
Rudi menggeber mobil dengan cepat melebihi kecepatan rata-rata tapi mobil para petugas tetap saja masih bisa mengejar.
Hampir satu jam mereka terlibat dengan aksi kejar mengejar.
Kalau diamati, sudah layaknya aksi di drama korea. Menegangkan. Andah berpegang erat pada pegangan di atas pintu mobil.
"Hati-hati Mahendra" suruh Andah. Jantungnya sudah mau copot karena tegang luar biasa sampai Andah memanggil Rudi dengan nama lamanya Mahendra.
"Diam saja, aku sedang nyari cara buat melarikan diri dari kejaran para petugas itu" terang Rudi.
"Di depan itu ada perempatan lampu merah. Kita bisa ambil kesempatan mencari celah di sana" terang Andah.
"Lo telpon Dimas aja dech. Buat dia bisa bantu kita" kata Rudi.
"Wah, benar juga kamu" Andah bagai mendapat pencerahan saat Rudi bilang tadi.
"Halo Dimas, kita sedang terjepit nih. Tolong kirim bantuan" kata Andah.
"Share lok" tukas Dimas.
"Oke, tapi cepatlah. Kami dikejar mobil patroli nih" bilang Andah.
"Bagaimana bisa?" ucap Dimas menimpali.
"Issshhhh ceritanya ntar aja. Cepetan lo kirimin bantuan" sergah Andah tak ingin lagi menjawab pertanyaan Dimas.
"Oke...oke...tungguin. Bentar lagi anak buah ku menuju ke lokasi. Makanya cepetan lo share lok dech" timpal Dimas.
"Gimana mau share lok, sedari tadi lo ajakin ngobrol mulu" seru Andah dan langsung menutup panggilan.
Sebelum lupa, Andah langsung mengirim lokasi mereka ke Dimas.
Sementara Rudi masih fokus dengan mobil di depan.
Mobil yang dikendarai oleh Rudi, meliuk-liuk memecah jalanan ibukota.
"Pas, lampunya sedang kuning sekarang" ujar Rudi sambil menginjak pedal gas nya maksimal.
"Gila lo Rud" teriak Andah kala mereka melewati lampu yang telah berganti merah saat mereka melintas.
Hampir saja mobil yang dikendarai Rudi berciuman dengan sebuah truk tronton yang membawa muatan berat. Rudi berhasil menghindar tapi di depan terlihat pagar pembatas.
Dengan cekatan Rudi berhasil menghindar kembali.
Andah menarik nafas dalam, kala Rudi berhasil mengatasi semua. Berhasil lolos dari maut dan lolos dari kejaran petugas tadi.
"Di sebelah kiri jalan, ada gang yang cukup buat mobil masuk. Kita ke sana aja" saran Andah.
"Oke" tukas Rudi.
"Ngomong-ngomong para petugas tadi, ngapain sih ngejar-ngejar kita?" tanya Rudi penasaran.
Karena mobil yang sedang digawangi oleh Rudi ini adalah mobil kepunyaan Andah.
"Mobil mewah ini pakai nopol palsu" jelas Andah.
"Hah, gokil lo. Gimana caranya?" tukas Rudi dan berhasil membelokkan ke arah gang yang dimaksud Andah tadi.
"Heemm lega rasanya bisa lolos dari kejaran mereka" gumam Andah.
"Nggak apa-apa lah. Sekali-kali kita pacu adrenalin" tukas Rudi menimpali sembari tersenyum lega.
"Kita harus tinggalin nih mobil di suatu tempat. Dan kita ikut orang suruhan Dimas" bilang Rudi.
"Betul apa kata kamu, kita harus ngilangin jejak" sambung Andah.
Ponsel Andah berdering dan itu panggilan dari Dimas.
"Depan lo belok kanan, kiri jalan ada sebuah gudang kosong besar di sana. Tinggalin aja mobilnya di situ. Anak buahku menunggu kalian di sana" tegas Dimas.
"Oke" seru Andah menjawab.
__ADS_1
Dan benar apa yang dikatakan oleh Dimas. Sesuai arahannya, Rudi membelokkan mobil jeep mewah itu ke sebuah gudang besar yang kosong. Mobil jeep yang sedang in saat ini, karena banyak anak pejabat yang memasang di akun sosmednya.
Di sana beberapa anak buah Dimas sudah menunggu.
"Selamat datang tuan, nyonya" sapa mereka semua.
"Nyonya???" sebutan itu membuat bibir Andah mengerucut lima centi.
"Ha...ha...kamu memang pantas dipanggil nyonya Ndah" tukas Rudi terbahak.
"Nggak lucu" sahut Andah.
"Begini tuan, Nona" orang itu dengan cerdas merubah panggilan untuk Andah membuat Andah kembali tersenyum
"Itu mobil yang di ujung sudah disiapkan tuan Dimas untuk dipakai oleh anda berdua" tunjuk anggota Dimas ke arah mobil suv sejuta umat itu. Bukan keluaran terbaru sih, tapi bodi masih mulus.
"Idih Dimas nggak keren dech. Abis dapat mobil mewah, sekarang kita di kasih mobil beginian" gerutu Andah.
"Sudah...sudah...jangan ngeluh terus. Pulang nggak" seru Rudi menimpali.
"Maaf Nona, aku rasa pilihan tuan Dimas tepat kali ini. Tentunya untuk menghilangkan jejak" ujar anak buah Dimas yang tadi.
"Wah, bener juga apa kata Dimas" gumam Andah.
"Makanya jangan sok menggerutu saja" olok Rudi menimpali.
Rudi dan Andah telah sampai di jalan utama yang mereka lewatin tadi.
