
"Jadi musti bedrest lagi ya bu?" tanya Rania kepada bu Marmi. Bu Marmi pun mengangguk.
Rania termenung. Kenapa banyak sekali cobaan yang musti dihadapinya.
"Nyonya, yang sabar. Pasti akan ada pelangi setelah ini" kata bu Marmi menguatkan.
"Tapi boleh nggak aku nengokin suami aku bu?" tanya Rania.
"Yang penting sekarang istirahat saja dulu. Untuk besok nyonya bisa ijin dokter untuk jenguk tuan Raditya" saran bu Marmi.
Rania teringat saat Raditya melindungi dirinya dari tembakan, membuat air mata Rania kembali meleleh.
"Papa nya Celo dan Cio bu?" seru Rania.
"Doakan nyonya. Tuan Raditya pasti kuat" tukas bu Marmi.
.
Sementara itu Beno tengah ngobrol serius dengan tuan Andrian.
"Beno, pastikan Mahendra mendapatkan hukuman setimpal" kata tuan Andrian lumayan gusar.
"Baik tuan. Penyidik juga mengenakan pasal percobaan pembunuhan kepada Mahendra" terang Beno.
"Harusnya sih bukan percobaan lagi, tapi memang sudah melaksanakan rencananya. Dan korbannya adalah Raditya" imbuh tuan Andrian.
Tuan Andrian juga tak habis pikir bisa-bisanya Mahendra melakukan hal itu.
"Keadaan tuan muda bagaimana tuan?" sela Beno.
Karena selain melaporkan, Beno juga ingin menjenguk bos sekaligus sahabatnya itu.
"Masih kritis. Apalagi Rania ini juga musti bedrest karena bayinya terancam lahir prematur" beritahu tuan Andrian.
"Semoga saja keduanya lekas membaik tuan" doa Beno diaminkan tuan Andrian.
"Beno, tolong kawal terus kasus Mahendra ini. Dia sudah terlalu jauh menganggu anakku" pesan tuan Andrian, saat Beno hendak melangkah pergi.
"Siap tuan. Tanpa tuan perintahkan pun, aku akan tetap membuatnya menderita andai hukum masih berpihak padanya" terang Beno.
"Good. Lanjutkan misi kamu" seru tuan Andrian memberi perintah.
"Kamu mau kemana selepas ini?" tanya sang bos.
"Ke TKP. Kali ada bukti yang tertinggal di tempat kejadian" seru Beno.
"Tuan, apa perlu aku carikan hotel?" tanya Beno yang sepertinya tahu jika tuan besarnya itu pasti lelah.
__ADS_1
"Boleh. Malam nanti aku ke sana" jawab tuan Andrian.
Beno melangkah pergi dan meninggalkan tuan Andrian yang masih di lorong depan ruang intensif.
.
Keesokan hari karena kontraksi rahim Rania sudah berkurang tidak seperti kemarin, oleh dokter penanggung jawabnya diijinkan untuk melihat keadaan sang suami.
Cuman dokter itu berpesan agar tak terlalu capek. Sekiranya kontraksi bertambah sering maka Rania dianjurkan untuk segera balik ke kamar rawat inapnya dan bedrest kembali.
Di lorong rumah sakit, tak sengaja Rania menjumpai wajah yang tak asing baginya.
Rania yang sedang naik kursi roda dan didorong oleh bu Marmi menjumpai Riska yang juga didorong di kursi roda oleh petugas rumah sakit.
"Riska?" panggil Rania.
Riska yang menunduk, akhirnya mendongak juga karena ada yang memanggail.
Kaget juga karena ada Rania di depannya.
"Kenapa? Mau ngolok gue? Karena gue jadi pesakitan sekarang" tukas Riska yang saat itu juga melihat jika perut Rania tengah membuncit. Pasti Rania sangat bahagia dengan suami barunya, nyatanya sudah hamil lagi aja dia. Batin Riska.
Riska yang jadi sensi karena vonis dokter barusan. Padahal Rania hanya ingin menyapa malah membuat Riska overthingking.
"Nyonya, kita pergi aja sekarang! Percuma menyapa orang yang tak punya hati" sindir bu Marmi.
