
Dan di depan ruang vvip itu, Rania kembali dipertemukan dengan Riska yang berjalan tertatih tanpa siapapun di dekatnya.
Riska menghentikan langkah saat ada sebuah kursi roda berhenti di depannya.
"Heh, lo lagi! Sudah bagai cenayang aja lo Rania. Dimana-mana selalu aja ada kamu" seru Riska sengit.
"Loh, ini rumah sakit. Siapa saja yang sakit berhak datang. Emang lo siapa? Yang punya rumah sakit?" kali ini Rania nggak mau ditindas lagi.
"Emang ngapain juga lo di sini? Lo sakit? Sakit jiwa kali" tandas Riska.
"Harusnya pertanyaan itu pas buat kamu sendiri" balas Rania sengit.
"Nyonya, sebaiknya kita masuk aja. Nggak usah bicara yang tak perlu. Hemat energi anda" sela bu Marmi yang ada di belakang Rania.
"Nggak papa bu. Selama ini aku cukup mengalah dan lebih banyak diam. Dengan diamku aku berharap agar ada yang sadar. Ternyata malah semakin menjadi saja" ucap Rania tak seperti biasanya.
Emosinya mulai meledak, apalagi hormon kehamilan juga berpengaruh saat ini.
Riska hendak mendekati Rania.
Tapi pengawal yang ditempatkan Beno sudah siap siaga menjegal, jika saja Riska hendak menyerang nyonya muda nya. Tak perduli mau wanita atau pria, kalau membahayakan nyonya nya, tentu tak ada ampun lagi untuk mereka.
Riska tersenyum sinis, "Sori gue lupa kalau lo sekarang seorang nyonya besar" tukas nya.
Rania pun tak kalah sinis menghadapinya.
Bu Marmi kembali mendorong kursi Rania untuk kembali ke dalam kamar vvip.
Meninggalkan Riska yang kembali berjalan tertatih menuju ruang perawat.
"Kenapa nggak tekan bel aja nyonya?" seru salah satu perawat dan menghampiri Riska.
"Sudah aku tekan sedari tadi, tapi nggak ada yang datang. Apa karena aku nggak ambil kamar vvip seperti nyonya Rania?" kata Riska ketus.
"Emang anda di kamar berapa? Karena memang ada yang trouble bel pasien di salah satu kamar" terang yang lain.
"Kamar dua dua satu" jawab Riska.
"Owh, kebetulan memang kamar anda dan sebelahnya yang sedang dibenahin. Tuh teknisinya" tunjuk perawat itu ke teknisi yang mengerjakan apa yang perawat itu bilang.
'Sial bener gue' pikir Riska.
"Emang ada apa nyonya?" tanyanya.
"Perutku ini loh, kenapa rasanya mulai sakit lagi. Makin lama tambah sering aja intensitasnya. Emang sebenarnya aku sakit apa sih?" seru Riska.
__ADS_1
"Maaf nyonya, bukan kapasitas kami untuk menjelaskan. Nanti siang saat dokter visite biar dijelaskan langsung oleh beliau" ujar perawat itu menjelaskan.
"Baiklah nyonya, sekalian kami memberikan suntikan anda. Mari saya antar kembali ke kamar" celetuk perawat yang juga sedang membawa seperangkat obat suntikan.
Riska akhirnya menurut saja, daripada harus jalan balik mendingan naik kursi roda seperti halnya Rania.
Di kamar Rania, "Riska kok pucat sekali ya bu? Apa sakitnya parah? Kasihan, dia tuh sudah nggak ada keluarga" kata Rania saat barusan masuk kamar dan setelah bertemu dengan Riska tadi.
"Nyonya ini kok masih ada saja sifat welas asihnya. Ingat nyonya, betapa jahatnya nyonya Riska dulu" kata bu Marmi mengingatkan.
"Semua kejahatan nggak harus dibalas dengan kejahatan yang sama bu Marmi. Pasti yang di Atas nggak akan tinggal diam. Semua sudah ada porsi balasan masing-masing" tukas Rania sabar.
"Hati nyonya itu terbuat dari apa, sehingga rasa dendam itu tak ada" kata bu Marmi menimpali.
"Hidup penuh dendam itu capek loh bu" imbuh Rania.
