
Pagi-pagi Raditya telah bersiap. Bahkan lebih pagi dari biasanya.
Berulang kali Raditya berdiri di depan kaca. Tepat saat itu, ketukan pintu terdengar dari arah luar.
Raditya menghela nafas panjang. Pasti ulah Beno lagi.
"Masuk aja" kata Raditya karena sudah tahu siapa yang datang.
"Pagi bos, sudah rapi aja. Mau kemana nih?" seloroh Beno meledek sang bos.
"Kepo aja loe" seru Raditya.
"Ha...ha...aku tahu. Pasti mau ke Rania kan?" tukas Beno menimpali.
"Terserah gue mau ke mana" tukas Raditya mencelos.
"Kudoain Rania belum dapat ilham untuk terima loe" kata Beno, semakin terbahak.
"Sialan loe. Pergi sana, kalau ke sini cuman untuk ngolokin gue" Raditya melempar remot tivi yang ada di dekatnya.
"Ha...ha..." Beno terpingkal karena ulah Raditya yang bagai anak kecil marah karena digoda itu.
"Beneran mau ke Rania?" dijawab anggukan Raditya.
"Rania pasti terima loe, aku yakin itu. Setelah semua yang kau lakukan padanya" imbuh Beno.
"Rania itu wanita baik, dia pasti obyektif memandang semua yang telah terjadi" terang Beno kemudian.
"Lagak loe, kayak ngertiin Rania aja. Tak ada yang lebih tahu dari dia, kecuali gue" tandas Raditya.
"Heemmmmmm..." Beno hanya mencibir mendengar penuturan Raditya yang sangat percaya diri itu.
"Kabarin Rania sana, kalau loe mau ke sana. Capek-capek ke sana, malah dianya pergi belanja" lagi-lagi Beno menggoda sang bos.
"Benar juga tuh" celetuk Raditya menanggapi.
Raditya menscrol kontak ponsel untuk mencari nomor Rania.
"Loh, gue kan belum ngesave nomernya" ujar Raditya sambil mengusap tengkuk.
"Ha....ha....tak ada yang mengenal Rania lebih kecuali aku. Huh, nomer aja tak punya" ledek Beno untuk kesekian kalinya dibarengi tawa yang meledak.
Raditya kembali sewot, "Keluar loe! Bilang pak Supri untuk siap-siap" perintah Raditya.
"Eh bentar. Sabar dikit napa. Aku tadi cuman mau bilang, kalau staf direksi yang kemarin sudah aku laporin semua ke pihak berwajib. Aku nggak mau kepulanganku ke ibukota mundur lagi" terang Beno.
"Bilang aja loe udah nggak tahan Beno. Nggak tahan mau karaokean sama Siska" olok Raditya membalas Beno.
"Ya itu jelas. Aku nggak mau karatan tau, lama tinggal di sini" ujar Beno menanggapi.
"Halalin tuh Siska. Kasihan dia, kau PHP in mulu. Enak di kamu nggak enak di dia" saran Raditya.
"Aku pertimbangin dech" jawab Beno beranjak dari kursi.
"Jangan lupa bilang ke pak Supri. Abis sarapan aku turun" terang Raditya.
"Oh ya bos, nggak nengokin anak Mahendra?" tanya Beno dengan mimik muka serius. Padahal dia sengaja menggoda Raditya.
"Ogah gue" tukas Raditya.
"Enaknya Mahendra diapain?" tanya serius Beno.
"Ya sama dengan yang lain, buat dia sibuk dengan penyidik. Kalau perlu minta pihak berwajib buat naikkan status Mahendra secepatnya" ujar Raditya.
"Nggak kasihan kamu sama anaknya yang baru lahir dengan kelainan itu?" sela Beno.
"Urusan pribadi jangan dicampur kerja dong Beno" tanggap Raditya.
"Oke lah. Kupastikan di minggu ini mereka sudah dipanggil penyidik dan ditahan" terang Beno.