"Heh, siapa yang lo maksud?" ucap Riska menimpali dengan nada suara yang mulai naik tinggi.
Bu Marmi kembali mendorong Rania untuk ke ruang intensif. Tentu saja untuk menemui sang suami yang ternyata sampai sekarang belum sadar.
Bahkan menurut tuan Andrian, semalam Raditya sempat mengalami anfal karena kesulitan bernafas. Luka di paru-paru karena terserempet peluru nyasar Mahendra adalah penyebabnya.
Di sana sudah ada mama dan papa yang terus setia menunggu sang putra.
"Mah, maafin Rania" Rania memeluk mama mertua nya.
"Nggak ada yang perlu dimaafin sayang, semuanya itu musibah" kata mama menguatkan menantunya.
"Apa kabar cucu mama?" ucap mama mengelus perut Rania.
"Kok malah dipakai jalan ke sini?" sela papa yang ikutan nimbrung.
"Kontraksinya sudah lumayan berkurang Pah. Di ruang sana bawaannya nggak tenang, ingin nengokin papa nya anak-anak" bilang Rania.
Saat ini Celo dan Cio pun telah dipindahkan ke apartemen karena faktor keamanan oleh Beno.
Opa dan Oma Handono pun ikut menyertai.
__ADS_1
Berita tentang penembakan seorang CEO muda bos perusahaan besar telah mengisi layar televisi dalam dua hari ini. Bahkan sosmed pun tak kalah ramai. Rania yang menangis memeluk sang suami yang berlumuran darah banyak mendapatkan simpati publik.
Tak jarang yang memberi dukungan walaupun hanya lewat akunnya masing-masing.
Rania masuk ke ruang intensif dengan diantar bu Marmi sampai depan pintu.
Untuk selanjutnya Rania masuk sendiri dengan masih duduk di kursi roda.
Hatinya tak tega melihat sang suami yang masih saja terpasang berbagai selang untuk menunjang kehidupannya.
Rania genggam tangan Raditya yang bebas dari infus.
"Sayang" panggil Rania lirih. Diciumnya punggung tangan sang suami yang masih nampak pucat itu.
Dia letakkan tangan sang suami di perutnya. Ada pergerakan di sana.
"Tuh, anak-anak kita aja mendoakan agar Dad nya lekas pulih. Terasa kan pergerakan mereka?" Rania terus saja mengajak bicara sang suami yang masih saja terpejam matanya.
"Bangun dong sayang! Apa kamu tega aku melalui semuanya sendirian? Ada empat anak yang menunggumu loh. Kami semua merindukan kamu" lanjut Rania berkata meski tak ada reaksi dari Raditya.
"We love you Dad Raditya" bisik Rania lirih di telinga sang suami.
Ada pergerakan kecil di jari jemari Raditya, dan itu dirasakan oleh Rania.
"Sayang, kamu bangun?" Rania menekan tombol samping bed padahal mata Raditya masih saja terpejam.
Beberapa petugas masuk untuk melihat.
"Ya nyonya, ada yang bisa dibantu?" tanya salah satunya.
"Tadi jari suamiku mulai bergerak dok, meski pelan" terang Rania memberitahu.
"Baiklah, akan kami periksa dulu. Nyonya bisa agak mundur sedikit" ujar yang lain.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa keadaan Raditya lumayan membaik daripada kemarin. Dokter juga menyarankan Rania untuk sering-sering mengajak ngobrol Raditya. Respon tubuh Raditya lumayan bagus, karena bereaksi terhadap suara sang istri.
"Baik dokter, terima kasih" ucap Rania.
Lumayan lama Rania mengajak ngobrol sang suami, sepeninggal dokter tadi.
Kalaulah mama tak menyuruhnya istirahat, Rania tak bakalan keluar dari ruangan itu.
"Rania, Raditya perlu waktu untuk sembuh. Dan kamu pun perlu istirahat untuk itu" kata mama bijak.
Dengan kembali diantar oleh bu Marmi, Rania balik ke kamar.
Dan di ruang vvip itu, Rania kembali dipertemukan dengan Riska yang berjalan tertatih tanpa siapapun di dekatnya.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading