Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Kegagalan Alex


__ADS_3

Baru dua hari pasca Raditya dan anak buahnya bergerak, perusahaan ekspedisi milik Alex mulai menurun perform nya.


Banyak komplain masuk ke hotline customer service kantor perusahaan Alex.


Mayoritas mereka mengeluhkan pengiriman barang yang tak sesuai tanggal yang ditentukan.


Murah tapi kalau pelayanan tak prima, mau gimana lagi. Mendingan pakai yang lain aja. Itu lah ancaman para customer yang menelpon.


Belum lagi banyak unggahan sosmed yang menulis hal yang sama.


Pagi ini Alex sedang berhadapan dengan tuan Rahardian papa mertuanya.


Dengan tak sungkan tuan Rahardian juga mengajak Riska. Riska yang sekarang menjadi gundik tuan Rahardian.


Alex pun demikian, mengedipkan sebelah mata kepada Riska.


"Lex, baru juga dua hari papa memuji kamu. Tapi lihat apa yang terjadi hari ini" ujar tuan Rahardian menatap menantunya itu.


"Pah, itu kan hal biasa dalam usaha. Pasang surut pasti ada" imbuh Alex.


"Kalau itu prinsip kamu, tak perlu menunggu lama perusahaan kamu untuk gulung tikar" lanjut tuan Rahardian.


"Pah, semua anak buah aku juga sudah mulai bergerak" jelas Alex.


"Bergerak ke mana? Demo?" kata tuan Rahardian mulai naik oktaf suaranya.


"Pah, biarkan saja. Kita tinggal pecat mereka yang membangkang dan rekrut tenaga baru" seru Alex, terlalu memandang enteng masalah yang terjadi di perusahaan baru yang dikelolanya itu.


Tuan Rahardian sampai geleng kepala dengan ulah sang menantu. Menantu yang terpaksa diterima karena Vero terlanjur hamil dengan Alex. Alex yang saat itu sangat dicintai oleh Vero. Nyatanya sekarang putri tunggalnya sudah balik ke hobi lama, clubbing dan berkencan dengan beberapa pria.


Andai tuan Rahardian tak mempertimbangkan nama baik, Alex dan Vero sudah disuruhnya untuk bercerai.


Semakin dipikirkan, ulah Alex dan Vero semakin membuat pusing.


Kembali tuan Rahardian membuka tab. yang berisi laporan dari asistennya. Jika demo karyawan semakin menjadi dan bertambah banyak. Bahkan terjadi di setiap kota. Mereka seolah-olah ada motor penggerak sehingga kompak untuk menuntut kenaikan gaji secara bersamaan.


"Lihat nih!" tuan Rahardian menyodorkan tab untuk dilihat Alex.


"Pah, kapan papa bosan dengan dia. Bilang padaku" sahut Alex dengan menatap nakal ke arah Riska.


"Tunggu tujuan aku tercapai, akan kuberikan dia padamu" jawab tuan Rahardian dengan enteng.


Sementara dalam benak Riska, nggak apa-apa lah. Sekarang mertua dan menantu dalam daftar antrian. Paling nggak dia belum perlu mencari mangsa baru dalam waktu dekat.


"Sekarang nggak usah bahas dia, kembali fokus ke ini" ujar tuan Rahardian kembali menunjukkan layar tab pada menantu yang ternyata sama bejat dengan mertuanya itu.


Terdengar ketukan pintu ruangan, dan nampak asisten tuan Rahardian masuk ke sana.


"Ada apa? Ada masalah?" tatap tuan Rahardian.


"Benar tuan" tandasnya.


"Apa?" kata tuan Rahardian menuntut jawaban segera.


"Beberapa perusahaan yang rencana memutus kontrak dengan Samudera Grub, membatalkannya" seru sang asisten.


Tuan Rahardian menggebrak meja membuat yang di sana ikutan terlonjak.


"Percuma aku taruh orang di Samudera, suruh mereka bergerak sekarang" hardik tuan Rahardian memberi perintah.


"Maaf tuan, mereka belum berani bergerak sekarang. Sepertinya aksi mereka telah diketahui oleh CEO perusahaan itu" terang sang asisten memberikan penjelasan.


"Raditya" sebut tuan Rahardian dalam gumamannya.

__ADS_1


'Raditya???' pikir Riska. Apa musuh tuan ini Raditya suaminya Rania. Alisnya Riska pun saling menaut. Apa tuan ini melibatkan aku, karena ingin membalas dendam pada orang bernama Raditya itu. Batin Riska.


"Samudera Grub meminta kompensasi yang sangat besar karena pemutusan kontrak kerjasama sepihak" lanjut sang asisten.


"Oke, kuterima laporan kamu" tukas tuan Rahardian.


Asistennya itu pun balik ke ruangan di mana seharusnya dia bekerja.


Riska mendekat dan menggelayut manja di pundak tuan Rahardian, Riska pasti sengaja menempelkan kedua bukit kembarnya ke punggung tuan nya itu.


Belahan dada yang rendah tentu saja membuat keduanya terekspos sempurna, membuat Alex meneguk ludahnya sendiri.


Sementara tuan Rahardian yang merasakan kekenyalannya, ikutan tergugah.


Riska tersenyum nakal karena berhasil menggoda keduanya.


"Mas, aku ingin" bisik Riska di belakang telinga tuan Rahardian membuat laki-laki itu beranjak dari duduk dan langsung menarik lengan Riska untuk ikut dengannya.


