
Riska pun melongok ke dalam kaca mobil yang setengah terbuka. Dan senyum merekah nampak dari bibir Riska.
"Cabut yuuukkkk" ajak seseorang dari dalam mobil.
Dan Riska pun tak menolak ajakannya.
"Mau ke mana kita?" tanya Riska.
"Hangout yuukkk" ajaknya.
"Boleh juga" ujar Riska mengiyakan saja.
"Sedang jenuh nih dengan kesibukan di rumah sakit" terangnya.
"Dokter bisa jenuh juga ya? Padahal omongan dan tulisannya aja bisa jadi cuan" tukas Riska dengan bercanda.
"Ha...ha...loe bisa aja" ujar dokter itu. Ya, yang mengajak Riska adalah dokter Andah. Dokter yang merawat putra Riska dan Mahendra di rumah sakit.
"Kok dokter tahu aku abis jenguk suamiku?" tanya Riska.
"Kebetulan aja aku lewat dan lihat kamu sedang cari sesuatu" tukas Andah.
"Oh ya, jangan panggil dokter dong. Panggil Andah aja. Kukira kita sebaya" pinta dokter spesialis yang masih muda itu.
"Baiklah" jawab Riska menyetujui.
"Dok, eh Andah emang aman ya jika aku pergi malam. Belum lama loh aku operasi" imbuh Riska.
"Bukan kapasitas aku untuk menjawab. Tapi kalau kamu tanya kondisi bayi kamu, aku tahu pasti" tukas Andah.
"He...he...barangkali kamu tahu. Kamu kan juga dokter" Riska terkekeh.
"Enggak lah. Kalau masalah kamu kan masih ranah obgyn. Alex tuh yang lebih tahu" jelas Andah.
"Tapi aku nggak ada keluhan kok dok, aku ikutan aja dech mau diajak ke mana sekarang" ujar Riska.
"Oh ya, gimana kabar suami kamu sekarang?" sela Andah di sela obrolan mereka.
"Baik kok. Mungkin Mahendra hanya akan menghadapi tuduhan membantu penggelapan dana perusahaan saja" terang Riska.
"Kok bisa???" ujar Andah merasa aneh.
"Nggak tahu juga, aku tadi cuman nanya ke penyidik dan jawabannya seperti itu" jelas Riska.
"Emang suami kamu nggak cerita?" Andah merasa heran dengan jawaban Riska. Suami istri yang tak kompak sepertinya. Analisa Andah. Aku harus bisa manfaatin mereka berdua untuk mendapatkan Raditya. Batin Andah.
"Enggak. Nggak tahu juga, semenjak dia masuk bui seakan dia menjaga jarak dengan ku" terang Riska.
"Apa Mahendra menghindar untuk ngebiayain anak kalian?" tanya Andah tapi tetap fokus dengan jalanan di depannya.
"Enggak juga. Malah dia sudah kasih aku cek yang nominalnya lumayan besar" jelas Riska.
"Darimana?" tanya Andah penasaran.
"Heemmmmm ada dech" jawab Riska tapi tak mau mengaku siapa yang memberi uang kepada Mahendra dan Andah pun tak memaksakan nya.
"Oke, kita sampai" ujar Andah dan mobilnya sudah masuk di sebuah pelataran club malam.
"Ini masih sore loh" ujar Riska saat melihat jam tangannya masih menunjukkan pukul tujuh malam.
"Nggak apa-apa lah. Biar makin lama kita di sini" sahut Andah menimpali.
Beberapa teman Andah juga sudah berada di dalam saat mereka tiba. Mereka terlihat mencibir melihat penampilan Riska.
"Siapa yang loe bawa? Penampilannya enggak banget dech" kata mereka seakan menyindir Riska.
"Kenalin, gue Riska" sapa dirinya sambil memperkenalkan diri.
"Percaya diri juga dia" sambung yang lain.
"Loe dari keluarga mana? Perusahaan apa?" tanya wanita yang disebelahnya, yang tampil dengan pakaian minimalis.
Riska hendak menjawab. Tapi keburu dijawab Andah.
"Kebetulan Riska ini ibu dari pasien gue di rumah sakit. Karena punya hobi sama, ya udah dech kuajakin Riska ke sini" jelas Andah ke semua temannya.
"Owwwhhh, kirain dari keluarga mana gitu. Ternyata dari golongan k3r3 to. Kok sempat-sempatnya kamu ngajakin dia sih" kata teman Andah dengan ketus.
"Nggak apa-apalah. Meski dia bukan dari golongan keluarga kelas atas. Dia juga punya uang kok. Ya kan Riska?" tanya Andah seakan memojokkan Riska.
"Iya lah, gue pasti punya uang" terang Riska untuk mengimbangi mereka semua.