"Heemmmm, sudah selesai?" tanya Raditya.
__ADS_1
"Sudah" jawab singkat Beno.
"Keluar sekarang!" usir Raditya ke Beno yang tak kunjung keluar dari kamarnya meski telah berdiri sejak tadi.
"Ini juga mau keluar bos" imbuh Beno.
"Oh ya, Dimas ada di ibukota. Sembunyi di bawah ketiak tuan Rahardian" beritahu Beno.
"Bahas nanti aja. Sekarang kamu keluar" ucap Raditya sekali lagi.
.
Raditya telah menemani kembar di kamarnya. Sampai saat ini Raditya belum kepikiran nama keduanya.
Untuk memberikan status resmi ke mereka, Raditya masih menunggu kepastian Rania.
Tak mungkin membuat akta kelahiran tanpa surat nikah. Kalaupun bisa, pasti yang muncul nama orang tua tunggal. Dan nama bunda nya lah yang akan tercantum.
Sulit juga secara hukum nantinya jika mereka akan menjadi penerus keluarga Marino.
"Loh tuan, kok sudah di sini? Rania di mana?" tanya bu Marmi menghampiri Raditya yang sedang bersama si kembar.
"Suster-suster pada ke mana?" tanya bu Marmi kembali.
"Aku suruh mereka istirahat bu. Kasihan, pasti semalam mereka juga begadang nungguin kembar" ujar Raditya.
Rania datang dengan wajah segar. Nampak sekali kalau dia baru selesai mandi. Meski tanpa make up, wajah cantiknya senantiasa mempesona Raditya yang sudah berada di sana sedari tadi.
"Tuan, aku ke dapur dulu. Mau masak" kata bu Marmi yang sengaja memberi kesempatan pada mereka berdua untuk bicara.
Raditya tak menjawab karena masih memandang Rania yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya.
"Iya bu. Sudah bisa kan nyalain kompornya?" kata Rania, yang malah menjawab.
"Sudah dong. Kemarin sudah diajarin pak Supri" terang bu Marmi.
"Kalau kesulitan, boleh kok bu panggil pak Supri. Dia ada di bawah, sedang bersihin mobil" sela Raditya.
Ada perawat yang mau masuk, keburu dicegah oleh bu Marmi.
"Biarkan kembar sama ayah bundanya" bisik bu Marmi takut kedengaran dua orang yang ada di dalam kamar. Rania dan Raditya.
Si kembar yang masih pulas tertidur, memberi kesempatan Raditya untuk kembali bicara pada Rania.
Rania yang dipandang Raditya sebegitunya pun jadi salah tingkah.
"Ada yang salah kah?" tanya Rania karena Raditya terus saja memandang ke arah dirinya.
"Heeemmm kamu cantik" ulas Raditya membuat Rania semakin tersipu.
"Rania, aku serius akan ucapanku kemarin. Tak akan berubah meski hari ini kamu akan menolak sekalipun. Aku akan terus berusaha sampai kamu mau" kata Raditya.
Rania terdiam. Dalam lubuk hatinya terdalam, dia tak ingin si kembar mengalami hal seperti Chiko putra pertamanya. Tapi dia belum yakin sepenuhnya akan sosok laki-laki di sampingnya ini.
"Apa yang kamu ragu dari diriku Rania? Karena merasa belum kenal diriku? Atau bagaimana?" ucap Raditya seakan tahu pikiran Rania saat ini.
"Itu salah satunya" tegas Rania menjawab.
"Apa perlu kupanggilin Beno, asisten aku. Biar dia yang menceritakan semua siapa aku, latar belakang aku, kelakuan bejatku. Beno tahu semuanya" kata Raditya menambahkan penjelasannya.
"Tak perlu" ucap Rania menanggapi kata-kata Raditya.
"Lantas apa yang membuat kamu ragu untuk menerimaku?" tanya Raditya dengan menatap Rania.