Malah di sana semakin banyak mobil patroli berseliweran.
"Lihat tuh, mereka semakin banyak" kata Rudi.
"Hhhmmmm untung saja tadi kita lebih cepat dari mereka" seru Andah kembali menarik nafas lega.
Tepat di depan mereka ada operasi kendaraan. Puluhan petugas menghentikan semua laju kendaraan.
"Sial...sial...mereka sangat sigap sekali" gerutu Rudi sambil memukul stang setir. Andah memakai sneli dokter yang sejak tadi dibawa di tas.
Dalam hitungan detik, Rudi pun mengeluarkan dompet yang ada di saku belakang celana nya.
"Maaf tuan, saya ada operasi darurat. Buru-buru nih" sela Andah dan terlihat membetulkan posisi sneli yang dipakainya.
"Gara-gara banyak patroli dan operasi kendaraan aku bisa terlambat nih" imbuh Andah lengkap dengan modusnya.
"Oh ya...maaf...maaf dokter. Silahkan!" seru petugas itu dan malah memberikan jalan untuk Rudi agar segera melajukan mobilnya kembali.
Lepas dari sana mereka berdua terbahak.
"Penipu ulung lo" bilang Rudi.
"Ha...ha...mana ada dokter anak operasi" sambung Rudi.
"Yeeeiiii ada lah. Operasi caesar, siapa yang resusitasi bayinya kalau bukan dokter anak. Jadi aku nggak sepenuhnya salah kan?" ujar Andah ikutan terbahak.
"Terserah lo aja dech" tukas Rudi dan mereka kembali terbahak.
"Asal lo tahu Rud, gue melakukannya karena teringat kalau surat ijin mengemudi lo masih atas nama Mahendra kan?" imbuh Andah.
"Benar kan apa kata gue?" sambung Andah.
Detail sekali dia, bahkan aku sendiri aja tak ingat akan hal itu. Pikir Rudi.
.
Raditya menggebrak meja nya tepat di depan Beno, tentu saja membuat Beno terlonjak.
"Sialan, mereka lolos" umpat Raditya.
Raditya mendapatkan kabar dari temannya kalau mobil yang mereka kejar telah meloloskan diri.
"Mobil yang ngikutin gue?" sela Beno.
__ADS_1
"Iya lah. Siapa lagi?" jawab Raditya.
Rasa laparnya hilang sudah berganti dengan rasa marah.
"Kira-kira mereka siapa bos? Aneh aja kenapa malah ngikutin gue" ujar Beno penuh heran.
"Kalau aku tahu, pasti langsung kutebas mereka" ujar Raditya geram.
"Oh ya bos, kalau sekilas aku lihat sih. Sosok wanita yang ada di mobil itu seperti wajah dokter yang merawat Celo dan Cio saat mereka lahir" Beno tak menyebut nama Andah karena memang tak ingat.
"Really?" tukas Raditya tak percaya.
"Cuman cowoknya itu seperti wajah baru, aku tak kenal" bilang Beno.
"Coba kamu cek kamera dasboard mobil" suruh Raditya.
"Hhhmmm benar juga apa kata bos. Sampai terlupa" Beno beranjak dan akan melakukan apa yang diminta oleh bos nya itu.
Tring. Sebuah notif pesan masuk ke ponsel Raditya sepeninggal Beno.
Sebuah pesan yang memunculkan gambar orang yang berada dalam mobil yang dikejar tadi. Gambar yang diambil dari rekaman cctv yang ada di traffic light.
"Memang Andah. Tapi siapa laki-laki ini?" gumam Raditya karena tak mengenal laki-laki itu.
"Tapi wajahnya seperti tak asing"
Raditya kembali membuka memori lama nya yang tersemat di otak.
"Yyeeeiiii, aku ingat" seru Raditya bagai menemukan sebiji berlian di tumpukan pasir.
"Bukannya dia laki-laki yang menyapa istriku saat berada di mall waktu itu"
"Tapi anehnya, kenapa Rania tak mengenalnya" gumam Raditya.
Akhirnya Raditya bisa menarik kesimpulan, jika mobil yang menguntit mobil Beno tadi adalah orang yang sama dengan orang yang menyapa istrinya waktu itu. Pasti ada kaitannya juga dengan Andah.
Raditya menelpon Beno untuk balik aja ke ruangannya, nggak usah nyari lagi.
Beno sudah sampai ruangan Raditya dengan jarak sepuluh menit sesudahnya.
"Beno, selidiki dokter anak itu" perintah Raditya kala Beno belum juga terduduk.
"Hah? Dokter anak yang waktu itu?" tukas Beno.
"Heemmm, pasti ada sesuatu dengan dia. Aku sangat yakin" terang Raditya.
"Oke bos. Akan kumulai hari ini" jawab Beno.
Tak lama ponsel Raditya berdering. Itupun Beno juga masih berada di sana.
"Pak Supri?" gumam Raditya.
"Halo pak" kata Raditya membuka pembicaraan.
"Halo tuan, nyonya muda barusan pingsan. Ini kita dalam perjalanan menuju rumah sakit" kata pak Supri terdengar tergopoh.
"Rumah sakit mana?" tukas Raditya membuat Beno menghentikan langkah saat akan keluar ruangan Raditya.
"Enaknya mana tuan, aku juga bingung" jawab pak Supri.
"Hheemmmm rumah sakit terdekat saja" tegas Raditya yang nampak kuatir.
"Beno anterin aku ke rumah sakit dekat mansion" perintah Raditya sekarang.
"Siapa yang sakit?" tanya Beno.
"Nggak usah banyak nanya, anterin aku sekarang" tandas Raditya dan belum ingin memberitahu Beno.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading
__ADS_1