"Ya sudahlah, kalau begitu kita minta traktir Riska aja dech. Sebagai kenang-kenangan sebelum aku balik ibukota" imbuh teman Andah. Dia lah yang menonjol di antara yang lain.
Andah mengenalkan kepada Riska, jika yang barusan ngomong minta traktir itu adalah seorang model kelas atas dan merupakan sahabat Andah sejak sekolah menengah atas.
Riska bangga bisa mengenal mereka semua.
Beno yang datang bersama Siska tengah duduk di pojokan.
Sebenarnya Beno tahu sejak istri Mahendra itu masuk bersama dokter spesialis anak itu di rumah sakit.
__ADS_1
'Aku awasin aja mereka' pikir Beno.
"Sis, melantai nggak?" tanya Beno.
"Ogah gue" jawab Siska yang posisinya saat ini membelakangi Andah, Riska dan teman-teman.
"Oh ya Sis, ntar balik aku anterin ke mana? Aku belum tahu tempat tinggal kamu loh" kata Beno yang bisa diartikan sebagai modus juga.
"Aku balik sendiri aja. Ntar malah ngrepotin kamu. Kita tak searah" terang Siska.
"Atau nginap aja di apartemen aku" ulas Beno.
"Idih ogah gue. Kupikir-pikir benar juga kata tuan Raditya, jangan mau di php in Beno" ujar Siska sembari tersenyum.
Sementara gerombolan Riska dan kawan-kawan sudah memulai acara party. Di antaranya ada juga yang turun melantai termasuk Riska dan Andah.
Beno menenggak minuman di depannya. Tak lama dia ambil ponsel di saku.
Beno mengetikkan sesuatu untuk dibaca Raditya.
"Mau nelpon siapa?" tanya Siska penasaran.
"Enggak kok, hanya balas pesan dari tuan Raditya" jelas Beno.
"Turun yuk! Rugi juga kalau kita tak melantai" ajak Siska.
"Tadi aja nggak mau" olok Beno.
"He...he...abis musiknya enak" sambung Siska.
"Okelah, siapa takut" jawab Beno penuh semangat.
Beno menggandeng lengan Siska untuk diajak turun. Suara musik menghentak yang dimainkan seorang disk jockey dan lampu yang hingar bingar membuat suasana menjadi ramai.
Tak sengaja Siska menyenggol seseorang yang menyebabkan Siska mendapat umpatan dari orang yang sudah mabuk itu.
Siska dan Beno masih melanjutkan acara melantai setelah meminta maaf kepada orang yang disenggolnya tadi.
Siska tak sengaja melihat Riska juga melantai.
"Eh, kamu kok di sini?" tanya Siska.
"Heemmm mencari obat kejenuhan saja" ujar Riska menimpali.
"Sama siapa?" sela Riska bertanya.
"Heemmm sama..." Siska mencari keberadaan Beno yang seakan menghilang dari pandangannya.
"Oke" sambut Siska. Ternyata Riska punya hoby clubing juga. Batin Siska.
Siska pun kembali ke tempat duduk, tapi tak dia dapati keberadaan Beno.
"Ke mana sih dia?" gumam Siska.
"Eh, sori. Barusan dari toilet" beritahu Beno.
"Kirain kamu bakalan ninggalin aku di sini" ujar Siska.
Di ujung. Tepat di depan kasir sepertinya terjadi keributan.
"Ada apaan sih mereka?" tanya Siska.
"Andai aku tahu pasti akan aku jawab" Beno malah menanggapinya dengan candaan.
Keributan itu diawali dengan Riska yang hendak membayar semua bill, ternyata uangnya kurang.
"Coba hitung ulang kak" pinta Riska.
Dan hasil hitungan kasir pun sama setelah dihitung ulang.
Riska kaget dengan hasilnya. Uang tiga puluh juta hanya untuk bayar minuman-minuman tadi. Sementara yang lain telah pulang terlebih dahulu.
"Sial. Mereka pasti sengaja melakukannya" umpat Riska.
"Kak, bagaimana kalau aku jaminkan aja ini" Riska menyerahkan sebuah cek yang diterima dari Mahendra tadi sore.
"Kamu yakin ini bukan cek kosong kan?" tandas sang kasir.
"Aku sangat yakin" jawab Riska menegaskan.
"Oke, tapi kalau kamu bohong. Tak segan kami akan melaporkan kamu" tandas sang kasir.
"Tapi kan baru besok aku bisa mencairkannya" kata Riska dengan memohon.
Terlihat senyum smirk dari mata kasir itu.
"Layanin orang di sana malam ini saja" tunjuk laki-laki setengah baya yang sedang menatap genit ke Riska.
"Hah? Kamu gila kak. Aku bukan ****** tau" sarkas Riska.
"Aku tahu. Uang darinya kan bisa kamu buat untuk bayar tagihan malam ini.
