Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Jawaban Rania


__ADS_3

"Jangan lama-lama, aku benar-benar ingin memberikan status yang jelas untuk kembar" ujar Raditya.


"Kamu ini menodongku atau bagaimana?" kata Rania tapi masih sibuk menyusui kedua bayinya. Jadi Raditya dan Rania masih saling membelakangi.


"Yaahhh boleh dibilang begitu" tanggap Raditya.


"Ayolah Rania, apa kamu nggak kasihan sama kedua bayi yang ada di gendongan kamu sekarang? Pasti mereka juga ingin daddy nya bersama mereka" Raditya semakin banyak bicara.


"Beno juga sudah kusuruh nyiapin semua nya untuk acara hari Minggu. Apa kamu tega?" tandas Raditya.


Lama Raditya menunggu, kok tak ada jawaban. Mau berbalik takut ditimpuk Rania. Karena sedang berposisi yang membuat Raditya menetes air liurnya.


"Rania...Rania...kok diam aja sih? Gimana tanggapan kamu?" ucap ulang Raditya.


Raditya pun menengok. Takut Rania pingsan atau apa. Riwayatnya kan seperti itu, sebelum Rania melahirkan.


"Lah...kok malah tidur sih" celetuk Raditya.


"Andai sudah sah, akan langsung kulahap aja tuh buah melon kamu" gumam Raditya sembari melepas bibir si kembar dari pucuk buah kesukaannya.


Raditya taruh si kembar ke dalam box bayi. Dan dia tutup dada Rania dengan selimut.


Panas dingin rasa tubuhnya. Rania menggeliat, "Loh aku kok malah ketidur sih. Mana si kembar?" celetuknya bingung mencari keberadaan kedua putranya.


"Aman, sudah kutaruh boxnya" ujar Raditya.


"Yang mindahin kamu?" tanya Rania.


"Iya lah, siapa lagi. Bahaya tahu kalau hidung mungil mereka ketutup buah sebesar melon itu" kata-kata Raditya sungguh vulgar, membuat pipi Rania bagai buah tomat sekarang.


Raditya beranjak, "Boleh nebeng nggak? Mau ganti baju" ucap Raditya sembari menunjuk lengan baju yang kena ompol si kembar.


"Heemmmm, itu kan kamar kamu juga" terang Rania.


"Bener nih????" Raditya menegaskan ucapan Rania.


Rania menutup mulut berasa salah ngomong.


"Nggak begitu maksudnya...maksudku apartemen ini kan semua punya kamu. Jadi kamu juga punya hak di sini" kata Rania menjelaskan.


"Belibet amat" tukas Raditya.


"Anterin" pinta Raditya.


"Kamu balik badan lagi" pinta Rania yang memang belum benahin sesuatu untuk menutup dadanya.


"Untuk?" tanya Raditya seakan terlupa.


"Balik badan aja susah amat" sewot Rania.


"Oh...sori...sori...aku lupa. Mau nutupin favoritnya kembar kan?" imbuh Raditya seakan merasa biasa aja. Rania dibuat tak berkutik oleh ucapan-ucapan Raditya hari ini.


"Sudah, ayo kuanterin" kata Rania.


Raditya melangkah duluan dan Rania mengikuti.


"Tuan, makan dulu" kata bu Marmi dari arah dapur karena melihat Raditya dan Rania berjalan beriringan.


"Ntar bu. Masih ada urusan" bilang Raditya.


"Oh ya bu, tolong mbak mbak suster suruh jagain adik ya" imbuh Rania menimpali ucapan Raditya.


"Iya, nanti kubilangin. Kalian mau ke mana?" tanya bu Marmi.


"Ini nganterin daddy nya kembar ganti baju. Barusan kena ompol" bilang Rania.


Wah kemajuan nih, dia sudah nggak manggil namaku lagi. Pikir Raditya.


"Aku ke kamar mandi dulu. Tolong ambilin kemeja ku" kata Raditya.

__ADS_1


"Heemmmmm" Rania menyetujui dan masuk ruang wardrobe yang memang sudah disediakan Raditya sebelum Rania menempati apartemen ini.


Raditya mengulas senyum sebelum masuk ke kamar mandi. Sedikit lagi. Batin Raditya.


Raditya keluar kamar mandi dan Rania masih duduk di tepian ranjang.


Dia cukup kaget saat Raditya keluar kamar mandi hanya mengenakan celana bawahan tanpa atasan. Perut six pack nya jelas nampak sekali di mata Rania.


"Lihatin apa?" goda Raditya, membuat Rania membuang muka. Malu kepergok empunya yang punya perut.


"Nggak usah malu. Semua tubuhku malah pernah kamu rasain semua" ledek Raditya mengingatkan kejadian di malam itu.


Raditya duduk begitu saja di samping Rania. Dan membuat kaget Rania.


"Rania, aku serius nungguin jawaban kamu" kata Raditya serius kali ini.


Sambil mengancingkan baju yang disediakan Rania, Raditya tetap menunggu suara Rania memberi jawaban.


"Tolong" Raditya menyodorkan lengan baju untuk Rania lipetin.


Rania pun melakukan hal yang diminta oleh laki-laki di sampingnya dengan sedikit gugup.


"Apa tuan Andrian dan mama merestui?" tanya Rania.


"Kalau orang tua ku tak merestui, tak mungkin mereka jauh-jauh ke sini" terang Raditya.


"Apa kamu juga ragu karena status sosial?" kata Raditya menandaskan.


Rania pun mengangguk, "Dunia kita beda Raditya" ucap Rania serius.


"Yang membuat beda itu kan kamu. Kita sama-sama butuh makan, oksigen, air. Yang membuat beda itu kalau kamu makan nasi, aku makan bunga. Itu yang aneh" celetuk Raditya.


