Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Pulang ke kotamu???


__ADS_3

Sebuah babak baru Riska dimulai.


Kematian laki-laki yang menjadi partnernya semalam membuat berita yang langsung boom di kota itu.


Riska menjadi tokoh utama kali ini.


Riska berusaha pergi dari kerumunan orang di depan penginapan yang dia pakai ONS semalam.


Tak dinyana seorang wanita berumur menariknya dengan kuat. Rambut Riska pun dijambak olehnya.


"Dasar jal4ng laknat. Kamu kasih obat apa suamiku, sampai dia kena serangan jantung hah" teriak wanita itu semakin tak terkendali.


Riska berusaha menjelaskan tapi tak diberi kesempatan oleh wanita yang sudah terlanjur emosi.


Para pewarta lokal, yang kesulitan mencari sumber berita seakan mendapatkan undian dengan hadiah yang besar.


"Jadi anda kah partner orang yang meninggal tadi nyonya?" tanya wartawan yang pertama mendekat ke arah Riska.


Riska berusaha menutup wajah, agar tak kelihatan.


Tapi sebelum bisa pergi, Riska telah dijemput paksa oleh petugas.


"Sebaiknya menurut saja nyonya" kata petugas kala Riska berusaha melawan tapi sejatinya Riska sudah kalah tenaga.


Riska dibawa oleh petugas naik mobil bak terbuka dan digelandang ke kantor penyidik.


Sungguh membuat Riska terpotong urat malunya.


Sepanjang jalan Riska tak berani mengangkat muka.


Sampai di kantor penyidik, membuat Riska bertemu muka dengan Mahendra.


Mahendra memandang aneh Riska yang pagi ini di bawa masuk ke ruang interogasi.


"Apa yang terjadi?" kata Mahendra bermonolog.


Mahendra berusaha menanyakan ke penyidik yang baru saja lewat sel nya.


"Pak...Pak...wanita yang barusan masuk sebelah sana itu kenapa ya?" tanya Mahendra.


"Owwhhh...wanita tadi?" tanyanya dan Mahendra pun mengangguk.


"Biasalah tuan. Wanita malam yang kencan dengan seorang pria. Dan si pria meninggal. Diduga sementara sih karena penyakit jantung" ujar penyidik yang sepertinya suka gosip itu berlalu menjauh dari Mahendra.


"Hah? Apa benar yang disampaikan penyidik tadi. Sialan" umpat Mahendra tiada henti.


Riska keluar ruangan penyidik dengan menunduk lesu.


"Riska" panggil Mahendra ke arah Riska.


Riska memandang ke arah Mahendra dan pergi menjauh begitu saja dari keberadaan sang suami.


"Lihat saja nanti Riska" ancam Mahendra dalam gumaman.


Riska pergi meninggalkan kantor penyidik karena statusnya saat ini dijadikan sebagai saksi. Sementara Riska hanya dikenai wajib lapor tiap seminggu sekali sampai kasus ini dianggap selesai oleh penyidik.


Riska sengaja menghindari dan tak menjawab panggilan Mahendra tadi karena belum siap untuk menjelaskan kepada sang suami.


Riska hari ini berencana akan di rumah saja dan tak akan keluar, karena rasa malu yang teramat sangat.


Riska mengira pasti berita tentang dirinya menjadi trending topik dan cemoohan orang.


Dan benar saja kala Riska turun dari mobil taksi online, para tetangga sudah mengolok dengan kata-kata yang memerahkan daun telinga.


"Kasihan tuh Mahendra, punya istri dua kali kelakuan nya sama saja. Yang satu suka selingkuh, yang ini suka jual diri" sindir mereka.


Riska mendelik ke arah mereka. "Apa urusan kalian?" sarkas Riska.


"Usir saja dia, malu-maluin lingkungan" hardik yang lain.


Riska pergi menjauh meninggalkan kerumunan para tetangganya. Dia tak akan melawan, karena pasti kalah duluan karena kalah jumlah.


Ponsel Riska berdering, dan berasal dari HRD tempat dia bekerja.


"Halo, selamat pagi kak" sapa Riska.


"Hai Riska. Aku hanya mau kasih tahu kamu. Besok pagi bapak kepala memanggil kamu untuk klarifikasi berita yang saat ini tengah beredar luas" kata teman Riska bagian kepegawaian.


"Iya kak" ujar Riska terduduk lesu.


"Bagaimana aku beralasan???" pikir Riska.


.


Beno pagi-pagi sudah mengirimi pesan ke Siska, jika dirinya ingin menjemput.


Tapi balasan Siska, dia ingin minta alamat di mana Raditya tinggal. Siska ingin mereka bertemu saja di apartemen Raditya daripada Beno bolak balik.


Beno pun mengiyakan saja.


Siska datang setelah setengah jam menghubungi Beno.


"Beno, aku dengar tuan Raditya telah menikah. Benarkah?" tanya Siska.