__ADS_1
Riska yang memang sudah setengah mabuk karena pengaruh minuman, maka perkataannya pun mulai melantur.
"Oke, aku layanin dia. Tapi jangan lupa bebasin aku untuk membayar tagihanku" tukas Riska.
"Heemmm, baiklah. Dan cek aku kembalikan ke kamu" ucap sang kasir kepada Riska yang melangkah ke arah laki-laki yang ditunjuk tadi.
Laki-laki itu merangkul Riska yang nyatanya benar-benar mulai terpengaruh minuman.
Bahkan Andah juga meninggalkan Riska terlebih dahulu dengan alasan ada operasi emergency.
Beno yang agak menjauh dari keberadaan Siska pun mengambil kesempatan untuk mengambil gambar yang pasti menguntungkan baginya suatu saat nanti.
Siska menghampiri Beno, "Pulang yuuukkk" ajak Siska.
"Hhmmmm ini masih sore Siska" timpal Beno.
"Capek gue" alesan Siska.
"Oke, gue anterin aja. Malam-malam gini jangan naik taksi sendirian" larang Beno.
"Terserahlah" tukas Siska.
Sebejat-bejatnya Beno, dia seperti Raditya. Tak pernah mencelupkan senjata nya ke setiap wanita. Mentok hanya karaokean aja. Itupun Raditya juga sudah tahu karakter sahabatnya itu.
.
Dini hari Riska kaget saat terbangun. Kepalanya yang berat membuatnya terhuyung.
Alangkah kaget dirinya kala ada sosok laki-laki setengah baya yang tertidur pulas di sampingnya.
"Hah? Siapa dia?" tanya Riska yang mungkin baru tersadar dari pengaruh minuman.
Dia telisik tubuhnya yang polos, dan di sana banyak sekali jejal yang ditinggalin laki-laki itu di tubuhnya. Bahkan tubuh laki-laki itu hampir sama dengan Riska.
"Tak mungkin aku yang melakukannya?" Riska menutup mulutnya kala laki-laki itu menggeliat.
"Mau kemana sayang?" tanyanya kala membuka mata.
Riska pun gugup. Apa ini karma ku Tuhan. Bagaimana mungkin kejadian ini sama saat aku menjebak Rania. Ungkap Riska dalam benaknya.
Laki-laki itu menarik Riska yang malah asyik melamun.
"Mau ke mana? Satu ronde lagi" katanya di telinga Riska.
Riska diam tak berkata.
Dia yang sudah sadar sepenuhnya, mulai sedikit menjauh dari badan laki-laki itu.
"Heeiiiii, jangan sok suci kamu. Setelah apa yang kamu lakukan semalam" olok nya.
"Kamu sangat beringas sayang dan aku sangat suka. Kalau kamu main sekali lagi, tak hanya minuman kamu yang semalam aku bayar. Pulang nanti aku tambahin dech" ujar laki-laki setengah baya nan tambun itu.
"Berapa?" jiwa matre Riska pun meronta.
"Ha...ha...keluar juga sifat aslimu" ujarnya terbahak.
"Berapa?" tandas ulang Riska sambil menatap tajam laki-laki yang masih berada di bawah selimut yang sama dengannya.
"Ha...ha...jangan dibahas lagi. Yang pasti akan kutambah jika kamu melayani ku sekali lagi" kata nya.
"Ogah, mendingan aku pulang" kata Riska beranjak untuk memunguti baju yang tergeletak di lantai.
"Nggak cantik aja belagu" tukas laki-laki itu mengolok Riska.
Riska membalikkan badan, "Jelek aja masih kau embat".
"Kukasih kamu sepuluh juta, jika mau melayani lagi" ujarnya kekeuh memaksa Riska.
Riska nampak menghentikan langkahnya. Gaji gue sebulan aja nggak ada segitu, ini cuman setengah jam an. Aku jabanin aja dech. Pikir Riska.
"Oke" jawab Riska.
Dan entah apa yang dilakukan oleh mereka. Senam pagi dengan pemanasan...he...he...
Di tengah-tengah durante permainan, tiba-tiba rekan duet Riska itu kejang dan tak sadarkan diri.
"Eh...tuan...tuan...ada apa denganmu?" kata Riska sembari menepuk-nepuk pipi laki-laki yang ambruk di atasnya itu.
"Huh, beratnya" keluh Riska.
"Heeiiii...bangunlah. Jangan buat aku takut dong" kembali Riska menepuk bahu laki-laki itu dengan keras.
Karena tak segera sadar Riska menelpon bagian front office untuk meminta bantuan.
Tak dinyana laki-laki itu malah dinyatakan meninggal. Tentu saja Riska syok.
Pasti panjang nih nanti urusannya. Pikir Riska.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading guyysssss
__ADS_1