"Makan bunga?" tanya Rania heran.


"Iya, bukannya itu nandakan kita beda? Beda alam maksudnya" tukas Raditya sembari tertawa.


"Kalau nggak lucu jangan ketawa dong" imbuh Raditya.


"Makanya jangan over thingking. Kita jalani saja. Perbedaan itu lama-lama akan terkikis kalau kita saling komunikasi" janji Raditya.


"Apalagi yang ingin kamu tanyakan dan membuat kamu ragu? Selama aku bisa jawab akan kujelaskan" ujar Raditya menambahkan.


Rania menggeleng.


"Terus jawaban kamu apa?" tatap Raditya serius.


"Soal yang mana?" tanya Rania.


Raditya menggaruk kepalanya. Masa sih harus mengulangi dari awal lagi bicaranya. Mau jadiin Rania menjadi istrinya saja, ribet banget.


"Rania, will you marry me?" akhirnya Raditya mengatakan kata ajaib itu juga dengan jongkok di depan Rania.


"Eh, eh...bangun Radit. Jangan disitu" kata Rania menggeser duduknya.


"Enggak, sebelum kamu jawab pertanyaanku barusan" kata Raditya tak bergeming.


"Loh???" tukas Rania.


Ayolah Rania jawablah. Kakiku sudah kram semua ini. Batin Raditya.


Raditya menunggu lumayan lama, hampir sepuluh menit dia jongkok di sana.


"Oke, kita coba" tukas Rania menjawab pertanyaan Raditya.


Raditya mendongak, menatap serius Rania.


"Coba ulangi?" pinta Raditya karena tak percaya jawaban Rania.


"Nggak ada remidi. Dan cukup sekali aku menjawabnya" terang Rania.

__ADS_1


Raditya memeluk hangat Rania, "Makasih. Aku janji akan buat kalian bahagia" bisik Raditya di telinga Rania.


Wajah sumringah nampak di muka Raditya saat keluar dari kamar utama. Diiringi Rania berjalan ke meja makan.


Raditya menelpon Beno.


"Beno, untuk acara hari Minggu fix jadi. Aku nggak mau tahu, intinya kamu harus siapkan semua" kata Raditya tanpa memberi kesempatan Beno untuk menjawab. Panggilan ditutup Raditya begitu saja. Menyisakan sumpah serapah Beno di sana.


"Kenapa tuan Beno?" tanya bu Marmi.


"Enggak ada apa-apa bu" jawab Raditya ber rahasia dengan bu Marmi karena ada Rania di sana.


"Rania, mana ponsel kamu?" tanya Raditya.


"Untuk apa?" sela Rania.


"Aku belum punya nomor kamu. Tolong ketikkan di sini" pinta Raditya menyerahkan ponsel terbarunya.


Rania tertegun dengan wallpaper Raditya yang berisi foto si kembar.


"Napa? Aneh ya? Mereka duniaku sekarang" tandas Raditya menatap Rania.


"Oh ya bu, habis makan akan kuajak Rania keluar sebentar. Ada perlu. Tolong jagain adik-adik ya bu" pinta Raditya meminta tolong bu Marmi.


"Pasti tuan" jawab bu Marmi yakin.


"Makasih" kata Raditya menimpali.


Rencana awal setelah mendatangi Rania, Raditya hendak ke perusahaan. Tapi karena belum persiapan apa-apa, Raditya mengubah rencananya. Dan akan mengantar Rania memesan baju untuk akad nikah hari Minggu besok. Tentu saja Raditya tak menerima penolakan untuk ini.


.


Sementara itu di rumah sakit, kembali Mahendra bertemu dengan dokter Andah yang hari ini melakukan kunjungan ke bayi Riska dan Mahendra yang memiliki kelainan jantung.


"Tuan Mahen apa kabar?" kata dokter Andah basa basi membuat Riska yang berada di samping Mahendra memicingkan mata. Mereka kok terlihat akrab sekali. Pikir Riska.


"Apa ada yang kulewatkan?" tanya Riska menyela keduanya.


"Oh, sampai lupa menyapa istrimu tuan Mahen. Bagaimana kabarnya hari ini nyonya? Sudah mendingan?" tanya sang dokter anak itu.


Riska menanggapi tak suka kedatangan dokter Andah. Riska tak menjawab, hanya menaikkan sudut bibirnya ke atas.


"Tuan Mahen, aku ada rekom rumah sakit rujukan yang bisa menerima pasien dengan kasus seperti putra anda itu" terang dokter Andah kembali menatap Mahendra seakan mengabaikan keberadaan Riska.


"Kalau bisa yang tercover asuransi punya istri saya dok" kata Mahendra.


Riska semakin membelalakkan mata, menyikapi pernyataan Mahendra barusan.


"Apa kamu bilang yank, kenapa harus asuransiku?" sela Riska.


"Asuransiku tak mengcover itu. Jelas???" tandas Mahendra menatap tajam Riska.


"Kira-kira kapan dirujuknya dok?" sela Riska.


"Minggu depan. Sebelum dirujuk, nanti akan kubuatkan surat pengantar" terang dokter Andah.


"Oh ya tuan Mahendra, apa di keluarga besar anda ada riwayat sakit jantung bawaan seperti putra anda?" tanya dokter Andah.


Mahendra menggeleng. Begitupun Riska.


"Aneh" gumam dokter Andah tapi masih didengar oleh Mahendra dan juga Riska.


"Ada apa dok?"


"Enggak kok tuan Mahen. Untuk sementara hari ini cukup dulu. Saya akan lihat pasien lain. Makasih" kata dokter Andah, keluar dari ruang rawat Riska.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2