"Jangan samakan aku dengan Mahendra, jika itu menjadi alasan keraguan kamu untuk menerimaku" ulas Raditya, karena menunggu jawaban yang lama dari Rania.
"Tidak semua laki-laki bajingan seperti dia. Itu yang harus kamu ketahui Rania" imbuh Raditya.
"Lantas aku harus bagaimana Radit?" ucap Rania.
"Yakinkan hatimu. Aku pun tak bisa memaksamu" kata Raditya menegaskan.
__ADS_1
Si kembar menggeliat dan salah satunya menangis.
Raditya dengan sigap dan berdiri mendekat.
"Kenapa sayang, hauskah?" Raditya mengangkat bayi kecil yang menangis itu.
"Oooooo...popok kamu basah ya?" Alih-alih bersungut, Raditya malah tersenyum karena lengan bajunya terkena pipisnya kembar.
"Wah, pagi-pagi sudah ngerjain daddy ya" Raditya mengambil popok bersih untuk gantiin popok basah.
Rania hanya mengamati interaksi Raditya yang sangat berbeda dengan Mahendra saat itu.
Mahendra akan marah, jika Chiko kecil tak sengaja membasahi baju nya dengan ompol.
"Dia memang baik" batin Rania. Sementara Raditya masih asyik dengan si kecil yang mengompol bergantian.
"Kalian memang sengaja kan ngerjain daddy pagi-pagi" ucap Raditya sembari tertawa.
Meski sudah diganti, keduanya masih saja merengek.
"Haus kali ya?" celetuk Rania.
"Kayaknya sih begitu?" tukas Raditya.
"Tolong bawa ke sini" pinta Rania.
"Dua-duanya?" tanya Raditya.
"Heemmmm" Rania mengangguk.
Raditya menyerahkan keduanya ke tangan Rania.
"Kamu balik badan dong!" suruh Rania.
"Untuk?" Raditya pura-pura tak paham. Pasti Rania akan ngeluarin benda favorit kembar, dan juga Raditya tentunya.
"Kok bengong sih, balik badan" ulang Rania.
"Oke bos" Raditya pun melakukan hal yang diminta Rania.
Ternyata keberuntungan ada di pihak Raditya. Rania kesulitan memegang bayi kedua.
Bu Marmi dan perawat yang pagi ini tugas jaga tak ada yang menghampiri meski Rania telah memanggil mereka berulang kali. Raditya tersenyum smirk, yang tak terlihat oleh Rania. Saatnya modus dikeluarin.
"Gimana? Mau dibantu nggak nih?" seloroh Raditya.
"Aduh..duh...tolongin. Kenapa kepalanya melorot sih" keluh Rania yang memang sedang kesulitan itu.
Reflek Raditya membalik badan, dan dilihatnya Rania yang kesulitan benahin posisi bayi kedua.
Raditya pun membantu posisi yang benar untuk menyusu. Dan otomatis Raditya ikut pegang dong salah satu aset kembar Rania yang nampaknya sangat penuh itu. Sebagai seorang laki-laki normal, tentunya Raditya hanya bisa neguk ludahnya sendiri.
Terlihat semburat merah di pipi Rania.
"Balik badan lagi" pinta Rania.
"Tapi aku sudah lihat semuanya loh. Bahkan ikut pegang" kata Raditya menimpali.
"Tapi kalau sekarang belum boleh lagi" terang Rania.
"Berarti besok-besok boleh yaa?" tanya Raditya ambigu.
Rania terdiam. Merasa salah ngomong. Sementara Raditya tersenyum penuh kemenangan saat membalikan badan.
"Rania, gimana jawaban kamu?" tanya Raditya masih dengan posisi yang sama, tak bisa melihat Rania.
"Jangan lama-lama, aku benar-benar ingin memberikan status yang jelas untuk kembar.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading 😊
__ADS_1