Bermain dengan jal4ng ini sejenak mungkin bisa mengurangi stres. Pikir tuan Rahardian.


"Tunggu giliran kamu tuan Alex" bisik Riska sembari mengedipkan sebelah mata nya saat dirinya sedang ditarik oleh tuan Rahardian menuju kamar khusus di samping ruangan itu.


Alex pun membalas dengan hal yang sama.


.


Mahendra yang kembali bertemu dengan Dimas, kali ini tengah bersiap untuk melakukan apa yang diperintahkan Dimas.


Bagaimanapun tawaran Dimas kali ini menggiurkan. Selain dibantu untuk mendapatkan Rania kembali, ada cuan lumayan banyak yang akan didapatkan Mahendra.


Mahendra pun menyetujui untuk merubah sedikit penampilannya dengan merubah sedikit bentuk wajah.


Setelah dua hari kemarin menjalani proses pemeriksaan, maka hari ini Mahendra akan langsung masuk ke ruang operasi. Operasi bedah plastik tentunya.


Seseorang masuk ke ruangan di mana Mahendra dan Dimas berada. Tentu saja Mahendra terkejut dengan kehadiran wanita itu.


"Iya, aku dokter Andah" terangnya.


"Tuan, bagaimana bisa?" Mahendra menatap Dimas meminta penjelasan.


"Tenanglah! Andah ada di pihak kita" jelas Dimas.


"Dan tentu saja aku berseberangan dengan istri kamu" tukas Andah.


"Istri aku?" tukas Mahendra.


"Siapa lagi kalau bukan Riska, tak mungkin juga aku sebut Rania sebagai istri kamu" sahut Andah.


"Kita punya misi yang sama, aku akan dapatkan Raditya. Kamu dapatkan Rania" seru Andah.


"Tuan Dimas?" Mahendra menoleh ke arah Dimas.


"Apa keuntungan yang akan didapatnya?" imbuh Mahendra.


Dan memang benar, apa yang akan didapatkan Dimas kali ini. Dimas yang juga telah berganti penampilan muka nya.


"Hhhmmm aku akan dapatkan Veronica dan harta kekayaan om Rahardian" jelas Dimas.


"Bukan kah aneh. Kenapa anda repot dengan membantuku lari dari lapas. Padahal tanpa melibatkan aku anda bisa bergerak sendiri tuan" tukas Mahendra.


"Karena tuan Rahardian akan melibatkan kamu dalam rencana nya menghancurkan Samudera Grub" kembali Dimas menjelaskan.


"Aku masih belum jelas tuan" sahut Mahendra.

__ADS_1


"Sudah nggak usah kamu pikirkan. Bersiap saja kamu sekarang. Dokter atas rekomku sudah menunggu kamu di dalam" suruh Andah.


"Selesai ini, rubahlah identitas kamu. Seperti hal nya yang dilakukan Dimas. Dan asal kamu tahu Mahendra, Dimas bersedia membantuku karena aku lah yang merencanakan semua nya" bisik Andah dengan tegas.


Apa dia otaknya selama ini. Batin Mahendra bermonolog.


.


Hari-hari pasca kepulangannya dari bulan madu, Raditya juga disibukkan dengan rencana persiapan pesta pernikahannya.


Undangan pun telah disebar oleh papa Andrian jauh-jauh hari sebelumnya.


Pesta pernikahan meriah tentu saja.


Rencana Raditya akan mengajak Rania fitting baju yang akan dikenakan waktu hari H.


"Sayang, kamu sudah siap belum?" tanya Raditya yang telah rapi.


"Bentar" jawab Rania yang ternyata sedang nyusuin Celo dan Cio bergantian.


Raditya pun menghampiri ketiganya.


"Kita mau ke mana?" tanya Rania.


"Ada dech" jawab Raditya membuat penasaran Rania.


"Ntar juga akan tahu sayang. Mendingan selesaikan saja dulu" ujar Raditya ikutan duduk dan menimang Cio yang semakin gembul aja.


"Naik berapa ya berat mereka?" kata Raditya.


"Terakhir sih sudah hampir empat kiloan" tukas Rania.


"Banyak juga ya naiknya" tandas Raditya.


"Terang aja, minumnya aja segini kuat" imbuh Rania dengan arah mata memandang Celo yang mengenyot kuat sumber makanannya.


Raditya tergelak, "Jangankan mereka, aku saja suka".


Dan Raditya dan Rania sudah terlihat di sebuah butik. Butik terkenal yang ternyata milik seorang artis.


"Ngapain kita ke sini?" tanya Rania heran.


"Fitting gaun" bilang Raditya.


"Untuk apa? Baju-baju yang kamu belikan aja belum aku pakai semua" Rania berusaha menolak dan hendak balik kanan.


"No! Mau ke mana" Raditya menahan langkah Rania.


"Hai, Raditya. Sudah datang saja kau" seru seorang wanita, membuat Rania urung melangkah keluar.


Raditya tersenyum melihat ke arah wanita itu.


"Loh, bukannya dia artis sinteron yang tayang saben hari itu?" Rania bengong di tempat.


"Kenalin, Melanie" katanya menyalami Rania.


"Rania" Rania pun menyebut namanya.


"Cantik" bilangnya mengomeni Rania.


"Pasti kamu istrinya Raditya kan?" seru nya lagi.


Hanya senyuman tersungging di bibir Rania untuk menanggapi semuanya.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2