"Bukan hanya menikah Sis, malah langsung dapat dua anak langsung" terang Beno yang menyambut Siska di lobi apartemen.


"Hah? Really? Jendes kah?" kepo Siska.

__ADS_1


"Heemmmmmm" dijawab anggukan Beno. Dan memang benar adanya kalau Raditya menikahi Rania dengan status janda beranak tiga.


Siska melongo mendengar jawaban Beno.


Dia tak mengira CEO muda tempat Siska mengabdi selama ini mendapatkan jodoh seorang janda.


"Kok melongo sih? Ntar ada lalat masuk tanpa permisi loh" olok Beno.


"He...he...aku hanya merasa aneh aja. Tuan Raditya yang tampan bisa-bisanya dapat janda. Padahal mau dapat artis kelas atas saja, pasti akan sangat mudah bagi tuan Raditya" ujar Siska.


Beno senewen, dengan kata tampan dari mulut Siska yang ditujukan untuk Raditya.


"Kenapa loe?" tanya Siska.


"Yang tampan bukan hanya Raditya loh" tukas Beno ketus.


"Ha...ha...loe seperti orang PMS aja. Mudah emosi" olok Siska.


"Biarin" tukas Beno.


"Gimana? Jadi naik nggak nih" sambung Beno.


"Jadilah, jauh-jauh sampai sini" jawab Siska. Padahal dalam hati Siska penasaran dengan janda yang berhasil memikat hati sang CEO muda yang biasanya dingin jika berada di kantor itu.


Beno mengajak Siska menuju lift yang menghubungkan langsung dengan penthouse milik Raditya.


"Sepi kah apartemen ini. Kok nggak ada yang lain naik lift ini?" tanya Siska.


"Ini lift khusus bu Siska, dan langsung terhubung ke lantai tuan Raditya" jawab Beno.


"Bu...bu...aku belum menikah tahu" sungut Siska.


"Ha...ha...kalau begitu aku panggil nyonya Beno saja" tukas Beno terbahak.


"Issshhh apaan sih? Nggak lucu" kata Siska sebal.


"Biar nggak lucu. Kita menikah saja" kata Beno semakin terbahak karena berhasil ngerjain Siska.


"Yuukk" ajak Beno ketika lift berhenti di lantai tempat Raditya tinggal.


Beno menekan bel yang tersedia.


Seorang wanita setengah baya terlihat membukakan pintu untuk Beno dan Siska.


Siska memandang wanita yang ada di depannya dengan rasa tak percaya.


"Pagi bu Marmi" sapa Beno dan langsung saja masuk ke dalam.


"Pagi tuan Beno" jawab bu Marmi dan berbalik menguti Beno yang sudah duduk aja di ruang tamu.


"Kopi aja bu" jawab Beno seakan lupa akan keberadaan Siska.


"Tuan, calonnya ya?" kata bu Marmi yang sengaja mencolek Beno.


"Oh iya, sampai lupa. Kenalin bu, ini Siska. Teman kerja Beno" kata Beno mengenalkan Siska.


"Teman...apa teman?" ledek bu Marmi.


"Dia mau kunikahin nggak mau bu. Makanya kukenalin sebagai teman kerja aja" terang Beno.


Siska mengulurkan tangannya, "Apa kabar bu? Aku Siska, tetangga ibu waktu tinggal di kampung Kauman" ujar Siska.


"Loh, iya kah?" tanya bu Marmi tak percaya. Bu Marmi meninggalkan kampung itu semenjak pisah dengan mantan suaminya.


Tapi bu Marmi sepertinya masih lupa. Karena saat bu Marmi tinggal di sana, Siska tentunya masih kecil.


"Aku putri pak Budi, beda dua rumah dari ibu" jelas Siska kembali.


"Oalah... Siska nya pak Budi" tukas bu Marmi yang akhirnya ingat siapa Siska. Siska yang waktu bu Marmi pindah masih seusia sekolah dasar.


"Loh, kalian pernah tetanggaan?" sela Beno.


Dijawab anggukan keduanya, yang bahkan saat ini mereka berdua tengah berpelukan bagai teletubbies.


"Kapan-kapan aku ajakin ke pak Budi ya bu" kata Beno.


"Untuk apa?" ulas bu Marmi.


"Ngelamar Siska" kata Beno serius. Siska kembali mencebikkan bibirnya.


"Mau nggak Sis?" tanya bu Marmi.


"He...he..." Siska hanya menjawab dengan kekehan tawa.


"Bu, si bos mana? Katanya kita suruh ke sini buat bantuin beres-beres" terang Beno.


"Tungguin aja, tuan Raditya tengah berada di kembar. Sedang bantuin istrinya ngerawat Celo sama Cio" jelas bu Marmi.


"Tungguin aja. Aku buatin kopi dulu ya" kata bu Marmi meninggalkan Beno dan Siska.


Siska memandang sekeliling.


"Emang dasarnya sudah sultan semenjak lahir. Apapun yang ada di ruangan ini pasti tak ada yang murah" gumam Siska mengagumi interior dan semua barang yang ada.


"Eh bos, tuan Raditya kapan sih nikahnya?" tanya Siska penasaran.


"Belum satu bulan" jawab Beno singkat. Karena asyik melihat layar ponsel.

__ADS_1


"Kok sudah dapat bonus putra dua" jiwa kekepoan Siska semakin menjadi.


"Ntar tanya aja langsung ke yang bersangkutan Siska" jawab Beno tanpa beralih dari layar ponsel.


"Lihat apaan sih? Serius amat" kata Siska kala Beno semakin asyik dengan ponselnya.


"Main game online" jawab Beno.


"Astaganaga... jadi loe masih suka ngegame?" tanya Riska.


"Hello, hari gini main game nggak pandang usia ya. Jangan seperti orang jaman old ah" ledek Beno.


Kembali Siska bersungut.


Mengikuti Beno, Siska pun membuka layar ponselnya.


Sebuah notif dari berita lokal online. Situs berita itu sengaja Siska ikuti, karena ingin tahu keadaan kota nya saat dia merantau sebelumnya.


"Hah, apa benar dia wanita malam? Kok ya apes sekali teman kencannya meninggal" gumam Siska.


Padahal semalam baru aja ketemu sama dia. Batin Siska.


Bu Marmi kembali mengantarkan kopi pesanan Beno dan teh hangat untuk Siska.


"Silahkan diminum Siska" kata bu Marmi.


"Makasih bu" imbuh Siska.


"Aku tinggal masak dulu ya di dapur" pamit bu Marmi kembali, dijawab anggukan Siska.


Raditya menghampiri Beno dan Siska sepeninggal bu Marmi.


"Kalian ini kemana aja sih? Aku nungguin lama loh" kata Raditya saat mendekat ke arah Beno dan Siska.


"Hellooooo, yang ada tuh kita yang jamuran karena nungguin kamu bosssss" jawab Beno sengau. Jengkel dengan ucapan Raditya yang semena-mena. Penjajah aja kalah dengan perlakuan Raditya.


"Ha....ha... Minum dulu aja Siska" suruh Raditya.


"Aku nggak disuruh nih?" sela Beno.


"Kalau kamu mah terserah. Kamu minum kopinya aja boleh. Kopi plus cangkirnya sekalian pun aku tak larang" gurau Raditya dengan tawa lebar.


"Sayank, tolong ambilin susu di kulkas" teriak wanita dari dalam kamar bayi.


"Wah, kemajuan bos. Sudah ada yang panggil sayang aja" olok Beno.


"Ha...ha.... Jelas dong bro. Raditya" kata sang bos sembari menepuk dada.


"Sombong" kata Beno mengolok Raditya.


Tapi yang diolok sedang mengambil susu di lemari pendingin.


Aku kok penasaran dengan istri tuan bos ya. Batin Siska.


Raditya kembali melewati Beno dan Siska untuk mengantarkan susu yang dipesan oleh Rania istrinya.


Tak lama dua orang berpakaian suster masuk ke kamar di mana Raditya masuk tadi.


"Lihat bos, kok sepertinya rempong sekali punya bayi" gumam Beno.


"Punya bayi itu bagai keseruan hakiki. Mandiin, nyusuin, gantiin popok dan masih banyak lagi" kata Siska menimpali.


"Idih, lagak loe seperti pernah ngalamin aja" ledek Beno.


"Nanti setiap wanita pasti akan ngalamin Beno" lanjut Siska.


Raditya keluar kamar diikuti seorang wanita di belakangnya. Wanita yang masih ditutupi oleh tubuh tegap milik Raditya.


Beno dan Siska sama-sama memandang ke arah mereka berdua.


"Kalian ke sini sebenarnya bukan untuk bantuin beres-beres" terang Raditya.


"Lantas?" sela Beno.


"Aku minta tolong urusin surat pindah untuk istriku dan sekalian kepindahan bu Marmi" terang Raditya.


"Oh ya Beno, kalau ke kantor itu sekalian tanyakan akta kelahiran Celo dan Cio" sambung Raditya.


Beno pun mengangguk.


"Oh ya Siska, kenalin nih istriku" ujar Raditya sembari menarik lengan sang istri agar maju mendekat.


Kedua wanita itu saling bengong dan saling menatap.


"Rania" "Siska" kata Rania dan Siska bersamaan.


Raditya memandang aneh ke istri dan sekretaris Beno itu.


Belum hilang rasa keterkejutan Raditya, Rania dan Siska malah sedang berpelukan sekarang.


"Setelah ini kamu musti cerita" tuntut Siska ke Rania.


"Loe juga, kenapa sulit sekali dihubungin?" kata Rania seakan curhat.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2