
Setelah drama dengan Beno. Seperti saran Beno, Raditya mengambil sejumlah uang. Untuk siap-siap aja barangkali diperlukan.
"Sudah?" tanya Rania saat Raditya barusan keluar.
"Heeemmm" anggukan Raditya didapat Rania.
"Ayo! Keburu tutup ntar poli obgyn" terang Raditya sambil langsung menggandeng Rania untuk ke poli Obgyn.
Selesai mendaftar Raditya menghampiri Rania yang sedang duduk di pojokan ruang tunggu.
"Tinggal nunggu panggilan aja" bilang Raditya.
"Si kembar ada jadwal kontrol nggak?" tanya Rania.
"Ada sih, tapi ntar aja dikontrolin kalau sudah di ibukota" kata Raditya.
"Kenapa?" telisik Rania.
"Hhmmm, nggak mau aja ketemu dokter kecentilan itu" ujar Raditya.
"Nyonya Rania, silahkan masuk" panggil salah satu perawat dari poli obgyn.
Rania beranjak dan tentu saja dengan didampingi oleh Raditya.
Saat masuk pandangan mata Raditya dan Rania tertuju ke hal yang tak pantas untuk dilakukan di sana.
Dokter Alex sedang duduk, dan dokter Andah berusaha memepetnya.
"Kegatelan" bilang Raditya yang masih kedengaran Rania.
"Wah, ternyata kalian ya yang datang" ucap dokter Andah tanpa rasa malu ketika melihat Raditya dan Rania.
"Lex, masih ingat dengan nyonya Rania kan? Pasien yang kamu tangani waktu itu?" tanya Andah.
"Iya, yang ngelahirin kembar waktu itu?" tukas dokter Alex.
"Betul" imbuh dokter Andah.
"Emang kenapa dia?" Alex sepertinya tak sadar jika pasien yang akan kontrol dengannya saat ini adalah yang dibicarakan olehnya.
Tentu saja dokter Alex lupa, wajah Rania sekarang sama yang sebelumnya kan beda.
"Iya, dia bundanya kembar. Habis menikah tuh dia" terang Andah.
"Kok kamu tahu sedetail itu tentang pasien?" tanya Alex.
"Sori dokter Alex, kita ke sini bukan untuk ngedengarin obrolan kalian. Bisa langsung gantiin perban luka operasi istri saya" kata Raditya menyela.
"Owwwhhh, mau kontrol ya? Silahkan" tukas dokter Alex ramah.
Ketika melihat sekilas rekam medis pasien, Alex melotot ke arah Andah sejawat dokter anak itu.
Dokter Andah menertawakannya. "Bye Alex, ntar kita lanjutin setelah loe selesai" Andah melenggang pergi seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Maaf tuan, nyonya. Jadi keganggu dengan obrolan kami" kata dokter Alex merasa sungkan karena nggibahin pasien di depan pasiennya sendiri.
"Lain kali cari tempat aman dokter. Hotel juga masih banyak yang buka" sindir Raditya telak.
Dokter kandungan itupun terdiam, karena kepergok berduaan denΔ£an dokter spesialis anak itu.
"Jaga kepercayaan istri anda dok" tetap saja Raditya memberi kalimat menohok ke sang dokter.
"Silahkan nyonya" sela asisten dokter Alex mempersilahkan Rania untuk naik ke ranjang periksa.
Sementara dokter Alex menghitung berapa lama hari Rania setelah dioperasi.
"Lebih dua minggu. Saatnya buka perban nyonya" terang Alex.
"Sus, tolong kamu lepasin perbannya. Abis itu siapkan untuk pemeriksaan ultrasonografi" pinta dokter Alex.
__ADS_1
"Lukanya bagus nyonya, sudah kering" beritahu suster.
"Dok, sudah siap" bilang suster untuk melapor dokter Alex.
Tanpa banyak kata, Alex menggerakkan probe ke perut Rania.
"Kondisi nyonya sudah baik, rahim pun mulai mengecil ke tempat semula. Jika masa nifas selesai, saran saya anda pakai kontrasepsi dulu. Biar jarak kehamilan aman" jelas dokter Alex.
"Jarak aman?" sela Rania.
"Iya, karena jarak aman pada ibu pasca salin operasi minimal dua tahun nyonya" imbuh Alex.
"Iya baiklah. Makasih dok" jawab Raditya. Dan ingin segera pergi dari hadapan dokter itu.
Raditya dan Rania keluar poli obgyn dengan tergesa.
"Kalau tahu attitudenya seperti itu, ogah nganterin kamu kontrol ke sini sayang" gerutu Raditya.
"Dokter kok begitu" Raditya masih saja menggerutu karena ulah Alex dengan dokter Andah di ruang periksa.
"Hei, nggak boleh nyalahin profesinya dong. Tergantung personalnya masing-masing" Rania meluruskan apa yang diucapkan oleh suaminya.
.
Sementara itu Riska, setelah mengantar popok sekali pakai ke rumah sakit.
Dia akan mengantarkan makan siang untuk Mahendra yang sekarang ada di lapas.
Mertuanya tak bisa diandelin sama sekali karena Mahendra yang tak lagi memberikan uang kepada mereka untuk berobat.
Kebetulan pas beli nasi padang tadi, dirinya ketemu dengan Rania yang datang bersama suami barunya.
Riska mengepalkan tangannya erat kala mengingat hal itu.
"Nyonya, sudah sampai" beritahu sang sopir taksi online yang ditumpangi oleh Riska saat ini.