Bu Marmi mengangguk, karena dia sendiri pernah menyimpan dendam pada mantan suami yang tega meninggalkannya begitu saja saat itu.
"Istirahat apa makan dulu nyonya?" tanya bu Marmi beralih topik pembicaraan.
"Makan dulu aja bu. Bagaimanapun aku harus tetap kasih asupan buat mereka berdua yang ada di sini" kata Rania menunjuk ke arah perut.
"Nah, gitu dong nyonya. Semangat!" ulas bu Marmi ikutan senang akan semangat sang nyonya.
Rania pun mengangguk.
Terdengar ketukan pintu di kamar rawat inap Rania.
Senyuman dokter yang hendak visite menyembul dari balik pintu.
"Selamat siang nyonya Rania, apa kabar?" tanya dokter itu mendekat ke arah pasiennya.
"Lebih baik dari kemarin dok? Kontraksinya sudah banyak berkurang" terang Rania.
"Hhhmm baiklah. Kita periksa dulu" ujar sang dokter menambahi.
Terlihat seorang perawat menghampiri dokter itu.
"Dok, ada yang ingin kusampaikan" kata nya.
"Apa apa?" tanya dokter itu, sambil menghentikan pemeriksaan.
"Nyonya Riska mengamuk. Tak mau menunggu lama kedatangan anda, yang katanya terlalu mengutamakan pasien vvip" terang perawat itu.
"Loh, apa kamu nggak jelaskan? Aku ke sini dulu kan karena sekalian menunggu hasil pemeriksaan penunjangnya keluar" terang dokter kepada perawatnya itu.
__ADS_1
"Sudah aku jelaskan dok. Tapi buat pusing aja pasien itu. Kerjaannya marah dan komplain mulu" seru perawat itu.
"Hussstt nggak boleh begitu. Apa lagi di depan pasien lain" tanggap dokter mengingatkan.
"Abisnya buat kesel aja sedari pagi" kata perawat itu sewot dan berlalu pergi dari kamar rawat Rania.
"Maaf nyonya" ujar dokter obgyn itu.
"Enggak apa-apa dok" balas Rania dengan senyum ramah.
"Baiklah nyonya, kita pamit dulu" kata dokter setelah selesai melakukan pemeriksaan terhadap diri Rania.
"Kapan kira-kira boleh pulang dok?" tanya Rania.
"Wah, sepertinya anda sudah tak kerasan ya? Padahal kamar ini paling nyaman loh di antara semua kamar" canda dokter itu.
"Kalau kondisi anda bertahan seperti ini terus, kemungkinan besok anda sudah saya ijinkan pulang nyonya. Yang penting, harus banyak bedrest dan istirahat di rumah" jelas dokter itu dan mengakhiri sesi visite.
Rania tersenyum puas, dan untuk selanjutnya dokter itu akan melakukan visite ke pasien yang lain.
"Sus, langsung saja ke ruang rawat pasien yang komplain tadi" seruan dokter yang masih kedengaran oleh Rania.
"Sekalian bawa hasil pemeriksaan penunjang" perintah dokter itu. Sementara perawat menutup pintu kamar Rania.
Di kamar, Riska masih saja uring-uringan. Karena kondisinya tak kunjung membaik, tapi malah dirinya semakin tak nyaman dengan perutnya.
"Sudah ngehabisin biaya malah tambah sakit pula" gerutu Riska.
"Omset aku dua hari ini hilang sudah" keluh Riska yang masih saja memikirkan pekerjaan yang digelutinya.
"Lima puluh jeti hilang dalam sekejap" keluar semua keluhan Riska.
Bagaimana tak hilang segitu banyak. Melayani seorang tamu Riska memasang tarif dua puluh dua puluh lima juta. Dau hari, bisa tiga sampai empat orang mangsanya. Bagaimana tak kaya mendadak tuh Riska.
Dokter masuk dengan dua orang perawat masuk ke kamar Riska setelah mengetuk pintu tentunya.
"Kalian ini lama amat sih, perutku sakit nih" kata Riska sinis.
"Maaf kami masih menunggu hasil pemeriksaan penunjang anda. Dan hasilnya barusan keluar" terang perawat.
"Apa hasilnya?" tanya Riska dengan tak sabar. Was-was juga tentu saja.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1