Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Licik vs Licik


__ADS_3

"Raditya, pagi ini papa sama mama mau nemuin Rania lagi di rumah sakit" kata papa saat menghampiri Raditya yang masih di kamar.


Raditya yang masih rebahan, mengiyakan saja apa yang dikatakan papanya.


"Jangan santai-santai aja kamu, Minggu depan papa dan mama harus dapat kabar baik dari kamu" sergah papa.


"Jangan narget gitu dong Pah, ini masalah masa depan putra tampanmu ini lho. Makanya bantu aku merayu Rania, biar dia mau" tukas Raditya.


"Terus kemarin-kemarin yang bilang, kalau mau cari jodoh sendiri siapa?" olok Tuan Andrian.


"Oh ya, nanti sore papa sama mama mau balik. Untuk selanjutnya kuserahkan urusan Rania dan perusahaan yang di sini sama kamu" jelas tuan Andrian.


Raditya hanya bisa garuk kepala. Urusan restu dari tuan Handono aja masih buat pusing, kok cuman dikasih waktu seminggu.


"Oh ya Pah, keponakan dari tuan Rahardian?" kata Raditya menggantung.


"Dimas maksud kamu?" sela papa.


"Heemmmmm" Raditya mengangguk.


"Kalau dia bilang keladinya, yo suruh out aja" timpal papa enteng.


"Loh, papa sudah tahu?" tanya Raditya heran.


Papa hanya mengangguk menanggapi.


"Yaelah Pah...kalau sudah tahu ngapain gue musti ngurusin. Kan tinggal papa perintah saja" tukas Raditya sebal kepada tuan Andrian.


"Biar kamu bisa belajar lah. Kan nggak harus papa terus yang musti nyelesaikan" imbuh papa.


Sudah dua kali Raditya diprank tuan Andrian. Pertama masalah jebak menjebak, sekarang masalah Dimas. Hadech....


"Makanya, contoh papa nih. Nggak suka ngebiarin masalah berlarut-larut. Sat...set...sat..set...das..des...ha...ha..." tuan Andrian terbahak.


"Idih...sombong" olok Raditya yang semakin sebal.


Tuan Andrian masih saja terbahak saat meninggalkan kamar Raditya.


"Oh ya Raditya, beli apartemen sana aja. Tinggal di kamar ini mahal. Pemborosan!" tuan Andrian kembali melongok ke dalam kamar Raditya meski hanya terlihat separuh kepalanya saja.


Hadech, masih saja inget pengiritan tuh papa. Padahal kartu yang ada di dompetnya no limit semua. Raditya kembali menepuk jidat mendengar kata-kata papa barusan.


Terdengar ketukan pintu kembali sepeninggal tuan Andrian.


"Pake ketuk pintu segala Pah, biasanya juga nyelonong masuk" teriak Raditya yang mengira tuan Andrian sedang ngerjain dirinya.


"Ini saya tuan muda. Pak Supri" terdengar suara di luar pintu.


"Masuk aja pak" suruh Raditya.

__ADS_1


"Ngapain nyusulin gue, bukannya nganter papa sama mama ke rumah sakit pak?" tanya Raditya.


"Saya ditugasi tuan besar untuk mengantar tuan muda kemana saja pergi" beritahu pak Supri.


"Hemmmm pasti pak Supri disuruh jadi mata-mata yaaa???" telisik Raditya.


"Eh..ah...nggak kok tuan muda" tukas pak Supri terbata.


"Ha...ha...melihat cara pak Supri menjawab saja aku sudah tahu" Raditya malah terbahak.


"Oke pak, tunggu aja di bawah. Pak Supri sarapan dulu. Aku mau bersiap" suruh Raditya.


"Baik tuan muda" pak Supri undur diri dari kamar Raditya.


Dan sekali lagi terdengar ketukan pintu saat Raditya hendak masuk kamar mandi.


"Siapa lagi nih trouble maker selanjutnya?" gumam Raditya.


Suasana syahdu pagi, inginnya Raditya bergelut dengan selimut. Eh, ada saja yang datang merusak suasana.


"Siapa?" kata Raditya dari dalam.


"Gue, Beno" suara orang yang datang ternyata Beno.


"Issssshh...dia lagi" gerutu Raditya.


"Masuk" tapi tetap saja Raditya suruh masuk tuh Beno.


"Galak amat sih" Beno menaruh pantat di kursi panjang.


"Ben, pagi ini kamu ke perusahaan saja. Papa sudah tau kalau Dimas lah biang masalah. Papa juga setuju jika kita out kan dia. Problemnya kita harus ada bukti kuat untuk mengatasi ini" Raditya malah ikutan gabung sama Beno, duduk di kursi.


