Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Pasti Ulah Raditya


__ADS_3

Saat Vero datang di ruang CEO, tentu saja Alex kaget dengan kedatangan istrinya. Apalagi saat itu Alex tengah main panas-panasan dengan sekretaris barunya.


"Hhhmmm kepergok juga" ulas Alex dengan santainya.


Vero tersenyum sinis. Sudah terlalu biasa bagi Vero kini atas pengkhianatan Alex sang suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami itu.


"Silahkan dibersihkan dulu. Aku tak mau ada bekas kalian di ruang kerja aku nantinya" seru Vero membuat Alex beralih menatap tajam ke arah Vero. Alex yang masih saja bertelanjang dada di depan sang istri.


Sementara sekretaris baru itu telah memunguti baju yang tergeletak di meja dan segera memakainya.


"Wah, gila tuh suami Vero. Berani sekali cari mainan di sini" kata-kata sinis keluar dari bibir Dimas.


Tepuk tangan Alex terdengar saat melihat ada laki-laki yang bersama Vero kini tengah berdiri di depan pintu yang terbuka.


"Ha...ha...jangan sok suci kamu istriku. Nyatanya kamu juga melakukan hal yang sama denganku. Selingkuh!!!" kata Alex sengaja menekan kata yang di akhir kalimat.


"Kenalkan, dia Dimas. Sepupu aku" seru Vero.


"Dia juga yang akan membantu saat aku mengambil alih perusahaan ini" sambung Vero.


"Tak akan aku biarkan. Karena aku lah yang ditunjuk oleh papa kamu untuk menjadi CEO jika sewaktu-waktu tuan Rahardian meninggal" ujar Alex dengan lantang.


"Itu adalah perintah papa saat masih hidup. Tapi perlu lo ingat Lex, saat papa meninggal semua hak papa menjadi hak ku. Maka sekarang aku lah penentu utama tentang siapa yang akan jadi pemimpin di perusahaan milikku" kata Vero tak kalah lantang dengan Alex.


"Oh ya, aku juga mau kasih kabar. Kalau gugatan cerai sudah aku ajukan. Jadi siap-siap aja jika ada panggilan datang" lanjut Vero.


Ucapan-ucapan Vero barusan tentu saja membuat Alex emosi.


Dengan cepat Alex mendekat dan hendak menamp4r sang istri, tapi keburu dicegah oleh Dimas.


"Jangan hanya berani dengan wanita dong" hardik Dimas.


Alex dan Dimas tengah bersiap. Bersiap untuk duel.


"Hentikaaaannn!!!!" teriak Vero karena tak tahan dengan ulah kedua laki-laki di depannya.


"Dimas, ayo kita balik!" ajak Vero.


"Dan buat lo Lex, cepat kosongkan ruangan ini hari ini juga. Dan itu sudah jadi keputusan yang tak bisa kau ganggu gugat" putus Vero dan meninggalkan begitu saja Alex yang masih termangu.


Dimas pun mengikuti langkah Vero.


"Habis ini lo mau kemana Dim?" tanya Vero saat mereka sudah berada dalam mobil.


"Mau ke tempat dokter Lee. Mau bicarain kelanjutan bisnis kita" jelas Dimas.


"Oke, gue ikut. Lama juga tak ketemu dengan Lee. Apa kabar wajahnya sekarang? Apa sudah berubah aja?" tukas Vero.


"Beneran lo kenal dengan dokter Lee? Di mana lo kenal?" tanya Dimas penasaran.


"Iissshh, dia tuh teman seangkatan kuliah gue. Cuman beda jurusan. Sebenarnya dia tuh cerdas, cuman yaaaa itu..." Vero menghentikan kata-katanya.


"Cuman apa?" sela Dimas.


"Salah jalan sedari awal" bilang Vero.


"Dia itu orang sini juga, kebetulan aja permak mukanya bener. Jadi kelihatan tampan. Apa tuh muka masih seperti artis Korea?" tandas Vero.


Dimas mengangguk.


"Apa pipinya juga masih halus, yang lalat aja akan terpeleset jika nempel?" Veri terbahak mengingat sosok Lee.


"Eh, lo kan termasuk salah satu korbannya. Mau-mau aja dirubah tuh muka" olok Vero.


"Gue merubah muka karena butuh Vero. Butuh buat penyamaran. Lo kan tahu itu" ujar Dimas.


"Heemmm karena lo buronan" Vero pun mengangguk dan sedetik kemudian tertawa.


"Hidup kita kenapa gini-gini amat ya? Apa karena terlalu banyak salah pada orang lain?" sela Vero.


Ada rasa sesal dalam setiap kata yang diucapkan.


"Apa bisa kita beralih menjadi orang baik?" lanjut Vero.


