Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Perintah Buat Beno


__ADS_3

"Pernikahan tuan Raditya dan Nyonya Rania, bos Beno" beritahu pak Supri tanpa menoleh ke belakang karena fokus mengemudi.


"Sudah dengar belum?" tanya Raditya menambahkan.


"Bos, itu tinggal empat hari lagi lho? Beno menegaskan.


"Iya, memangnya kenapa?" tanggap Raditya.


"Apa bos mau menyiksaku? Persiapan nya mepet sekali" kata Beno di sana.


"Hanya akad Beno, aku belum ada rencana ngadain pestanya. Yang penting sah dulu. Aku nggak mau kedua putraku tak berstatus" terang Raditya.


"Syarat-syaratnya apa sudah ngumpulin?" pertegas Beno kembali.


"Ya jelas belum lah. Untuk apa aku punya asisten seperti kamu" imbuh Raditya.


"Dasar bos nggak ada akhlak" gerutu Beno. Dia pasti akan pontang panting nyiapin semua. Raditya menyunggingkan senyum kala membayangkan kalang kabutnya Beno untuk nyiapin semua.


"Pak Supri, mampir ke alamat tuan Handono" ujar Raditya dengan menyebutkan alamat yang dimintanya.


"Siap tuan" jawab pak Supri sopan. Pak Supri yang juga ikut andil saat menghadapi keriwehan sang bos dengan permintaan aneh-anehnya saat itu. Dan pertanyaan saat itu terjawab sudah, sang bos memang mengalami ngidam seperti yang dipikirkan pak Supri.


Pak Supri membelokkan laju mobil ke jalan yang lebih kecil dari jalan utama.


"Rumah depan kiri itu kah tuan?" tanya pak Supri.


"Iya, kamu tunggulah sini pak" bilang Raditya.


Pak Supri mengangguk.


"Nggak ingin mangga muda di depan itu tuan?" tanya pak Supri sambil menunjuk pohon mangga dengan buah yang menggoda iman berada di seberang jalan depan rumah Rania. Sengaja menggoda tuan muda yang pernah membuatnya repot gara-gara ingin mangga muda. Padahal saat itu sedang tidak musim.


"Ha...ha...kau menyindirku pak? Sekarang nggak ingin lagi. Ngebayangin aja sudah buat gigi linu" jawab Raditya sembari terbahak. Pak Supri pun ikutan ketawa. Bosnya itu meski real keluarga sultan, tapi sangat menghargai orang lain walau dirinya hanya seorang sopir. Makanya pak Supri setia mengabdi di keluarga Marino, bahkan semenjak tuan muda Raditya masih kecil.


"Pak, tungguin ya" kata Raditya mengulangi perintah tadi.


"Siap tuan. Masak iya tuan kutinggalin di sini?" terang pak Supri menimpali.


"Bisa aja. Apalagi kalau kamu ingin ketemu bu Marmi" ledek Raditya. Raditya amati sejak kenal bu Marmi, pak Supri merapikan penampilannya.


"Apaan sih. Ngeledekin mulu tuan muda ni" kata pak Supri tersipu sampai Raditya terpingkal melihatnya.


"Kalau suka....sikat...keburu dibawa kabur orang lain" saran Raditya sembari kaki nya turun mobil.


Raditya melangkah pasti menuju kediaman tuan Handono.


"Wah, Oppa Korea ke sini lagi" kata tetangga yang kemarin-kemarin ketemu Raditya di depan rumah orang tua Rania.


Raditya mempercepat langkah kakinya daripada berinteraksi dengan mereka.


'Mereka ini kurang kerjaan atau gimana ya? Padahal aku datang di jam yang berbeda, tapi kok mereka masih ngumpul aja' pikir Raditya.


Tok...tok...tok....

__ADS_1


Belum ada sahutan.


Tok...tok...tok....


Belum terdengar suara apapun dari dalam rumah.


Tok...tok...tok...


Kembali Raditya mengetuk pintu untuk ketiga kalinya.


Saat tangannya terangkat untuk mengetuk pintu keempat kalinya, pintu terbuka dari dalam.


"Eh, mas ganteng datang lagi. Nyariin aku ya mas?" tanyanya penuh rasa percaya diri yang tinggi.


Raditya mengusap tengkuknya, 'Asisten rumah tangga tuan Handono sungguh kepedean sekali' batin Raditya.


"Heemmmm, tuan Handono nya ada?" tanya Raditya penuh ketegasan dan tak nampak senyum di wajahnya.


"Ganteng tapi kok galak amat" ledek bik Surti.


"Bentar mas ganteng, tungguin. Aku panggilin tuan besar. Silahkan duduk" katanya menimpali sambil berlalu menjauhi Raditya yang segera saja duduk di kursi ruang tamu.


Cukup lama Raditya menunggu tuan Handono menemuinya.


"Sabar Raditya...sabar... Demi masa depan kamu" gumam Raditya bermonolog.


Hampir setengah jam Raditya berada di sana.


