Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Keadaan Terkini


__ADS_3

Dan....


Dorrrrrr...


Sebuah tembakan terdengar.


Suasana menjadi kalang kabut dan panik semua.


Raditya terkapar bersimbah darah dekat Rania, setelah pelukannya terurai karena pingsan.


"Sayaaaaannnnngggg..." teriak Rania.


Ditubruknya tubuh Raditya yang terkena luka tembak. Tak dia perdulikan lagi saat badannya ikut berlumuran darah sang suami.


Petugas keamanan dengan cepat mengamankan seorang pria yang diduga melakukan tembakan.


Sebuah ambulan juga telah datang di tengah hiruk pikuknya pengunjung mall.


Raditya telah dievakuasi. Rania pun mengikuti. Seakan dirinya lupa kalau tengah hamil.


Gerakan cepat para petugas, Rania ikuti.


"Nyonya sebaiknya anda menyusul saja. Kita harus bergerak dengan cepat untuk mengejar waktu penyelamatan buat korban" ujar salah satunya.


Rania menghentikan langkah dengan nafas terengah.


Fisiknya memang tak bisa dipaksakan.


Rania coba hubungi pak Supri, karena saat berangkat tadi Rania hanya bersama Raditya.


"Pak, tolong jemput aku di mall" kata Rania saat panggilan tersambung dengan menyebutkan nama mall di mana dia berada sekarang.


Berita tentang penembakan di mall itu tentu saja membuat kaget Beno dan juga tuan Andrian yang saat itu kebetulan berada di Samudera Grup.


"Beno, siapkan heli. Kita harus ke sana secepatnya!" perintah tuan Andrian.


"Info yang kita dapat, pelakunya berhasil kita amankan" seru Beno.


"Tapi kita harus pantau keadaan Raditya langsung" tukas tuan Andrian tanpa mau dibantah.


"Rania apa sudah ada kabar?" sela tuan Andrian.


"Kucoba hubungi belum terangkat juga tuan" bilang Beno.


"Dia pasti syok melihat keadaan suaminya" tukas tuan Andrian.


Beno telah menyiapkan semua. Heli yang telah disiapkan oleh Beno pun mengudara menuju kota tempat besan tuan Andrian tinggal.


"Aku ke rumah sakit, kamu cari keberadaan Rania sampai dapat" suruh tuan Andrian saat heli mendarat mulus di landasan.


"Baik tuan" Beno dan tuan Andrian naik dengan mobil dan tujuan yang berbeda.


Tuan Andrian ke rumah sakit, sementara Beno mencari keberadaan Rania yang ditengarai masih di mall tempat kejadian.


Di basement mall, Beno bertemu dengan pak Supri.


"Loh, tuan Beno juga ke kota ini? Bukannya sibuk di Samudera karena tuan Raditya cuti?" tanya pak Supri yang belum tahu akan kejadian.

__ADS_1


Beno menyentil kening pak Supri.


"Makanya lihat tuh berita bro" seru Beno.


"Emang ada apa?" timpal pak Supri, sambil mengikuti langkah Beno yang terlalu cepat menurutnya.


"Kamu cari keberadaan nyonya! Aku akan langsung ke pos pengamanan" ujar Beno.


"Emang ada apa sih tuan? Buru-buru amat" pak Supri masih saja bertanya.


"Husssttt bisa diam nggak" sergah Beno.


Situasi urgen masih saja banyak nanya.


Pak Supri pun langsung terkicep dibuatnya.


Dilihatnya di depan pos keamanan, Rania dengan baju berlumuran darah sedang menangis tergugu.


Pak Supri menghampiri sang nyonya yang tengah duduk di kursi roda.


"Pak, antar aku ke rumah sakit" bilang Rania.


"Ada apa nyonya? Tuan kemana?" telisik pak Supri karena tak melihat keberadaan Raditya.


"Antar aja ku" perintah Rania tanpa memberi penjelasan.


Saat ini Rania ingin segera tahu kondisi sang suami.


Tanpa banyak nanya, akhirnya pak Supri menuruti perintah Rania.


Bahkan wanita tua yang tadi meminta maaf ke Rania juga diduga terlibat dalam kejadian ini.


Alangkah terkejut Beno saat melihat wajah pelaku, "Mahendra???" sebut Beno.


