska yang kurang tidur semalaman, terlelap di antara suasana sirine ambulan yang memecah jalanan.
.
Mahendra yang berada di lapas, baru mendapat kejelasan tentang Riska selepas makan siang.
"Dasar wanita ******" umpat Mahendra sembari mengepalkan tangannya erat.
"Pak, boleh pinjam ponsel" pinta Mahendra kala petugas penyidik lewat di sel nya.
"Enak aja" kata nya menanggapi ucapan Mahendra.
"Di sini tersangka tak boleh bawa ponsel" jelas penyidik itu.
__ADS_1
"Itu aku juga tahu pak. Tapi ini sangat urgen, aku mau menghubungi istriku. Karena anakku sedang sakit" ujar Mahendra menghiba.
Penyidik itu berlalu begitu saja menjauhi Mahendra. Meninggalkan gerutuan Mahendra yang tak berujung.
Saat ada penyidik lain, Mahendra pun melakukan hal yang sama. Ternyata ada juga penyidik yang memberi pinjaman kepada Mahendra dengan alasan kasihan. Padahal dirinya minta uang rokok kepada Mahendra.
Beberapa kali dia tekan nomor Riska, tapi tetap tak ada jawaban.
"Sialan kamu Riska, lima puluh juta yang kuminta kenapa tak kau antarkan sampai sekarang" sekali lagi Mahendra menggerutu. Tanpa tahu jika Riska telah pergi jauh ke ibukota untuk mendampingi bayi mereka yang dirujuk.
Karena belum diminta oleh yang punya, Mahendra mencoba lagi mendial nomor Riska. Barangkali ada jawaban.
Panggilan ke lima barulah ada suara Riska yang serak, khas orang bangun tidur.
"Kamu ya, di sini suami kamu sedang menunggumu mengantarkan uang yang aku minta kemarin. Kamu malah enak-enakan tidur" umpat Mahendra dalam panggilannya.
Riska yang baru terbangun, baru nyadar kalau nomor tak dikenal yang menelponnya adalah Mahendra.
'Sial, kenapa aku angkat sih' sesal Riska dalam gerutuan.
"Asal kamu tahu, aku saat ini tidak enak-enakkan . Anak kamu butuh dirujuk segera. Dan aku dalam perjalanan menuju ke sana. Jangan asal tuduh saja. Aku capek" suara Riska sangat ketus didengar oleh telinga Mahendra.
Mahendra diam, dalam pikirannya Mahendra mengira jikalau ucapan Riska hanya bohong belaka.
"Aku tak percaya" tukas Mahendra.
"Kamu tidak dengar suara sirine yang sangat keras ini?" ujar Riska sewot.
Dan memang benar apa yang dikatakan Riska, Mahendra mendengar sayup-sayup suara sirine ambulan yang meraung.
"Sudah ah, aku mau menyimpan tenaga untuk menjaga anak kamu yang akan dirawat entah sampai kapan" kata Riska mematikan sambungan telepon dari Mahendra.
"Sialan kamu Riska, kamu menipuku" umpat Mahendra entah yang keberapa kalinya.
Angannya untuk mempunyai uang lima puluh juta sirna sudah.
Mahendra mengepalkan erat tangannya. Belum selesai masalah dengan Raditya, sekarang Riska istrinya membuat ulah.
"Apa mungkin jikalau Riska telah menjual dirinya jauh sebelum terungkap tadi pagi" ada tanya yang mengganjal dalam benak Mahendra.
"Atau jangan-jangan bayi yang dilahirkan juga bukan anakku?" pikir Mahendra.
Mahendra geleng kepala, "Ah, apa aku terlalu picik sehingga meragukan anakku".
Mahendra yang galau di dalam penjara.
.
Di penthouse terjadi hal yang sama. Raditya bahkan menyewa mobil khusus untuk membawa anaknya yang masih beresiko untuk pindahan.
Beno yang awalnya maksa untuk ikut mengantar kepindahan Raditya, sekarang lebih banyak diam karena ada Siska di sampingnya.
"Kalian itu kalau saling suka, jangan saling dipendam" gurau Rania.
"Emang kelihatan banget ya???" tukas Beno dengan tawa nya.
"Banget" sela Raditya menimpali.
"Olok saja terus. Lama-lama kalian kompak juga untuk membuat aku menjadi obyek penderita" tukas Beno sewot.
"Ha...ha..." Raditya tertawa.
"Pak, inkubator transport sudah disiapkan?" tanya Raditya kepada sopir mobil van yang khusus disewa olehnya.
"Siap tuan, semua sudah di bawah" jawabnya.
Sementara seluruh isi penthouse sengaja tak ada yang dibawa, kalau suatu saat balik ke kota ini. Untuk mengunjungi orang tua Rania. Tak ada yang direpotkan. Raditya selalu mempersiapkan semua dengan matang.
Bu Marmi ingin melihat dulu situasi ibukota. Jika nanti tak betah di sana, maka akan balik ke kota ini.
Raditya ajak, karena bu Marmi sebatang kara.
Perawat yang dikaryakan oleh Raditya pun ikut bersama sekalian ke ibukota.