"Apa aku pulang aja ya, tapi kok nanggung terlanjur nunggunya lama" imbuh Raditya tetap saja bicara sendirian.


"Maaf nak, ayah baru dari kebun di belakang. Karena kotor, ayah sekalian mandi" terang laki-laki setengah baya itu.


"Nggak apa-apa ayah. Aku juga sudah pulang dari kantor" balas Raditya.


"Heemmm, ada apa Raditya? Kok menyempatkan mampir. Ada urusan penting kah?" tanyanya.


"Iya yah. Aku ingin bilang kalau minggu nanti papa dan mama mau datang ke sini. Sekalian saya mohon ijin, agar ayah merestui pernikahan ku nanti" kata Raditya penuh ketegasan dan keyakinan.


'Dia sangat beda dengan Mahendra waktu meminta Rania dariku' batin tuan Handono.


'Mahendra dengan wajah keraguan meminta putriku saat itu. Tapi laki-laki muda di depannya ini sangat tegas dan meyakinkan meminta putriku'.


"Apa nak Raditya sudah bicara jujur dengan Rania? Aku takut dia belum siap nak" saran tuan Handono.


"Setelah ini aku akan bicara dengannya" imbuh Raditya.


"Apa Rania masih di rumah sakit?" tanya tuan Handono.


"Pagi tadi sudah boleh pulang ayah, termasuk si kembar" terang Raditya.


"Lantas kenapa dia tak pulang ke rumah ini? Apa begitu bencinya Rania kepada ku hingga tak mau pulang ke sini" kata tuan Handoni sendu.


"Loh, kok malah gini sih tanggapannya?" gumam Raditya dalam hati.

__ADS_1


"Bukan begitu ayah, Rania memilih tinggal di rumah aku karena dekat dengan rumah sakit" bilang Raditya.


"Kalian tinggal serumah? Wah nggah bener ini" tukas laki-laki setengah baya itu


"Loh, siapa yang tinggal serumah. Aku tidak serumah dengan Rania yah. Cuman sekarang Rania memang berada di rumahku" terang Raditya.


"Kalau nggak serumah, lantas kamu tinggal di mana?" tuan Handono masih saja curiga dengan Raditya.


"Aku di hotel, masih menginap di sana" beritahu Raditya.


"Oke, aku percaya padamu. Awas saja jika putriku hanya kamu buat sebagai mainan" ancam tuan Handono.


"Tidak akan ayah. Sudah cukup aku buat penderitaan buat putri ayah. Waktunya sekarang aku buat bahagia Rania" sambung Raditya.


"Aku pegang janji kamu Raditya" tukas tegas tuan Handono. Raditya pun mengangguk.


"Dan aku ijin ayah, jika sewaktu-waktu asisten aku ke sini. Biarkan saja dia yang menyiapkan semua buat hari Minggu" jelas Raditya.


"Namanya Beno, dia seusia denganku. Ayah tak perlu repot menyiapkan semua" sambung Raditya.


Tuan Handono mengangguk. Laki muda ini sungguh sangat berbeda dengan mantan menantuku. Pikir tuan Handono.


"Oke ayah, aku rasa cukup. Aku pamit duluan" ujar Raditya beranjak dari duduk.


Tuan Handono pun mengantarkan Raditya sampai gerbang depan.


Dengan adanya tuan Handono di samping Raditya membuat para tetangga julid itu tak berani meneriaki Raditya yang memang sangat tampan dari sananya itu.


"Oh ya ayah, kalau ingin lihat si kembar dan jenguk Rania ini alamatnya" kata Raditya sesaat sebelum masuk ke mobilnya.


"Heemmmm, baiklah" tukas tuan Handono mengiyakan kata Raditya.


Mobil kembali berjalan pelan di jalanan kecil itu.


"Langsung ke apartemen pak" pinta Raditya sembari menyandarkan kepala di kursi belakang dan pak Supri mengangguk tanda siap.


.


Di rumah sakit Mahendra dan kedua orang tuanya dibuat kalang kabut karena bayi Riska tak kunjung lahir. Terkunci di pembukaan tujuh, dan belum nambah sejak empat jam yang lalu.


Riska teriak-teriak menahan sakit yang luar biasa.


Ibu mertua yang merupakan ibu Mahendra, "Diam dong Riska, semua wanita pasti ngalamin. Rania dulu tak seperti kamu" ucapnya.


"Tapi ini emang beneran sakit Mah. Sayang aku ingin operasi saja" kata Riska mengharap belas kasih Mahendra.


"Tunggu apa kata dokter saja, semoga saja bayi kamu segera lahir" tukas Mahendra dengan ketus.


"Kalau dibuat operasi istri kamu, mendingan uang kamu buat tambah biaya kontrol papa aja" kata ibu Mahendra menimpali.


Luruh airmata Riska, menahan luka hati dan nyeri persalinan.


Apa dulu kamu juga diperlakukan seperti ini Rania? Batin Riska.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2