Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Terselubung


__ADS_3

"Wooowww, ternyata di balik wajah biasa kamu ada badan seksi dibaliknya" pujinya.


"Oke, aku akan make over muka kamu agar kamu menjadi idola di sana nantinya" sambungnya.


"Emang kerjaan aku apa?" kata Riska.


"Nanti akan dijelaskan mommy" jawabnya membuat Riska semakin penasaran.


Saat ini Riska sudah berada di antara beberapa wanita dengan penampilan yang hampir sama dengan dirinya.


Ada yang memandang suka, tapi kebanyakan memandang sinis ke arah pendatang baru seperti Riska.


"Oke, kita mulai penjelasan mommy" kata mommy dengan sekali menepuk tangan, agar perhatian tertuju pada nya.


"Malam ini kita akan kedatangan pemilik perusahaan besar dan juga staf direksi. Mereka berencana akan mengadakan rapat di hotel A" terang mommy.


"Layani mereka dengan baik" suruh mommy.


"Riska, kamu orang baru. Ikuti saja para seniormu yang lebih tahu akan apa yang dilakukan" kata mommy menatap tajam ke arah Riska.


"Baik mom" jawab Riska.


Banyak juga yang mencibir akan suara Riska.


Mereka digelandang bersama di sebuah mobil mewah yang disediakan mommy. Tak lupa satu persatu di beri sebuah blazer untuk mengkamuflase penampilan mereka yag seksi.


Tampak salah satu dari mereka memepet Riska.


"Apa kamu tahu pekerjaan kita nantinya?" tanyanya setengah berbisik.


Melihat wajah nya, pasti lah dia paling yunior di antara yang lain.


"Heemmm apa?" tanya Riska.


"Melayani pria hidung berwarna, tak sedikit yang akan berakhir di ranjang" beritahunya.


"Jadi tebakan dalam hati ku tadi tak sepenuhnya salah" tandas Riska.


"Owhhh...jadi loe sudah tahu. Syukurlah. Dan asal kamu tahu, jangan coba-coba loe menikung mommy. Dia bisa membunuh kamu dengan berbagai cara" serunya.


"Oh ya, andelin aja tips pelanggan. Lumayan lah buat tambahan jika kamu ingin hidup hedon" senyum nya terlihat licik.


"Makanya, saat bertemu dengan yang mengundang kita nanti jangan segan melayani mereka sebaik-baiknya" pesan nya pada Riska.


Dan apa yang dibilang oleh mommy benar adanya, mereka kini tiba di sebuah hotel mewah bintang lima di ibukota.


Mereka tak turun bersama.


Riska bersama Ana, wanita yang mengajaknya ngobrol sedari tadi.


"Apa kita akan ke ruang rapat?" tanya Riska.


"Ha...ha...kamu ini polos apa memang bodoh sih? Rapat yang dibilang mommy hanya lah bahasa kiasan saja" seru Ana.


"Lantas?" untuk kali Riska tak paham.

__ADS_1


"Nih!" Ana melempar kunci kamar ke arah Riska.


"Kita disuruh menginap?" tanya Riska masih bengong.


"Heemmm...tentu saja. Dan jika nanti ada yang mengetuk pintu bukain saja. Dan layani dia dengan baik" seru Ana.


Riska mulai paham dengan alur kerja nya.


Riska masuk di kamar sesuai dengan nomor yang ada di card acces yang diberikan Ana tadi.


Setelah melepas blazer yang diberikan oleh kaki tangan mommy tadi, Riska duduk di ranjang.


Tak mengira hidupnya akan berubah drastis. Dari seorang istri pesakitan seperti Mahendra menjadi wanita penjual diri.


Tapi nggak apa-apa lah. Batin Riska membenarkan tindakannya sendiri.


Tak sampai setengah jam, pintu diketuk oleh seseorang.


Riska melihat dari lubang pintu kecil yang ada di pintu.


Laki-laki setengah baya, kalau melihat wajahnya sih masih ada sisa lah aura tampan jaman mudanya.


Riska membuka pintu dengan senyum simpul menghiasi sudut bibirnya.


"Riska???" panggilnya.


"Benar tuan" jawab Riska ramah.


"Panggil aja mas" suruhnya.


"Hhmm kamu sepertinya orang baru?" tanya nya.


"Benar, tapi kalau kemampuan aku tak kalah kok sama yang senior" jawab Riska.


"Buktikan dong!" kata nya dengan wajah nakal seakan menantang Riska.