"Uang pas aja nyonya, sesuai aplikasi" sambungnya.
"Makasih nyonya" ucapnya.
Riska masuk ke pintu gerbang lapas di mana Mahendra ditahan di sana.
Mengingat perbuatan Raditya terhadap sang suami, Riska berjanji akan menghancurkan keduanya.
"Apa kabar kamu?" tanya Riska ketus saat Mahendra duduk di depannya.
"Ngapain ke sini kalau hanya untuk mengumpatiku" sergah Mahendra.
"Aku tuh bosen tau, saben hari musti nganterin makanan dan rokok untuk pengangguran seperti kamu" tandas Riska.
Ucapan Riska barusan membuat Mahendra emosi.
"Kalau nggak mau ke sini, pergilah" usir Mahendra.
"Aku ke sini cuman mau bilang kalau mantan istri kamu itu sudah bahagia bersama suaminya yang baru. Bagaimana tidak bahagia, jika dia selalu pegang kartu hitam. Sementara kamu? Untuk biaya istri melahirkan saja musti pakai asuransiku" sindir Riska.
"Dan perlu kamu tahu, jika stabil terus kondisi anak kamu. Minggu depan akan dirujuk ke rumah sakit yang ada di ibukota. Terus aku dapat biaya darimana? Hah?" kata Riska.
"Sementara kamu jual saja lah apa yang kamu punya" suruh Mahendra.
"Cih. Liciknya" tandas Riska.
"Kamu terus-terusan nyuruh pakai hartaku. Sementara kamu tidak ada sumbangsih sama sekali" jengah juga Riska.
'Bagaimana Rania dulu betah dengan laki macam dia' Batin Riska.
'Laki yang tak mau keluar uang sepeserpun untuk keluarganya' monolog Riska dalam hati.
"Aku jual aja tuh mobil kamu" pancing Riska.
__ADS_1
"Ha...ha...nggak boleh. Di mobil itu ada hak Rania juga. Aku nggak berani untuk menjualnya" alibi Mahendra.
"Kalau mobil nggak boleh, rumah saja" sela Riska.
"Apalagi rumah. Sampai mati pun akan kupertahanin. Rumah hasil perjuangan kala aku dan Rania baru mengawali berumah tangga" cerita Mahendra.
"Rania lagi, Rania lagi" gerutu Riska.
"Lantas anak kamu yang akan dirujuk, biaya dari mana?" kaya Riska sengit.
"Ya kamu usaha, kamu kan yang sekarang berada di luar penjara. Masih bisa bergerak untuk cari uang. Aku di dalam sini mana bisa Riska" pintar sekali Mahendra bersilat lidah.
Riska meninggalkan Mahendra begitu saja. Sebal dengan tanggapan sang suami kala dirinya berkeluh kesah.
"Aku harus ke mana mencari uang untuk biaya rumah sakit bayi menyebalkan itu?" tanya Riska dalam hati sembari menggerutu. Bayi yang tak bersalah pun jadi sasaran Riska.
Riska kalut memikirkan biaya, sementara Mahendra melempar apa saja yang ada di dekatnya saat ini.
Ada rasa menyesal dalam diri Mahendra mengkhianati Rania.
"Aku harus bisa merebutmu kembali Rania" janji Mahendra dalam hati.
"Harta yang kita kumpulkan bersama, tak sedikitpun akan kubagi dengan Riska" ucap Mahendra dalam hati.
.
Raditya menelpon Beno kembali saat sudah berada dalam mobil dan dalam perjalanan pulang.
"Beno, apa kabar kasus yang kamu laporkan?" tanya Raditya.
"Tetap sama dengan yang kemarin. Tinggal nunggu berkas mereka dinyatakan lengkap" jawab Beno.
"Dimas?" sela Raditya.
"Licin bagai belut" jawab Beno menggunakan perumpamaan yang Raditya pun tahu.
Dimas bisa melenggang bebas, karena semua anak buahnya menutup erat mulutnya untuk memberikan kesaksian. Mereka ikhlas dihukum karena itu.
"Beri mereka iming-iming agar mau membuka mulut" saran Raditya.
"Aku coba" tandas Beno.
"Jangan semua, salah satu saja yang sekiranya memerlukan uang dalam waktu dekat" beritahu Raditya.
"Hanya Mahendra yang butuh uang banyak dalam waktu dekat. Karena anaknya butuh biaya besar segera" kata Beno menimpali.
Raditya nampak memikirkan ucapan Beno barusan.
"Itu akan riskan bos" lanjut Beno.
"Tawarkan kalau dia mau buka mulut, maka tuduhan atas jebakannya padaku akan aku cabut" imbuh Raditya.
"Mana bisa begitu bos?" jawab Beno tak terima.
"Nggak papa. Sekarang aku malah bersyukur karena jebakan Mahendra berujung aku mendapat bahagia" jelas Raditya membuat Beno malas mendengar.
"Oh ya Beno, siapin kepindahan Rania dan kedua anakku minggu depan" suruh Raditya.
"Terus yang di sini?" sahut Beno.
"Kita kawal kasusnya dari pusat saja. Untuk kekosongan perusahaan, kamu ambil saja staf yang berpotensi untuk ikut mengelola yang disini. Apa kamu saja sebagai direkturnya?" Raditya menawari Beno.
"Ogah. Nggak ada Siska" tolak Beno.
"Ntar Siska juga kupindahin, biar kamu bisa karaokean terus" ujar Raditya.
"Akan kupikirkan" kata Beno menimpali.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
__ADS_1
To be continued, happy reading