Bagaimana Mahendra bisa yang melakukan itu semua. Bahkan wajahnya juga tak berubah.


"Kenapa? Aneh? Lo seperti melihat hantu saja ke gue" kata Mahendra ke arah Beno.


Beno mendekat dan ditamparnya muka Mahendra yang dalam kondisi terikat borgol.


"Berani-beraninya lo lakuin itu ke bos gue" tandas Beno dengan muka bengis.


"Rania tak boleh dimiliki siapapun. Termasuk itu bos lo. Sudah lama aku nungguin kesempatan ini, tapi dengan bodohnya bos lo malah ngelindungin wanita yang jadi targetku" terang Mahendra tanpa rasa bersalah.


Beno menatap tajam ke arah Mahendra.


"Kenapa? Merasa aneh? Aku masih hidup? Terus nanya siapa laki bernama Rudi? Ha...ha... Kalian terlalu mudah dibodohi olehku" seru Mahendra.


Beno menautkan alisnya.


"Karena bos lo, aksiku gagal lagi kali ini. Aku hanya ingin Rania menyusul keberadaan putraku di surga. Biar mereka berdua bahagia di sana" kata Mahendra membuat Beno semakin tak habis pikir.


"Dasar psikopat gila" umpat Beno.


Mahendra malah terbahak mendengar umpatan Raditya.


Wanita tua yang bersama Mahendra pun menangis.

__ADS_1


"Jangan menangis Mah. Aku berterima kasih karena mama telah sukses menjalankan misi tadi" seru Mahendra.


Puluhan pihak berwajib telah datang untuk mengamankan pelaku dan lokasi kejadian.


Tentu untuk selanjutnya Rania akan dijadikan saksi utama dalam kasus ini.


.


Di waktu bersamaan, tuan Andrian sibuk mondar mandir di depan ruang bedah sentral menanti berita baik yang dikabarkan dokter untuknya.


Dengan diantar pak Supri, Rania menghampiri papa mertuanya.


Dengan lelehan air mata yang sedari tadi tak kuasa dibendung oleh nya.


Rania terduduk lesu.


Tak berani bertanya apapun kepada tuan Andrian yang juga terlihat gelisah.


Pak Supri pun demikian, tak berani mengeluarkan suara meski sampai sekarang dia belum tahu kronologi kejadian.


Pintu ruang kamar operasi terbuka, nampak dokter bedah yang nampak gagah di balik maskernya menghampiri tuan Andrian.


"Keluarga tuan Raditya?" tanyanya.


Tuan Andrian dan Rania pun mendekat.


"Gimana anak saya dok?"


"Gimana suami saya dok?"


Tanya Rania dan tuan Andrian bersamaan.


Sang dokter menghela nafas sejenak sebelum menjelaskan.


"Begini tuan, nyonya. Peluru yang bersarang di dada tuan Raditya berhasil kami keluarkan. Tapi karena perdarahan yang terlalu banyak, kami belum bisa menjamin kapan tuan Raditya akan sadar. Dan sampai sekarang, masa kritis tuan Raditya belum terlewati" jelas dokter bedah thorax itu.


"Sampai sejauh mana peluru menembus dada putraku dok?" tanya tuan Andrian.


"Hampir mengenai jantung, tapi menyerempet paru kiri. Dan sumber perdarahan ada di sana. Tapi telah kami atasi, smoga saja tidak ada komplikasi lebih parah" ujar sang dokter.


"Baiklah, makasih dokter atas bantuannya" kata tuan Andrian.


"Sama-sama tuan. Dan untuk saat ini, maaf tuan Raditya belum bisa dijenguk" terang dokter sebelum balik ke ruangan bedah sentral itu.


Rania menunduk.


"Maafkan aku papa" kata Rania.


"Hei, untuk apa kamu meminta maaf. Semua itu musibah. Kita doakan saja semoga Raditya lekas membaik" jawab tuan Andrian bijak.


"Iya Pah" imbuh Rania.


"Sebaiknya kamu pulang dulu Rania. Istirahatlah! Kehamilan kamu juga harus diperhatikan" saran tuan Andrian. Tapi Rania menggeleng lemah. Tak mau meninggalkan sang suami yang masih dalam kondisi kritis.


***🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading***

__ADS_1


__ADS_2