Bagai jalan terbuka lebar maka Riska mulai menjalankan aksinya.


Dengan rok pendek yang hanya menutupi kedua pantat seksi, Riska duduk di pangkuan sang pria yang tengah duduk di ranjang.


"Oh ya mas, apa nggak boleh kenal nama kamu? Biar kita makin mesra!" kata Riska.


"Ha...ha...makanya aku suruh panggil mas. Itu tujuannya biar mesra. Apa kamu tak diberi tahu teman kamu, kalau tak boleh mengetahui nama-nama klien kamu ini" beritahunya sembari terbahak.


"Maaf mas aku belum tahu jika ada aturan itu" tapi tangan Riska mulai menggerayang di mana-mana.


"Oke, dimaafkan karena baru pertama kali" bilangnya dengan tangan mulai tak terkondisikan.


Baju Riska yang minim bahan memudahkan dirinya untuk membuka akses.


Bahkan kedua aset kembar milik Riska telah disesapnya. Tangan Riska tak kalah garang telah bermain kemana-mana.


"Wowww, kamu menyusui kah?" mata laki-laki itu berbinar bagai menemukan sesuatu yang berharga.


Dia sesap dan sedot. "Aku ingin jadi bayinya" dan dengan lahap dia rengkuh milik Riska.

__ADS_1


Riska yang lama tak mendapat jatah dari Mahendra, bagai menemukan jalan penyaluran semakin ganas saja menyerang laki-laki itu.


Entah mereka melakukan sampai berapa kali, berapa posisi yang pasti kini mereka berdua ambruk di ranjang yang sama dengan berbalut selimut yang sama dan tentu saja dengan badan yang masih polos semua.


Riska bangun dengan kondisi sendiri dan dan sudah tak ada laki-laki tadi. Tapi belum disadari oleh Riska.


"Uhhhhh, pegal semu nih badan" gumam Riska.


Dia meraba sebelah ranjangnya, "Loh dia sudah tak ada aja. Jangan-jangan aku ditipu nih" batin Riska.


Tapi saat duduk dengan badan yang masih polos, bahkan Riska tak sadar jika masih bertelanjang dada.


Di pantulan kaca, nampak beberapa bekas kissmark menempel di sana.


Terlihat amplop coklat di meja. Saat nominalnya Riska tersenyum puas.


"Lumayanlah, kerja semalam tapi berasa gajian sebulan di tempat lama. Kerja nya hanya enak-enak...ha...ha..." kata Riska tersenyum lebar.


"Semua terpuaskan. Dan aku tak perlu repot mencari tempat penyaluran" kata Riska bermonolog.


Dan saat keluar hotel, tak ada lagi jemputan seperti semalam. Untuk menghilangkan jejak pastinya.


Pagi-pagi saat membuka ponsel, semua telah diberi pesan mommy untuk pulang sendiri-sendiri.


Bahkan taksi yang sudah di lobi, ada beberapa bookingan mommy.


Saat anak buah mommy keluar satu persatu, dan langsung masuk salah satu taksi.


Seperti yang dilakukan Riska kali ini. Dia sudah duduk di sebuah kursi belakang taksi yang membawanya untuk kembali ke tempat mommy.


"Capek ya non?" tanya sang sopir yang sepertinya sudah tahu apa pekerjaan Riska dan teman-teman.


"Pasti lah pak. Namanya juga kerja" imbuh Riska.


"Kerjaannya enak-enak" tukas pak sopir yang menggoda Riska.


Sebal juga sih hati Riska tapi malas menjawab kata-kata pak sopir.


Riska langsung saja memberi kan biaya argo dan tak lupa kasih tips tanpa banyak kata.


"Makasih Non, semoga rejekinya lancar" tukas pak sopir kala Riska telah menutup pintu taksi dengan keras.


Riska masuk dengan mommy yang tengah duduk di ruang tengah.


Seperti sedang menunggu para anak buahnya duduk.


"Riska" panggilnya.


"Keluarin amplop kamu" suruhnya.


Riska melakukan apa yang diminta oleh mommy.


"Mommy ambil dua puluh lima persen dari uang tips kamu sebagai biaya kamar, makan dan fasilitas yang ada di sini. Jangan lupa, kalau semua langganan kamu nantinya adalah orang-orang yang sudah percaya pada mommy. Cam kan itu!!!" Mommy memberikan amplop tadi kepada Riska.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2