"Katanya mau bersiap, kok ikutan gabung sama gue" celetuk Beno.


Raditya meninju Beno, "Bentar aja gue mau ngomong" sanggah Raditya.


"Laporan-laporan mereka itu sudah bisa kita jadikan bukti bos. Masalahnya kita harus punya saksi juga" imbuh Beno.


"Itu mah masalah kecil Beno. Panggil Mahendra siang ini. Suruh temuin aku di resto Z" ujar Raditya tersenyum devil.


Beno memicingkan netranya, mencoba menerka langkah apa yang akan diambil oleh Raditya.


"Sudah, biarkan Mahendra menjadi urusan gue. Loe kumpulin aja semua bukti nya. Licik harus dibalas kelicikan juga bro" jelas Raditya menambahi.


"Siap bos. Otomatis gue nggak nganterin loe ke calon mertua kan?" tandas Beno.


"Nggak. Ngajakin loe juga percuma, nggak ada manfaatnya. Yang ada gue malah loe palakin buat beli makan" canda Raditya.


"Sialan" umpat Beno.

__ADS_1


Padahal karena ada pak Supri, makanya gue nggak ngajakin loe Beno. Batin Raditya terkekeh.


Saat turun ke lobi, "Gue ke rumah sakit aja dulu. Lama juga nggak nengokin kembar sama bundanya...he...he..." gumam Raditya. Ada seulas senyum di ujung bibir Raditya mengingat semuanya.


Selepas siang, Beno sudah buatkan janji dengan Mahendra di resto yang diminta Raditya. Sang asisten gercep juga untuk masalah ini.


Untuk agenda sore akan Raditya pikirkan nanti setelah bertemu dangan Mahendra.


.


Sampai di depan ruang bayi, Raditya berpapasan dengan dokter Andah. Dokter cantik, spesialis anak yang ternyata masih single itu.


"Pagi tuan Raditya. Nggak sibuk? Kok pagi-pagi sudah nengokin kembar?" tanyanya ramah.


Raditya tersenyum menanggapi, "He...he...biasa saja kok dok" tanggapnya.


Interaksi keluarga pasien dan dokter itu ternyata terlihat oleh seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi roda. Siapa lagi kalau bukan Rania. Tebar pesona terus. Batinnya Rania.


"Kok malah berhenti di sini?" tanya nyonya Andrian yang barusan menyusul karena abis ke toilet dulu.


Melihat Rania yang tak merespon, nyonya Andrian pun ikutan menatap di mana mata Rania tertuju.


"Issshhhhh...anak bengal" gerutu Nyonya Andrian yang melihat Raditya sedang ngobrol asyik dengan seorang dokter muda.


Tanpa tahu apa yang mereka obrolin, nyonya Andrian mendekat dan menimpuk bahu Raditya dengan tas mahal yang dibawanya.


"Aduh..." celetuk Raditya dan reflek menoleh ke belakang. Dilihatnya mama sedang bersedekap dan menatap tajam ke arahnya.


Sementara Rania tak beranjak di ujung lorong.


"Kenalin Mah, dokter Andah. Dokter yang merawat kedua putraku" beritahu Raditya tanpa rasa bersalah. Karena sedari tadi yang diobrolin dengan dokter Andah hanya seputaran perkembangan si kembar.


"Lihat tuh di ujung lorong" suruh mama sambil berbisik. Netra Raditya pun mengikuti arahan mama.


"Matih gue. Kenapa nggak bilang sedari tadi sih Mah?" Raditya ikutan berbisik, karena netranya bertemu dengan netra Rania yang menatap lurus ke arahnya.


Terlihat bu Marmi datang, "Kok masih di sini aja? Katanya mau lihatin si kembar?" Barulah bu Marmi mendorong kursi roda mendekati keberadaan Raditya dan yang lain.


"Pagi nyonya Rania" sapa dokter Andah memecah suasana canggung di tempat itu.


"Mau lihatin kembar?" Rania mengangguk.


"Oke, perkembangan mereka lumayan bagus hari ini. Jadi harus mulai belajar nyusuin ya" jelas dokter Andah.


Rania mengangguk lagi.


"Dan untuk yang lain-lain, semua sudah saya jelasin ke tuan Raditya. Saya undur diri dulu" pamit dokter cantik yang bisa saja membuat Rania insecure.


"Oh ya nyonya Rania, fighting!" seru dokter Andah tersenyum simpul sambil berlalu menjauh dari keberadaan mereka.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2