"Huhhhh, lo lebih baik dari gue Vero. Malah sampai sekarang gue belum kepikiran untuk tobat" seloroh Dimas penuh canda.


Mereka berdua tertawa bersama.


Sampai lah kini Dimas dan Vero di salon kecantikan milik Lee.

__ADS_1


Salon terselubung tepat nya.


"Modusnya pun masih sama" gumam Vero.


"Lo ini seperti sudah kenal luar dalam aja sama dokter Lee?" ucap Dimas menanggapi apa yang dikatakan Vero barusan.


"Apa dia nih nggak takut ketangkap untuk kesekian kalinya?" imbuh Vero dan lagi-lagi dibuat terbengong dengan kata Veronica.


"Emang berapa kali dokter Lee ketangkep?" tanya Dimas. Karena setahunya dokter Lee selalu bergerak rapi dan dinamis setiap kali akan melakukan gerakan.


"Jangan ketipu sama kata-katanya. Mulut Lee itu setajam pisau bedah yang selalu dipegangnya" ujar Vero.


"Heh, jangan provokasi kolega ku" kata seseorang yang menghampiri Dimas dan Vero yang kini telah duduk di ruang tengah.


"Ha...ha...pasti lo Lee" tebak Vero dengan tawa terbahak.


"Iisssshhhh hanya satu orang yang tak bisa aku tipu di dunia ini. Dan itu hanga lo Vero. Pasti hidup gue sial, bila ketemu sama lo" tandas dokter Lee.


"Ha...ha...gua nggak nyumpahin lo ya. Lo sendiri yang bilang sial jika ketemu gue" Vero masih saja meneruskan tawa.


"Jangan bawa Dimas untuk bisnis lo itu. Dimas mau kuajakin tobat" bilang Vero.


"Hah? Tobat? Nggak salah telinga gue?" tanggap Lee.


"Seorang Vero bin Rahardian tobat?" sambung Lee.


"Beneran! Gue mau hidup bener. Capek juga saben hari terus-terusan ketemu orang dengan muka-muka palsu" ucap Vero serius.


"Macam kita-kita dong" sela Dimas.


"Yap, baru ingat kalau kalian bermuka palsu" kembali Vero terbahak.


"Oh ya, apa kabar Alex? Suami palsu lo?" tanya Lee.


"Loh, dokter kenal juga dengan Alex?" Dimas gantian yang bengong.


"Kalau kenal Vero pastinya kenal Alex dong. Itu suatu hal yang tak bisa disanggah" ulas Lee.


"Alex? Akan gue ceraiin" seru Vero.


"Kenapa nggak sedari dulu aja?" sela Lee.


"Lo tahu Alex sangat pintar mengambil hati papa gue" sambung Vero.


Lee dan Vero masih saja ngobrol, seakan mereka berdua tengah bernostalgia.


"Mainan lo apa sekarang?" tanya Vero.


"Hhmmm, coba tebak" kata Lee menimpali.


"Pasti nggak jauh-jauh sama obat" seru Vero.


"Yang spesifik dong" tanggap Lee.


"Jenis obat dengan lingkaran merah kan?" lanjut Vero.


"Kalau salah lagi, pasti nggak jauh dengan itu lah" sambung Vero.


Kini mereka telah berkumpul. Ada Lee, Dimas, Andah, Rudi dan kini ada Vero yang ikut gabung.


Awalnya Andah memandang sinis ke arah Vero. Tapi setelah mendapat penjelasan Lee, Andah mau berkenalan dengan Vero.


"Jadi ini Dim, cewek yang lo ceritain sama gue. Yang katanya naksir berat Raditya?" tanya Vero sesaat sebelum rapat di antara mereka dimulai.


"Hhmmmm" jawab Dimas hanya dengan gumaman.


"Bener Raditya sih, nggak nengok ke lo. Raditya itu bukan typikal cowok yang suka dengan cewek bertopeng modelan seperti lo dokter" olok Vero karena melihat make up tebal yang dipakai oleh dokter Andah.


"Makanya Raditya juga nggak nengok ke lo juga, cewek yang nggak bisa njagain mulut embernya" balas Andah.


"Hhhmmm repot dech kalau sesama cewek saling berdebat. Waktu dua hari pun jadi nggak berfaedah" sela Lee menengahi.


"Yukkk kita mulai aja" sela Rudi yang sedari tadi diam.


Mereka membicarakan alur peredaran dagangan yang sudah siap edar di tempat Lee. Bahkan beberapa juga telah jalan.


Bahkan Lee berani kerjasama dengan distributor besar untuk mengedarkan barang-barang nya. Ilegal tentu saja.


"Gue balik dulu aja dech. Nggak mau ikut-ikut. Ketangkep bisa berabe gue" Vero berdiri dan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Oke, kalau sudah niatan lurus. Banyak doa aja jangan sampai tersesat lagi lo" ujar Lee ke Vero yang menuju pintu keluar.


"Pasti itu. Semoga aja tak ada aral melintang" tukas Vero menanggapi.


Sudah capek bagi Vero berada di jalan abu-abu selama ini. Nggak putih nggak hitam.


Vero mencari tempat berteduh untuk memesan ojek online, karena tadi minta diantar oleh Dimas. Agak jauhan dari salon kecil milik Lee.


Tak beberapa lama ada beberapa mobil berhenti di depan salon Lee.


Pergerakan mereka rapi sekali.


Ada dua orang yang turun dari mobil yang berbeda, dan menuju salon itu.


"Langganan Lee mayan borjuis juga ya?" ucap Vero saat melihat beberapa mobil mewah yang salah satunya berhenti di depannya.


"Loh, ada yang bule juga?" tatap Vero heran dengan dua orang laki-laki bule yang ikutan turun.


"Padahal mereka sudah tampan loh" Vero terus saja bergumam sambil nunggu ojek online pesanannya datang.


Kedua orang bule itu nyusulin kedua orang yang terlebih dulu mengetuk pintu depan salon.


"Bodi mereka juga bagus-bagus. Apa itu semua juga karena polesan Lee" ucap Vero bermonolog.


Saat pintu dibuka, keempatnya langsung menerobos masuk begitu saja.


"Loh, loh...mereka kok main terobos. Pakai pegang senjata lagi" pikir Vero.


Dan dari beberapa mobil itu keluar orang-orang dengan jumlah yang cukup lumayan.


"Ada apa ini?" Vero sedikit menyingkir karena disuruh oleh orang yang paling dekat posisinya sama Vero dengan bahasa isyarat mata nya.


Kebetulan ojek online yang diorder sudah datang.


"Atas nama nyonya Vero?" tanya sang driver.


"Oke" Vero pun segera bergegas naik ke mobil meski menyisakan rasa penasaran di hati.


"Mereka tadi teman apa musuh Lee ya? Jangan-jangan Lee hanya ingin mengajak Dimas dan yang lain agar kelihatan terlibat dalam modus operandinya?" terka Vero dalam hati.


"Jadi ke mall nyonya?" tanya sang driver.


"Iya pak" jawab Vero dan laju mobil pun mengarah ke mall yang dipilih Vero lewat aplikasi.


Sampai di lobi mall, sebuah layar lebar menampilkan berita tentang penangkapan jaringan obat ilegal international.


Bahkan di berita itu disebutkan jika dalangnya juga merupakan buronan international yang sudah lama dicari.


Selama ini penyidik kesulitan karena modus operandi yang sangat rapi ditunjukkan oleh tersangka.


Tersangka bahkan punya julukan khusus, yaitu gembong seribu wajah.


Vero nampak terkejut, karena amat sangat kenal dengan lokasi itu.


Beberapa menit yang lalu dia juga berada di sana. Dan bertemu dengan para petugas yang melakukan penggerebekan.


"Kalau Lee ketangkap, otomatis Dimas pun kena?" ujar Vero menepuk jidat.


"Para pewarta itu gercep juga ya" Vero masih memandang layar besar televisi itu. Di sana sudah ditampilkan beberapa tersangka. Semuanya dikenal oleh Vero.


Berita penangkapan itu menjadi sangat ramai di media. Apalagi melibatkan jaringan international.


Kedua tersangka yang tertangkap juga diduga adalah buronan yang selama ini dicari-cari.


Salah satu buronan yang tak pernah ditemukan selama penyelidikan dan keputusan dan berinisial 'D'. Tuan D yang terkena kasus penggelapan keuangan salah satu anak cabang perusahaan multinasional. Tapi tak disebutkan di sana apa nama perusahaannya itu.


Satunya lagi adalah buronan international, orang menyebutnya mister L.


Tersangka ketiga itu yang makin aneh. Tuan M terpidana kasus penggelepan juga, yang diduga telah meninggal ternyata masih hidup dan telah berganti wajah.


Dan keempat, satu-satunya tersangka wanita di sana. Punya profesi mentereng, kemampuan otak nya tak diragukan lagi karena sekarang sedang sekolah lagi mengambil jurusan sub spesialisasi. Tapi malah dengan mudah terjerumus ke dunia di luar nalar bagi orang-orang yang berprofesi sama dengannya. Ya dia adalah Nona A.


.


Di tempat lain Raditya dan Beno tersenyum puas melihatnya.


Mereka berdua tengah menikmati kopi di gazebo yang memang ada di taman mansion papa Andrian.


"Ini yang gue maksud, tak harus mengotori tangan kita untuk membuat lawan bertekuk lutut" ujar Raditya.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2