"Kalian mau bareng semua semobil?" tanya Beno.
"Inginnya sih begitu" jawab Rania.
"Mana cukup bos?" ujar Beno menimpali Rania.
"Dicukup-cukupin lah" tandas Rania.
__ADS_1
Raditya mengajak Rania semobil dengannya. Sementara si kembar bersama para perawat yang mendampingi beserta bu Marmi.
Rania memeluk erat Siska, sahabatnya yang baru dua hari bersama.
"Jangan lupa, sampai sana kabarin aku" ujar Siska.
"Siap bu. Mana uang sakunya" kata Rania yang seperti minta ijin ibunya karena akan pergi jauh.
"Ha...ha...uang sakunya minta suami kamu ya. Aku sungkan jika kasih ke kamu. Seperti menabur garam di lautan" gurauan Siska untuk menyanggah ucapan Rania.
Mereka berdua terbahak bersama.
"Oke, aku berangkat dulu" kata Rania pamitan.
"Hati-hati semua. Bye" ucap Siska. Dan Beno melambaikan tangan mengiringi kepergian keluarga Raditya.
Pak Supri yang membawa Raditya dan Rania selalu menjaga jarak aman di belakang mobil van.
Bahkan iring-iringan mobil ini dikawal oleh petugas keamanan.
Raditya tak mau beresiko dengan keamanan keluarganya.
"Sudah seperti pejabat aja kita...he...he... Ada pengawalan segala" ujar Rania.
"Ya harus begitu" tukas Raditya.
"Sebenarnya sih lebih cepat lewat jalur udara, tapi itu kurang aman untuk kesehatan Celo dan Cio" terang Raditya.
"Enakan lewat jalur darat, lebih menikmati suasana" ulas Rania.
"Iya sih, tapi kalau bisa lebih cepat sampai kan lebih baik" tandas Raditya.
"Hidup tuh sesekali perlu nyantai. Percuma dong punya uang banyak tapi tak menikmati" kata Rania.
"Heemmm benar juga apa kata kamu sayang. Kalau begitu siapin diri kamu. Bulan depan kita honeymoon ke luar negeri" ujar Raditya untuk menimpali Rania.
"Hah?" Rania hanya bengong saja menanggapi.
Raditya mengusap muka Rania yang bengong.
"Husss pergi sana bagi siapapun yang merasuki tubuh istriku" canda Raditya seperti orang yang mengusir setan.
Rania terbahak oleh ulah lucu Raditya.
"Kamu cantik loh yank jika ketawa lepas seperti ini" puji Raditya untuk sang istri tercinta membuat Rania tersipu.
"Oh ya, sampai ibukota kita ke dokter kandungan langsung" kata Raditya yang masih ingat saja akan hal itu.
Kemarin batal karena Celo dan Cio rewel. Inginnya dekat dengan Daddy dan bunda nya. Enggak tahu kenapa, jika dipegang suster keduanya menangis.
"Kok masih ingat aja sih?" sela Rania.
"Wah itu utama sayank. Kamu nggak kasihan apa sampai sekarang aku belum tes drive" kata Raditya absurd dan langsung pada intinya.
"Kamu percaya atau nggak, sejak kejadian ONS kita. Tak pernah sekalipun aku bermain wanita" Raditya bercerita sementara Rania menjulurkan lidah tak percaya dengan perkataan Raditya.
"Sueeerrrrr. Kalau nggak bertanya, tuh tanya pak Supri. Dia termasuk saksi hidup kenakalan aku, selain Beno pastinya" imbuh Raditya.
"Iya nyonya, tuan muda sibuk dengan ngidamnya. Dan anehnya tuan muda tak menyadari kalau itu ngidam" tukas pak Supri terkekeh.
"Andai saja waktu bisa diulangi, tentu saat itu kamu akan kuminta langsung dari Mahendra" ujar Raditya.
"Nyatanya sebelum kamu minta, aku sudah dibuang dulu oleh pengkhianat itu" ujar Rania dan terdengar nada kecewa di suaranya.
Raditya menggenggam erat tangan Rania.
"Tidur aja, kita masih dua jam an baru sampai" ujar Raditya yang melihat beberapa kali Rania menguap karena semalaman Celo dan Cio mengajak begadang.
Raditya menarik kepala Rania dengan lembut dan dia letakkan di bahu. Tanpa menunggu lama Rania pun terlelap.
"Pak, nanti langsung ke mansion aku aja" perintah Raditya untuk pak Supri.
"Siap tuan" jawab pak Supri, yang memang sudah tahu jika tuan muda nya telah membeli sebuah mansion.
Apartemen yang selama ini ditinggalinya sendirian, akan dibiarkan kosong begitu saja.
"Tuan muda, apartemennya nggak disewain? Lumayan menguntungkan loh" kata pak Supri memberi masukan.
"Kalau ada yang mau tawarin aja. Ntar ada komisi nya" kata Raditya membuat pak Supri bersemangat.
Tak terasa perjalanan empat jam nggak berasa. Karena dihabisin Raditya untuk mengobrol sambil sesekali melihat pergerakan saham Samudera Grup dan perusahaan yang didirikan sendiri oleh Raditya.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading π